
"Apakah pria itu sakit hati dipecat Dorjan?" gumam Ammo penuh sesal.
Dialah yang dengan amarah memuncak, menyuruh Dokter Dorjan memecat dua perawat yang bertanggung jawab atas insiden penyetruman Maya.
"Tak mungkin seorang perawat mahir membawa pistol!" bantah Alexei.
Ammo menoleh padanya. "Maksudmu?"
"Dari rumah itu, kami lari ke dalam perkebunan. Kemudian bersembunyi di rumah yang sebelumnya ditempati Maya. Kami mengintip mereka bertiga bergegas ke arah rumah yang dulu ditempati Ivan. Tapi mereka tak menemukannya."
Alexei melanjutkan. "Saat melintasi rumah yang kami gunakan, perawat itu berbelok dan mengajak memeriksa rumah itu juga. Pandangan dan caranya memegang pistol itu seperti seorang profesional!" tandas Alexei.
"Hemmm ...." Ammo berpikir keras.
"Jika dia langsung ke rumah yang satu lagi, jelas dia memburu Ivan!" duga Ammo.
"Ya. Kata Ivan juga begitu. The Hunters memburunya. Itu juga sebabnya, saat kau mengusirnya, Dokter Dorjan melarangnya keluar dari sini. Tapi ditempatkan di kediamannya. Usahanya melindungi Ivan, membuatnya terbunuh!" ujar Alexei.
"Tapi dari pertanyaan Ana pada pembunuh yang terakhir, jelas terlihat kalau mereka adalah The Hunters yang disusupkan ke sini. Perawat gadungan itu sedang ditugaskan mengamati Ivan. Dan menurutku, dia juga pasti mengenali Maya sebagai salah satu buronan. Itulah sebabnya dia berlaku kasar!" ujar Alexei.
"Pertanyaannya, bagaimana dia bisa bekerja di sini, jika dia bukan bagian dari keluarga para pekerja. Semua pekerja di sini adalah putra-putri pekerja perkebunan. Mereka keluarga imigran seperti juga dirimu dulu!" kata Ammo.
"Yang bisa memutuskan penerimaan pekerja di sini siapa?" tanya Alexei.
"Aku mempercayai Dorjan sepenuhnya. Aku membebaskan dis memilih orang-orang berbakat dan pintar menurutnya. Awal mula klinik ini berdiri juga atas idenya. Dia memilih beberapa remajs yang tertarik untuk sekolah kesehatan. Aku menyetujui dan mendukung niat mulianya." Ammo mengusap wajahnya yang lelah.
"Sebaiknya kau kembali. Besok kita mungkin bisa berpikir lebih jernih. Aku dan bawahanku akan tetap berjaga di sini, sampai keadaan kondusif!" saran Alexei.
"Baiklah. Aku kembali dulu. Kau juga pergi istirahatlah ... dan terima kasih." Ammo meminta Sawyer bersiap untuk pulang.
Alexei memeriksa foto-foto yang siang tadi diambilnya. Dia ingin memeriksa wajah-wajah para penjahat itu dari data base milik Ana. Tapi komputernya ada di rumah. Saat itu dia baru ingat pada gadis tahanan yang ada di basement.
Alexei bangkit dan memberi perintah untuk berjaga serta waspada pada para bawahannya. Dia harus kembali dan mengecek keadaan gadis itu.
Sebuah mobil murah, meluncur di jalanan sepi. Hari sudah menjelang tengah malam. Di tengah kota, ternyata hujan baru saja turun. Dan itu membuat suasana menjadi makin sunyi. Penduduk kota lebih memilih berada di rumah yang kering dan nyaman.
Sesampai di rumah, Alexei langsung mengambil sebotol air mineral, lalu menuju ke basement. Dibukanya pintu ruanga rahasia hati-hati. Kemudian dia terdiam.
Ana telah memastikan membuat ikatan yang tak bisa dilepaskan. Sekarang gadis itu terkulai lemah di kursi besi, dengan kabel listrik membelit di bagian kaki.
Alexei mematikan stop kontak listrik untuk kabel itu, kemudian menegur gadis itu.
"Di sini kau rupanya!" ujar Alexei.
__ADS_1
"A-ir ... be-ri a-ir ...." Suaranya lirih.
"Ini air!" Alexei menunjukkan botol air ke dekat wajah Alena.
"A-ir ...." ulangnya.
"Kalau kau pikir aku seperti dia yang bisa kau tipu? Kau salah! Jawab dulu pertanyaanku, baru air ini milikmu!" katanya dingin.
Alena tak menjawab.
Alexei mencari foto-foto pelaku penembakan tadi. dan menunjukkannya.
"Katakan! Apa kau mengenal mereka?" Alexei menjambak rambut Alena agar kepalanya mendongak dan melihat foto itu dengan jelas.
Namun mata gadis itu begitu sayu. Dia terlalu lemah dan nyaris kehilangan kesadaran. "Wanita yang menyembunyikanmu di sini tertembak. Dia takkan bisa menjagamu lagi. Dan tiga lainnya mati!" Alexei menterornya.
Alena diam. Matanya menutup perlahan.
"Kau mungkin mengira aku berbohong. Ini fotonya. Kau lihat?"
Alexei menunjukkan foto Ana yang terbaring dengan dada bersimbah darah. Alena membuka matanya sedikit untuk melihat. Pandangannya memburam.
"Aku bukan dia. Kau hanya akan kuanggap berharga jika memberiku manfaat. Aku tak suka membuang-buang waktu untuk melayani pengkhianat sepertimu!" ujarnya ketus.
"Pola kerjamu, sama dengan tiga orang ini. Dari kelompok mana kalian? Apakah menyerang warga sipil adalah cara kalian melejit lebih cepat dari The Hunters yang ada di sini?"
Sekejap mata Alena menyala. Hanya sedetik saja. Persis seperti pelaku yang menembak Ana. Dia mengakui kata-kata Alexei tanpa sadar.
"Kasihan wanita itu, sia-sia dia berharap kau masih bisa dibawa ke jalan yang benar. Bajingan-bajingan yang mengejarmu ini yang menembaknya!" geram Alexei.
Mata Alena bergetar, mendengar ucapan Alexei. "Jika aku tidak memeriksa rumahnya, aku takkan tahu dia menyembunyikanmu di sini!"
"Ayo! Kau akan ku serahkan ke pusat. Kau hadapi saja hukumanmu. Aku butuh uang hadiah untuk membayar biaya rumah sakit wanita itu!"
Alexei membuka sedikit pintu ruang rahasia dan berteriak. "Hei, ada hadiah di sini!"
Kemudian dia berjalan mendekati Alena dan bermaksud melepas ikatan gadis itu.
"Ja-gan! To-long a-ku."
"Aku memang tak ingin menolongmu!" sahut Alexei ketus. Dia masih pura-pura berkutat dengan ikatan tali.
"Ban-tu a-ku!" lirih Alena.
__ADS_1
"Tidak! Semakin lama menahanmu, maka aku dan yang tinggal di sekitar sini mungkin akan jadi sasaran juga!" tolak Alexei.
"Lagi pula, jika tiga orang barbar itu mengetahui tentangmu di sini, pasti yang lain dari kelompok mereka juga ikut mengetahui!" tambah Alexei.
"Me-reka dari The Hun-ters sa-yap emas!" jawab gadis itu. Alexei tertegun. Dia baru mengetahuinya.
"Jelaskan! Jangan membohongiku!" Alexei menodong kepala Alena.
"Kami ada ada dua puluh orang!" jawabnya datar.
Alexei yang mendengar nada suara Alena berubah, bersiaga. Dia berdiri menjauh dan membidik Alena dengan senjata yang siap menyalak. "Apa beda kalian dengan kami?"
Alena tersenyum. "Bedanya, kami mampu melakukan hal yang kalian tak mampu lakukan! Itu sebabnya kelompok kami lebih cepat melejit dan menjadi kepercayaan!" ucapnya bangga.
"Kau bodoh atau apa?" Alexei berkata dengan heran.
"Mereka bahkan telah membuangmu! Hadiahmu besar!"
Alexei menggelengkan kepala. "Untuk apa aku terlalu banyak bicara!"
Dorrr!
"Aaaaahhhh...!"
Alena memekik kencang saat sebuah peluru bersarang di bawah tulang selangkanya.
"Ahh ... meleset! Aku harus lebih rajin berlatih!"
Alexei membidikkan lagi pistolnya ke arah Alena. Gadis itu menatap ngeri. Tapi rasa tinggi hatinya membuatnya bertahan untuk tidak bekerjasama dengan Alexei.
Tapi Alexei bukanlah hanya bermain-main. Dia sedang marah melihat Alena yang ternyata satu kelompok dengan tiga pembunuh yang melukai keponakannya.
Dorrr!
"Aaaahhhh...."
Satu peluru lagi menerjang bahu kanan Alena. Kali ini lebih dekat ke leher. Darah yang mengucur jauh lebih deras lagi. Tubuhnya yang sudah lemah tanpa asupan selama dua hari, kini merontokkan pertahanannya. Pandangannya segera berkunang-kunang.
"Kau tak berguna!" suara Alexei teraman dingin.
Dorrr ... dorr!
Dua tembakan mengakhiri hidup gadis yang tak pernah merasa menyesal dengan apa yang telah dilakukannya.
__ADS_1
********