
Ammo langsung menelepon Theo, menanyakan kondisi kediamannya. Bibi Harriet sudah pulang, tetapi Sheila tidak bersedia pergi, sebelum bertemu Ammo.
"Mengesalkan!" rutuk Ammo.
"Kau bereskan kamar untuk Ana di kamar lantai dua. Dia calon nyonya rumah kita. Katakan seperti itu jika nenek sihir itu cerewet!" kesal Ammo.
"Ya, Tuan," sahut Theo.
"Bagus!" Ammo memutus sambungan telepon.
"Blake, kau tetap di sini dan jaga calon nyonyamu!" ujarnya percaya diri.
"Siap, Bos!" sahut Blake sambil tersenyum.
Ammo menghubungi Devan, menanyakan kamarnya. Krmudian berjalan ke sana diikuti dua pengawal.
*
*
Pagi hari. Ammo menanyai kesiapan Theo. Setelah merasa puas dengan laporan itu, pria yang hatinya sedang berbunga-bunga itu, melangkah ke tempat Ana dirawat.
Seorang pengawal menghampirinya sambil menyodorkan segenggam bunga liar yang dipetiknya entah di mana.
"Berikan ini, Bos!" sarannya.
"Dia lebih suka sekotak peluru, ketimbang itu!" tampik Ammo.
"Percayalah, Bos. Semua wanita pada dasarnya berhati lembut!" desak pengawalnya.
"Jika dia marah gara-gara bunga ini, Kau kupotong gaji!" ancam Ammo sambil merampas bunga itu.
Pengawal itu tersenyum kecut. Niat hati membantu Bos, tapi malah kena anvaman potong gaji! Nasib para bawahan memang seperti itu.
Ammo mengetuk pintu kamar Ana. "Ini aku," ujarnya.
Khouk segera membuka pintu. Sebelah alisnya naik lebih tinggi dari yang lain. Dia merasa Ammo menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Pria itu mengintip ke belakang dan mendapatkan pandangan tak senang dari Ammo.
Tapi Khouk cukup pengertian dengan menutup mulut rapat-rapat. Ammo masuk dan melihat Ana sedang sarapan.
"Aku kira akan mengajakmu sarapan bersama. Tapi kau justru mendahuluiku," Rengut Ammo.
"Apa kau lupa kalau aku harus minum obat?" tegur Ana.
"Hah ... baiklah." Ammo mengalah dan tidak memperpanjangnya.
"Ini untukmu!" katanya sambil menyodorkan bunga di tangannya.
Ana mengangkat mukanya dari piring. Kedua matanya membulat besar dan terlihat menggemaskan. Dia tak menduga, pria dingin itu akan sempat mengubek-ubek semak untuk memetik segenggam bunga liar.
"Aku akan menerima, jika kau memetiknya sendiri!" ujar Ana pedas!
Ammo terkejut. Bagaimana kau tahu!"
"Aku mengenalmu sejak kecil, tentu saja aku tahu. Kau bahkan tak pernah melihat ke taman bunga di halaman rumahmu!" sahut Ana.
__ADS_1
Ammo melangkah lebar menuju pintu. "Hei, kau mendapat potongan gaji!" kata Ammo sambil melemparkan bunga itu ke lantai.
"Ya Tuhan ...." Pengawal itu hanya bisa mengusap wajahnya sedih.
Ana hanya menggeleng di tempat tidurnya. "Aku menegurmu, dan kau melampiaskannya pada orang lain! Tck! Kekanakan!" sergah Ana tak suka.
"Dia yang berinisiatif, bukan kuminta!" Ammo membela diri. Dia tak merasa bersalah sama sekali.
"Apa kau benar-benar belum sarapan?" tanya Ana.
"Belum!" aku bukan pasien di sini. Tak kan ada makanan yang diantarkan ke kamar!" keluhnya.
"Kau kan tinggal angkat telepon atau berjalan ke kantin. Apanya yang sulit?" tanya Ana heran.
"Tapi, kau tak ada di kantin!" Ammo mengajuk hati Ana.
"Apa kau sungguh orang yang kukenal?" tanya Ana memastikan.
"Tentu saja!" ujar Ammo
"Tapi kau terlihat berbeda dua hari ini," simpul Ana.
"Itu karena aku melamarmu!" batin Ammo malu. Tapi dia justru mengatakan hal lain.
"Jika sudah selesai makan, siapkan barang-barangmu dan kita pulang!" ujar Ammo.
"Aku tak membawa apapun ke sini, kecuali pistol dan laptop itu!" tunjuk Ana.
"Oke. Aku akan menemui Devan dulu dan menanyakan kondisimu!" Ammo berbalik dan keluar kamar.
"Kau mau memeriksanya?" cegat Ammo di pintu masuk.
"Ya! Apakah aku harus melewati ijinmu dulu?" goda Dokter Devan.
"Tidak! Silakan masuk. Aku akan bicara denganmu lagi, nanti!" kata Ammo.
"Oke!"
Dokter Devan dan perawat itu memasuki ruangan Ana. Beberapa saat mereka di dalam. Ammo menunggu dengan sabar, sambil bersandar pada tiang penyangga teras.
Dokter Devan keluar tak lama kemudian. "Kau mau membawanya pulang?" selidik Devan.
Ammo mengangguk dan mensejajari langkah dokter itu.
"Bukankah betbahaya jika menyatukan banyak orangku di tempatmu? Aku hanya menghindari kejadian seperti yang terjadi pada Dorjan, di sini," ujar Ammo terus terang.
"Tak kuduga kau berpikir sejauh itu!" balas Dokter Devan.
"Apa dia sudah bisa dipindahkan ke tempatku?" tanya Ammo.
"Bisa. Angguk Devan.
"Tak ada keluhan lain selain operasi, kan?" Ammo memastikan.
"Kenapa? Apa mau kau batalkan jika ada keluhan lain!" tanya Dokter Devan.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu curiga dan berpikiran negatif padaku?" tanya Ammo heran.
"Tentu saja aku akan tetap membawanya pulang, meskioun keluhannya banyak. Aku akan menuruti apapun keinginannya, dan membereskan tiap keluhannya!" ucap Ammo yakin.
"Ahh ... orang yang sedang jatuh cinta, memang punya aura positif." Dokter Devan terkekeh.
"Kau mengejekku!" semprot Ammo.
"Bagian mana yang mengejek? Bukankah kukatakan hal yang positif?" elak Devan.
"Sudahlah. Perutku sudah sangat lapar. Ada makanan enak apa hari ini?" tanya Ammo.
Keduanya kembali berbincang santai tentang menu makanan. Sesekali tawa kecil Ammo terdengar.
*
*****
Dibantu Khouk, Ana berhasil duduk dengan nyaman di helikopter. Khouk memaksa menggantikan dua pengawal. Jadi dia duduk di depan, di samping Sawyer. Sementara dua pengawal Ammo, kembali dengan kendaraan yang dibawa Blake.
Sawyer membawa mainannya dengan baik, sangat berhati-hati, mengingat ada Sna yang sedang sakit, di dalamnya.
Dalam setengah jam, helikopter itu mendarat. Theo sudah menunggu di teras. Seorang wanita yang mengenakan topeng make up, berdiri di samping Theo. Wajahnya cerah, menunggu Ammo turun.
Tapi kemudian gadis itu cemberut saat menyadari Ammo membawa seorang gadis yang didorong kursi roda, berjalan ke arah teras.
"Apakah yang kau katakan benar?" tanya Sheila pada Theo, tanpa mengalihkan pandangan dari gafis itu.
"Apa gunanya membohongimu?" ketus Theo. Dia tak sabaran melihat gadis menor ini tetus mengejar-ngejar Ammo. Sesuai perkiraan Ammo, Sheila terus mengekorinya yang ingin membersihkan kamar lantai dua untuk Ana.
"Untuk apa kamar itu dibersihkan?" tanya Sheila tadi malam, di bawah tangga.
"Nyonya rumah ini mau pulang!" sahut Theo.
"Nyonya? Siapa? Sejak kapan Ammo punya nyonya rumah?" Theo diberondong pertanyaan oleh Sheila.
"Sudah lama!" sahut Theo asal-asalan. Dia menatap gadis itu dari lantai atas. Terlihat tak sabar untuk bisa menginjakkan kaki di sana.
"Jangan pernah melanggar batasanmu! Aku sendiri yang akan menegakkan aturan rumah ini, jika kau langgar!" ancam Theo. Hal itu berhasil mengontrol keinginan gadis itu.
"Kamar sudah siap?" tanya Ammo.
"Sudah, Tuan!" angguk Theo.
"Hai Theo, aku akan merepotkanmu lagi," sapa Ana ramah.
"Tidak repot, Nyonya," jawab Theo hormat.
"Ana terkekeh geli mendengar panggilan baru Theo.
Khouk mendorong kursi roda Ana ke dalam rumah. Mereka tiba di kaki tangga.
"Ayo" Ammo membungkuk dan menggendong Ana hati-hati. Khouk membawa kursi roda itu ke lantai atas, agar Ana bisa kembali didudukkan dan didorongnya lagi.
Tapi Ammo tak melepaskan Ana lagi. Dia terus menggendong gadis itu ke kamar.
__ADS_1
********