Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
44. Jake dan Eilenor Oswald


__ADS_3

Pukul 12 siang, Ammo terlihat di dalam gedung perkantoran di pusat kota. Tak ada seorang karyawan pun di sana. Hanya ada orang-orang berseragam hitam kepercayaannya dan Sawyer yang mengantar Ammo dengan helikopter.


Bersama Ammo, mereka memindai seluruh ruang kantor dan ruang istirahat pribadinya. Ruangan Rosie sekretarisnya, serta meja James, tak luput dari pemeriksaan.


Mereka menemukan satu kamera ukuran micro, terselip diantara kristal chandelier di atas coffe table tempat menerima tamu.


Ammo mengeraskan rahangnya, wajahnya memerah. Dua tangannya terkepal kuat dan ada kerutan yang tampak jelas di dahinya. Ammo mengangguk ketika petugas berseragam hitam itu bertanya dengan matanya.


Petugas itu segera menutup layar kamera dan melepaskannya dari badan lampu. Petugas itu turun dari tangga. Petugas lainnya datang membawa tas koper kecil. Alat itu dibuka di atas meja. Mereka memencet beberapa tombol, sebelum kamera itu disambungkan pada alat.


Sekarang, gantian peralatan petugas itu yang meretas dan mencari jalan menuju pemilik kamera.


Bersama Ammo, mereka melihat, dan sedikit tak menduga hasil akhirnya. Dua petugas itu memandangnya ragu. Tapi Ammo mengangguk. Salah seorang dari mereka keluar dan membuat perintah.


Ammo memasuki ruangan pribadinya. Dilepaskannya jas mewah yang dikenakannya. Juga mengganti kemeja biru mudanya dengan sebuah kemeja Berganti pakaian khusus yang dikeluarkannya dari lemari.


Ammo sedang merapikan sepatunya saat pintu ruangan khusus itu diketuk dari luar.


"Ya!" jawab Ammo.


Ammo melihat ke cermin. Wajah yang biasanya datar itu, kini menyeringai buas. Dengan cepat diraihnya dua bilah pedang yang digantung indah di dinding. Lalu mengambil penutup wajah khusus dengan tangan kirinya. Ammo keluar dengan menendang pintu ruangan itu hingga terbuka.


Dua petugas dan seorang pria paruh baya di ruangan kerja, terkejut mendengar derak suara pintu ditendang. Tubuh pria itu gemetar saat melihat Ammo keluar dengan pakaian seragam putih dan rompi warna khaki.


Ammo melemparkan sebilah pedang pada pria yang berlutut di lantai.


"Ambil itu untuk harga dirimu yang terakhir!" ujar Ammo dingin.

__ADS_1


Dia bersiap dan mengayunkan pedangnya beberapa kali, untuk meluweskan sendi-sendi tangannya. Matanya menatap tajam pada pria yang masih tak mengindahkan perintah Ammo.


"Aku bukan ayahku yang memiliki kasih sayang berlebih pada pengkhianat, atas nama keluarga!" ujar Ammo sinis. Ditunjuknya pedang di lantai. Kemudian memakai maskernya sendiri.


Ammo berdiri dengan sikap siap bertarung. Jika ini adalah sebuah eksebisi, maka akan banyak yang memberikan tepukan tangan untuk standing start Ammo yang indah.


Dua penjaga berseragam menjauh dari dua orang yang akan segera bertarung dengan pedang.


"Biar ku jelaskan," tawar pria paruh baya itu.


Di detik dia selesai bicara, Ammo bergerak maju dan berputar sedikit sebelum melajukan ujung pedangnya ke depan untuk menusuk pinggang pria itu.


"Akhh!"


Pria itu berteriak kesakitan. Namun dengan ekspresi dingin, Ammo menarik kembali ujung pedang yang tertancap itu. Darah mengucur membasahi jas cokelat pria itu.


"Bagus!" ujar Ammo dengan nada dingin. Dia bersiap lagi. "Aku tau paman Jake pemain anggar yang ulung. Sekarang lawan aku, seperti kau melawanku selama ini!" sambungnya ketus.


Pria setengah baya itu melepas jas cokelatnya yang bernoda darah. Dia bersiap. Memegang pedang pada posisinya.


Ammo maju dan memainkan pedangnya dengan ganas.


Ssretttt!


"Aakhhh!" Jake mengaduh lagi. Kali ini lengannya jadi korban mata pedang Ammo yang tajam.


"Itu bukan gerakan anggar, Ammo!" protes Jake.

__ADS_1


"Bukankah mata pedang Paman sudah melukaiku lebih dulu? Kau memaksaku melebihi batas kesabaranku!" balas Ammo.


Ammo kembali pada posisi awalnya lagi. Jake mengatupkan rahang. Siapa yang membocorkan? Wajahnya memerah menahan marah. Dia tak bisa lagi berpura-pura. Entah bagaimana, Ammo sudah tau segalanya,


Jake kembali bersiap. Tapi kali ini Ammo tak menunggu Jake bersikap sempurna. Dia sudah maju dan menyerang, menebaskan pedang tajamnya. Dada Jake tersayat panjang, dari bahu hingga ke pinggang.


Jake terkejut dan melihat bercak merah menyebar deras di dadanya. Matanya menatap Ammo tak percaya. Pedangnya lepas dari pegangan dan menggelinding di lantai.


Ammo membuka penutup wajah dan menjatuhkannya di lantai. Matanya yang dingin memandang pria paruh baya, Jake Oswald adik kandung ayahnya.


Ammo bersiap. Pedang digenggamnya dengan kedua tangan, lalu diangkat sejajar dengan bahu kirinya.


"Kesempatan terakhir. katakan siapa yang menghasutmu!" ujar Ammo.


"Aku akan katakan pada Eilenor, bahwa Ammo kesayangannya yang membu—"


"Crashhh!"


Pedang Ammo telah mengakhiri ucapannya.


Pria setengah baya itu jatuh tersungkur di lantai.


"Akan ku katakan pada Bibi Eilenor bahwa Kau telah berkali-kali mencoba membunuh Aku dan ibuku!"


Ammo melemparkan pedangnya ke lantai.


*******

__ADS_1


__ADS_2