Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
199. Pidato Ana


__ADS_3

Ayah Ana memimpin sendiri acara makan malam. Ruangan itu menjadi hening setelah ultimatum yang dilontarkan Ana. Tak ada lagi yang berani coba-coba menunjukkan kekuasaannya di hadapan Ana.


Sementara Ana sendiri juga tak ingin membuang waktu ataupun berpura-pura ramah pada orang-orang yang sudah diketahuinya tidak menerimanya dengan baik.


Setelah acara makan malam yang hening selesai, Ivan langsung mengarah ke topik utama, yaitu pelantikan Ana secara resmi.


Ivan menatap tajam para penasehat yang bergerak dengan enggan. Suara kerasnya menggelegar.


"Xander, apa sudah kau catat nama-nama mereka yang sudah bosan menjadi penasehat?" tanyanya.


"Sudah, Tuan," angguk Xander.


Kata-kata itu efektif membuat para orang tua itu segera melakukan tugas mereka. Upacara penobatan Ana segera disiapkan.


Ana berdiri di depan ketua Penasehat. Diantara mereka ada ayahnya yang merupakan pemimpin sebelumnya. Ana diberi jubah dengan banyak ornamen simbolik yang tidak dimengertinya.


Kemudian sebuah ikat kepala dengan bermacam motif juga dipasangkan di kepalanya. Tak ketinggalan sebuah tongkat dengan pangkal dihiasi permata berwarna biru dan kuning, diberikan padanya.


Setelah segala prosesi itu, semua yang hadir kembali membungkuk dan bersumpah setia tanpa perlu dipaksa lagi.


Lampu-lampu kamera dan sorotan video tak henti-henti menerangi panggung kecil di ruang pertemuan itu.


Ana mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan pidato pertamanya yang akan disiarkan ke semua rumah anggota klan dan juga media luar.


"Saya senang akhirnya berhasil sampai ke tahap ini. Seperti yang kalian ketahui, keluargaku telah dihancurkan oleh Biro Klandestine dari negara Slovstadt. Ibuku tewas, ayah disiksa dengan keji."


"Mereka juga telah melakukan hal buruk padaku dan adikku. Membuang dan memisahkan kami hingga kami jadi melupakan satu sama lain. Memburuku, ayah dan Nathalie untuk melenyapkan kami. Tapi Tuhan masih menjaga kehidupan kami, dan segala ingatan itu perlahan kembali."


"Dengan bantuan anggota klan yang berada di luar sana, saya bisa membalaskan sedikit kekejaman yang mereka lakukan. Tapi, otak dari semua itu belum terungkap. Masih butuh waktu untuk membongkar orang-orang yang memakai topeng, padahal sejatinya sangatlah keji!"


"Selain itu, di bawah kepemimpinanku, kita akan merubah berbagai hal yang membuat klan ini jadi terpuruk dan tidak bekerja efektif. Kita harus mereformasi sistem yang dijalankan selama ini. Kita harus dikenal oleh dunia luar dan kembali berjaya seperti masa-masa keemasan nenek moyang kita!"


Kata-kata Ana membangkitkan semangat peserta yang hadir. Mereka bertepuk tangan meriah menyambut pidatonya.


"Saya akan menginvestigasi berbagai hal besok pagi. Jadi kita akan mengadakan rapat pukul sembilan pagi. Semuanya harus menyerahkan laporan pekerjaannya selama ini. Saya akan mengevaluasi. jika perlu dilanjutkan, maka kita lanjutkan. Jika ada yang perlu ditambah atau dikurangi, kita akan menelaahnya lebih lanjut."

__ADS_1


"Sekian sambutan saya hari ini. Terima kasih," ujarnya.


Ana menganggukkan kepala sedikit, kemudian berbalik. tepuk tangan menggema di ruangan. Mereka mengelu-elukannya.


"Hidup pemimpin! Klan akan kembali jaya!" ujar mereka berkali-kali.


Ayahnya dan Nathalie menyambut dengan senyuman lebar. Nathalie memeluk saudara kembarnya dan memuji. "Kau sangat hebat. Para orang tua itu memucat mendengar besok kau akan mengevaluasi cara kerja mereka."


"Jika tak ada acara lain, sebaiknya kita segera pulang. Ayah butuh istirahat," ajak Ana.


"Ayo!" Nathalie mengangguk setuju.


Rombongan itu keluar dari ruangan dan turun ke lantai dasar. Mereka terus berjalan melewati gerbang dalam dan taman. Begitu sampai di gerbang luar, anggota klan lain telah berkumpul dan menyambutnya dengan tepukan tangan meriah.


"Hidup Pemimpin Klan!"


Hidup Pemimpin Klan!"


"Klan akan kembali Jaya!"


Ana mengangkat tangannya. Dan semua orang yang berkumpul, langsung berjongkok dan bersumpah setia padanya.


"Terima kasih," ujar Ana tersenyum manis. Kemudian tangannya melambai dan meneruskan langkah menuju kediamannya.


"Kalian langsung istirahatlah. Besok saat sarapan, kita bisa berbincang lagi," pesan ayahnya.


"Baik, Ayah."


Ana mengangguk patuh. Dia masuk ke dalam kamarnya dan segera berganti pakaian yang sangat rumit dan berlapis-lapis. Tapi dirinya kemudian tersenyum. Dia mengerti kenapa pakaian tradisional mereka panjang, berlapis-lapis dan tebal. Itu karena mereka tinggal di puncak gunung. Dengan pakaian seperti itu, maka dapat mengusir hawa dingin.


Dirinya sekarang merasa kedinginan setelah melepas pakaian yang berlapis-lapis itu. Padahal dia ada di dalam ruangan. Sementara tadi di luar, dia tak merasa kedinginan sama sekali.


"Kalau begitu, tak perlu protes dan merasa ribet lagi. Semua sudah dipikirkan dengan matang oleh para pendahulu," gumamnya.


Ana membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Diraihnya ponsel dari meja kecil. Dilihatnya beberapa pesan masuk dari Ammo dan juga Alexei.

__ADS_1


"Selamat untuk pelantikanmu. Pidatomu sangat hebat dan menginspirasi." Seperti itulah pesan dari Ammo.


Berikutnya adalah pesan dari pamannya Alexei. "Kau sangat hebat dan juga cantik. Aku senang kau berada di tempat yang aman. Lain waktu, undanglah aku dan Yuri ke sana."


Ana tersenyum membaca dua pesan itu. Jarinya mengetik cepat dan membalas pesan Alexei. "Terima kasih, Paman. Nanti kuatur waktu agar paman berdua bisa berkunjung ke sini."


Ana kembali mengetik pesan balasan untuk Ammo. "Bagaimana dengan kondisi Slovstadt?"


"Oh ya, aku ingin Gan dan beberapa bawahan Khouk dikirim kembali ke klan. Yang lainnya, mungkin masih akan menyulitkanmu untuk menjaga mereka. Aku akan membuat aturan baru agar mereka bisa kembali ke klan kapan pun mereka mau."


"Kuharap, situasi di Slovstadt bisa segera pulih. Dan harapan kita untuk perubahan yang lebih baik di sana, tercapai."


Ana memandangi ponselnya. Memikirkan siapa lagi yang perlu dia hubungi. Tapi kemudian dia harus mengakui bahwa temannya tidaklah banyak.


Dibaringkannya tubuh sambil memejamkan mata. memikirkan langkah apa yang paling tepat untuk diterapkan di klan yang selama ini diatur oleh para orang tua kolot.


"Yang paling ingin kuubah adalah larangan kembali pada orang-orang klan yang pergi keluar tanpa ijin," gumamnya.


Bila para penasehat ngotot mereka tak boleh kembali, disertai dengan aturan pendiri klan, maka akan sulit untuk itu.


"Mungkin bisa dengan menempatkan mereka di kaki gunung dan tinggal di dekat pos-pos penjagaan. Sayang sekali rasanya tanah klan yang luas tidak dimanfaatkan dengan baik," gumam Ana prihatin.


Gadis itu akhirnya dapat tertidur meskipun dengan kepala yang dipenuhi pemikiran untuk kemajuan klannya.


*


*


Pagi yang dingin menggigilkan tulang di tanah Klan. Ana mengusir rasa malas dengan berlari keliling halaman kediaman. Dua pengawal yang ditempatkan Khouk, ikut berlari mengiringinya. Mereka berlari tiga putaran. Itupun karena ayah memanggil untuk sarapan.


"Kalian bisa istirahat dulu," kata Ana pada dua orang pengawal itu.


"Baik, Pemimpin!" jawab mereka serempak.


******

__ADS_1


__ADS_2