
Ammo memencet satu tombol di meja. Jarum besi itu berhenti turun. Tapi tidak kembali ke posisinya.
"Katakan!" perintah Ammo dingin.
"Tak bisakah kau naikkan jarum ini dulu? Aku merasa sangat gugup dan ...."
Ucapan James terputus karena dia terkejut melihat jarum besi itu kembali bergerak perlahan.
"Aku katakan! Aku katakan!" teriak James putus asa.
Ammo mematikan lagi alat itu. James menarik nafas lega. Dia tak boleh salah ucap. Atau Ammo takkan mengampuni.
"Aku akan memulai dari awal. Sebagian ceritaku adalah penjelasan yang diberikan oleh Tuan Lindl belakangan hari. Sebagian adalah pengalamanku sendiri. Kau bisa menyimpulkannya nanti."
"Ku rasa kau tau kejadian dua setelah tahun yang lalu. Misi terakhir Angel di Rock Island itu dianggap sukses oleh para elit biro."
James menjeda ceritanya. Dia berbaring menyamping, memperhatikan ekspresi Ammo yang tetap dingin.
"Tapi, sebenarnya Angel tidak baik-baik saja. Selain bahwa dirinya telah terekspos, hatinya juga terluka. Dia mengalami depresi setelahnya."
Diliriknya lagi Ammo, mencari sedikit petunjuk tentang perasaan pria itu pada Angel. Tapi ekspresi pria gunung dan es berwajah datar itu benar-benar tak bisa ditebak.
__ADS_1
"Angel melakukan misi lebih dari dua tahun untuk masuk ke dalam jaringan mafia Black Rose. Meski yang diincar biro adalah pemimpinnya, tapi saat aksi terjadi, putranya Leonard tewas dalam baku tembak. Angel seketika kehilangan fokus atas misi biro. Dia ingin menyelamatkan nyawa pria muda itu. Tapi George menembak mati Leonard setelah pria itu dengan gigih menyerang para agen, termasuk Angel sendiri."
"Apa kau tau, saat dalam tugas itu, Angel melanggar aturan biro? Dia jatuh cinta dan menjalin hubungan asmara dengan Leonard. Pada akhirnya, Angel terluka dan depresi."
James tetap mengawasi ekspresi Ammo. Tapi dia harus kecewa. Ammo benar-benar gunung es yang dingin dan menakutkan.
"Aku tenaga bantuan di bagian medis. Hari itu aku pertama kali melihatnya. Dua tangannya diikat tali, menyilang ke belakang punggung. Dia terus berteriak -'Aku harus menyelamatkannya ... Leon'-. Tapi para penjaga menariknya ke ruang isolasi."
"Satu bulan pertama dia dirawat dengan memberi suntikan penenang. Tapi kondisinya tak juga membaik. Setiap kali obat itu habis reaksinya, Angel langsung mengamuk."
"Di bulan ke tiga, Angel dibawa ke ruang operasi. Beberapa dokter bekerjasama mengoperasi wajahnya. Mereka benar-benar mengganti wajahnya. Struktur wajahnya yang tegas berubah jadi lebih lembut seperti sekarang."
"Angel menjalani sesi rehabilitasi medis dan psikologi selama dua bulan. Progresnya sangat bagus. Dia yang garang berubah lembut dan ramah. Akhirnya tibalah saat membuka balutan wajahnya."
James menghela nafas panjang, mengingat saat-saat itu.
"Aku mendapat libur hari itu. Atasan kami mengatakan bahwa kami sudah bekerja keras, dan hasilnya sangat memuaskan. Kami berhak mendapat liburan seminggu."
"Aku sudah memesan tiket kereta ke Coast. Tapi tiket hotel yang kupesan, tertinggal di laci meja kerjaku. Pagi-pagi sekali aku sudah datang dan masuk ruangan untuk mengambilnya. Saat aku keluar ruangan yang bersebelahan dengan ruangan Angel, aku tak sengaja melihat perbannya sudah hampir selesai dilepaskan oleh tim dokter. Aku manatapnya lama dan kagum melihat kesuksesan operasi itu. Dia cantik sekali. Benar-benar berbeda dengan sebelumnya."
"Hah ... siapa yang tau bahwa itu justru jadi petaka untukku. Aku saksi mata perubahan Angel yang ternyata harus dirahasiakan."
__ADS_1
"Liburanku terasa seperti neraka. Selalu saja mengalami percobaan pembunuhan. Berkali-kali aku bisa meloloskan diri. Hingga seseorang datang menyelamatkanku yang sudah hampir mati."
"Beberapa waktu kemudian orang itu muncul. Namanya Lindl. Dia selalu memakai topeng seluruh wajah. Ditawarinya aku untuk melakukan operasi Face off seperti yang dilakukan pada Angel. Katanya, itu satu-satunya cara untuk lolos dari kejaran The Hunters. Mereka tak kan mengenaliku lagi."
"Seperti itulah kejadiannya. Ku kira ini kantor konglomerat biasa. Jadi aku senang bisa menata ulang hidupku, meskipun profesi dokter sudah harus kulupakan ...."
"Sampai aku melihatnya masuk ke kantormu. Aku terpana. Seperti mengalami Deja Vu. Ku pikir Angel datang untuk membunuhku. Tapi ternyata dia tak mengingatku sama sekali. Dia tak mengenali suaraku. Itu membuatku sedikit lega juga khawatir. Dia adalah bagian dari biro, jika aku tak hati-hati, maka keberadaanku akan diketahui mereka."
"Aku sudah meminta Tuan Lindl untuk memindahkan pekerjaanku ke tempat lain. Toh korporasi Oswald memiliki banyak anak perusahaan. Tapi Tuan Lindl menolak. Katanya, dia menempatkanku di sini untuk menjagamu dari musuh-musuh, yang tidak kau ketahui."
"Jadi kau melaporkan semua hal di sini padanya. Heheh ... dua tahun aku bersama seorang mata-mata!" Tawa Ammo terdengar mengerikan.
"Jangan salah paham dulu. Kau sungguh-sungguh dalam incaran Ammo!"
"Apa kau tau Tuan Robertson? Kau masih mengingat wajah cabul yang merayu tak senonoh Rosie sekretarismu? Sebenarnya dia ingin meledakkan gedung ini? Hari itu dia datang dengan mobil sport convertibel. Tapi dia pulang dengan mobil lain yang sudah menunggunya di lobby bawah."
"Aku yang menguntitnya sejak dia masuk ke ruanganmu, segera melapor pada Tuan Lindl. Seseorang dengan memakai suit gelap, datang tak lama kemudian. Dia memeriksa mobil itu di parkiran dan menemukan banyak bahan peledak kekuatan besar di bagasi mobil. Pria itu segera membawa pergi mobil itu keluar. Aku tak tau bagaimana nasibnya setelah itu."
"Apa kau mau ku beritahu yang lainnya lagi?" tanya James.
*******
__ADS_1