
Ana dan Maya Hanya memakan Sereal granola untuk mengganjal perut lapar. Jika tempat ini sudah lama ditinggalkan, maka artinya tak ada persediaan makanan sekarang. Entah bagaimana nanti Ammo menyelesaikannya.
Perasaan dikejar-kejar telah berkurang. Jadi kedua gadis itu bisa tidur dengan nyenyak.
*
*
"Jangan ... tidak! Aaaaaaahhhh ...!"
Ana terbangun mendengar jeritan di sampingnya. Di sebelahnya Maya terus menggerakkan tangannya memukul ke udara. Matanya terpejam, tapi bola matanya bergerak liar. Keringat membasahi tubuhnya.
"Ssstttt ... Maya, ini aku. Tenang ... sudah tak apa-apa. Maya ... sssttt ...."
Ana memeluk tubuh gadis itu untuk menyadarkannya dari mimpi buruk.
Maya terbangun, matanya memancarkan ketakutan. Kemudian terkejut dan menangis di pelukan Ana.
"Kita akan membalas mereka nanti," bujuk Ana. Dielusnya punggung gadis itu agar kembali tenang.
Maya masih menangis sesenggukan ketika pintu kamar diketuk dari luar. Lalu pintu dibuka. Wajah Ammo yang mengantuk muncul di balik pintu.
"Ada apa?" tanyanya khawatir.
Ana menggeleng. "Gak ada apa-apa. Maya cuma mimpi buruk."
Ammo mengangguk, lalu keluar dan menutup pintu. Tapi kemudian dia membuka lagi pintu kamar itu.
"Apa kalian lapa?" tanyanya.
"Ya. Sangat lapar."
Ana dan Maya menganggukkan kepala.
"Ku tinggal sebentar untuk mencari bahan makanan." Lalu Ammo menyambung dengan ragu. "Entah apakah masih ada sesuatu di tempat penyimpanan ...."
__ADS_1
Ana menaikkan sebelah alisnya. Ekspresi Ammo yang tidak yakin itu menarik perhatiannya.
"Tidak adakah minimarket atau pasar tradisional di dekat sini?" tanyanya menyelidik.
Ammo tak menjawab. Tapi dia berjalan melintasi ruangan, menuju jendela yang tertutup rapat dan dilapisi gorden.
Disungkitnya kunci jendela kayu tebal itu. Dan kemudian terdengar deritan yang membuat gigi terasa ngilu. Maya dan Ana mengatupkan gigi dan meringis selama Ammo membuka daun jendela.
Kemudian angin keras yang sejuk menghambur masuk ke dalam kamar itu. Udara pengap di kamar digantikan dengan udara segar dengan sedikit bau amis.
"Bau amis?" pikir Ana.
Dia turun dari tempat tidur dan melangkah ke jendela.
"Kita ada di pantai?" tanya Ana. Ammo menggeleng. Ana mengernyit heran.
"Di tengah laut?" tanyanya tak yakin.
Ammo mengangguk, dan memandang keluar. Ana tak mempercayai kata-kata Ammo begitu saja. Digesernya pria itu untuk melihat keadaan di luar. Hari sepertinya sudah petang. Langit yang semerah jingga dipenuhi kawanan burung camar yang terus memekik, berputar-putar di atas perairan.
"Jika begini, kita bukan mati karena bertarung. Tapi mati kelaparan," celetuk Ana.
"Jika di laut banyak burung camar, artinya ada banyak ikan di lautan itu," ujar Ammo optimis.
"Kau mau memancing ikan? Bagaimana jika The Hunters juga berkeliling ke sekitar sini?" cegah Maya.
Ammo menggeleng. Kemudian menutup kembali daun pintu dengan rapat. Memasang kuncinya dan menutup gorden kembali.
"Aku punya cara lain. Kita makan ikan untuk malam ini. Kalian tunggu saja di sini."
"Biar ku bantu."
Ana menawarkan diri.
"Tidak perlu. Ini pekerjaan mudah," ujarnya percaya diri.
__ADS_1
Ammo lalu berjalan keluar kamar dan menuju lorong.
Ana tak mau berdebat. Bagaimanapun ini properti Ammo. Dia pasti sudah menyiapkan cukup peralatan penunjang untuk bisa tinggal di sini, sebelumnya. Buktinya, dia bahkan memiliki dermaga kapal selam pribadi di bawah bangunan ini.
Ana membuka lemari pakaian. Dia tercengang melihat semua pakaian mewah yang tergantung rapi di lemari besar selebar dinding itu.
"Gaun-gaun malam ini sangat berkelas. Aku rasa ini pasti sangat mahal di jamannya," gumam Ana.
"Siapa pemilik isi lemari ini?" batinnya.
Ana melihat satu persatu koleksi mencengangkan yang ada di lemari. Bahkan ada gaun yang dihiasi batu-batu permata berkilauan. Ana mengeluarkannya dari lemari dan menunjukkan pada Maya.
"Coba kau taksir harga gaun ini!"
Mata Maya terbelalak. Gaun itu berkilauan dibawah cahaya lampu kamar.
"Puluhan ribu dollar. Aku yakin gaun ini tak kurang dari sepuluh ribu dollar," jawab Maya terpukau.
"Menurutmu, ini Swarovski atau berlian?" tanyanya penasaran.
"Jika berlian, maka pasti ratusan ribu dollar harganya. Atau mungkin jutaan?"
Maya menjawab sendiri pertanyaannya.
"Oh my God. Dia meninggalkan begitu saja gaun seperti ini di villa tua? Benar-benar menyia-nyiakan karya berkelas. Batu-batu ini pasti ingin kembali dipandang dan dikagumi oleh penonton."
Ana menggelengkan kepala mendengar ocehan Maya yang tak jelas. Dia sama sekali tak tau tentang pribadi unik Maya ini.
"Lihatlah, bagaimana cerewetnya dirimu melihat selembar gaun. Sementara itu masih ada satu lemari penuh gaun sejenis," cela Ana.
"Apa?"
Maya berjalan terpincang-pincang menuju lemari. Dia menjadi histeris seketika.
"Ya ampuuunnn ...."
__ADS_1
"Ya Tuhan ...."
******