Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
76. Kembali


__ADS_3

Setelah para awak kapal selam berangkat, tinggallah kesembilan orang itu melanjutkan perbincangan.


"Aku harus segera kembali," ujar Ammo.


"Kami sudah siapkan tumpangan, Bos," jelas Ariel.


"Kalian siapkan keperluan, kita berangkat sekarang," perintah Ammo.


"Siap, bos!" Ariel segera sibuk memasukkan berbagai keperluan pribadinya ke tas punggung. Dan satu tas berisi alat-alat kerjanya.


"Ready, Bos!" serunya.


"Ayo!" komando Ammo.


Sebagai pemilik tempat, Ariel berjalan di depan untuk memandu. Mereka menuju lahan kosong yang hanya dipenuhi bunga-bunga liar serta kotak-kotak sarang lebah.


Ariel berjalan cepat menuju sebongkah batu besar. Ammo bagkan tak melihst jelas apa yang dilakukannya pada batu itu. Tapi di depan sana, tanah kosong itu mulai menganga ke kanan dan kiri.


Ammo dan bawahannya yang lain, mendecak kagum. "Tempat rahasiamu sangat hebat!" puji Ammo.


Dari bawah tanah yang terbuka lebar, muncul landasan pesawat. Landasan itu naik secara perlahan. Di sisi lain, juga naik sebuah pesawat jet pribadi berwarna putih biru.


"Kau kaya sekali!" komentar Brandy.


"Apa kau sekarang mau jadi pacarku lagi?" goda Ariel.


"No way! Kau mata keranjang!" cerca Brandy.


"Hahahaha...."


Teman-temannya tertawa terpingkal melihat Ariel yang telah ditolak berkali-kali, tapi masih saja mencoba berbaikan dengan Brandy.


"Sungguh nasib," keluh Ariel jenaka.


Ariel menuju ke arah pesawat itu. Dengan sebuah alat di tangannya, dia membuka pintu dan langsung menurunkan tangganya.


"Apa kau puas, Bos?" Ariel menyerahkan alat yang dipegangnya pada Ammo. Ammo mengangguk puas.


"Hah! Kau mengecohku!" Brandy menjitak kepala Ariel kesal.


"Apa salahku? Aku tak pernah bilang ini milikku!" sanggah Ariel.


Yang lain tak peduli pada dua orang yang sedang bertengkar itu. Semuanya masuk ke dalam pesawat, mengikuti Ammo.


"Kalau tak segera naik, kalian kami tinggal!" Sawyer memperingatkan.


"Ikut! Aku ikut!" Brandy bergegas menaiki tangga dan masuk ke pesawat. Ariel mengikutinya dari belakang. Tangga ditarik dan pintu ditutup.


Ariel berjalan menuju kokpit. Tapi kemudian berbalik saat ingat sesuatu. "Kau bisa menjadi co-pilotku.' Jarinya menunjuk Sawyer.


Sawyer menoleh pada Ammo meminta keputusan. Ammo mengangguk.


"Terima kasih, Bos!" Ariel lanjut memasuki kokpit diikuti Sawyer.


Tak lama terdengar deru mesin pesawat. Lalu pemberitahuan pilot.


"Selamat datang para penumpang di maskapai penerbangan khusus Oswald Airways. Penerbangan khusus berarti, penerbangan self services. Makan dan minuman tersedia di pantry, silahkan ambil sendiri!" ujar pilot.


"Aduh! kenapa kau memukulku?" terdengar protes Ariel di kokpit.

__ADS_1


"Ini bukan waktunya bercanda!" balas Sawyer ketus.


Para penumpang di belakang, terkikik geli mendengar pertengkaran keduanya yang tersiar lewat pengeras suara.


"Baiklah, cukup intermessonya. Kembalilah ke tempat duduk dan pasang sabuk pengaman. Pesawat akan segera lepas landas," ujar Ariel dari pengeras suara.


Di belakang, orang-orang sudah bersiap, dan menunggu dengan tenang.


"Apa kau pernah naik pesawat ini?" tanya Ana pada Ammo yang duduk di sebelahnya.


"Belum," jawab Ammo singkat.


"Lalu siapa yang menggunakannya?" tanya Ana lagi.


"Belum pernah digunakan, sejak dibeli enam bulan lalu," jelas Ammo.


"Apa temanmu Ariel itu pilot handal?" tanya Ana penasaran.


"Tidak tau," jawab Ammo jujur.


"Apa maksudmu tidak tau?" Ana terkejut mendengarnya. Dia jelas khawatir.


Pesawat mulai berlari di landasan. Ana menggenggam tangan kursinya dengan erat, karena sangat takut.


"Jangan khawatir. Ariel selalu mendapat poin tinggi, tiap kali bermain simulasi pesawat terbang!" ujar Brandy dari arah belakang.


"Apa?" Kata-kata itu justru makin membuatnya gugup.


"Aaaaaaaaaa!"


Teriakan Ana yang histeris, memenuhi seisi kabin, saat pesawat lepas landas.


Setelah pesawat stabil di angkasa, barulah gemuruh di dada Ana mereda. Dilihatnya tangan Ammo menekan tangannya yang tadi mencengkeram tangan kursi dengan erat. Ana segera menepisnya.


"Kau juga mengerjaiku!" tuduh Ana sengit.


Ammo menggeleng. "Apa untungnya bagiku melakukan itu?"


"Tentu saja untuk membuat lelucon!" ujarnya sengit.


Alis Ammo meninggi mendengar tuduhan itu. "Apa kau begitu membenciku?" Ammo menatap tepat ke mata Ana.


"Ya!' sahut Ana ketus.


"Apa salahku sampai kau membenciku?" desak Ammo. Dia sangat ingin tahu apa yang membuat dirinya dan Ana berjarak selama ini.


"Huh. Kau pikirkan saja sendiri!" Ana berkata kasar, kemudian bangkit dari kursinya dan menuju ke belakang.


Brandy dan Lindsay saling lirik melihat Ana dan Ammo bertengkar. Mereka berkomunikasi lewat gerak mata. Komunikasi yang hanya mereka berdua yang mengerti.


"Mau kuambilkan minuman, Bos?" tawar Nick, mencairkan suasana.


"Hemm, boleh." Ammo mengangguk.


Nick berjalan ke belakang, mencari pantry. Dilihatnya Ana baru keluar dari toilet.


"Kenapa kau bersikap kasar pada Bos?" tegurnya dengan suara tertahan.


"Apa kau tau apa saja yang sudah dialaminya karenamu? Dia berkali-kali diserang orang karena menolongmu!" geram Nick.

__ADS_1


Ana mendelik. "Kau! Apa hakmu bicara begitu!" berangnya marah.


"Apa hakmu bersikap lancang pada penolong yang selalu siap mengadu nyawa untukmu!" sergah Nick menahan emosi.


"Hanya karena kau wanita, tidak berarti kau boleh bersikap tak masuk akal! Pikirlah sendiri!" Nick mengucapkan itu dengan suara berbisik, di dekat telinga Ana.


Ana merasa merinding. Dia seperti sedang diancam. Matanya menyiratkan kemarahan yang tak ditutupi pada Nick.


"Kau mau apa?"


Suara Lindsay yang tiba-tiba, menghentikan perang batin Ana. Dia menoleh cepat ke arah belakang, dimana Lindsay berdiri.


"Tak ada."


Ana meraih botol air mineral dengan kasar dan meninggalkan ruang belakang.


"Gadis aneh," gumam Lindsay sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu mengalihkan pandang pada Nick.


"Dan kau, mau ngapain?" tanyanya.


"Membuatkan minum untuk Bos," jawab Nick.


"Kau tau kesukaan Bos?" tanya Lindsay tertarik.


"Tidak tau. Tapi, sedikit cocktail yang segar, mungkin akan disukainya," jawab Nick.


"Ah, tentu. Apa kau bisa membuatnya? Aku juga mau kalau begitu."


Lindsay sangat antusias. Diperhatikannya cara Nick menambahkan berbagai buah kaleng ke dalam shaker. Ada nenas, pir, serta stroberi. Dahinya mengernyit.


Nick lanjut menambahksn setangkai daun mint, menambahkan sedikit air lemon, sirop apel yang berwarna hijau terang, es batu dan sparkling water dingin. Nick menutup shaker dan mengocoknya dengan semangat.


Tak sampai lima menit, dia berhenti mengguncang shaker. Lalu menyiapkan dua buah gelas saji. Dituangkannya minuman ke dalam gelas.


Minuman berwarna hijau samar, Di dasar gelas terdapat potongan buah berwarna-warni. Serta sedikit buih menghiasi pernukaan gelas.


"Itu minuman yang cantik, tapi—"


"Kau bisa mencobanya!"


Nick berlalu dari pantry dan meninggalkan satu gelas di situ. Lindsay meraih dan dengan ragu, mencobanya.


"Hemmm ... ini enak sekali!" ujarnya dengan wajah berseri.


Lindsay baru tahu ada minuman kocktail yang tidak pakai alkohol, namun tetap enak. Dia segera kembali ke kabin dan memamerkan minumannya pada Brandy.


"Apa itu enak?" tanya Brandy penasaran. Dia tadi melihat Nick membawa minuman yang sama untuk Ammo.


"Banget," sahut Lindsay.


"Aku juga mau. Apa masih ada lagi?" Brandy bangkit berdiri.


"Buat sendiri," sahut Lindsay tak acuh.


"Hah ... menyebalkan!" gerutunya kesal.


Empat bawahan Ammo, menghabiskan waktu dengan ngobrol, makan, dan bermain tebak-tebakan. Hingga pilot mengingatkan bahwa pesawat itu akan segera mendarat. Mereka bersiap-siap.


******

__ADS_1


__ADS_2