Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
202. Kedatangan Ammo


__ADS_3

Kota kecil di puncak gunung yang dihuni oleh anggota Klan Khaan, hari ini dihias sangat meriah. Semua penduduk beramai-ramai ikut serta dalam kegiatan.


Umbul-umbul dan lampu warna-warni dipasang di sepanjang jalan. Beberapa pot bunga besar juga telah disusun berjejer di beberapa tempat untuk menambah keindahan kota.


"Bagaimana persiapan kita?" tanya Ana pada Nathalie.


"Semua sedang dikerjakan. Aku akan menanyakan laporan dari penanggung jawab penyambutan," jawab Nathalie.


"Jangan ada yang kurang. Periksa lagi bagian dapur. Kita harus tunjukkan bahwa klan ini adalah klan yang patut mereka perhitungkan!" pesan Ana.


"Aku mengerti. Jangan khawatir. Bahkan meskipun penyambutan kita kurang, pacarmu itu tak akan keberatan sama sekali." Nathalie menggoda Ana.


"Bukan dia point penting dari pertemuan ini. Tapi momentum agar klan kita kembali dikenal oleh dunia!" Ana menjelaskan dengan serius.


"Aku yakin, matamu dan matanya tak akan melihat segala macam hiasan, karena kalian hanya akan saling lirik sepanjang pertemuan!" tambah Nathalie lagi.


"Cukup!" ujar Ana gemas.


Ana sudah jengah mendapatkan ledekan seperti itu sejak dia mengumumkan bahwa Ammo akan melakukan kunjungan resmi negara ke klan.


Nathalie tertawa senang, bisa mengusir ekspresi beku dari wajah Ana.


"Kau tenang saja. Semuanya akan kuperhatikan dengan baik. Sebaiknya kau pergi melakukan perawatan. Biar dia terpukau melihatmu yang terawat dengan baik. Hahahaa ...." Nathalie keluar ruangan cepat-cepat, sebelum Ana makin kesal.


Ana menggelengkan kepalanya melihat sikap adiknya itu. Tapi kemudian dia segera mengakui bahwa anjuran gadis itu ada benarnya. Dia paling malas melakukan perawatan. Dan rasanya hari ini adalah waktu yang tepat untuk memanjakan diri sejenak.


Ana memanggil dua pelayan wanita untuk membantunya mandi dan merawat tubuh. Dia ingin terlihat segar besok.


Keesokan hari.


Penjaga di kaki gunung melaporkan bahwa helikopter yang membawa Ammo dan rombongan negara Slovstadt telah berangkat dari bandara kecil terdekat dengan kaki gunung. Tak lama lagi mereka akan mendarat di post pertama klan di kaki gunung.


Ana dan semua petinggi klan sudah bersiap. Mereka menunggu di ruang kedatangan lift. Ruangan kecil itu terang benderang.


Karena tempat itu tak terlalu besar, maka yang menunggu di sana adalah Ana, Ayah, Paman dan adiknya serta para pengawal mereka. Para staff lain menunggu di ruangan menuju ke luar.

__ADS_1


Ana dan keluarganya sudah tiba di pintu masuk lift yang khusus untuk digunakan para petinggi klan. Semua staff sudah berkumpul dan berbaris rapi sepanjang jalan keluar.


Gan membisikkan bahwa rombongan Ammo sudah tiba di kaki gunung. Berarti sebentar lagi dia akan naik lift menuju atas.


"Ayo kita menunggu di sana," ajak Ana.


Maka rombongan itu mulai melangkah turun ke ruang tunggu lift yang menjadi tempat Ana menyambut kedatangan Ammo.


Orang-orang dari beberapa media sudah berada di sana dan cahaya lampu segera menyorot Ana dan keluarganya yang sampai di ruang penyambutan itu.


"Tempat itu dihias sangat meriah. Jauh lebih meriah dari pada saat menyambut kedatangannya waktu itu.


Beberapa pengawal bersiaga dan saling berkomunikasi satu sama lain untuk mengamankan acara. Di sana juga ada pengawal Ammo yang berasa dari negara Slovstadt. Mereka sudah tiba sejak sehari sebelumnya dan memeriksa semua tempat yang akan dikunjungi Ammo. Termasuk memeriksa kediaman yang disediakan klan untuk presiden mereka.


Gan kembali berbisik. "Sebentar lagi sampai," ujarnya.


Ana mengangguk dan bersiap. Dilihatnya barisan keluarganya juga sudah siap di tempat masing-masing.


Lampu di atas pintu lift menyala terang. Tandanya kabin penumpangnya sudah sampai di lantai atas. Para pengawal itu bersiaga. Awak media juga tak ketinggalan. Lampu sorot yang sangata terang, mengarah ke pintu yang sedang membuka perlahan. Lampu kamera tak henti-henti berkedip dan menyambar wajah Ana dan keuarganya.


Setelah para pengawal menjaga agar pintu lift tetap terbuka, Ammo keluar dengan tenang. Pandangan matanya langsunf menuju ke arah Ana yang berdiri anggun dan sangat cantik dengan pakaian khas mereka.


"Kau sangat cantik," bisik Ammo saat keduanya mengambil posisi berdampingan untuk difoto dan direkam oleh media. Pria itu menganggukkan kepala pada media dan terus memasang senyum kharismatiknya.


"Kau juga setampan yang kuingat," ujar Ana dengan suara rendah dan wajah masih memasang senyum sopan.


Oleh orang banyak, kedua orang itu terlihat seperti sedang berbincang hal-hal biasa. Tak ada yang menduga kalau Ammo ternyata sedang merayu Ana.


Kemudian panitia acara mengajak rombongan keduanya untuk keluar setelah bersalaman dengan ayah dan paman Ana.


Penampilan pertama Ammo di depan khalayak, disambut meriah oleh penduduk yang menjadi anggota klan biasa. Mereka berdiri berjejer di sepanjang pinggir jalan, menuju ruang pertemuan yang ada di sebelah kediaman Ana.


Ana menemani Ammo menghampiri beberapa orang di dekat panggung pembawa acara dan musik tradisional. Pria itu bersalaman dengan ramah dan luwes pada orang-orang. Dan senyuman tak pernah lepas dari wajahnya yang tampan.


Sepanjang jalan menuju gedung pertemuan, Ammo bisa menikmati tarian para gadis klan yang cantik dan gemulai.

__ADS_1


"Apa kau sengaja menempatkan mereka di sini untuk menguji kesetiaanku?" tanya Ammo sambil tersenyum.


Ana balas tersenyum meskipun dia sedikit jengkel. "Ini penyambutan yang sewajarnya dan sesuai tradisi kami. Kau saja yang sangat Ge Er," balas Ana.


Rombongan itu terus berjalan. Di belakang Ana, Ayahnya tersenyum mendengar bisik-bisik dua anak muda itu. api beberda dengan pamannya yang tidak mengetahui hubungan Ammo dan Anna.


"Kenapa pria ini sangat tidak sopan?" adunya pada kakaknya.


Ayah Ana balas tersenyum. "Jangan kesal. Tetaplah pasang senyum di wajahmu. Yang aku tahu, mereka adalah sepasang kekasih. Kesibukan masing-masing, memisahkan mereka begitu jauh dan lama. Jadi biarkan saja," jelas kakaknya.


Pria itu sedikit terkejut dan tak menyangka. Tapi kemudian ekspresinya kembali cerah. Senyum semringah tampil di wajahnya yang tampan.


"Apakah kau lelah?" tanya Ana.


"Jika ada kau di sampingku, lelah itu akan hilang," rayu Ammo lagi. Kali ini tangannya terus melambai ke arah para penonton di trotoar jalan.


Ana hampir tertawa mendengar kata-kata Ammo. Hingga dia tersedak dan terbatuk-batuk sedikit.


"Kau tak apa-apa?" tanya Ammo khawatir. Senyumnya langsung lenyap.


Aku tersedak rayuanmu!" ujar Ana,


Pria itu tertawa kecil mendengarnya. Baiklah, mari kita serius," kata Ammo dengan senyum kecil. Ana mengangguk dan membalas dengan senyum sopan lagi.


"Kita belok di sini. Itu gedung pertemuannya!" tunjuk Ana ke arah kanan jalan.


"Dekat sekali. Pantas saja kita hanya jalan kaki. Lalu di mana kediamanmu?" tanya Ammo sambil mengedipkan mata.


Ana menunjuk ke arah bangunan asri di sebelah kiri jalan. "itu kediaman sementaramu!" jawabnya. Ammo menoleh ke sana.


"Mari ...." Ana memberi isyarat tangan untuk segera melanjutkan langkah ke arah gedung pertemuan.


Ammo tak kecewa meskipun Ana tak mengatakan di mana gadis itu tinggal. Kakinya segera mengikuti langkah Ana. Mereka sedang melintasi taman yang ditata dengan sangat cantik.


"Aku merindukanmu," ujar Ammo lagi.

__ADS_1


Ana tak membalas lagi. Dia hanya tersenyum. Wajahnya terasa hangat dan pasti sudah memerah karena mendengarkan rayuan Ammo sejak tadi.


*******


__ADS_2