Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
186. Pria Misterius


__ADS_3

Ana melanjutkan memeriksa cctv setelah makan malam. Hingga matanya tertumbuk pada satu rekaman yang membuatnya terdiam dan terpaku di tempat.


Tiba-tiba kepalanya merasa sangat sakit dan hidungnya mimisan. Ana curiga dengan rekaman itu. Tangannya cepat menghentikan video yang terpampang di situ dan menelepon Profesor Stone.


"Tolong aku," ujarnya lirih sebelum jatuh pingsan dan menelungkup di meja.


Tak butuh waktu lama, kamarnya digedor dari luar. Tapi terkunci di dalam.


"Bongkar saja!" perintah Kapten Lance saat mendengar laporan Profesor Stone.


Seorang teknisi membongkar kunci kamar Ana. Mereka terkejut melihat gadis itu menelungkup pingsan di atas meja, di depan sebuah laptop yang terbuka.


"Ana," Profesor Stone menggoyang tubuh gadis itu pelan. Kepalanya bergeser dan terkulai. Darah mengalir keluar dari hidungnya.


"Bantu bawa dia ke klinikku!" perintah Profesor Stone.


Dua petugas dengan cepat membopong tubuhnya di punggung dan berlari menuju ruang perawatan khusus Profesor Stone.


Di belakang, menyusul pria itu dengan membawa laptop tersebut. Dia tidak menutupnya. Laptop itu dibiarkan terus menyala agar dia bisa melihat apa yang membuat Ana pingsan.


Profesor Stone yakin bahwa apapun yang dilihat Ana tadi, itu pasti ada hubungannya dengan keadaan yang dialaminya. Mungkin yang ada di laptop itu memicu bagian ingatannya yang hilang.


Dengan segera dia memeriksa Ana. Memeriksanya dengan alat MRI untuk mengetahui detail penting yang mungkin terlewat dalam pemeriksaannya selama ini.


Dia belum menemukan apapun hingga tengah malam. Tapi dia sudah memberi Ana obat penenang, agar bisa istirahat dan tidak merasakan terlalu sakit lagi di kepalanya.


Diambilnya ponsel dan langsung menghubungi Ammo.


"Ya, ada apa kau meneleponku tengah malam?" tanya Ammo.


"Ana mimisan lagi. Tadi dia meneleponku dan bilang "Tolong aku". Jadi aku segera ke kamarnya dan menemukannya pingsan." Profesor Stone menjelaskan.


"Apakah ada sesuatu yang memicuk ingatannya?" tanya Ammo.


"Menurutku juga begitu. Dia menelungkup di meja dengan sebuah laptop menyala. Aku akan kirimkan copy rekaman yang sedang dilihatnya tadi. Mungkin kau bisa tahu apa yang terjadi." ujar Profesor Stone.


"Baik, kirimkan padaku. Jadi bagaimana dengan Ana saat ini?" Ammo terdengar cemas.

__ADS_1


"Aku sudah menggunakan pemeriksaan MRI, tapi tidak menemukan hal yang mengindikasikan sesuatu. Mungkin akan butuh terapi lagi seperti waktu itu. Tapi dia sudah tidur sekarang. Aku memberinya penghilang rasa sakit," beber Profesor Stone.


"Mungkinkah dia menemukan keyword yang mungkin bisa membuka sebagian memorinya yang lain?" tebak Ammo.


"Mungkin juga. Tapi aku tidak mau berspekulasi. Aku baru bisa membuat kesimpulan setelah melewati serangkaian tes yang hasilnya bisa kupertanggung jawabkan!" tegas Profesor Stone.


"Baiklah. Kirimkan dulu rekaman itu. Biar kupelajari. Mungkin saja aku bisa tahu apa dan siapa yang ada di rekaman itu," putus Ammo.


"Oke. Jika ada perkembangan baru, akan kukabarkan segera," jawab Profesor Stone.


Dengan segera sebuah file meluncur ke ponsel Ammo. Profesor Stone ikut beristirahat di bed tak jauh dari tempat Ana berbaring. Dia juga butuh memejamkan mata sejenak, agar bisa berpikir jernih besok.


Di kediaman Ammo.


Ammo langsung memeriksa rekaman tersebut di layar komputer besar di ruang kerja. Ariel yang sudah tertidur kembali membuka mata mendengar suara percakapan dan video menyala di depannya.


Ammo terpaku melihat rekaman itu. Itu adalah sebuah video kunjungan biasa. Dia tak mengenal pria yang datang dengan pengawalan tentara lengkap. Ketua biro Slovstadt langsung menyambutnya di depan pintu masuk. Artinya orang itu berkedudukan dan berkuasa.


Mereka langsung menuju lantai atas, di mana ruang kerja Ketua Biro berada. Pertemuan itu dihadiri oleh ketua dan wakil ketua biro. Ammo mengenal keduanya. Dia pernah melihat mereka dalam satu acara amal. Hanya, orang asing dengan pengawalan itu saja yang tidak dikenalnya. "Siapa dia?" pikirnya penasaran.


"Kenapa rasanya aku seperti mendengar nada suara yang tidak asing ya?" celetuk Ariel.


Ammo terkejut dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Ariel yang semula tertidur, sudah duduk dan ikut memperhatikan video tersebut.


"Kau juga merasakannya?" tanya Ammo tak percaya.


Ariel mengangguk. "Meskipun suaranya samar, tapi nada suara dan intonasinya tak terdengar asing. Seperti aku pernah mendengarnya di suatu tempat!" jelasnya tanpa ada keraguan.


"Jika kau mendengarnya, dan aku juga mendengarnya, artinya kita berdua pernah mendengarnya bersama-sama. Di mana kita bisa mendengarkan bersama-sama seseorang bicara?" gumam Ammo.


"Di ruangan ini!" desis Theo setengah terpejam.


"Ya! Di ruangan ini! Aku rasa, itu adalah suara dari salah satu orang yang menghubungimu via telepon satelit!" Ariel akhirnya menemukan jawabannya.


"Biar kucari rekamannya." pria muda itu menjadi antusias dan matanya terbuka lebar sekarang. Kantuknya sudah hilang.


"Aku akan buatkan kopi dan cemilan malam," Theo ngeloyor pergi dan menyiapkan amunisi tenaga untuk kedua orang itu.

__ADS_1


Ariel memperdengarkan beragam rekaman suara tiap orang yang masuk dan berkomunikasi dengan Ammo. Kebanyakan itu adalah suara Romanov dan Vladimir. Tapi suara mereka berdua ternyata sangat berbeda.


Tiba pada rekaman lain. Keduanya sedikit terkejut. Kemudian diam, untuk menganalisa, apakah suara itu cukup mirip atau tidak.


Ariel menggunakan kemampuan analisanya. Dia menyandingkan dua suara dari dua rekaman itu, untuk mengetahui kesamaan spektrum suara tersebut.


Ammo tak sabar melihatnya bekerja. Tapi tak bisa membantu sama sekali.


"Orang yang sama!" Kata Ariel dengan nada tegas.


"Kau yakin?" tanya Ammo


"Ya! Coba lihat spektrum suaranya yang berhasil kuanalisa!" Ariel memutar laptopnya dan menunjukkannya pada Ammo.


Dengan harapan besar, Ammo memperhatikan layar laptop milik ariel. Itu memang sama! persis sama!


"Dan dia adalah ...." Ammo terdiam.


"Ya, itu adalah suara pria yang ingin menukar Ana dengan kemenanganmu!" tegas Ariel.


Ammo membelalakkan mata. Orang yang sama, yang menginginkan Ana dan yang sedang dilihat Ana rekamannya hingga membuatnya pingsan. "Orang ini pasti kunci dari semua kejadian yang menimpa Ana!" Ammo menyimpulkan.


"Mungkin dia melakukan sesuatu yang diketahui Ana. Itu sebabnya dia bersedia menukar Ana dengan kemenanganmu. Bisa jadi, Ana adalah musuh besarya." Ariel mencoba membuat asumsi


"Bisa jadi, dia juga yang meminta ketua biro melakukan pencucian otak hingga penghilangan memory pada Ana dan anggota tim serta serta-temanku yang lain!" Ammo juga punya dugaan sendiri.


"Itu mungkin saja. Karena Ana adalah bagian dari teman-temanmu. Dan Ana juga bagian dari timnya. Itu menjelaskan kenapa anggota timnya juga diburu hingga dibunuh dengan keji!" tambah Ariel.


"Mungkin saja dia orang yang mendesak ketua biro K di Slovstadt untuk menyebar fitnah terhadap Ana," agar diburu oleh The Hunters, Lalu mereka cuci tangan!" geram Ammo.


Dia sangat marah, menyadari busuknya permainan para petinggi biro. Bahkan anggota sendiri pun tega mereka khianati dan bunuh tanpa ampun. Perutnya merasa mual karena hal itu terasa sangat menjijikkan.


"Kita harus mencari tahu siapa dia sebenarnya," perintah Ammo.


"Baik!" sahut Ariel.


********

__ADS_1


__ADS_2