
Mobil Ana belum jauh berlari, ketika dua mobil lagi menghadang dari arah depan. Dan di belakang juga ada dua mobil lagi.
"Gan, ini bukan latihan. Kau harus mengenai yang depan itu!" perintah Ana.
"Ya! Jangan khawatir!"
Gadis itu menggenggam dua pistol di tangan kanan dan kirinya. Jendela sunroof digesernya ke samping, kemudian keluar dan mulai menembaki dua mobil yang menghadang jalan mereka di depan.
Sementara itu, Ana mengeluarkan senapan otomatis di bagian belakang dan mulai menembaki mobil belakang sambil melajukan mobilnya secepat kilat. Dia juga harus menjaga kemanan Gan yang sedang ditembaki tanpa pelindung, di atas atap mobil.
Ana melaju dan lewat di antara dua mobil yang menghadangnya. Sambil lewat, Gan melemparkan dua granat ke arah mobil kiri kanan.
Mobil mereka sudah berada cukup jauh saat empat mobil saling meledak dan bertabrakan satu sama lain di belakang.
Ana langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. 'Masuk, Gan!" teriaknya keras, agar terdengar. Gadis itu duduk dengan cepat dan langsung memasang sabuk pengamannya.
Tidak ada lagi mobil yang mengejar maupun menghadang mereka. Kesempatan yang bagus untuk bergerak maju. Ana yakin, Biro tidak akan tinggal diam. Saat ini, mereka pasti sudah mengerahkan para agen senior untuk menghadang Ana.
Ana tidak habis mengerti, apa sebenarnya rahasia yang diketahuinya, hingga biro memusuhinya sampai seperti sekarang. Tapi itu pasti sesuatu yang berhubungan dengan, Ketua Biro di kantor pusat. Hanya dia yang punya cukup kuasa untuk menggerakkan banyak divisi untuk mengubah wajah dan menghapus memori paling penting dari otak Ana.
"Kurasa mobil putih di depan sana juga menunggu kita!" tunjuk Gan ke arah depan. Mobil mereka makin mendekat. Tapi Ana belum memberi perintah pada Gan, untuk menyingkirkannya.
"Berikan perintah, Pemimpin!" ujar Gan tak sabar. Dua tangannya sudah siap untuk beraksi lagi. Tapi Ana masih diam. Matanya mengawasi mobil itu dengan tajam, menunggu.
"Bersiap, Gan. Jika tak kusuruh, jangan lakukan apapun!" ujar Ana.
"Siap!" Gan membidik pengemudi mobil di depan yang juga menantikan mereka mendekat.
"Jangan lakukan itu, Anderson," gumam Ana penuh harap. Matanya tajam menatap ke arah pengemudi mobil di depan. Namun kemudian Ana bisa melihat bibir Anderson yang terbuka dan memperingatkannya. Gadis itu terkejut.
"Tembak yng belakang Gan!" teriak Ana. Dia membelokkan mobil sambil mengerem dan menjaga keseimbangan.
Sekarang mobil itu berada tepat di depan Gan yang sudah membidik dan siap menembak sesuai perintah. Gadis itu menembak persis setelah berada sejajar dengan pengemudi depan. Dengan daya dorong dan embusan angin, maka akhir lintasan pelurunya diharapkan tepat mengenai orang yang bersembunyi di belakang punggung si pengemudi.
__ADS_1
Suara decit mobil Ana masih terdengar hingga cukup jauh. Dilihatnya dari kaca spion, mobil Anderson tidak bergerak dari tempatnya tadi. Ana menghentikan mobilnya. Dan melihat dengan khawatir.
"Kau yakin mengenai orang yang belakang?" tanya Ana pada Gan.
"Harusnya seperti itu, Atau kita periksa dulu?" tanya Gan. Ana memutar mobil dan mendekati lagi mobil putih yang berhenti di tengah jalan sunyi. Dilihatnya kepala Anderson terkulai ke belakang, menempel erat ke sandaran kursi. mulutnya ternganga.
Ana melewati mobil itu dengan cepat dan melihat darah tercecer di samping mobil dan menghilang ke pinggir jalan.
"Ada yang membunuhnya! Dan itu bukan aku! Apa anda mengenal pengemudinya?" tanya Gan.
"Ya! Kami pernah berada dalam satu tim dulu. Dia teman dan mentor yang baik. Dia pasti dipaksa ke sini dan dibunuh mereka karena Anderson tidak bersedia membunuhku!" Ana menyimpulkan apa yang dilihatnya sekilas tadi.
"Apa kita akan menyisir tempat ini untuk mencari pembunuhnya?" tanya Gan.
Ana menggeleng sambil lanjut mengemudi menuju tujuan mereka semula. "Mereka yang sudah kena peluruku, takkan bisa hidup lama!" kata Ana dengan suara dingin.
Gan bergidik mendengarnya. Dilihatnya pistol yang dipegangnya. Pistol dan peluru yang ada di dalamnya, memang didapatkan dari Ana. Gan hanya menggunakannya saja. "Apakah ada racun yang dioleskan pada peluru?" Dilihatnya sarung tangannya dengan ngeri.
"Lega rasanya," ujar Gan jujur.
Ana terkekeh. Dia kembali memusatkan perhatian pada jalan raya yang sunyi. "Bukankah aneh, jika jalan raya tiba-tiba jadi sunyi?" tanya Ana.
"Memang aneh," jawab Gan. Matanya melihat berkeliling. "Bahkan pertokoan juga tutup dan tak ada seorang pun yang melintas di pinggir jalan!" Gan melaporkan penglihatannya.
"Biro bekerja sama dengan pemerintah kota untuk menangkapku, rupanya!" geram Ana marah.
"Ammo, sepertinya pemerintah kota bersekongkol dengan Biro. Jalanan sunyi dan kota seperti tak berpenghuni!" lapor Ana.
"Berhati-hatilah. Artinya mereka sangat bertekad. Pemerintah kota kurasa hanya berusaha melindungi warganya saja. Mungkin itu yang jadi sebab mereka melarang orang keluar. Demi keamanan warga kota!" jelas Ammo.
"Apa kau masih jauh dari kantor Biro?" tanya Ammo.
'Belum setengah perjalanan!" sahut gadis itu santai.
__ADS_1
"Berhati-hatilah! Mereka sangat bertekad untuk menangkapmu!? Ammo memperingatkan.
"Apakah kau sudah bisa membuka tabir dari satelit?" tanya Ana.
"Ariel sedang mengerjakannya.
"Jika terlalu sulit, lebih baik minta bantuan Kapten Lance saja." Ammo memberi saran yang sama lagi.
"Nanti!" sahut Ana dengan penuh tekad. "Aku pasti bisa melewati rintangan ini!" batinnya.
Sekarang mobil Ana jadi lebih mudah melintasi jalanan sunyi. dia akhirnya ngebut di jalanan yang seperti kota mati.
"Dua mobil datang lagi di belakang kita!" lapor Gan.
"Habisi!" kata Ana tegas. Gan melakukan tugas tanpa bertanya lagi. Dalam sekejap, mobil di belakang mereka terhenti untuk selamanya.
Sepanjang perjalanan itu, tak henti-henti kendaraan menghadang di tengah jalan. Dua kali temannya muncul untuk menggoyahkan niatnya. Tapi Ana tak peduli. Apapun yang terjadi, kedua temannya hanya akan berakhir mati.
Tempat itu tinggal lima ratus meter lagi. Tapi seakan berada di tempat yang sangat jauh, hingga butuh waktu hingga dua jam lebih untuk menghilangkan segala rintangan.
Akhirnya, mobil itu sampai juga di depan kantor Biro. Gedung megah itu sunyi dan sepi, seperti tak berpenghuni.
"Ammo, apakah kalian sudah bisa membuka tabir penghalang di Kantor Biro?" desak Ana.
"Belum!" sahut Ammo.
"Baiklah. Saatnya improvisasi," gumam Ana.
Ana menekan satu tombol yang ada di dash board kemudi. Sebuah pelontar rudal kecil, keluar dari balik plat nomor kendaraan. Tidak menunggu lama rudal uji coba itupun melompat menuju sasaran. Sekarang Ana bisa lihat bahwa bukan hanya gedung itu yang dilindungi. Tapi juga pagar besi yang besar dan tinggi itu.
"Ini akan butuh usaha untuk menaklukkannya," kata Ana. Matanya membesar, melihat lontaran tadi tak berhasil menembus dinding perlindungan kantor tersebut.
*******
__ADS_1