Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
99. Candie


__ADS_3

"Terima kasih, Nyonya," ujar polisi itu. Kini dia dapat menangkap pria yang menerobos masuk ke halaman rumah orang tersebut. Orang itu langsung diborgol. Keadaannya menyedihkan. Penuh bekas digigit lebah.


Melihat sarang lebah tergeletak berserakan di lantai batu, Ana sedikit emosi.


"Sekarang kau merusak propertiku!" omel Ana sambil memukulkan tongkatnya ke tubuh orang itu.


"Nyonya, sudahlah ... dia sudah mendapatkan balasannya," bujuk polisi itu, mencegah Ana memukul lagi.


"Aku harus mendapatkan ganti rugi untuk ini!' ujar Ana dengan ekspresi tak puas.


"Kami akan mencatat keluhan Anda," jawab polisi itu cepat.


"Bagaimana di sana?" tanya polisi yang satu.


"Aku sudah menanganinya!," jawab polisi di samping Ana.


Suara ambulans terdengar menyusuri jalan masuk di depan rumah. Terdengar teriakan memanggil dari depan rumah. Ana betjalan ke depan. Dia tak mempedulikan lagi orang di belakang itu.


Petugas ambulans tiba membawa brankar saat Ana sampai di teras. Ana menunjuk ke arah belakang, agar petugas itu melanjutkan langkahnya ke sana.


Dengan ragu, petugas itu memandang polisi yang sedang berdiri di dekat pria yang meringkuk ditutupi jaring. Polisi itu mengangguk. Petugas ambulans mendorong brankar-nya ke atas paving blok.


"Pak polisi, bisakah jaring jebakanku dilepas?" tanya Ana.


"Tidak. Itu sudah jadi barang bukti!" tolak polisi itu.


"Oh, aku rugi banyak, menyewa tempat ini," keluh Ana dramatis.


Polisi itu tersenyum sabar. Dilihatnya wanita gendut itu duduk di kursi taman dengan susah payah.


"Kami akan mencatat keluhan Anda." Ucapan klise itu keluar lagi.


"Ya ... ya." Ana masih tak puas.


Brankar berisi orang pingsan digigit lebah madu itu, didorong menuju pintu pagar.


"Sudah kau foto semua di sana?"tanya polisi yang di teras.


"Apa yang kalian foto?" tanya Ana curiga.


"Ini, Nyonya." Petugas itu menunjukkan foto-foto bukti yang baru diambilnya. Ana mengangguk.


"Dan Anda, apakah mengambil foto bukti juga? Tunjukkan padaku!" desak Ana.


Polusi di teras berdiri dan membuka ponsel. Kemudian menunjukkan beberapa foto pada Ana. Polisi itu bahkan mengambil foto plafon. Ana mengangguk.


"Kami akan membawanya ke kantor polisi. Kami permisi dulu," pamit polisi itu.


Ana mengikuti keduanya hingga pintu pagar. Dia bertanya lagi. "Apakah tak ada mobil polisi yang patroli lagi? Tempat ini terasa menyeramkan sekarang. Bahkan ada yang nekad menyamar jadi polisi di siang hari," keluh Ana.


"Itu pelanggaran berat, Nyonya. Hukumannya tidak ringan. Apa lagi terbukti mereka menerobos masuk properti tanpa injin dan bermaksud menyelinap masuk," sahut petugas itu.

__ADS_1


"Mereka bahkan tidak takut, meskipun menyadari aku berada di rumah dan menolak membuka pagar."


Polisi yang satu terus mencatat ketengan Ana. Sementara yang satu lagi sudah duduk di kursi kemudi.


"Apakah mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian di dua rumah sebelah ini? Mengerikan sekali kejahatan mereka. Aku menonton beritanya di televisi!"


Ana terus menumpahkan uneg-unegnya, hingga polisi itu bosan. "Kami sudah mencatat semua keluhan Anda. Jika masih ada yang ingin ditambahkan, Snda bisa datang ke kantor polisi," ujarnya masih dengan sikap ramah.


"Tidak ... tidak ada lagi. Hanya saja, saya harap mobil patroli bersedia melewati tempat ini sesekali," ujar Ana menutup pembicaraan.


"Baik. Kami akan memutari tempat ini sebelum kembali." Polisi itu mengangguk dan memasuki mobilnya.


Ana bisa melihat wajah licik pria di belakang itu. Ana mengetuk jendela depan. Polisi itu menurunkan kaca jendelanya. "Ya, ada apa lagi, Nyonya," tanyanya.


"Aku merasa dia aneh dan berniat jahat pada kalian. Pastikanlah dia tak menyimpan senjata apapun dan borgolnya masih ada. Berhati-hatilah padanya," pesan Ana.


"Terima kasih perhatiannya, Nyonya," jawab polisi itu sopan.


Perlahan mobil itu pergi dan menyusuri jalan menuju ke pinggir hutan. Suaranya sirinenya berbunyi sesekali.


Ana masuk serta mengunci lagi pintu pagar. Dia berjalan memasuki rumah, setelah mengawasi sekitarnya.


Dengan cepat diperiksanya semua pintu dan jendela. Lalu duduk di meja makan dan membuka semua layar cctv. Diperiksanya semua rekaman. Terutama saat dia tak ada di rumah, hingga waktu dia tertidur.


Ana bisa lihat, dua orang yang sama mondar-mandir di pagar depan tadi malam. Tapi keduanya belum memakai seragam polisi. Dua orang itu akan tiba-tiba hilang setiap mendengar suara sirine patroli, mendekat.


Ana mengamati cctv yang dipasangnya di sekitar. Sepertinya, jalan rahasia itu sudah diketahui orang. Mungkin saat dia keluar dan masuk, ada yang mengawasi. Dua orang yang sama, berjalan mondar mandir di depan pintu rahasia. Mereka mencoba mencongkel batu-batu yang dipasang di situ, namun tak berhasil.


"Pintar!" komentar Ana.


"Kalian menyusahkanku," gerutunya.


Ana turun ke basement. Berjalan melewati garasi dan menyusuri lorong menuju pintu keluar yang dia pakai sebelumnya. Ana menyalakan lampu di tengah perjalanan.


Dilanjutkannya berjalan hingga tepat berada di pintu keluar. Diperiksanya pintu dengan seksama. Ana memasang kunci ganda dari dalam. Gadis itu menarik dinding batu yang berada di bagian kiri. Didorongnya agar menguatkan posisi pintu itu. Ana memastikan kedudukannya tak goyah.


Setelah itu dia berpindah. Dtariknya juga dinding batu sebelah kanan lorong. Disorongnya kembali untuk mempertebal bagian pintu tersebut. Lantas mengunci posisinya agar kuat dan tak mudah bergeser. Sekarang, dinding itu punya ketebalan tiga meter.


Kemudian Ana mundur lagi beberapa langkah. Tempat itu tepat di bawah tanah ladang bunga matahari. Kemudian ditekannya tombol besar berwarna merah yang ada di dinding. Sebuah pintu terbuka di bagian kanannya.


Ana pindah berdiri ke sisi kanan dan menekan tombol lain yang ada di situ. Beberapa troli berisi tanah dan batu, terlihat menumpuk di sana. Digunakannya remote yang ada, untuk menjalankan troli berusi batu-batu besar untuk menutupi bagian bekas pintu masuk dengan beban berat mereka.


Semua troli sudah berada di tempatnya. Ana memasang pintu untuk menutup bagian lorong itu. Sekarang dia punya jalan rahasia yang lainnya. Ana tersenyum puas. Dia telah membangun kediamannya ini dengan rencana lengkap serta memiliki jalan keluar darurat.


Ama memeriksa pintu keluar di tempat itu. Memastikan kunci pintu itu tetap terpasang dengan benar. Dia akan membukanya nanti.


Ana berjalan kembali menuju garasi. Semua yang perlu, sudah disiapkannya. Dia hanya ingin mengisi perut sebentar.


Ana sedang makan, saat telepon kembali bergetar. "Dia lagi? Tak punya kerjaan lain kah?" gumam Ana sebal.


"Ya!" ujarnya begitu sambungan dibuka.

__ADS_1


"Bagaimana dengan dua polisi tadi?" tanya Ammo tak sabar.


"Sudah dibawa ke kantor polisi," jawab Ana sambil mengunyah makanan.


"Berikan alamatmu, biar kukirim beberapa pengawal ke sana!" ujar Ammo.


"Apa kau pikir aku tak bisa menghadapi dua kecoa seperti itu, hah!" hardik Ana kesal.


"Ada apa denganmu? Aku hanya ingin membantu," kilah Ammo.


"Kau seperti orang tak punya pekerjaan. Menggangguku sejak pagi. Dan masih menggangguku sarapan!" sewotnya.


"Sarapan apa? ini sudah tengah hari!" Ammo bertanya heran.


"Nah, kau tahu itu. Jadi jangan ganggu dan menbuat sarapanku selesai di sore hari! Bye!" Ana memutuskan sambungan telepon dengan hati dongkol.


Dipandanginya makanan di piring yang seperti mengejek. Dan itu membuatnya makin kesal.


"Haaahhh ... Ammo, kau memang mengesalkan! Dari dulu kau cerewet dan menjengkelkan!" teriaknya marah.


Ana mengatur nafasnya yang memburu, dan jantungnya sedikit berdebur kencang. Kepalanya terasa agak sakit sekarang. Bagaimana tiba-tiba dia bisa menyadari Ammo adalah orang yang menjengkelkan?


Ana kembali menyendok makanan ke mulut. Dia ingat tentang teori keyword Dokter Sarah. "Apakah keyword adalah luapan kemarahan pada Ammo?" batinnya..


Namun kemudian Ana menggeleng. "Tidak mungkin! Jika memang itu, maka harusnya sekarang sudah terbuka semua memoriku," bantahnya sendiri.


"Baiklah, lupakan. Aku masih banyak pekerjaan di sini. Menguras kolam renang, mengganti jaring, memperbaiki sarang lebah. Semua jebakan harus kembali terpasang sebelum ada yang nekad datang lagi ke sini!" gumamnya.


Selesai membersihkan rumah, Ana mengeluarkan kotak sampah. Dia mengumpulkan bahan daur ulang dari plastik kemasan di tempat tersendiri, dan menbuang sampah makanannya pada lubang di tanah, tak jauh dari kolam renang mininya.


Satu harian dia mengerjakan semua sendiri. Hingga langit memerah, baru kolam itu selesai diisi kembali.


"Kau ternyata menyusahkan wanita tua ini!" keluhnya pada kolam yang menghabiskan waktunya sesiang itu.


Ana memberi makan ikan di kolam air mancur kecil di pojok teras serta menambah airnya dengan bekas air kolam renang. Dia merasa puas sekarang. Rumah mungilnya kembali rapi, setelah sekian lama ditelantarkan. Bersih dan semua tanaman di pot sudah disiram dengan cukup.


Setelah mandi, Ana kembali menyiapkan makan malam. Dia meraih ponsel. Mengirim pesan pada Ammo. Ingin tau keadaan Nathalie. Kemudian Ana makan dengan santai. Setelah itu, piring dan gelas dibawanya ke sink cuci piring. Ana tertegun melihat lampu merah kecil berkedip-kedip di bawah pantri, tepat di atas sink.


Ana ingat lampu itu. Diambilnya laptop dan mulai memeriksa. Itu adalah tanda darurat dari informannya. Dia menemukannya. Gadis itu jauh dari negara ini.


Ana membalas signal yang dikirim gadis itu, dengan kode khasnya.


Ana bisa membaca signal Morse yang dikirim balik. Candie merasa gembira Ana berhasil dihubunginya. Dia melihat berita kematian Gerry, serta kejadian di kantor polisi. Dia yakin, Ana yang telah membalaskan kematian Gerry.


Candie mengatakan dia tak usah dicari. Dia akan menjauh dari semuanya, hingga keadaan membaik. Dan berterima kasih sudah membalaskan kematian Gerry.


"Berhati-hatilah. Terus beri kabar padaku. Aku akan menjaga kalian sebisaku," balas Ana.


Komunikasi itu terputus. Ana merasa sedikit lega. Maya, Candie, Gerry. "Tinggal Bobby dan Mark," batinnya.


******

__ADS_1


__ADS_2