
Ammo mengeluarkan selembar foto dan meletakkannya di meja. "Apa kamu mengenal orang-orang di situ?" tanya Ammo.
Nathalie meraih kertas foto dan terkejut saat melihat dirinya ada diantara orang-orang asing.
"Aku tak mengenal seorangpun dari mereka. Tetapi, bagaimana aku bisa ada di situ?" katanya bingung.
"Yang mana dirimu?" tanya Ammo lagi.
"Ini!" tunjuknya pada foto Anastasia.
"Apa kau pernah berdandan seperti ini, sebelumnya?" tanya Ammo lagi.
Nathalie memiringkan kepala sedikit. Dahinya mengernyit, berusaha mengingat-ingat gaya berpakaiannya. "Rasanya tidak pernah."
"Tunggu! Ini foto Anda, bukan?" tunjuk Nathalie pada foto Ammo. Ammo mengangguk tanpa ragu.
"Kapan kita saling kenal, ya?" gumam Nathalie kebingungan. "Itukah sebabnya kau membawa kami ke sini?" tanyanya dengan mata menyelidik.
Ammo menarik nafas panjang. Tubuhnya dicondongkan ke depan, sedikit. "Di mana kau dibesarkan?" tanya Ammo serius.
"Aku tak harus menjawab pertanyaan pribadi. Kita sedang membahas Oscar!" tolak Nathalie.
"Baik."
Ammo menganbil kembali kertas foto dan berdiri dari duduknya. Kemudian dia melangkah ke pintu.
"Antar dia ke kamarnya!" pesan Ammo pada petugas yang menunggu di depan pintu.
"Baik!" jawab petugas sigap.
"Tunggu, Tuan!"
Nathalie berlari keluar ruang untuk menahan Ammo. Tapi Ammo terus berlalu. Petugas segera menahan tangannya agar tidak berlarian mengejar Ammo.
"Aku harus bicara dengannya!" protes Nathalie.
"Anda sudah diberi kesempatan, tapi menyia-nyiakannya!" dengus petugas itu sembari menarik Nathalie untuk kembali ke kamarnya. Perintah sudah diturunkan oleh Bos.
"Aku harus menemuinya!" Nathalie memberontak ingin lepas.
"Anda mempersulit diri sendiri, Nona!"
Sesuatu mendarat di tengkuk Nathalie. Mengakhiri usahanya untuk melepaskan diri. Kepalanya terasa berkunang-kunang. Yang diingatnya hanya tubuhnya diseret pergi.
*
*
Ditemani oleh Blake, Ammo melangkah menuju ruang rawat Oscar. Seorang petugas duduk di depan pintu kamar. Dan dia segera berdiri begitu melihat Ammo menuju ke arahnya.
"Apakah ada Dokter di dalam?" tanya Ammo.
__ADS_1
"Ada Dokter Sarah!" jawabnya.
"Hemm," gumam Ammo. Dia menuju ke pintu. Blake membukakan pintu itu untuk Ammo.
Ammo melangkah masuk. Seorang penjaga ingin menghardik orang yang masuk tanpa ijin. Tapi dia langsung mengatupkan mulut saat melihat Ammo yang melangkah masuk.
Ammo berdiri di depan pintu, melihat dokter Sarah duduk di kursi. Oscar berbaring sambil memejamkan mata, di ranjang tempat tidur di depannya.
"Mereka sedang apa?" tanya Ammo.
"Pasien Oscar sedang menjalani terapi hipnotis," terang penjaga itu hormat.
Ammo memperhatikan egiatan itu sebentar, sebelum berbalik.
"Katakan pada dokter Sarah untuk melaporkan perkembangan pasien ini, segera!" perintah Ammo
"Siap!" jawab petugas itu tegas.
Blake di luar tercengang. Ammo berada di dalam sana tak sampai lima menit. Tapi dia tak bertanya apa-apa. Hanya mengikuti saja kemana Ammo mau melangkah.
Ammo berbelok menuju blok lain. Tempat dimana Sanders dirawat. Seorang penjaga menunggui di depan pintu.
"Apakah ada dokter di dalam?" tanya Ammo.
"Ada, Dokter Armstrong," jawab petugas.
"Oke."
Blake kembali membukakan pintu saat melihat Ammo membalikkan badan ke arah pintu.
"Apa yang terjadi padanya?" Ammo bergegas mendekat.
" Perawat mengatakan bahwa setelah sarapan tadi, detak jantung pasien tak beraturan. Suhu tubuhnya naik, dia memegang kepala, dan mengeluh sakit," jawab dokter Armstrong.
Ammo menjelaskan tentang kegiatan kempingnya malam sebelumnya.
"Tampaknya kita harus segera diskusikan hal ini dengan Dokter Sarah," saran dokter Armstrong.
"Tadi aku melihatnya sedang mengunjungi Oscar. Menunggu sesinya di sana selesai, maka Kau juga bisa melengkapi laporan medis terbaru Sanders," ujar Ammo.
"Akan kukerjakan," sahut dokter Armstrong.
"Kita bicara di ruang kerjaku, nanti." Ammo mendekati bed Sanders.
"Hey Buddy ... kau pasti bisa melewati ini. Aku akan selalu mendukungmu!" bisiknya menyemangati Sanders.
Mata Sanders yang tertidur, bergerak cepat. Dia gelisah mendengar suara Ammo.
Ammo menghela nafas berat, kemudian melangkah keluar ruangan. Kakinya hampir melewati pintu, ketika telinganya mendengar panggilan Sanders.
"Ammo, hati-hati pada Rosie!" teriak Sanders dalam igauannya.
__ADS_1
Ammo sangat terkejut. Setengah berlari, dihampirinya lagi sisi tempat tidur Sanders.
"Kenapa aku harus berhati-hati pada Rosie? Bukankah kau justru ingin melindunginya waktu itu?" tanya Ammo sambil menahan gejolak emosinya.
"Dia ... bom waktu untukmu!" igau Sanders lagi. Tubuhnya bergetar hebat kali ini.
Ammo tersentak kaget. Sekarang dia mulai memahami bagaimana segala kebocoran bisa terjadi.
"Thanks Buddy. Mari kita perangi para bajak laut itu bersama!" bisik Ammo.
"I-am a-sailor!" ucap Sarders terbata. Tapi bibirnya mengulas sebuah senyum riang.
"Yes, we are sailors!" sambung Ammo penuh haru.
Ammo melangkah cepat ke pintu. "Blake, jaga dia di sisimu!" pesan Ammo.
"Oh? Siap!" sahut Blake cepat.
Meski sedikit bingung, tapi dia harus mengikuti perintah Bos. Pasti ada alasan untuk ini. Sama seperti ketika dulu dia diminta membawa Sanders pergi ke tempat yang tak seorang pun tau.
Ammo langsung menuju kamarnya. Membuat perintah pada Theo dan Smith untuk menangkap dan mengorek informasi dari Rosie, Leo, serta semua orang yang berada dibawah kendali Rosie.
Wajahnya merah padam. Tak menyangka, Rosie juga bagian dari mata-mata yang ditanam biro. Ini sangat mengecewakan.
Setelah membuat beberapa pengaturan penting, Ammo terdiam cukup lama. Dia memikirkan, siapa yang mungkin menggantikan posisi Rosie. Sebagai kepala sekretaris, dia harus bisa dipercaya dan Mampu mengemban tugas berat. Dan mencari orang seperti itu, tidaklah mudah.
"Jadi aku tak bisa berlama-lama di sini." Ammo mengusap wajahnya. "Itu berarti aku harus membereskan semua hal di sini dan segera kembali."
Ammo membereskan barang-barang pribadinya dalam tas koper kecil. Berganti pakaian dan keluar kamar. Seorang penjaga berdiri di luar, menggantikan tugas Blake.
"Panggil dokter Armstrong dan Sarah untuk ke ruanganku, sekarang!" perintah Ammo.
"Siap!"
Penjaga itu berlari dan menghilang di balik bangunan yang menjadi tempat kediaman Ammo.
Ammo menarik roda koper kecilnya. Bunyi roda yang ditarik di lantai keramik, sedikit berderit. Serupa irama lagi patah hati yang menyayat pilu.
Ammo masuk ke ruang kerjanya. Duduk di depan meja kerja dan membuat panggilan pada Sawyer.
"Ya, Tuan," sahut Sawyer dari seberang telepon.
"Kita kembali hari ini. Bersiaplah!" ujar Ammo.
"Baik!" balas Sawyer cepat.
Telepon ditutup. Ammo mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. "Apa lagi yang belum ku bereskan di sini?" Ammo berpikir keras.
"Ah, Nathalie dan Sanders," pikir Ammo.
Tak mungkin dia dan Ana tak punya hubungan kekerabatan. Jika dia tak dapat mengingat Ana sedikitpun meski sudah ditunjukkan foto, maka hanya ada satu kesimpulan! Nathalie juga mengalami penghapusan ingatan masa kecilnya.
__ADS_1
Dan dokter Sarah benar. "Ini adalah puncak dari dari gunung es yang dibalut konspirasi politik kotor!" geram Ammo marah.
*******