Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
152. Persaingan Cinta


__ADS_3

Khouk menceritakan asal usul klan dan bagaimana kakek buyut Ammo memutuskan untuk tinggal di luar klan. Begitupun keluarga Kakek Wilson yang memang telah bekerja pada keluarga Ammo sejak dulu.


"Kakek buyutku keluar dari klan hanya karena kalah saing dalam cinta?" ulang Ammo tak percaya.


"Seperti itulah yang tertulis dalam catatan sejarah klan," ujar Khouk.


"Menggelikan!" Ammo tak dapat menerima bahwa sebuah keputusan besar dibuat hanya karena kalah dalam cinta.


Tak ada yang ingin menambahi kejengkelan Ammo, jadi Ana maupun Khouk memilih untuk diam.


"Gadis cantik mana yang mereka perebutan?" tanya Ammo penasaran.


"Nenek buyut Pemimpin Klan!" Khouk mengarahkan pandangan pada Ana.


Dengan ekspresi terkejut, Ana menunjuk dirinya sendiri. Khouk mengangguk mengiyakan pertanyaan di matanya.


Ana jadi merasa serba salah dalam bersikap di depan Ammo. Jadi dia memaksakan sebuah senyum yang bahkan Theo tertawa melihatnya.


"Anda sedang meringis, Nona." Theo menutup mulut menjaga jangan sampai tawanya terlompat.


Akhirnya Ana tak lagi berusaha tersenyum.


"Apakah keturunan saingan kakek buyutku masih ada di sana?" tanya Ammo. Dia sepertinya masih tak puas.


"Masih ada. Keluarga mereka sekarang menjadi keluarga terbesar kedua!" jelas Khouk.


"Apakah ada pria mereka yang seumuran denganku, atau yang mungkin akan mendekati Ana?" tanya Ammo waspada.


Ana merasa itu pertanyaan yang sangat aneh. Taoi dia tak berkomentar. Ditunggunya jawaban Khouk.


"Aku sudah turun gunung beberapa waktu. Tapi, mungkin saja! Nanti kutanyakan ke sana, jika itu memang penting," jawab Khouk.


"Itu penting. Tanyakan!" perintah Ammo.


Khouk menoleh pada Ana. Hanya gadis itu yang bisa memerintahnya.


"Untuk apa informasi itu?" selidik Ana berhati-hati. Dia juga ingin tahu tujuan Ammo menanyakan hal itu.


"Ya antisipasi, agar kau juga tidak direbut oleh keluarga itu!" Suara Ammo yang kesal tak ditutupinya.


Ana ingin tertawa, tapi ditahannya. Dia melihat keseriusan pria itu. Tidaklah baik menertawakan perasaan seseorang. Ditambah lagi, cerita tentang kekalahan kakek buyutnya, sedikit banyak mempengaruhi mood Ammo.


"Kalau kau ingin melamar seorang gadis, harusnya kau tanyakan pada orang tuanya. Setidaknya, minta ijin dulu pada orang terdekatnya!" Ana memberi sedikit petunjuk pada pria itu.


Khouk yang sudah paham maksud Ana, menoleh pada Ammo. Menunggu tindakan apa yang akan diambil pria itu.


Theo berbisik ke telinga Ammo. Sepertinya dia baru menyadari kode yang diberikan Ana.

__ADS_1


""Bagaimana aku bisa menghubungi ayahmu?" tanya Ammo.


"Bukan hal mudah. Kau pernah mengusirnya dari kebun anggurmu!" Ana mengingatkan dosa pria itu.


"Ahh ...!" Dia makin kesal sekarang.


Ana melihat Ammo diam dengan wajah ditekuk. Tetapi dia yakin, pria itu sedang memikirkan berbagai cara. Ana tersenyum samar. Dan Theo bisa menangkap perubahan ekspresi Ana.


"Kurasa, sudah waktunya aku minum obat dan beristirahat. Terima kasih untuk hidangan lezatnya, Theo," ucap Ana tulus.


Theo mengangguk dan menyenggol tangan Ammo, saat melihat gadis itu berdiri.


"Kau mau kembali?" tanya Ammo kecewa. Ana mengangguk.


"Terima kasih." Ana berjalan hati-hati menuju kursi rodanya, dengan dibantu Khouk.


Ammo hanya memandangi kepergian Ana. Dan momen itu terhenti saat mendengar suara Theo.


"Kenapa Anda tidak berinisiatif membantunya jalan, atau mendorong kursi roda itu?"


"Aku tak percaya kakek buyutku kalah dalam asmara!" ternyata pikiran Ammo masih terpaku pada hal itu.


"Jika sikapnya sama kikuk seperti Anda, jelas saja kalah!" sindir Theo pedas.


"Memangnya sikapku bagaimana?" heran Ammo.


"Anda tidak peka!" gerutu Theo.


"Anda kan bisa menghubungi Alexei!" Theo sudah tak sabaran dengan kelambanan Ammo.


"Alexei? Kenapa kau tidak mengingatkanku?" tegur Ammo.


"Oh, ya Tuhan ... sekarang ini jadi salahku," keluh Theo.


"Mungkinkah dulu kakek buyut Tuan Wilson juga lupa memberikan petunjuk pada kakek buyut Anda, Tuan?" ledek Theo.


"Sudah, jangan bicara lagi. Membuatku kesal saja!" Ammo berjalan meninggalkan kolam teratai.


Theo hanya bisa mengembuskan napas panjang. "Anda harus sedikit lebih lembut dan perhatian lagi pada Nona Ana, Tuan!" gumamnya gemas.


Ammo duduk di meja kerjanya. Ada pesan masuk dari bawahannya di Slovstadt. "Mulai ada pergerakan dan perlawanan rakyat pada penguasa, akibat cara-cara kotor mereka terendus, serta berbagai spekulasi atas hancurnya berbagai aset negara. Dan banyaknya korban jatuh, sehak penguasa itu terpilih."


Wajah Ammo kembali cerah. Dia menulis pesan balasan. "Tetap pantau dan sebarkan informasi ke publik!"


Kemudian mengirim pesan lainnya. "Antarkan paket putih padaku!"


Ammo berpikir beberapa saat. Kemudian memasuki ruangan rahasia. Dia bekerja di tempat itu hingga hampir pagi, sebelum tertidur di sofa ruang kerja, karena kelelahan.

__ADS_1


*


*


Pagi hari, Ana mendapatkan kejutan manis dari Ammo. Di tangannya ada Pet Carrier. Dan di dalam situ, ada kucing angora putihnya yang lucu.


"Mimi!" serunya senang. Tangannya dengan cepat menjulur untuk meraih kucing itu.


Ammo membuka pintu kandang yang membawa Mimi..Kucing gendut itu langsung melompat ke arah Ana. Dia masih mengenali tuannya.


Pria itu senang melihat Ana bahagia. "Terima kasih, Ammo. Kau yang terbaik!" ujar Ana.


Ammo duduk di kursi dekat jendela. "Aku bukan cuma mau mengantarkan Mimi," ujarnya.


Ana mengangkat wajah. Matanya menunjukkan dia siap mendengarkan.


"Orangku mengirim informasi tadi malam." Ammo mengatakan berita yang didapatnya.


"Benarkah? Lalu, apa rencanamu?" Ana meletakkan Mimi di ujung tempat tidur dan metaih laptopnya.Tangannya lincah menari di atas keyboard.


"Kau mungkin tidak akan menemukan informasi itu di media!" duga Ammo.


"Belum tentu!" bantah Ana. Jarinya terus bekerja. Dan .... "Taraaa ...! Jau lihat sendiri!" Ana membalikkan laptopnya, agar Ammo bisa membaca informasi lengkap dari peristiwa yang disebutkannya tadi.


"Waahh ... kerja yang bagus! Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Ammo.


"Apa kau ingin kita menjadikan ini momentum pembalasan?" tanya Ana memastikan.


"Kurasa, sudah saatnya kita memukul dengan telak, hingga mereka tak bisa lagi bangun!" geram Ammo.


"Kalau begitu, tunggu!" Ana mengangkat telunjuknya, meminta sedikit waktu.


"Khouk! Bolehkah aku menggunakan sumber daya klan untuk menuntut balas pada orang yang membuat ayah ibu dan keluargaku menderita?" tanya Ana.


"Bisa! Anda sangat bisa melakukannya. Tetapi, karena hal ini akan menyangkut nyawa orang lain, sebaiknya didiskusikan dulu dengan para penasehat di klan!" saran Khouk.


"Ada beberapa hal yang hanya berguna jika dilakukan mendadak. Agar ada efek kejut dari hal itu!" bantah Ammo.


"Anda benar. Tapi pasukan Klan berbeda dengan tentara bayaran. Pada dasarnya, kita semua punya pertalian darah satu sama lain! Sangat menyakitkan, kehilangan sanak keluargamu!" ujar Khouk.


"Apa kau pikir ibunya yang mati dibunuh mereka, atau ayahnya yang disiksa hingga hampir mati, bukan orang klan? Atau dia yang wajahnya mereka rubah dan menderita bertahun-tahun, bukan warga klan yang berhak menuntut balas?" Ammo memberondong Khouk dengan emosi meluap.


"Tentu saja boleh. Saya akan mendukung semua keputusan Anda, Pemimpin," janji Khouk.


"Cih ... hanya kau saja? Bisa apa! Kalian bilang dia pemimpin. Tapi dia tak bisa leluasa menggunakan sumber daya untuk membalaskan dendamnya!"


"Kalian tidak merasa malu, pemimpin kalian dihina dan dikejar seperti buronan? Kalau memang begitu, maka klan yang kau bangga-banggakan itu hanyalah cangkang kosong tak ada arti! Pantas saja kakek buyutku turun dan menyingkir dari sana!"

__ADS_1


Ammo menumpahkan semua ketidak senangannya yang menumpuk dari malam.


*******


__ADS_2