
Ana membuka penutup wajah orang itu. Kacamatanya merekam semuanya. Diperiksanya seluruh tubuh pria mati itu. Tak ada penunjuk yang mengarah pada identitasnya. Hanya ada sebuah pisau yang lebih besar lagi di bagian punggungnya.
"Kau seorang petarung heh? Peluru tetap lebih cepat dari pada pisau!" ejek Ana. Ditinggalkannya ruangan toilet dan menutupnya.
Ana membuka sedikit daun pintu dan melihat situasi dari celahnya. Tak ada siapapun yang terlihat. Ana membuka pintu lebih lebar dan melihat ke kiri dan kanan. Tak ada siapapun. Dia menyelinap keluar.
Dia melewati 2 kamar di kiri dan 2 kamar di kanan. Dia telah mengintip ke dalam. Tidak ada Maya di situ. Dia sudah sampai di pintu ke-3 di bagian kanan ketika mendengar suara langkah kaki.
Ana langsung masuk dan bersembunyi di ruangan itu. Pasiennya sedang tidur dan tak menyadari kehadiran Ana.
Ana melihat sekeliling. Dia harus segera menghilang dari sana. Orang mati tadi pasti akan segera ditemukan.
"Ventilasi!' serunya dalam hati.
Ana menarik kursi kecil tak jauh dari bed pasien. Dipindahnya kursi itu dibawah lubang ventilasi. Diperiksanya kotak besi itu dengan seksama. Tak ada baut di sekelilingnya. Ana mendorong dengan sedikit tenaga. Kotak itu terlepas. Lalu digesernya ke samping.
Ana turun dan mengembalikan kursi itu ke tempatnya semula. Pasien masih tidur dengan nyenyak.
Ana mengambil ancang-ancang dan melompat menjangkau lubang ventilasi yang tadi telah dibukanya. Dia menarik tubuhnya naik ke atas. Perlahan kakinya mulai hilang dari pandangan. Lalu Ana memasang kembali kotak besi ventilasi itu. Tak ada yang berubah di ruangan itu
Mencari lewat ventilasi tanpa bantuan tim IT tentu jauh lebih lambat. Tapi Ana tak ingin siapapun mengetahui rencana ini. Dia curiga ada mata-mata dalam tim, atau mungkin di biro. Namun tadi dia bertemu Ammo. Jadi, jika aksinya bocor, maka Ammo akan berada tepat di depan mata pelurunya!
Ana merayap lambat. Hal yang pertama di lakukan ya adalah memeriksa lorong. Dimana para penjaga berkumpul, maka itulah lokasinya. Itulah yang dipikirkan Ana.
"Disana!" pekiknya gembira di hati.
Ada 4 orang penjaga di situ. Dua orang menjaga pintu. Dua di depan lift dan counter perawat.
"Dimana Andrew?" tanya seseorang di depan ruangan rawat
__ADS_1
"Tadi dia bilang ingin ke toilet." Seseorang lain menjawab.
"Huh! selalu saja berulah!" kata orang pertama.
Pria itu mengangkat telepon dan bicara.
"Iya, jam tugasku baru berakhir." ucapnya.
Dia menutup telepon.
"Katakan pada Andrew, aku pulang lebih dulu," katanya sembari berdiri
"Oke," jawab penjaga di depan pintu.
Ana merayap ke arah ventilasi kamar yang sedang dijaga oleh orang itu. Dia akhirnya bisa melihat keadaan dalam kamar yang redup.
Ana tak bisa melihat siapa pasien yang dijaga. Jadi tak ada pilihan selain turun memeriksa.
Ana turun hati-hati dan tanpa suara. Dilihatnya pasien.
'Ini Maya!'
Hatinya sedih melihat gadis itu pucat pasi. Ana memeriksa denyut nadi di leher Maya. Masih terasa.
Maya membuka mata saat merasakan sentuhan di lehernya. Tubuhnya memberikan reaksi spontan untuk menolak disentuh.
Kening Ana mengerut.
"Ini aku. Diamlah," bisik Ana tepat di telinga Maya.
__ADS_1
Maya langsung diam. Tapi matanya membulat. Lalu sedikit redup. Ana melihat ada luka yang coba disembunyikan di dalam mata itu.
Ana membantu Maya duduk. Diberinya beberapa peralatan. Maya langsung mengerti maksud Ana setelah melihat benda-benda yang diberikan Ana. Dia segera memasangnya di sekeliling tubuhnya.
Ana mengambil bantal Maya. Dia melangkah menuju sofa. Pistol berperedam sudah digenggam ditangan. Dengan jarak dekat, tanpa menyentuh pria itu, Ana menembakkan pistol berperedam yang ditutupi bantal ke arah kepala orang itu.
Tak ada suara yang terdengar. Tapi orang itu sudah mati dalam tidurnya. Ana meletakkan bantal yang telah ditembus peluru di bawah kepala org itu. Ana mengambil selembar tissu dan perban. Di lapnya darah yang merembes keluar dari lubang bekas peluru masuk. Lalu ditutupnya dengan perban. Diacak-acaknya rambut kening pria itu untuk menyamarkan. Kertas tissu berdarah itu dimasukkannya ke dalam mulut orang tersebut.
Ana mendekati Maya. Dilihatnya Maya sudah siap. Ana juga bersiap. Dia memakai peralatan yang menempel dengan Maya. Sekarang tubuh keduanya saling terikat.
"Apa kita akan lompat?" bisik Maya.
Ana menggeleng. Dikeluarkannya sebuah alat lain. Dibukanya lipatan-lipatan yang ada. Itu sebuah busur portabel khusus. Lalu Ana mengaitkan anak panahnya dengan sebuah tali yang sangat panjang, sekuat baja, namun tipis, hingga tidak makan tempat saat dimasukkan dalam tas kecil.
Ana membidik busurnya ke arah pepohonan di luar halaman rumah sakit. Anak panahnya melesat sangat cepat dan menjangkau pohon yang diinginkannya.
Ana mengaitkan ujung tali pada jangkar besi yang dilekatkannya di kusen jendela. Ana mencoba regangan tali itu. Dirasanya cukup kuat untuk membawa mereka berdua.
Keduanya telah duduk di tepian jendela kaca. Sebuah alat peluncur telah dipasang. Kedua tangan mereka memegang handle yang ada pada alat tersebut.
Ana bersiap. Maya menutup matanya. Dia mempercayai Ana sepenuhnya.
Ana melepaskan pegangan tangannya di kusen jendela. Tubuh keduanya meluncur cepat dari lantai 7 ke bawah, ke arah pohon di balik tembok pagar Rumah Sakit Sentral.
Bughh!
Tubuh keduanya akhirnya berhenti di batang pohon, setelah tadi menabrak begitu banyak dedaunan.
Maya berhasil diselamatkan tanpa seorangpun penjaga yang tau
__ADS_1
******