
"Kau sudah bisa menurunkanku sekarang," ujar Ana dingin.
"Tak jauh lagi," sahut Ammo cuek.
"Yang dioperasi dadaku, bukan kakiku!" sambung Ana pedas. "Lagi pula, gadis itu sudah tak bisa melihat sandiwaramu!" sindirnya telak.
Ammo tak membalas kata-kata Ana. Dia kesulitan membuka pintu kamar. Khouk segera membantu, setelah melihat pria itu menoleh.
Dengan hati-hati diletakkannya Ana di tempat tidur. "Istirahatlah ...."
Pria itu langsung melangkah keluar kamar. "Kalau perlu sesuatu, kau tinggal angkat interkom di meja," ujarnya sebelum menutup pintu.
Theo yang masih menunggu di ujung tangga, segera mendekat. Bersiap menerima perintah.
"Dia sudah semalaman di sini. Sudah waktunya pergi. Kami mau istirahat!" perintah Ammo.
"Baik, Tuan." Theo langsung berbalik untuk menjalankan perintah.
Di ruang tengah, Sheila duduk dengan gelisah. Dia mendekati Theo, saat melihatnya turun. Tapi, belum sempat gadis itu bertanya, Theo sudah menunggunya dengan tatapan serius.
"Waktu libur anda sudah habis. Tuan dan nyonya harus beristirahat!" ujar Theo sungguh-sungguh.
Gadis itu terperangah. Mulutnya sedikit terbuka untuk mengajukan protes. Tapi tak jadi, ketika melihat jari Theo berada di depan bibir.
Dia segera berbalik ke kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Ammo benar-benar menolak bertemu dengannya setelah kejadian konyol itu.
Theo menghela napas panjang. Menggelengkan kepalanya sedikit, kemudian berlalu ke dapur. Dia tak ingin ikut campur urusan keduanya.
"Mari kita buat kudapan lezat untuk Tuan dan Nyonya," ujar Theo pada staf dapur.
"Nyonya?" tanya salah satu wanita.
"Hemm ...." Theo mengangguk. Tangannya mulai sibuk mengambil bahan-bahan kue. Yang lain segera membantu.
"Buat yang paling lezat, jika kau ingin mendapat pujian dari nyonya," nasehat Theo.
Para staf dapur jadi bersemangat. Mereka berharap wanita itu, benar-benar menjadi nyonya resmi kediaman Oswald. Jadi, mari beri kesan yang baik padanya.
Sheila menarik roda tasnya. Dia menemukan Theo sedang duduk dan memberi instruksi pada beberapa staf, di dapur.
"Aku pulang. Tolong sampaikan permintaan maafku," kata Sheila.
Theo berdiri dari duduknya dan bersikap formal. "Akan kusampaikan!" Theo mengangguk sopan dan tetap berdiri memandangi pintu dapur selama beberapa saat.
__ADS_1
"Kenapa Tuan tidak menyukai Nona Sheila?" tanya seorang pelayan yang tak tahu menahu masalah antara keduanya.
"Jangan bergosip. Apa lagi menggosipkan tuan kita sendiri!" tegur Theo.
Pelayan itu menutup mulutnya dengan tangan. kemudian mengangguk pada Theo sebagai tanda menyesal.
Interkom berbunyi. Pria itu segera mengangkatnya. "Ya, Tuan."
"Kemari!" panggil Ammo.
"Baik!" Theo langsung keluar dari dapur, memenuhi panggilan Ammo.
"Apakah kau ingin tahu?" bisik seorang pelayan, setelah Theo pergi.
"Ssttt ... sudah! Dinding rumah ini punya mata dan telinga!" yang lain memperingatkan.
"Itu namanya cctv!" pelayan lain membenarkan.
Dapur dipenuhi gelak tawa. Mereka kembali bekerja. "Menurutmu, lebih cantik mana, antara wanita yang akan menjadi nyonya kita, atau Nona Sheila?" tanya gadis lain iseng.
"Lebih cantik Nona Ana!" jawab yang lain. Sepertinya semua setuju hal itu.
"Meskipun tidak berdandan, Nona Ana tetap sangat cantik. Cantik alami!" imbuh yang lain.
*
*****
"Ya, Tuan." Theo sudah berdiri di depan Ammo, di ruang kerja.
"Beri aku ide, untuk membuat Ana percaya bahwa aku serius padanya!" Ammo membuang pandangannya ke luar jendela kaca yang mengarah ke taman teratai.
"Apa anda mau memulai dengan makan malam romantis, Tuan?" tanya Theo.
"Bagus!" Pesankan restoran bagus untuk malam ini!" perintah Ammo.
Theo menggeleng. "Anda sedang melihat tempatnya!" ujar Theo.
"Tempat apa?" tanya Ammo heran.
"Tempay makan romantis, bisa di mana saja. Termasuk di taman teratai. Itu tempat yang sangat bagus di malam hari!" jelas Theo.
"Baiklah. Kau atur saja kalau begitu!" Ammo setuju.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" sahut Theo. Dia berbalik. Tapi tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ada apa?" tanya Ammo.
"Anda harus menyiapkan hadiah, saat makan malam, Tuan," saran Theo.
:Hadiah apa?" tanya Ammo. Soal hadiah, dia tak terlalu mengerti.
"Bunga, perhiasan, atau tanda pertunangan?" Theo mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Tanda pertunangan?" ulang Ammo sekali lagi.
"Idemu boleh juga. Tapi, bisakah kau katakan, hadiah pertunangan yang bagaimama yang tidak akan ditolaknya?" tanya Ammo serius.
"Mungkin sesuatu yang disukainya!" jawab Theo cepat.
"Atau seikat bunga eksotis?" saran Theo lagi.
Ammo menggeleng keras-keras. "Yang lain?" desak Ammo.
"Yang mudah itu, jika anda memberikan cincin sebagai bukti pertunangan yang sah.
"Cincin, ya?"
Ammo memikirkan saran Theo itu dengan serius. Tangannya meraih ponsel dan menelepon seseorang.
"Tunjukkan padaku, perhiasan yang bisa menjadi saksi pertunangan!" katanya.
"Tak butuh waktu lama. Deretan foto berbagai jenis, perhiasan cantik dan berkilau, masuk ke kotak pesan.
"Biar kupilih dulu," ujar Ammo sebelum mematikan sambungan telepon.
Dibantu Theo, keduanya memilih beberapa perhiasan. Setelah beberapa saat, akhirnya ditemukanlah benda cantik yang sangat sesuai untuk pertunangan
Dikirimnya ulang foto perhiasan yang telah dipilih itu pada pemilik toko. "Kirimkan padaku perhiasan ini, hari ini juga!" ujarnya.
"Baik, Tuan!" sahut pemilik toko.
Ammo memutuskan sambungan telepon. Sekarang fokusnya kepada hal lain lagi.
"Kau harus membereskan kolam teratai itu, agar bisa digunakan untuk makan mslam!" ujar Ammo
"Baik, Tuan," sahut Theo. Pria itu berbaik dan melanjutkan pekerjaannya
__ADS_1
******