
Pertemuan berakhir sore hari. Mereka mendiskusikan banyak hal serta rencana-rencana untuk mendukung tujuan Pemimpin Klan. Semua ikut ambil bagian untuk memuluskannya.
"Sudah saatnya kita membalaskan dendam ini!" kata Ammo lantang.
"Ya! Sudah saatnya membalaskan dendam Klan!" Khouk juga berseru, memberi semangat pada yang lsinnya.
"Ya! Kita harus bersatu dan membalas. Demi mengembalikan kejayaan Klan!" sambut yang lain.
"Demi Kejayaan Klan!" yang lain menirukan.
Ammo dengan cepat telah merekrut beberapa ahli, untuk bekerja di pusat riset dan teknologinya. Orang-orang itu sangat bersemangat dengan pekerjaan baru itu. Terlebih lagi, bekerja di perusahaan besar seperti itu, tidaklah mudah.
Ammo akhirnya lega. Setelah tiga bulan menutup perusahaan itu, sekarang akhirnya bisa berjalan lagi. Beberapa perencanaan yang tertunda, bisa segera dieksekusi untuk mendukung kinerja tim lapangan.
Pria itu bahkan mendapatkan seorang dokter yang bersedia bekerja di perkebunan anggur menggantikan tugas Dorjan merawat para pekerja perkebunan.
Betapa marahnya para anggota klan itu kala mengetahui Dokter Dorjan dan seluruh stafnya dibantai oleh Biro Klandestine. Sekarang, biro itu dan para The Hunters yang berkeliaran, sudah dianggap sebagai musuh bersama.
"Kita harus bekerja sama untuk membereskan mereka. Jika bertemu, beri tahu yang lainnya, sebelum bertindak. Ingat, jangan pernah menghadapinya sendirian! Mereka orang-orang terlatih!" Ana mengingatkan.
"Baik, Pemimpin!" jawab orang-orang itu serempak.
"Baik, pertemuan ini kita sudahi. Kalian bisa menghubungi Khouk, jika punya pertanyaan!" ujar Ana.
Para tamu bubar dan kediaman besar itu kembali sepi. Para pelayan sudah hilir mudik merapikan kembali aula tersebut.
"Aku ingin duduk di kolam teratai, boleh tidak?" tanya Ana.
"Tentu saja boleh!" Ammo menggandeng tangan Ana dan membimbingnya ke sana.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Ammo.
"Senang. Tapi belum cukup puas. Aku yakin, apa yang berlangsung hari ini akan segera diketahui para penasehat itu. Dan itu pasti mengejutkan mereka!" Ana terkekeh senang.
"Kau tidak merasa khawatir?" tanya Ammo.
"Tidak! Aku akan memecat para penasehat yang merasa kedudukan dan kekuasaannya lebih tinggi dariku!" katanya pasti.
"Pemimpin, tapi memang tugas para penasehat untuk mengingatkan!" Khouk kembali menyela keputusan Ana.
Gadis itu berhenti dan berbalik ke arah Khouk yang mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Penasehat tujuannya menasehati, memberi masukan. Hanya itu! Ingat, hanya memberi masukan! Bukan memaksa Pemimpin Klan untuk mengikuti apa yang mereka katakan! Jika sudah terjadi pemaksaan, maka artinya kekuasaan mereka jauh lebih tinggi dariku!" Kata Ana pedas.
"Kau mengetahui banyak aturan dan hukum di klan. Jadi kutanya padamu, kedudukan siapakah yang lebih tinggi dalam Klan Khaan?" sambung Ana lagi.
Khouk diam beberapa saat. Mungkin sedang mengingat-ingat peraturan klan.
"Yang paling tinggi adalah Pemimpin Klan!" jawab Khouk yakin. "Hal itu ada di dalam aturan dasar pertama Klan Khaan!" Khouk mengangguk.
Ana berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya dengan menggandeng Ammo.
"Berarti tindakanku hari ini tak perlu ada yang ribut. Jika ada dari para penasehat itu yang bersuara, artinya dia telah melangkahi wewenangnya. Catat namanya, agar bisa kupecat!" ujar Ana tegas.
"Baik, Pemimpin!" sahut Khouk. Pria itu kini bisa melihat, bahwa Ana bukanlah wanita lemah. Dia sangat pentas menjadi pemimpin Klan yang berwibawa.
Ketiga orang itu telah sampai di depan pintu taman kolam teratai. "Minta Theo untuk membawakan teh ke sini," perintah Ana pada Khouk.
"Baik!" Khouk segera berlalu dari sana.
"Apa kau benar-benar ingin teh?" tanya Ammo heran. Bukankah mereka baru saja selesai dari acara yang penuh dengan makanan dan minuman?
Ana mengabaikan pertanyaan Ammo. Perhatiannya tertuju pada ikan-ikan warna-warni yang sedang asik berenang di kolam. Berkumpul di dekat air mancur.
"Tempat ini sangat indah. Terima kasih sudah mengijinkanku ke sini," ujar Ana.
"Apakah bibi yang membuat kolam ini?" tanya Ana. Dia mengabaikan Ammo lagi.
"Ya. Mama yang ingin kolam ini. Dia juga yang mendisainnya," sahut Ammo mulai dongkol, karena dua kali ucapannya tak diindahkan Ana.
Ana duduk di gazebo. Dia sudah kelelahan, dan dadanya terasa sedikit sakit.
"Ammo, aku belum akan memikirkan pernikahan, sampai tujuanku membalas Biro, tercapai!" jelas Ana.
"Baiklah..Kita toh sedang menyusun rencana ke arah itu. Setelahnya, kita bisa memikirkan matang-matang rencana pernikahan kita!" ujar Ammo bijak.
"Bagaimana kalau ternyata butuh waktu lebih lama dari dua bulan yang kita rencanakan tadi?" Ana menoleh pada Ammo.
"Aku akan menunggumu," Ammo memeluk gadis itu dari belakang. Ana membiarkannya.
"Bagaimana jika butuh lebih lama dari itu?" tanya Ana lagi.
"Aku sudah bertahun-tahun menyimpan rasa ini. Menunggu setahun lagi, bukanlah masalah besar!" Ammo meyakinkan Ana.
__ADS_1
"Kurasa, lebih baik kau membuka mata dan melihat gadis lain yang bisa memberimu banyak cinta," ujar Ana lagi.
"Kau tak perlu pusingkan soal itu. Aku akan terus menjadi pendukung utamamu!" kata Ammo lembut.
Theo yang sedang membawa baki berisi teh, berhenti seberang kolam. "Ayo, kita kembali dulu!" ujarnya.
"Kenapa? Bukankah kita sudah akan sampai di sana?" protes Khouk. Tapi pria itu akhirnya diam sendiri, dan mengikuti Theo pergi dari sana. Biarkan sepasang manusia di gazebo itu menikmati suasana petang dalam kemesraan.
"Kita akan segera mempersiapkan pernikahan!" Theo sangat antusias.
Khouk tiba-tiba ingin membantah. Tapi ditahannya. Kadang dia suka membantah di saat yang tidak tepat. Dan itu sering membuat dirinya disalah pahami orang lain.
Dua orang itu menunggu selama tiga puluh menit, sebelum masuk kembali. Dan benar saja, kemesraan tadi sudah hilang. Teh dan penganan dapat membangkitkan mood dua sejoli itu, lagi.
Dengan cekatan Theo menuangkan teh bunga teratai ke dalam cangkir. Disambung dengan menyajikan penganan lezat.
"Bagaimana di aula?" tanya Ammo.
"Sudah hampir selesai, Tuan. Jawab Theo. Tinggal membersihkan lantai yang kotor.
"Bagus. Setelah itu, kalian bisa makan malam dan beristirahat," kata Ammo.
"Baik, Tuan. Terima kasih!" Theo mengangguk dan mengundurkan diri.
Sambil berlalu, ditariknya tangan Khouk, agar mengikutinya pergi.
"Ada apa lagi?" tanya Khouk heran.
"Ayo keluar ... jangan mengganggu mereka lagi!" larang Theo.
"Aku tidak menganggu!" sangkal Khouk.
"Kau terlalu lama jomblo, sampai tak mengerti kalau mereka ingin privacy!" omel Theo.
"Apa maksudmu itu?" sergah Khouk dengan wajah memerah.
"Di rumah ini, ada banyak pelayan wanita single. Coba buka matamu lebar-lebar. Mungkin ada yang menarik hatimu," saran Theo sambil berlalu.
"Hei, kau mau ke mana lagi?" panggil Khouk.
"Bekerja! Tugasku mengatur rumah. Dan tugasmu adalah menjaga Nona Ana. Jadi tunggulah di tempat itu!" Theo melambaikan tangan dan pergi.
__ADS_1
"Hah ... sekarang tugasku menjaga orang-orang pacaran!" lirihnya sambil senyum tertahan.
******