
Ana menaiki anak tangga menuju lantai 7. Dia mencoba membuka pintu pelan-pelan. Tapi pintu itu tidak bisa dibuka. Sepertinya dikunci dari luar.
Ana berbalik melihat sekeliling dia melihat ada jendela kaca di area putaran tangga. Dia turun menuju tempat itu. Tapi itu jendela kaca mati tanpa daun jendela.
'Ternyata lebih rumit dari yang kuduga,' pikir Ana.
"Baiklah... mari kita lakukan," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Ana mengunci pintu masuk lantai 7 menuju ke tangga darurat. Digunakannya gagang pel menyilang di bagian handle pintu.
Ana lalu membuka tas peralatannya dan mengambil alat pemotong kaca. Dia memperkirakan besaran ukuran yang akan digunakan. Lalu memasang alat itu menempel erat pada kaca jendela.
Ana menggenggam handel alat itu dengan erat. Kemudian memutar ujung tajam pada alat itu seperti memutar jangka. Namun dengan ukuran yang cukup besar agar bisa dilewati tubuh rampingnya.
Dia memutarnya pelan-pelan agar suara derit kaca yang dipotong tidak terdengar oleh orang lain.
Potongan itu melingkar sempurna dengan diameter 50cm.
"Irisan yang bagus!" gumannya.
Ana menetak bidang kaca dalam lingkaran. Maka irisan lingkaran pada kaca jendela itu terlepas sepenuhnya. Handel alat yang dipegangnya, menempel erat pada kepingan kaca. Jadi potongan itu tidak akan jatuh ke bawah sana.
Dengan hati-hati, dipindahkannya kepingan kaca bulat itu ke lantai. Kemudian melepaskan alatnya. Itu akan dibutuhkan nanti.
Ana menyimpan alatnya dalam tas kecil di dadanya. Dia mengeratkan ikatan sarung tangannya. Lalu memencet satu fungsi yang jadi andalannya.
Ana mencoba mengeluarkan kepalanya di lubang kaca yang telah dibuatnya. Tangannya yang menggunakan sarung tangan khusus, menempel erat pada bidang kaca. Perlahan-lahan dia keluar dari lubang kaca yang sudah dibuat tadi.
Ana merayap hati-hati di dinding kaca. Tak ada seorangpun yang menyadari ada seseorang yang sedang naik merayapi dinding. Dia perlahan tapi pasti naik ke bidang dinding lantai 7.
__ADS_1
Ana melihat bahwa jendela kaca di lantai itu ada di sisi kanannya. Dengan hati-hati dia mendekat menempel lekat ke tembok.
'Sedikit lagi' batin Ana.
Dua meter dari tempatnya menempel, ada jendela kaca dan sedikit pijakan di bawahnya. Ana merayap berhati-hati. Harus memastikan tangannya yang menyentuh satu bidang, benar-benar menempel erat. Atau dia akan dalam bahaya.
"Ups!"
Ana menjangkau tepi jendela itu. Dipegangnya erat-erat. Perlahan-lahan kepalanya muncul di tepi jendela dan mengintip keadaan dibalik sana. Hanya sedikit yang terlihat di balik tirai.
'Baguslah. Ini ruangan pasien.' pikir Ana.
Ana kembali mengambil alat pemotong kaca miliknya. Dia kembali membuat lubang kecil. Itu digunakan agar lengannya bisa masuk dan menjangkau tuas yang mengunci daun jendela di sebelahnya.
Ana menyimpan alat dan kepingan kaca itu dalam tasnya. Lalu memasukkan lengannya dan membuka kunci jendela samping.
Kaitan jendela itu berhasil dilepas.
Ana lalu berpegangan dan bertumpu pada kusen jendela. Dia masuk ke ruangan dengan hati-hati. Khawatir mengejutkan pasien yang sedang istirahat. Dia diam tak bergerak dibalik tirai.
Tak ada reaksi apapun dari ruangan itu. Ana menjulurkan kepalanya, mengintip dari balik tirai.
"Kosong?" gumamnya.
Ana keluar dari persembunyiannya. Di depan sana. Di tengah ruangan. Hanya ada satu ranjang rawat. Sofa leter L lengkap dengan coffee table.
'Ini ruang VIP dan sedang kosong. Apakah ini kebetulan?' pikirnya.
Ana bergegas menuju pintu. Dia ingin memeriksa keadaan diluar ruang rawat itu.
__ADS_1
Baru saja dia menjangkau handel pintu, instingnya bereaksi. Dia dapat mengelakkan hunjaman pisau yang mengarah ke wajahnya.
Ana menahan serangan itu dengan sarung tangan kirinya. Kemudian memegang tangan penyerangnya yang memegang pisau. Kaki kanan Ana terayun dan menendang sekuat tenaga ke antara dua pahanya
"Dakk!
"Ughhh...." Orang itu merosot jatuh ke lantai sambil memegangi harta berharganya.
Ana belum merasa cukup. Orang itu bagaimanapun telah mengetahui kehadirannya. Dia harus dilenyapkan!
Ana masih menendang lagi ke arah wajah orang yang sedang jongkok itu hingga dia terbang ke dalam kamar mandi dan membentur tembok di ujung sana.
Orang tak dikenal itu melenguh sebentar. Tubuhnya gemetar menahan dua hantaman tadi. Masih belum bisa bangkit dan melawan.
Ana menarik pistol berperedam di balik punggungnya. Pistol itu diarahkan ke kening org tersebut. Ana melepas kunci magasin. Pistol itu bisa meletus kapan saja.
"Siapa kau? Siapa kalian sebenarnya?" tanyanya dingin.
"Kau belum saatnya untuk tau."
suaranya berat, khas suara pria.
Dia kini mengacungkan dua pisau ke arah Ana. Menunjukkan sedikit skill nya pada Ana, sebelum melompat dan menyerbu ke arah Ana berdiri.
Dorr!
Sebuah peluru yang bersarang tepat di tengah kening. Langsung membuatnya jatuh dan tewas seketika
******
__ADS_1