
Saat Ana dan Ammo kembali dari jogging di hutan kecil di belakang rumah, Ariel, Donny dan Ivan sedang menikmati cahaya matahari dengan berenang serta berjemur santai.
Theo sudah mengantarkan sarapan mereka ke meja santai di bawah payung.
Ammo dan Ana bergabung dengan ketiganya. Ammo bisa melihat bagaimana rileks sikap Ana pagi ini. Seakan perasaan bahagianya terpancar keluar.
"Apakah kau mendapatkan sedikit pencerahan tadi malam?" tanya Ivan iseng.
Tapi Ana tak tersinggung. Dia hanya tertawa dan berjalan santai ke pinggir kolam, lalu menceburkan dirinya ke air.
"Apa dia mendapat mimpi indah tadi malam? Dimana jutek dan sikap sedingin esnya itu?" Ariel ikut menimpali.
"Bukankah bagus, jika dia jadi lebih manusiawi? Apa kalian mau terus merasa sesak setiap kali komentarnya keluar?" Donny tak mengerti jalan pikiran dua temannya itu.
"Bukan begitu. Kita cuma heran aja kok," kelit Ivan. "Aku sudah selesai berenang dan sarapan." ujarnya kemudian berdiri.
"Bos, aku mau mandi dulu!" Ivan ngeloyor masuk ke dalam rumah.
"Tunggu!" teriak Ariel, menyusul masuk rumah.
Ammo memicingkan mata karena silaunya matahari pagi. Dia baru duduk minum juice, tapi teman-temannya justru sudah pada selesai.
Ammo berjalan ke tepi kolam. Dia ingin sedikit bersantai dan mendinginkan tubuh.
"Aaahhhh!" teriak Ana karena terkejut melihat Ammo jatuh di air yang tak jauh darinya.
"Kau sengaja ya!" teriak Ana kesal. Segera dicipratinya Ammo dengan air kolam. Dan Ammo membalasnya.
Donny melongo melihat bagaimana dua orang itu bermain cipratan air. Ana yang terus mengomel, disambung Ammo yang tertawa mengejeknya.
"Aku baru lihat Bos sebahagia ini." Donny tersenyum simpul. Dia diam-diam pergi meninggalkan dua orang yang masih ribut di tengah kolam.
*
*
Jam delapan pagi, Ammo membuka diskusi mereka di ruang pertemuan di lantai dua. Tempat itu selalu tertutup sejak orang tuanya tiada. Biasanya ruangan itu dipakai kakek dan ayahnya untuk mendiskusinya hal-hal penting yang menyangkut keluarga besar.
Tapi Ammo tak pernah menganggap penting hal itu. Dia tak ingin terlalu dekat secara emosional dengan keluarga besarnya.
Ammo akan bertemu para paman dan bibinya yang mengelola usaha, saat pertemuan rutin perusahaan dan para pemegang saham. Selain itu, mereka juga bertemu jika Ammo melakukan inspeksi ke perusahaan-perusahaan lain yang dikelola para pamannya.
Hari ini, ruangan itu dibuka untuk mendiskusikan hal penting yang tak boleh diketahui oleh siapapun.
"Ariel, aku ingin kau menelusuri keberadaan semua bawahan Ana. Apa kau bisa?" tanya Ammo.
"Jelaskan padaku detailnya. Jangan ada yang terlupa!" sahut Ariel.
"Kalian bisa bicarakan hal itu berdua." Ammo mempersilakan Ana dan Ariel berdiskusi berdua.
"Kami bagaimana, Bos?" Ivan bertanya pada Ammo.
Tentu tugas kalian juga penting. Jika Ariel sudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, maka kalian yang mengeksekusinya. Sanggup?" tanya Ammo.
"Sanggup!" jawab keduanya.
"Tapi, karena mereka berhubungan dengan Biro Klandestine, maka tugas itu pasti tidak mudah. Jadi jangan ragu-ragu meminta dukungan!" Ammo memberi semangat.
__ADS_1
"Siap, Bos!" jawab keduanya lagi.
"Baik, kita akan ke kantorku sebentar, sebelum melakukan hal lain." Ammo berdiri.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Ammo.
"Ya. Kita mau ke mana?" tanya Ariel.
"Mau ke kantor. Tspi, kau bebas mau bekerja dari rumah atau mau ikut." ujar Ammo.
"Selama jaringan di rumah ini memadai, maka aku lebih suka bekerja dari rumah." sahut Ariel.
"Theo akan menyiapkan ruang kerja untukmu!" putus Ammo.
"Kau juga tinggal dulu di rumah. Saat kita akan pergi, Sawyer akan mengantarmu!" Ammo sudah membuat beberapa rencana tadi malam.
"Oke deh." Ana tak membantah.
Ammo, Ivan dan Donny keluar ruangan. Ariel dan Ana menyusul. Theo sudah siap di dekat tangga, menunggu perintah baru.
"Theo, nanti tolong siapkan ruang kerja khusus untuk Ariel di ruang baca. Penuhi yang dibutuhkannya!" perintah Ammo.
"Ya, Tuan." Theo mengangguk mengerti. "Apa aku perlu meminta Sawyer bersiap, Tuan? tanya Theo.
"Tidak. Siapkan mobil yang mengantar kami kemarin. Aku ingin melihat jalanan pagi ini," sahut Ammo..
"Baik, Tuan."
Theo segera menuruni tangga dan meminta bantuan seorang pelayan lain. Tugasnya adalah lari ke paviliun untuk memberitahukan perintah Ammo, pada keempat orang kakek Wilson.
"Theo, apa Tuan akan berangkat?" tanya Nick.
Nick sudah mempersiapkan diri sejak pagi. Jadi dia tinggal menunggu tugas dari Ammo.
Ammo turun dengan pakaian rapi dan menjinjing sebuah laptop. Sampai di dekat Nick, Ammo menyerahkan laptop itu untuk dibawakannya. Nick segera menyambut dan mengikuti langkah Ammo menuju pintu depan.
"Tuan tidak pergi dengan Sawyer?" tanya Nick.
"Tidak!" sahut Ammo.
Nick akhirnya mengikuti tanpa bertanya lagi. Terlebih lagi, dua pria teman Ammo mengikuti dengan santai di belakang mereka.
*
*
"Kota ini bagus," puji Ivan.
"Itu karena Kau jarang keluar dari tempat kumuh itu!" cibir Donny.
"Bukan begitu. Jika tak ada orang baik yang bertahan di sana, siapa lagi yang akan menerangi kejahatan?" sanggah Ivan percaya diri.
Ccciiiiiiitttttt!
Tanpa aba-aba, mobil yang ditumpangi oleh Ivan dan Donny mengerem mendadak.
"Aahhh ... apa yang terjadi? Ada apa?" tanya Ivan.
__ADS_1
"Bos, mobil kami berhenti mendadak. Belum tau apa yang terjadi!" lapor Donny.
Ammo yang mendengar laporan itu, meminta sopir segera putar balik ke tempat teman-temannya terhambat, di belakang.
"Jangan keluar dari mobil. Mundur dan cari jalan aman!" perintah Ammo. "Kami menuju ke rempat kalian!" Suara Ammo jelas cemas.
"Jangan ada yang keluar dari mobil. Itu perintah Bos!" ujar Donny saat melihat orang di sebelah sopir, ingin membuka pintu depan. Orang itu nembatalkan niatnya. Sopir mengunci semua pintu dan jendela secara otomatis.
"Mundur!" teriak Donny. Ivan sudah mengeluarkan senjatanya dari balik jaket. Mobil itu mundur dengan cepat.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Ivan.
"Tadi seperti ada bayangan melintas. Kita melaju begitu cepat. Takutnya susah nelindas sesuatu," jawab sopir.
Mereka sudah mundur hingga sepuluh meter, tapi tak ada apapun di depan sana.
"Apakah lantai mobil ini lapis baja dan anti tank?" tanya Ivan dingin. Keempat orang itu langsung memucat, membayangkan seseorang mungkin bersembunyi di bawah mobil.
"Aku melihat kalian!" terdengar suara Ammo di hansfree Donny.
"Bos, sepertinya ada seseorang di bawah mobil ini," lapor Donny dengan suara rendah.
"Kita ambil jalan pedesaan di sebelah kanan!" saran Ammo.
"Ok, Bos!" sahut Donny.
"Jalan! Nanti ambil jalur pedesaan di sebelah kanan!" perintah Donny pada Sopir.
Sopir itu mengikuti saran itu. Tak lama, mereka memang menemukan jalur kanan yang jalannya buruk serta tidak rata. Sepertinya jalan itu sudah lama tak digunakan.
Mobil berbelok cepat dengan suara mencici dan dengan segera berguncang-guncang akibat jalanan yang buruk. Lumpur serta permukaan tanah yang tak rata, membuat mobil seperti menari. Dan sopir terus melajukan mobilnya dengan cepat, bergerak zigzag secara ekstrim. Tujuannya agar siapapun yang bersembunyi di bawah sana, dapat terjatuh.
"Di belakang, mobil yang ditumpangi Ammo, mengikuti dan mengamati bagian bawah mobil. Tempat itu memang punya space lega, akibat menggunakan ban offroad yang besar dan tinggi.
"Biar saya coba mengganggunya dari sini." Sopir Ammo punya ide sendiri.
"Stabilkan mobil kalian. Kami coba bantu dari belakang!" perintah Ammo.
Donny menyampaikan pesan Ammo pada sopirnya. Sekarang mobil itu hanya melewati jalanan bergelombang. Tidak lagi bergerak zigzag secara liar.
Mobil Ammo menyusul dengan cepat. Sopir mengeluarkan dua buah besi datar dari bawah mobilnya. Besi itu terus memanjang ke depan.
"Apa fungsi besi itu?" tanya Ammo heran.
"Untuk membawa Drum pupuk dari toko, ke lapangan terbang!" jawab sopir itu santai.
"Kakek Wilson memang tak terduga." Ammo menggelengkan kepalanya.
Mobil Ammo sudah memepet bagian belakang mobil yang di depan. Pelat besi di bagian bawah itu masuk ke bawah mobil temannya. Tak ada halangan untuk masuk. Lalu pelat besi itu dinaikkan posisinya secara perlahan.
Kemudian pelat besi itu digerakkan secara sembarangan. Naik dengan cepat, seperti memukul, lalu melepaskannya lagi. Kemudian dinaikkan lagi, hingga bagian belakang mobil itu sedikit terangkat .
"Hei, apa yang kalian lakukan?" teriak Donny ketakutan, saat bagian belakang mobil itu terangkat ke atas.
Kemudian, mobil itu dilepaskan tiba-tiba. Dan benar saja. Ada yang jatuh dan nyaris terlindas oleh mobil Ammo. Beruntung sopir sangat terampil. Dia berbelok persis di sebelah tubuh seseorang, yang jatuh itu.
Temannya yang duduk di samping kemudi, membuka pintu dengan cepat, dan menyambar tubuh yang meringkuk di tanah. Begitu tubuh itu ditarik masuk, Nick dan Ammo langsung menodongkan pistol ke arahnya!
__ADS_1
*********