Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
160. Keheningan Sebelum Badai


__ADS_3

Pagi hari, Ana yang ditemani Gan, diantar pulang ke rumah oleh Sawyer.


"Jadi, ini rumah anda, Pemimpin?" ujar Gan.


"Hemm ...," sahut Ana. Karena kata-kata Gan bukanlah pertanyaan, tapi lebih seperti pernyataan.


"Rumah ini kecil. Hanya ada satu kamar. Jadi kau akan tidur di sofa bed!" jelas Ana.


"Oke!" Gan mengangguk mengerti.


Ana mematikan sistem keamanan rumah, lalu membuka semua pintu dan jendela agar ada pertukaran udara di dalam rumah. Gan membantu membersihkan sedikit debu dari lantai dan permukaan benda-benda.


Ana tersenyum tipis melihatnya. Ayahnya sangat cerdik saat memilih Gan. Sebagai wanita, Gan pasti sedikit familier dengan bersih-bersih. Jadi bisa sedikit membantu Ana.


"Apa ayah berpikir aku tak bisa mengurus diri sendiri?" batin Ana.


Setelah rumah itu kembali rapi dan bersih, Gan membuka pintu untuk melihat halaman.


"Tetaplah di jalan masuk. Atau kau akan jadi kornet!" Ana memperingatkan.


"Hah?" Gan terkejut mendengarnya.


"Apa anda memasang ranjau di seluruh halaman?" tanyanya dengan nada tak percaya.


Ana mengangguk. "Hemm ...."


Mulut Gan membentuk huruf O kecil dan memasang ekspresi terkejut. Ana terkekeh melihat reaksinya.


"Apa kau pikir aku akan membiarkan orang masuk ke sini begitu saja?" tanya Ana.


Gan menggeleng ragu. "Tapi, bukankah penggunaan bahan peledak itu berbahaya. Apakah anda tidak akan bermasalah dengan hukum nanti?" cecar Gan.


"Ini properti pribadi. Dan di depan pintu sudah kutulis dengan jelas, dilarang masuk tanpa ijin. Jadi jika ada yang melanggar, maka resiko mereka tanggung sendiri," jawab Ana datar. Sedatar ekspresi seorang petugas penyebar brosur yang sudah seharian bekerja.


"Mengenai hukum, di negara ini senjata diperbolehkan jika itu untuk melindungi diri dan properti pribadi." Ana menambahkan.


"Aku mengerti." Gan mengangguk paham. Dia berjalan hanya di tempat yang diberi paving blok saja.


Ana melihat Gan memutari depan rumah. Khawatir terjadi sesuatu, Ana berteriak keras. "Jangan dekati sarang lebah di belakang itu!"


Gan terkejut mendengar peringatan itu. Dia menoleh ke belakang rumah dan menemukan kotak lebah madu di sana.


"Apa pemimpin memelihara lebah liar?" pikirnya ngeri. Tanpa sadar kakinya mundur selangkah, menjauhi bagian rumah itu.


Ana menggeleng. "Apa sekarang aku harus merangkap tugas jadi pengasuh juga?" keluhnya dalam hati.


Ana duduk di meja makan dan memeriksa laptopnya. Mencari informasi-informasi baru tentang biro, yang dirasakan terlalu hening selama beberapa waktu ini. Itu terlalu mencurigakan baginya.

__ADS_1


Ana disibukkan dengan pekerjaan di depan laptopnya. Dia tak tahu kalau Gan sedang membersihkan kolam renang mungilnya di samping teras.


Hingga lewat tengah hari, tak ada satupun informasi tentang biro yang didapatnya. "Ada apa ini?" pikirnya khawatir.


Gan masuk rumah setelah pekerjaan mrmbersihkan kolam, selesai. Perutnya sudah lapar tapi Ana masih terpaku di meja makan dengan wajah masam.


Akhirnya, dia mengambil inisiatif untuk menyiapkan makan siang mereka, tanpa mengganggu urusan Ana.


Satu jam kemudian, makanan sudah siap. Tetapi Ana justru makin sering mengetik di keyboard. Dengan hati-hati Gan meletakkan piring makan siang sederhana di meja makan kecil itu.


"Bekerjalah sambil makan, Pemimpin," anjur Gan.


"Hemm ...."


Hanya itu jawaban yang diterima Gan. Akhirnya gadis itu memilih untuk duduk di sofa dan menikmati makan siangnya.


Gan duduk di bangku kayu di teras ketika terdengar suara baling-baling helukopter. Dengan sigap Gan meraih pistol yang tersembunyi di punggungnya dan diarahkan ke atas. Dia mengintip keluar untuk melihat helikopter siapa yang mendekati rumah itu.


Ana yang terganggu dengan suara berisik itu juga ikut mengintip keluar. Sebuah helikopter melayang di langit, di atas halaman depan rumahnya yang luas.


Keningnya segera mengerut. "Mau apa dia ke sini?" pikirnya keheranan.


"Gan, itu helikopter Sawyer!" teriakan Ana menyaingi suara berisik mesin heli.


Ana kembali duduk di mejanya. Dia ingin lanjut bekerja. Dan baru menyadari bahwa makan siangnya sudah lama dingin. Dengan enggan dia bangkit dan menghangatkannya di microwave.


Ana mengeluarkan makanannya dan kembali duduk di meja. Ammo sepenuhnya diabaikan. Tak ayal, hsl itu membuatnya sedikit kecewa. Baru saja tadi malam hubungan mereka meningkat. Tapi hanya beberapa jam pulang, Ana sudah kembali menjadi gadis dingin yang dulu dikenalnya.


"Apakah ini cemilan sore? Tidakkah itu terlalu berat?" komentar Ammo melihat makanan di piring.


"Makan siang!" sahut Ana cuek.


"Ini sudah sore! Bagaimana kau baru akan makan siang jam segini?" tanya Ammo khawatir.


"Apa perlu kukirim koki ke sini?" tawarnya.


Ana menggeleng. "Gan memasaknya siang tadi. Tapi aku sibuk dengan komputer inj!" jelas Ana.


"Jadi, kau tak perlu repot mengirim koki ke sini. Aku tak sanggup membayar gajinya!" tolak Ana.


"Apa yang begitu menarik perhatianmu hingga menunda sepiring makanan lezat?" tanya Ammo. Ditariknya bangku lain yang terletak di seberang Aba.


"Justru karena tak ada informasi apapun, aku jadi curiga. Aku merasa cemas memikirkannya," terang Ana.


"Apa yang kau curigai dari situasi ini?" desak Ammo.


"Ini seperti keheningan sebelum badai. Sejak tadi aku mencoba mencari beberapa kemungkinan yang mungkin saja terjadi," jujur Ana.

__ADS_1


"Lalu apa yang kau dapatkan?" Ammo mulai menaruh perhatian pada laptop Ana.


"Justru aku tak menemukan apapun!" suara Ana mengandung kekesalan.


Ammo mengarahkan laptop ke depannya. "Kau makan dulu. Biar kucoba dengan caraku!" ujarnya.


Ana tak bisa menolak. Piring makanan sudah berada tepat di depannya. Sementara laptop berada di depan Ammo. Disuapnya makanan itu pelan-pelan.


"Masakan Gan lumayan enak!" puji Ana.


"Biar kucicipi!" Ammo mendekatkan kepalanya ke dekat Ana, hingga membuat gadis itu merasa risih.


"Kau bisa minta dia masakkan untukmu, kalau mau." Ana menjauhkan piringnya dari Ammo dan sedikit membelakangi pria itu.


Ammo tidak kecewa. Dia justru tersenyum, tak menduga reaksi gadisnya akan seperti itu jika memiliki makanan enak.


Setelah beberapa waktu hening karena keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Apakah info ini dapat menarik perhatianmu?" tanya Ammo.


Laptop diarahkan kembali ke depan Ana. Ammo berdiri dan mengangkat piring makan yang sudah kosong. Dia berjalan ke pantry dan meletakkan piring makan itu di sana.


"Bagaimana?" tanya Ammo. Dibukanya kulkas dan mencari-cari sesuatu. Dia menemukan biskuit kering kemasan kotak dan membawanya ke meja bersama segelas air putih.


"Apa kau lapar?" tanya Ana heran. Ada rasa bersalah di hatinya karena tadi menolak keinginan Ammo mencicipi.


"Sedikit lapar karena melihatmu makan dengan lahap!" alasan Ammo sambil meraih biskuit dan memasukkannya ke mulut.


"Jadi bagaimana dengan informasi yang kutunjukkan itu?" Ammo kembali mengarahkan percakapan mereka pada topik semula.


"Rasanya ini tak mungkin. Aku sudah membacanya tadi. Ini info palsu!" bantah Ana.


"Kenapa kau berpikir begitu?" uji Ammo.


"Melakukan hal ini akan berisiko besar. Tak hanya untuk para agent lapangan. Tapi juga bisa mengguncang negara!" beber Ana.


Ammo mengangguk-angguk. "Tapi, bagaimana jika itu bukan sekedar imfo palsu?" desak Ammo.


Mata Ana menatap tajam dan penuh selidik. "Apa ... kau tahu sesuatu?" tanya Ana dengan suara berbisik.


Ammo membalas tatapan Ana dengan mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum tak berdaya.


"Kau terlibat dalam hal ini!" Ana menyimpulkannya dengan cepat berdasarkan ekspresi Ammo.


"Hah!" Sekarang kedua alis Ammo ikut terangkat. Menatap gadis itu dengan pandangan takjub.


******

__ADS_1


__ADS_2