Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
24. Adriana


__ADS_3

"Ahh, kau terlalu polos. Tidakkah kau pikir, mungkin Tuan Lindl-mu itu berkomplot dengan Robertson? Lalu pura-pura memuat sesuatu yang kau kira bom? Mungkin mereka ingin meyakinkanmu agar tetap berada di sini. Alih-alih menjagaku dari serangan orang lain, kau justru memata-mataiku dan melapor secara teratur padanya!" Ammo tertawa getir.


Ammo membuka laci meja. Menulis sesuatu di kertas. Lalu memanggil Rosie melalui intercom.


"Bawa Blake ke sini. Katakan padanya ada tugas penting!"


Kemudian James dapat bernafas lega melihat jarum besi yang mengancamnya telah diangkat kembali ke atas plafon. Dia mengatur nafasnya yang tadi berdegup kencang dan duduk di kursinya. Meski kurungan besinya belum diangkat, tapi selembar nyawanya telah selamat.


Satu jam berlalu ketika pintu diketuk. dan Ammo mengijinkan masuk.


Rosie masuk dengan seorang pria berjambang lebat dan berpakaian khas orang jalanan. Keduanya melirik sebentar ke arah kurungan besi itu. Keduanya mendatangi meja Ammo.


Ammo menatap Rosie.


"Apa kau sudah siapkan segala sesuatunya?"


"Ya Tuan," jawabnya datar.


"James, ini ada cek $500.000. Kau bisa hidup dengan tenang di suatu tempat terpencil. Dan mungkin bisa kembali membantu orang dengan kemampuan medismu. Saranku, jangan menonjolkan diri. Atau Tuan Lindl akan menemukanmu dan sejarahmu berakhir!"


Rosie mengambil lembaran cek itu dan bersama pria brewok itu menghampiri James.


"Ammo!" seru James tak mengerti


"Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menjagamu. Pergilah ... jangan lagi bergabung dengan kelompok yang semacam ini!"


Ammo menyentuh tombol di bawah meja. Lalu besi pengurung itu naik perlahan ke atas plafon. James yang ingin berjalan ke arah Ammo segera mendapatkan todongan senjata.


Blake segera meringkus James yang masih kebingungan. Memeriksa tubuhnya, mengambil ponsel dan pistol yang disimpannya di saku, dan menaruhnya di meja.


"Ayo jalan. Lebih cepat menghilang dari sini, lebih bagus untuk nyawamu," ujar Blake.


Rosie mengangguk, lalu menyelipkan Cek sebesar $500.000 itu ke saku jas James. Rosie tersenyum dan melambai di depan pintu saat James dibawa melalui jalan rahasia.

__ADS_1


Rosie masuk ke ruangan lagi dengan membawa trolley kecil. Dia membereskan meja James dari semua hal. Meja itu kembali bersih. Trolley itu dibawa ke arah Ammo untuk diperiksa.


"Siapa Tuan Lindl ini?" gumam Ammo berkali-kali.


Dia belum menemukan jawaban tentang orang misterius ini. Bahkan Ammo tak menemukan petunjuk apapun pada benda-benda yang ditinggalkan James. Ponsel pria itu hanya berisi deretan panggilan Private Number. Tiba-tiba matanya bersinar.


"Rosie, berikan aku alamat apartemen James!"


Ammo meraih jas yang disampirkan di gantungan. Dia berjalan dengan langkah panjang-panjang menuju pintu.


Diluar, Rosie segera menyerahkan selembar kertas ke arah James yang keluar pintu.


"Ted, keluarkan kudamu!" seru Ammo.


"Ya Tuan!"


Suara seorang pria menyahut dari arah lain. Lalu terdengar langkah kaki berlari. Dia mendahului Ammo menuju pintu rahasia. Lalu keduanya menghilang.


*


*


Pintu terbuka dengan mudah. Ammo meraih Amplop coklat yang ada di depan pintu, lalu masuk ke dalam. Dia melihat berkeliling ruang apartemen satu kamar itu. Meski kecil, namun cukup mewah.


Ammo memeriksa seisi apartemen. Dia tak menemukan petunjuk apapun. Tak ada foto siapapun di apartemen ini. Tak ada jejak, bahkan jejak jari James tak ditemukannya.


"Bukankah ini terlalu bersih?" pikirnya heran.


"Apakah Tuan Lindl sudah mengetahui bahwa penyamaran James terbongkar?" gumamnya.


Ammo bergegas membuka amplop coklat tadi dan menumpahkan isinya di meja makan.


Ammo terkejut melihatnya. Dia melihat foto beberapa orang yang dikenalnya sejak lama. Ana, Adriana, George, Sanders.

__ADS_1


"Heh ... apakah kau juga dicuci otak Sanders? Atau kau lebih senang dengan panggilan James?" Ammo berkata dengan getir.


Ammo mengumpulkan semua foto-foto yang ada dan membawanya pergi. Saat keluar ruangan, dia mendorong dengan kaki kotak paket yang masih tertinggal di luar. Tapi mata jelinya melihat ada yang janggal dengan kotak itu. Dia meraih dan membawanya masuk ke dalam apartemen.


Dengan pisau dapur, dia menyobek plastik pembungkus kotak. Membuka semua lakban yang melilit, membuka kotaknya dan melihat dengan mata terbelalak. Ada kepala seseorang di situ.


Ammo berbisik lirih. "Adriana ...."


"Sialan! Siapa kau sebenarnya Lindl? Aku akan membalaskan dendam ini!" teriaknya murka.


Tetesan air matanya jatuh. Adriana dan Sanders adalah sepasang kekasih di masa remaja mereka. Sementara dirinya menaruh hati pada Anastasia, gadis manis yang tinggal di panti bersama Andriana dan Sanders. Meski dirinya putra konglomerat, tapi dia bisa bebas berteman dengan teman-teman di sekitar rumahnya. Termasuk anak-anak panti asuhan yang ada di ujung jalan.


Ada yang mencuci otak Sanders, hingga tak bisa mengenaliku sebagai teman masa kecilnya. Tapi bagaimana mereka bisa menemukan Adriana? Bukankah dia sudah mengatur agar gadis itu tinggal jauh dari dirinya dan Ana?


Ammo membuka ponselnya. Memanggil seseorang.


"Ted, Carikan sebuah kotak ——"


Ammo berhenti bicara saat mendengar bunyi berdetik. Matanya membesar.


"Sial!"


Ammo berlari menuju pintu, tapi tak bisa dibuka. Dia kembali dan mengangkat bangku di meja makan. Melemparkannya ke jendela kaca besar di ruang duduk. Kaca itu bergetar dan retak sedikit. Diraihnya lagi bangku dan menghempaskan sekuat tenaga ke arah kaca jendela. Kaca itu pecah berderai dan berjatuhan ke bawah gedung.


Ammo melihat ke bawah. Kamar James ada di lantai 10. Dia mempersiapkan peralatan daruratnya.


"Ted, pergi dari situ!" teriak Ammo.


Ammo membalikkan jasnya, menariknya hingga sepanjang mata kaki. Mengancingnya rapat, lalu mengepakkan dua tangannya. Keluar semacam sayap dari parasut di bawah kedua lengannya.


Ammo bersiap-siap dari ruang duduk. Lalu melompat seiring terjadinya ledakan besar di ruang makan.


Ammo meluncur terjun beberapa saat sebelum merentangkan kedua sayap di bawah kedua lengannya. Dia terbang seperti burung dengan sawap terbentang, melewati gedung-gedung pencakar langit kota itu.

__ADS_1


******


__ADS_2