Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
101. Genting


__ADS_3

Di rumah besar, suara Ammo itu menggema di speaker. Seisi rumah mendengarnya. Theo bergegas mencari Ariel di kolam renang. Kapten Smith mengikutinya. Panggilan kedua Ammo menggema kembali di seluruh ruangan.


Dua penjaga masuk sambil menngangkat Ariel yang terus protes, tapi tak mampu melepaskan diri.


Seorang pelayan wanita mengambilkan piyama mandi, agar air tak terus menetes di lantai. Pelayan lain mengepel dari pintu masuk kolam dengan gugup.


Menyadari semua mata menuju padanya dengan pandangan serius, Ariel berhenti protes. Dikenakannya piyama mandi yang setebal handuk


"Ada apa?" tanyanya heran.


"Ariel!" teriak Ammo lagi.


"Ya!" Ariel balas berteriak. "Di mana dia?" tanya Ariel pada Theo.


"Ayo cepat ikut denganku!" Theo berlari ke arah tangga. Smith juga lari sambil menarik Ariel. "Cepat!" ujarnya tak sabar.


"Ada apa?" Ariel kebingungan melihat kepanikan di rumah itu.


Theo membuka ruang kerja Ammo. Mengambil laptop khusus yang selalu tersimpan di laci. "Kemari!" panggil Theo keras. Ariel diseret oleh Smith ke dekat meja.


"Tuan dalam masalah. Dan dia memanggilmu, memintamu jadi matanya. Nyalakan alat ini!" tunjuk Theo.


Ariel duduk di kursi dengan bingung, tak tau mesti melakukan apa. Dibukanya laptop yang berkedip-kedip. Matanya melebar. Layar laptop itu menggambarkan satu lokasi entah di mana. Tapi ada titik hijau berkedip dan terus bergerak di layar. Titik itu diberi inisial A.


"Ammo, aku di sini. Apa—"


"Bagus. Kuharap laptop itu sudah terhubung dengan satelit. Kami dijebak di sini. Mobil yang kami sewa dikendalikan orang lain, dan sekarang jatuh ke jurang. Nick menghilang." Suara Ammo terdengar seperti orang sedang berlari.


"Biar kucek sinyal satelit." jawab Ariel. tangan bergetak lincah menekan tombol keyboard.


"Smith, siapkan penyelamatan. pada kordinat yang tertera. Kita harus amankan Bibi Harriet. Dan cari keberadaan Nick!" perintah Ammo.


"Ya, Tuan!" sahut Kapten Smith cepat. Kau, sambungkan telekomunikasi denganku, agar bisa mengikuti kordinat Tuan Oswald!" perintah Kapten Smith pada Ariel.


"Sawyer, siapkan helikopter!" perintah kapten Smith.


"Siap, Kapten!" terdengar sahutan Sawyer.


"Ini untukmu! Ariel melemparkan perangkat kepala yang juga ada di dalam laci meja. "Coba tes, apakah benda itu terhubung ke sini!" ujar Ariel.

__ADS_1


Kapten Smith memasang perangkat komunikasi itu di kepalanya dan berlari ke pintu. Dicobanya menghubungi Ariel dari balik pintu.


"Oke! Sudah bekerja. Pergi selamatkan dia. Aku akan memandu kalian dari sini!" seru Ariel tanpa ragu. Sekarang dia tau situasinya dan perangkat yang dimiliki Ammo, sangat memadai untuk menjadi 'matanya'.


Ariel sekarang bisa melihat gerakan Ammo. Citra dari satelit muncul, dan memperjelas lokasi. Ammo berpegangan tangan dengan seseorang, berlari menyelinap menyusuri jalan yang sepi. Theo mematung melihat tuannya berlarian tanpa ada seorangpun pelindung.


Terlihat sinar cahaya dari satelit. Kemudian suara tembakan terdengar melalui alat komunikasi Ammo.


"Apa Tuan tertembak?" pekik Theo memucat.


"Tidak. Tembakan itu di tempat lain. Mungkin mereka sedang menghadapi Nick?" ujar Ammo taj yakin. l


"Kalian mau ke mana? biar kupandu!" ujar Ariel.


Ammo mengatakan hotel tempat mereka menginap. Ariel memcari tempat itu di peta. "Oke, tempat itu harusnya tak jauh lagi! Kau terus jalan ke depan," pandu Ariel.


"Sambungkan perangkat itu dengan alat ini! Terdengar permintaan dari kapten Smith.


'Tunggu! Jika Kapten Smith juga pergi, siapa yang akan mempertahankan rumah ini?" seru Ariel panik.


Theo ikut terdiam. "Terus pantau, biar kuurus di bawah."


Theo segera memanggil salah seorang penjaga dan mengatakan situasi genting saat ini. Untuk sementara, Theo akan mengambil alih kendali untuk mengamankan kediaman itu.


"Siap!" ujar penjaga itu. Dia berlari mengumpulkan semua penjaga yang ada di rumah. Mereka langsung berkumpul di depan teras samping.


"Hari ini Tuan mengalami sedikit masalah. Kapten Smith pergi menyusul. Dan kalian harus mengikuti perintahku. Pertahankan rumah ini, jika ada penyerangan lagi seperti waktu itu. Kalian bersedia?" tanya Theo.


Para penjaga itu sedikit kebingungan. Tapi Theo tak skan membiarkan ada bibit keraguan sedikitpun.


"Yang tidak bersedia mempertahankan kediaman inj, silakan mengundurkan diri! Saya akan mempertanggungjawabkan keputusan ini pada Tuan Oswald saat Beliau kembali." Theo menunggu reaksi para oenjaga yang kehilangan pimpinannya.


"Kalian bersedia atau tidak!" tegas Theo.


"Bersedia!" terdengar jawaban bulat dari para penjaga.


"Sekarang kembali ke pos masing-masing. Kenakan pakaian lengkap dan siapkan senjata kalian!" perintah Theo.


"Siap!' Pasukan penjaga itu membubarkan diri dengan cepat.

__ADS_1


Theo menggeleng. Dia meraih ponsel lagi, dan mengingatkan kemungkinan penyerangan pada kantor pusat perusahaan Oswald. Penjaga di gedung itu segera bersiaga dan bersiap. Mereka melaporkan setiap situasi pada Theo. Sekarang kepala Theo terasa mau pecah, ini bukan bidang pekerjaannya. Tapi dia harus mengambil beberapa tindakan darurat.


Theo meninggalkan teras. Dia berjalan menuju lantai atas, menemani Ariel. Dilihatnya para pelayan yang bertanya-tanya lewat matanya. Theo berhenti di anak tangga terbawah. Diberinya pesan pada para pelayan untuk tidak berkeliaran di luar rumah, demi keselamatan mereka.


Theo melanjutkan langkah ke kanar kerja Ammo. Di depan pintu, Theo ingat seduatu. Dikeluarkannya lagi ponsel dan menghubungi seseorang.


"Nona, bisakah Anda kembali?" Theo menceritakan situasinya. Termasuk praduganya, bahwa rumah serta gedung perkantoran Smmo adalah target yang sesungguhnya.


*


*


Di sebuah apartemen kelas bawah yang kumuh. Seorang pria hampir tua, sedang bersiap-siap. Dikenakannya pakaian lapangan yang praktis. Dua pistol dan senjata tajam sudah berada di tempatnya.


Dia berdiri di depan cermin buram di dinding. "Sudah waktunya aku akan membalas budimu, Tuan!" gumamnya dengan sikap hormat. Kemudian diraihnya jaket dan turun ke lantai bawah. Sebuah motor sport hitam model lama, mengantarnya ke tujuan.


*


*


Ana terhenyak mendapat panggilan dari Theo. Dia terdiam dan menimbang-nimbang. Akan pergi ke mana dia? Kantor atau rumah Ammo.


Ana segera menghubungi Theo lagi. "Apakah ada yang menggantikan komando Kapten Smith sekarang?" tanyanya.


"Saya telah mengundang seorang kenalan lama," jawab Theo.


"Kalau begitu, Aku akan membantu penjagaan di gedung perkantoran," bagaimana menurutmu?" tanya Ana.


"Baik. Anda bisa ke sana. Aku akan menghubungi pihak yang sedang bertanggung sekarang." ujar Theo.


"Baik. Aku akan bersiap ke sana!' ujar Ana Kemudian sambil mempersiapkan diri.


Sepuluh menit berikutnya, Ana sudah rapi. Dia kembali ke penampilannya yang sebenarnya. Sekali lagi, Ana memeriksa keadaan rumah sebelum pergi. Semua sudah sesuai. Lalu Ana menyalakan pelindung rumah.


Beberapa saat berikutnya, sebuah mobil van biasa, melintasi jalan tol. Mobil itu dikendarai oleh Ana menuju kantor Ammo yang utama di pusat kota.


Ana menimbang-nimbang apakah rekaman informasi yang simpan itu perlu disebarkan atau tidak? Ada konsekwensi untuk tiap tindakan.


*******

__ADS_1


__ADS_2