
"Jika kau tak punya informasi bermutu, jangan menghubungiku lagi!" tegas Ammo. Kemudian sambungan telepon itu dimatikannya.
Ditolehnya Ariel. "Bagaimana? Bisa kau hubungi mereka dan memberikan peringatan?" tanya Ammo,
"Sudah. Romanov mengatakan bahwa itu hanya akal-akalan pihak lawan saja. Mereka aman dan sudah mendekati titik tujuan utama!" jelas Ariel.
Ammo mengangguk. "Sambungkan denganku," perintahnya.
Ariel menyambungkan panggilan telepon dengan pimpinan pasukan Ammo di Slovstadt.
"Hallo!" panggil Ammo.
"Ya, Tuan. Kami mendapatkan peringatan dari Ariel. Tapi di sini semua baik-baik saja," sahut Romanov.
"Tetaplah berhati-hati. Entah bagaimana seseorang bisa mengetahui dan menghubungi ke nomor rahasiaku. Waspadai orang sekitar. Termasuk komunikasi dan cctv. Kalian semua pasti sedang dalam pantauan.
"Baik, Tuan!" sahut Romanov.
"Bagaimana dengan Vladimir? Apakah dia menjaga ketat orang itu? Jangan sampai sudah seperti ini dia justru mengkhianati kita!" tegas Ammo.
"Barusan Vladimir menghubungi. Aku juga sudah menyampaikan peringatan tadi padanya. Dia akan memperketat pengawasannya pada orang itu." Romanov melaporkan.
"Oke. Lalu apa katanya?" tanya Ammo.
"Kesepakatan yang kita ajukan tidak mudah diterima oleh rezim. Mereka masih ingin berkuasa, meskipun hampir semua lini sudah dikuasai oleh para pendemo!"
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Ammo.
"Mereka ingin tetap berkuasa dan berjanji akan memperbaiki kebobrokan dan membersihkan orang-orang korup di pemerintahan!" jawab Romanov.
"Tolak! Jika orang itu menyetujuinya, makan dia hanya akan menjadi wakil pengganti, Setelah itu, maka kita semua akan dihancurkan sebagai pertukaran ataupun alasan keamanan!" perintah Ammo tegas.
""Baik, akan saya sampaikan." Romanov membalas lagi.
"Tegaskan padanya. Jika dia berani mengkhianati kita dan Klan Khaan, riwayatnya tamat!"
Romanov terdiam di sana. "Kau mendengar perintahku?" bentak Ammo.
"Ya, Tuan. Segera saya sampaikan!" sahut Romanov gugup.
Ammo memutuskan sambungan telepon itu dan menoleh pada Ariel.
"Hubungi Vladimir!" perintahnya.
Ariel mengangguk dana segera membuat saluran aman bagi Ammo dan Vladimir.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
"Ya, Tuan," sahut Vladimir.
"Apakah Romanov sudah mengatakan perintahku?" tanya Ammo.
"Sudah," sahut Vladimir. "Barusan kami bicara."
"Kau tegaskan pada orang itu, Kita tidak mendukungnya dengan percuma. Dia tak boleh lemah. Jika rezim tak mau diakhiri dengan damai, maka singkirkan saja. Tujuan kita mendukungnya adalah untuk merubah negara itu jadi lebih baik dengan mengganti pimpinannya. Kita tidak bernegosiasi untuk dilemahkan. Kau juga harus ingat itu!" Ammo memperingatkan.
"Aku mengerti. Akan kukatakan padanya." Vladimir segera menyanggupi.
"JIka menurutmu dia akan berkhianat, habisi saja. Orang-orang kita sudah banyak yang terjaring. Aku tidak pernah akan rela dia mengkhianati orang-orangku! Dia sudah tahu konsekwensinya dari awal jika menginginkan dukunganku."
"Baik, Tuan," sahut Vladimir lagi.
"Kau kabari setiap perkembangan langsung padaku!" perintah Ammo.
"Baik!"
Ammo mematikan sambungan telepon itu. Mereka tak bisa berkomunikasi terlalu lama, karena kemungkinan akan terdeteksi dan disadap oleh intelijen penguasa.
Julio, Ariel, Donny dan Ivan merasakan aura kemarahan yang ditahan Ammo. Ruangan luas itu jadi terasa sempit dan menyesakkan. Mereka melihat Ammo keluar dengan wajah tegang.
Pria itu menuju kamar untuk membersihkan diri. Kemudian menelepon Ana.
"Hanya sampah! Begitu banyak sampah video panas disimpan di situ. Entah siapa yang punya otak begitu kotor!" umpat Ana sewot.
"Hahaha ...." Ammo tak mampu menahan tawanya. Informasi Ana meredakan sedikit ketegangan di kepalanya.
"Kau memeriksa setiap video hingga habis atau tidak?" tanya Ammo.
"Untuk apa aku menonton yang seperti itu?" sergah Ana jengkel.
"Mungkin saja mereka menyembunyikan informasi penting diantara 'sampah' itu," jelas Ammo.
Ana terdiam. "Kenapa aku tak berpikir sampai sana?" gumamnya.
"Itu bagus. Karena kau masih berpikiran lurus. Tapi, cobalah gunakan seluruh imaginasimu sebagai seorang agen. Bahkan imajinasi sekotor sampah yang tak terpikirkan oleh orang lain, mungkin saja terjadi," terang Ammo.
"Baiklah, akan kuperiksa lagi. Kau juga harus periksa cpu yang dibawa Gan!" Ana mengingatkan.
"Kurasa tak lama lagi barang-barang itu akan sampai. mereka sudah mengirimnya tadi malam," sahut Ammo.
"Baiklah. Begitu aku mendapatkan informasi yang bagus, akan langsung menghubungimu!" ujar Ana.
__ADS_1
"Oke. Jaga dirimu baik-baik." pesan Ammo.
"Ya." Sambungan telepon itu segera terputus.
*
*
Ana kembali duduk di depan komputer. Kali ini dia akan mulai memeriksa dengan serius tanpa melewatkan satupun video panas yang ada di situ.
"Kurasa Ammo benar. Ini jelas laptop kantor. Mereka pasti tahu kalau bekerja diawasi cctv. Tak mungkin akan membuat hal tak senonoh seperti itu tepat dibawah pantauan kamera pengintai." Ana sekarang menemukan kembali effortnya untuk memeriksa laptop tersebut.
Dia memeriksa file video pertama dengan menggesernya sedikit demi sedikit, tapa harus mengotori mata dengan segala adegan yang ada di situ. Dan dugaan Ammo terbukti. Dia menemukan file lain disembunyikan diantara sepertiga rekaman video. Ana bekerja keras menghapus sebagian sampah dan menyisakan bagian-bagian informasi penting saja.
Dengan senyum puas dilihatnya hasil penyisiran pertamanya. Sekarang semangatnya muncul. Dengan segera dia memeriksa beberapa video lainnya.
Dalam setengah hari, dia telah memeriksa belasan video dan mendapatkan informasi informasi penting. Dia tak menduga begitu kotornya cara mereka menjalankan biro. Dengan segera sebagian file itu dikirimkan kepada Ammo. Berharap itu bisa jadi daya tawar bagi Ammo untuk menaklukkan rezim yang berkuasa.
"Aku harus menjenguk Khouk, lalu makan siang," lirihnya.
Dan itulah yang dilakukannya kemudian. Segera keluar kamar dan melangkah menuju kamar perawatan yang ada di sebelah klinik.
"Pemimpin!" sapa Khouk saat melihatnya masuk.
"Tak perlu bangkit. Tetaplah di situ dan pulihkan kesehatanmu. beberapa barang pribadimu ada di ruanganku. Kau bisa mengambilnya nanti setelah sehat," ujar Ana.
"Baik, pemimpin," sahut Khouk. Pria itu kembali berbaring di tempat tidurnya.
"Tadinya aku ingin menanyakan kabarmu. Tapi melihat kau sudah menyapaku lebih dulu dan ingin bangun, kurasa sakitmu tidak terlalu berbahaya. Aku sudah takut jika harus kehilanganmu," kata Ana jujur.
"Kami hanya pengawal. Sebuah kebanggaan bisa melayani dan melindungi anda, pemimpin," ujar Khouk terharu.
Ana tersenyum. Cepatlah sembuh. Agar kau bisa kembali melindungiku!" pesan Ana.
"Saya akan mengikuti perintah anda," sahut Khouk.
Ana berdiri dan tersenyum senang melihat semangat Khouk. "Makan, lalu minum obat dan beristirahatlah! Untuk sementara itulah tugasmu. Aku akan memberikan perintah lain lagi segera. Jadi persiapkan dirimu!" perintah Ana sebelum berlalu.
"Baik!" sahut Khouk.
Ana kembali ke kamarnya dan berkutat dengan laptop serta video-video untuk menyaring informasi-informasi yang coba disembunyikan oleh biro. Ana hanya bisa menggelengkan kepala membaca semua itu.
Hingga malam hari, belasan video yang berisi informasi itu dikirimkan Ana lagi pada Ammo. Dia percaya Ammo bisa memanfaatkan informasi-informasi rahasia itu untuk meningkatkan daya tawarnya.
Namun dia sedikit kecewa. Tak ada sedikitpun informasi tentang dirinya dari puluhan video yang sudah diperiksanya.
__ADS_1
"Mudah-mudahan informasi tentang aku ataupun keluargaku, ada di video-video lain yang tersisa," harapnya.
*********