
Ammo sarapan di dapur bersama Theo. Dia ingin menonton berita televisi. Dilaporkan terjadi beberapa ledakan dalam waktu bersamaan di seluruh dunia. Dan semua itu menyasar properti negara Slovstadt.
Berbagai spekulasi muncul, bahwa musuh abadi mereka, negara Giebellinch telah memulai gerakan pembersihan di wilayah negara mereka dari penyusup dan mata-mata negara lain. Namun media masih belum mendapatkan konfirmasi atas berbagai asumsi yang bermunculan.
Theo memandang tuannya yang terlihat tenang. Dia tak ingin lancang menebak bahwa tuannya punya andil dalam kejadian tersebut.
Ammo menyelesaikan sarapannya dan berdiri.
"Kau mandikan Mimi, lalu antar ke alamat yang nanti ku kirimkan," ujar Ammo sambil berjalan.
"Mimi?" tanya Theo bingung.
"Kucing gendut itu," jawab Ammo sambil menghilang di balik pintu dapur.
"Ah, ya ... kucing itu. Baik Tuan!" seru Theo mengejar ke pintu.
Ammo berjalan naik ke lantai atas. dia menuju ruang kerjanya. Theo tak menganggu lagi. Dia segera mencari Mimi yang ditempatkannya di kamar kosong dengan banyak mainan agar kucing itu tidak bosan.
Ammo duduk menghadap meja kerja besarnya. Meraih ponsel dari laci dan mengirim pesan pada seseorang.
PAKET PUTIH
Kemudian dia mengangkat interkom dan menyebutkan alamat penerima Mimi.
Setelah itu dia mulai beranjak ke pintu tertutup dan memasukinya. Di sana terlihat seperti bengkel dengan peralatan canggih. Ammo telah memulai eksperimen ini cukup lama. Dan dia merasa ingin menyelesaikannya sekarang. Dia akan membutuhkannya dalam waktu dekat.
Ammo bekerja di sana seharian. Dia tak berniat mengunjungi salah satu kantornya hari ini. Beberapa hal penting sudah diselesaikannya. Dan sampah sudah disingkirkan.
Pukul tiga sore, Leo datang dan ingin memberi laporan. Namun Ammo tak ingin diganggu. Theo hanya bisa meletakkan laporan Leo di meja kecil depan pintu ruang kerja. Bahkan hidangan siang hari pun, tak disentuh Ammo.
"Tuan, ini sudah sore," panggil Theo khawatir.
"Jangan menggangguku!" sergah Ammo tajam.
"Tapi anda melewatkan dua jam makan, Tuan," bantah Theo tak mau kalah.
Theo mendengar bunyi kresek dari interkom.
"Tuan, tuan ...."
Dilihatnya alat di depannya dengan pandangan putus asa. Ammo sudah memutuskan sambungan interkom ke dalam ruang kerjanya.
Theo turun menemui Leo dan hanya bisa menggeleng. Leo mondar-mandir bingung.
"Itu laporan penting!" gumamnya sambil mengusap kepala.
"Seberapa penting?" tanya Theo.
"Sepenting nyawa kita!" sergah Leo putus asa. Dia harus mendapatkan instruksi itu saat ini.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita gunakan cara yang ... sedikit ... emmm berbahaya. Kau berani?" tantang Theo.
"Seberapa bahaya?" tanya Leo ingin tau.
"Taruhannya nyawamu!" Theo berkata dengan datar.
"Hah?"
Leo menatap mata Theo cukup lama. Dia ingin melihat kebenaran di sana. Tapi mata itu tak menunjukkan ekspresi apapun. Datar saja. Leo jadi merasa ragu.
"Kalau tak berani, ya sudah. Tunggu saja di situ sampai Tuan keluar." Theo beranjak pergi ke ruang dalam. Dia masih harus menyiapkan makan malam lezat untuk tuannya yang sudah menahan lapar sejak siang.
"Katakan padaku caranya!" kejar Leo.
"Aku tak mau mengatakan hal yang sia-sia." Theo melambaikan tangannya sebagai tanda agar Leo tidak mengikutinya.
"Aku akan melakukannya!" putus Leo cepat.
Di depan sana, Theo berhenti. Dengan sikap elegan, dia membalikkan tubuh dan menatap Leo dengan serius. Dua alisnya sedikit terangkat dan bibirnya mengerucut tak percaya.
"Aku akan melakukannya. Katakan padaku," ulang Leo yakin.
"Hah, baiklah. Itu keputusanmu. Aku sama sekali tidak memaksamu." Theo berbalik dan berjalan ke tengah ruangan.
Theo terlihat serius. "Sebenarnya ada dua cara. Yang berbahaya atau yang sedikit berbahaya? Tapi, kedua-duanya bisa berarti bertaruh nyawa," ujar Theo misterius.
"Jika sama-sama taruhannya nyawa, itu artinya sama-sama berbahaya dong," sanggah Leo sewot.
"Kau mau pilih yang mana? Cepat katakan, aku banyak urusan!" desak Theo jengkel.
Leo terbengong.
"Hah! Entah bagaimana Tuan bisa menerima karyawan yang lambat membuat keputusan," cela Theo sambil berjalan pergi.
"Hei ... katakan padaku caranya, yang tidak terlalu bahaya dan tidak perlu mati pelan-pelan," bujuk Leo. Theo tak mempedulikannya. Tapi Leo terus mengikutinya hingga ke dapur sambil terus bicara.
Theo baru akan membentak pria pengganggu itu, ketika panggilan interkom berbunyi. Wajahnya langsung berubah cerah dan berlari ke arah alat tersebut.
"Ya, Tuan ...."
"Bawakan aku teh dan cemilan sore!"
"Segera, Tuan."
Theo langsung berlari menyiapkan teh kesukaan tuannya. Dia terlihat sangat berbahagia karena sudah diminta menyiapkan makanan.
"Jadi, bagaimana?" tanya Leo bingung.
"Kau tak perlu mati hari ini," sahut Theo dengan bahagia.
__ADS_1
"Oh, syukurlah. Tolong katakan bahwa aku menunggu instruksi untuk laporanku. Itu sangat mendesak," mohon Leo.
"Hemmm ...."
Theo sibuk memilih dan menata aneka penganan kecil. Tuannya bisa memilih mana yang dia mau.
"Theo, kau mendengarku?" desak Leo.
'Iya, nanti ku katakan. Kau tunggu saja di depan tangga. Jangan menggangguku di sini!" balas Theo pedas.
"Ya ... aku akan menunggu di sana." Leo melangkah ke arah pintu dapur. "Tapi, bolehkah aku mendapatkan segelas teh juga?" pintanya. Wangi teh yang sedang dimasak itu menggodanya.
"Ya, nanti," jawab Theo datar.
"Terima kasih." Leo keluar dan menutup pintu dapur.
Lima menit berlalu, saat Theo membawa baki berisi teh dan penganan menuju ke lantai atas. Dia memasuki ruangan kerja.
"Ini teh yang anda minta, Tuan." Theo menyajikan teh itu di meja kecil dekat jendela. Ada dua armchair kulit warna cokelat. Satu memiliki sandaran tinggi, satu lagi sandarannya lebih rendah.
"Bawakan laporan Leo dan panggil dia ke sini. Siapkan juga teh untuknya," perintah Ammo.
"Baik, Tuan."
Theo mundur dengan sopan dan segera melaksanakan perintah Ammo.
Tak lama, Leo masuk setelah ketukan pintunya mendapatkan jawaban.
"Duduk di sini." Ammo menunjuk kursi di depannya. "Aku sedang membaca laporanmu!"
Leo duduk dan menunggu. Kemudian Theo masuk membawa baki dan cangkir teh lain untuk Leo.
"Silakan."
Ammo mengangkat cangkir tehnya dan menyesap isinya. Kemudian kembali membaca laporan tersebut. Sesekali keningnya sedikit mengerut. Dia membuat beberapa catatan dan instruksi pada laporan.
Leo menunggu dengan sabar, sambil menikmati teh wangi dan kue kering yang sangat lezat.
"Ini!" Ammo menyerahkan tablet yang berisi berbagai laporan itu ke hadapan Leo.
"Lakukan sesuai catatan yang kuberikan!" tandasnya.
"Baik, tuan. Kalau begitu, saya segera kembali."
"Hemmm." Ammo mengangguk.
Leo berdiri dari kursinya dan sedikit membungkuk sopan. Kemudian dia keluar dan menutup pintu dengan hati-hati.
Ammo mengangkat cangkir teh dan menghabiskan teh yang mulai dingin.
__ADS_1
"Musim panas akan datang lebih cepat," gumamnya sambil memandang ke luar lewat jendela kaca.
*******