Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
82. Ana dan Nathalie


__ADS_3

Blake membuka pintu ruangan rawat, setelah Ana mengangguk.


Ana menoleh ke arah Ammo.


"Aku akan menunggu di sini," ujar Ammo menenangkan Ana.


"Sebenarnya kau sangat pengertian. Kenapa aku baru menyadari ini?" Ana termangu sejenak.


"Masuklah. Kau bebas menggunakan waktumu," dorong Ammo.


"Terima kasih, Ammo," ujarnya lirih. Kaki indah bersepatu boot itu, memasuki ruangan dengan langjah pasti dan penuh harapan.


Di ujung sana, seorang wanita sedang mendapatkan pemeriksaan perawat. Ana menunggu kegiatan itu selesai, dengan kesabaran tinggi. Waktu menunggu itu digunakannya untuk mengobservasi sikap saudara kembarnya ini.


Nathalie berciri khas gadis kelas atas yang kaya dan manja. "Apakah ayah sangat memanjakannya dan melupakan aku?" Memikirkan hal itu, ternyata dapat menyakiti hati Ana. Dengan susah payah dia menenangkan diri, agar tak sampai menangis.


Pemeriksaan itu akhirnya selesai. Dua perawat itu keluar. Ana gantian maju, mendekat ke arah Nathalie.


"Hi," sapanya kikuk.


"Siapa kau?" tanya Nathalie dingin.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ana lagi.


Dua alis Nathalie bertaut saking herannya. "Kau harus memperkenalkan diri dulu, jika ingin aku menjawab pertanyaanmu!" ketus Nathalie.


"Apakah sikap ketusku, berasal darinya?" pikir Ana bingung. Pikirannya mandeg seketika.


"Ah, ya ... kau benar. Aku Anastasia. Saudara kembarmu!" Ana memperkenalkan dirinya. Dan hal itu sukses mengagetkan Nathalie.


"Apa? Kembar?" tanyanya tak percaya. Diperhatikannya wajah Ana yang tak mirip dengannya sedikitpun.


"Kau mungkin sedang bermimpi sambil berjalan, nona!" ketusnya kasar.


Ana menunjukkan hasil tes DNA mereka. Nathalie tak mempercayai tulisan di kertas itu.


"Aku tak mudah dikelabui. Siapapun bisa membuat surat palsu. Aku tak pernah melakukan tes DNA di rumah sakit manapun!" ujarnya keras kepala.


"Oh Tuhan, sikap kami sangat mirip," batin Ana terkejut. Ana melangkah ke pintu, dan membukanya.


"Ammo, maukah kau masuk sebentar? Dia tak mempercayaiku," pinta Ana pada Ammo yang sedang duduk bermain ponsel.


"Oh? Oke!" jawab Ammo pendek. Dia mengikuti Ana masuk ke dalam ruangan. Keduanya berjalan ke arah Nathalie.

__ADS_1


Nathalie sedikit terkejut melihat Ammo. Dia ingat, pria itu yang waktu itu mengabaikannya karena menolak menjawab pertanyaan. Pria itu juga yang menyodorkan sebuah foto dirinya bersama empat orang lain yang tak dikenalnya.


"Apakah dia, gadis di foto itu? Kenapa berbeda sekali denganku?" batinnya bingung.


Ana dan Ammo sudah sampai di depannya. Ana menunggu Ammo bicara, tapi Ammo tak mengatakan sepatah katapun, selain diam memainkan ponsel.


"Ammo! Aku minta kau masuk, untuk mengatakan sesuatu!" seru Ana jengkel.


"Mengatakan apa? Tadi kau hanya memintaku masuk. Mana kutahu apa yang kalian bicarakan!" tampik Ammo.


"Apakah kau harus selalu membuatku jengkel?" Ana melotot penuh emosi pada Ammo.


"Hey! Aku sedang tak berminat menonton opera. Pergi sana!" usir Nathalie kasar.


Ammo memandang Ana dan Nathalie dengan mimik yang sangat menggelikan. Matanya tiba-tiba melebar dan mulutnya terbuka. Pandangannya Berganti-ganti dari Ana menuju Nathalie, lalu kembali melihat Ana.


"Kalau berakting terkejut itu, cobalah yang natural sedikit!" cerca Nathalie lagi.


Kali ini Ammo tertawa terpingkal-pingkal. "Kalian sama. Persis sama. Ya Tuhan, bagaimana Oscar bisa tahan menghadapimu? Aku harus bertanya padanya, agar bisa selamat menghadapi dia!" tunjuk Ammo ke arah Ana.


"Apa katamu?"


Ana langsung melompat untuk menerjang Ammo. Tapi Ammo berputar mundur dan menangkisnya. Ana hanya memukul angin. Hal itu membuat emosinya naik. Dia kembali mendesak Ammo. Meluncur rendah ke arah depan dan berusaha mengait kaki pria itu. Ammo melompat dan salto diudara, sambil menetak punggung Ana dengan sedikit tenaga.


Namun, akibat gaya dorongnya sendiri, ditambah tenaga pukulan Ammo di punggung, Ana jadi terhuyung ke depan. Tapi dia dengan cepat memutar tubuhnya, agar tak sampai kejadian, wajahnya mencium lantai.


Meski sedikit pusing, Ana masih menyadari posisinya yang ambigu. "Lepaskan aku!" teriaknya keras.


Di luar, Blake terkejut mendengar suara teriakan dari dalam. Dia langsung membuka pintu dan masuk. Dan seperti halnya Nathalie, keduanya melihat adegan itu dengan ekspresi bodoh dan bingung.


"Bos, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Blake ragu.


"Hei, di sini, aku yang tidak baik-baik saja. Bukan dia!" teriak Ana sewot.


Blake bingung harus berbuat apa. Bos pasti telah mendengar percakapan mereka, tapi masih belum melepaskan Ana. Lalu dia harus apa? Memarahi Bos? Itu cari mati, namanya.


"Hei, penjaga, bawa mereka berdua keluar. Pertunjukannya selesai. Aku tidak tertarik!" sembur Nathalie judes.


Tanpa aba-aba, Ammo melepaskan pegangannya pada Ana. Gadis itu langsung jatuh terjerembab dan mengeluarkan sumpah serapah.


Blake bingung harus apa. Tapi, melihat Ammo berjalan keluar, dia juga ikut keluar, lalu menutup pintu lagi.


"Bos, kau tak apa-apa?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Hemmm," jawab Ammo santai. Dia memainkan ponselnya lagi.


"Aku bosan. Mari kita lihat Sanders," ajak Ammo.


"Siap, Bos!" Blake mengikuti langkah Ammo menuju ruangan lain. Penjaga kini berada di samping pintu masuk. Dia sedang duduk makan. Melihat Ammo dan Blake mendekat, dia hendak berdiri.


Ammo mengangkat tangan, menahannya. "Teruskan makanmu," ujarnya.


"Siap, Bos!" jawabnya.


Ammo masuk ke dalam ruangan. Tak ada siapapun di situ. Sanders hanya bermain sendiri. Di tangannya ada papan permainan untuk menyusun warna dan bentuk.


Ammo sedih melihat temannya yang pintar harus sampai begini merangsang otaknya? Ini permainan anak-anak playgroup.


"Apa kau menyukainya sailor?" sapa Ammo hangat. Sanders langsung menoleh mendengar sapaannya. Senyumnya terkembang.


"Ammo the sailor!" sebutnya riang.


Ya, Sanders the sailor."


Hei, apa kau mau ikut bermain harta karun?" tanya Ammo.


"Ya! Ayo!" Sanders langsung berdiri dan menarik tangan Ammo.


"Sekarang panas. Nanti malam saja, bagaimana?" usul Ammo.


"Panas?" tanya Sanders tak percaya. Ammo berjalan ke pintu dan membukanya. Sinar matahari yang cemerlang, menerobos masuk ruangan


"Panas. Nanti saja!" Sanders kembali duduk dan melepaskan tangan Ammo.


"Tapi kita bisa memainkan semua mainan ini sekarang." Ammo mengambil banyak mainan yang tersusun rapi di atas rak. Semua mainan dibawanya ke tempat tidur.


Ammo menelungkup di atas tempat tidur dan mengambil dua mainan. Kau pilih satu, kita berlomba menyelesaikannya," tantang Ammo sambil tiduran santai di bed perawatan.


Sanders sangat asik bermain bersama Ammo. Sekarang ikut berbaring santai di tempat tidur, sambil memegang mainan. Sesekali keduanya tertawa lepas. Sanders terdengar sangat bahagia. Dia berubah seperti anak lelaki dengan intelijensi seumur anak sepuluh tahun.


Karena ngantuk, Ammo bahkan sampai tertidur ditempat itu bersama Sanders.


Dokter Armstrong sampai di pintu ruang rawat, Dikatakan bahwa Sanders sedang bersama Ammo. Dokter Armstrong nengangguk senang. Dia hanya ingin meninda lanjuti pemeriksaan perawat pagi tadi


Dengan terkejut, dokter Armstrong masuk dan melihat alat-alat peraga kognitif itu berserakan di lantai dan di atas tempat tidur. Yang lebih mengejutkan adalah Dua pria tidur dengan kaki saling bersilangan satu sama lain.


Bagian kaki Ammo ke arah kepala sanders, dan kaki Sanders berada di bagian punggung Ammo yang tidur tengkurap.

__ADS_1


Diperiksanya pasien Sanders. Lalu dokter Armstrong tersenyum, pasiennya itu bisa tidur dengan nyenyak tanpa diganggu mimpi buruk.


*******


__ADS_2