Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
181. Tawaran Orang Tak Dikenal


__ADS_3

Ternyata membongkar kode-kode di laptop itu membutuhkan waktu yang lumayan lama. Penjaga bagian medis bahkan sudah datang dan mengabarkan bahwa KHouk sudah selesai operasi dan sudah dipidahkan ke kamar rawatan. Ana bisa menjenguknya nanti.


Dengan bosan Ana menunggu Kevin menyelesaikan tugasnya. Saat kemudian dilihat pria itu menggerakkan tubuh untuk mengusir kekakuan karena terus menunduk, Ana melihat jam tangannya. "Sudah lebih dari tiga jam," batinnya.


"Nona, ini sudah selesai," panggil Kevin.


"Bagus!" Ana bangkit dari duduknya dan mendekat. dilihatnya data-data di laptop itu dapat dibuka dengan aman dan disajika di depannya.


"Mereka sudah menghapus beberapa file. Tapi aku masih dapat memulihkan beberapa diantaranya," jelas Kevin.


"Baiklah. Terima kasih bantuanmu. Apakah sekarang laptop ini bisa kupakai tanpa membuatku kehilangan apapun?" tanya Ana.


"Ya, sudah tidak ada sandi lagi di situ. Anda bisa membuat kata sandi sendiri kalau mau," jelas Kevin.


"Baiklah, biar ku periksa isinya. Kau bisa istirahat sekarang," ujar Ana.


Kevin membereskan peralatannya. "Senang bisa membantu anda, Nona," ujarnya sambil tersenyum.


"Terima kasih." Ana membukakan pintu kamarnya dan membiarkan Kevin pergi. Kemudian dia cepat-cepat duduk di kursi dan memeriksa semua file yang ada di laptop itu.


Selama dua jam Ana membuka begitu banyak file yang menurutnya tidak penting. Bahkan ada sangat banyak file video panas di situ. "Menjengkelkan!" geramnya marah sambil menutup laptop itu dengan kasar.


Dilihatnya disk cctv yang berserakan di tempat tidurnya. Diambilnya satu dan dimasukkan ke dalam laptop, untuk melihat apa yang terekam di sana. Dan seperti seharusnya rekaman cctv, maka itu merupakan rekaman tentang pengunjung dan kegiatan di kantor tersebut.


Untuk satu disk, mencakup beberapa bulan rekaman di tahun yang sama. Ana memeriksa disk itu satu persatu dengan bosan dan mata mengantuk. Karena tak memberi hasil apapun, dia mematikan laptop dan berbaring di tempat tidur. Matanya mengantuk dan tubuhnya sudah sangat lelah. Ana harus mengistirahatkan sejenak kepalanya, agar bisa berpikir lebih jernih.


*


*


Di kediaman Ammo.


Pria itu sedang berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Keadaan tidak terlalu bagus di Slovstadt. Dia kehilangan cukup banyak pasukannya hari itu. Sebagian mereka ditangkap oleh pasukan pemerintah. Ini mencemaskan Ammo.


Langkah ini hanya boleh mrmberi satu hasil, yaitu berhasil. Jika gagal, maka semuanya terancam dan hancur. Ammo membayangkan keadaan Ana jika itu terjadi. Ana memang tak terlibat langsung dalam aksi di Slovstadt, tapi dia menyerahkan dukungan klan. Dan aksi Ana hari ini di Giebellinch akan berujung petaka jika aksi Ammo gagal.

__ADS_1


"Apa yang harus kulakukan?" pikirnya.


Ariel sudah terlihat letih di depan perangkat IT. Theo juga lesu. Dia mendengarkan setiap laporan yang masuk dari percakapan anggota Ammo di sana. Kediaman itu sunyi dan mencekam. Mereka menunggu mukjizat datang untuk membalikkan keadaan.


"Baiknya kita istirahat sekarang. Mereka di sana juga sedang istirahat dan bersembunyi," saran Ammo.


Ariel langsung membaringkan tubuhnya di sofa besar, menyusul Donny dan Ivan yang sudah bermimpi lebih dulu. Dia sudah sangat lelah. Kopi yang disuguhkan Theo tak lagi mampu membuat matanya terbuka lebar dan berpikir jernih. Dia butuh tidur.


"Anda juga lebih baik istirahat sebentar, Tuan," desak Theo khawatir.


Ammo mengangguk. Dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Melihat semua orang telah terbang ke alam mimpi, Theo menghembuskan napas panjang. Sekarang dia yang harus menjaga alat komunikasi agar tak ada berita yang terlewat dan terlambat ditanggapi.


Pagi menyapa kediaman itu. Rumah yang sunyi sepi, bertolak belakang dengan kegiatan di halaman. Mereka sedang berganti sift jaga. Kapten Smith dan Sawyer lari pagi bersama, mengikuti Ammo yang sedang lari di depan mereka.


Theo yang tidak tidur semalaman, dipaksa istirahat. Tugasnya digantikan oleh asistennya yang selama ini lebih sering mengatur hal-hal di luar rumah utama.


Julio sedang mengomandoi juru masak untuk membuat sarapan semua orang di dalam rumah. Sarapan harus selesai seperti biasa sebelum Ammo kembali dari jogging.


Alat komunikasi berbunyi nyaring. Julio dengan cepat membangunkan Ariel dan mengatakannya, agar pria itu segera menangani panggilan masuk itu.


"Kau panggil Ammo sekarang!" ujarnya kuatir.


Julio berlari ke teras samping dan menanyakan keberadaan Ammo. Seorang penjaga segera lari menyampaikan pesan Julio. Mereka tak bisa memanggil Ammo dengan ponsel, karena ponselnya tergeletak di meja besar tadi.


Dalam tiga menit, Ammo telah berlari kembali ke rumah. Dia langsung menemui Ariel yang terus mendengarkan permintaan panggilan masuk itu.


"Kau tau itu dari siapa?" tanya Ammo.


Ariel menunjukkan data yang didapatnya. Lokasi panggilan itu berada jauh dari manapun. Tapi jelas itu bukan Ana. Lalu siapa?


"Angkat saja!" putus Ammo tak sabar. Mereka butuh keajaiban untuk membalikkan keadaan. Tapi panggilan telepon asing saja mereka tak berani mengangkatnya.


"Ya, Halo, ini dengan siapa?" tanya Ariel.


"Sambungkan aku dengan Ammo, jika dia ingin memenangkan pertarungan ini," ujar suara di sana.

__ADS_1


Ammo menimpali dengan cepat. "Aku di sini. Katakan siapa kau!" ujarnya tegas.


"Aku seseorang yang tidak terlalu terkenal. Tapi punya sedikit kuasa untuk membantumu," kata suara di seberang.


"Aku tak mungkin bekerja sama dengan orang yang tak ku kenali. Kau mungkin akan meminta sesuatu yang bisa menghancurkanku di lain waktu!" tolak Ammo.


"Bukankah setiap kerja sama adalah bentuk dari saling memanfaatkan di kemudian hari?" tanya orang itu.


"Saling memanfaatkan untuk sama-sama mendapat keuntungan. Bukan menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Aku tak kan mencari sekutu buruk seperti itu!" tegas Ammo.


"Aku tidak akan merugikan bisnismu," ujarnya.


"Jika bukan bisnisku, artinya kau akan merugikan keluargaku atau diriku pribadi?" kejar Ammo.


"Kau orang yang sulit untuk dikelabui, Tuan Oswald," kata orang itu.


"Katakan apa yang kau inginkan!" desak Ammo.


"Aku mau kau meninggalkan Anastasia! Serahkan gadis itu padaku, maka kau bisa mendaparkan keinginanmu!" ujarnya tanpa sungkan lagi.


"Kau bermimpi di siang bolong, Tuan. Apapun maksud dan tujuanmu padanya, Aku bukanlah pria yang akan menukar gadisnya demi sebuah pertarungan. Dia bukan bahan taruhan!"


"Kau akan kalah. Semua bidakmu sudah diketahui mereka. Hanya tinggal dijatuhkan satu persatu," katanya tak mau menyerah.


"Kau dapat info dari mana?" Ammo tertawa kecil, untuk menutupi keterkejutannya. Tangannya bergerak memberi Ariel kode agar memberi tahu anggota mereka untuk waspada.


"Info yang amat sangat terpercaya." tambahnya percaya diri.


"Apa pentingnya Ana bagimu?" tanya Ammo. Dia ingin tahu siapa pria yang meneleponnya.


"Kau mencoba mengorekku, ketimbang menyetujui tawaranku?" tanyanya.


"Tawaranmu tak masuk akal. Tak kan ada seorang pria yang akan menyerahkan gadisnya pada orang lain, apapun alasannya! Jadi menyerahlah. Kita mungkin masih bisa membicarakan bisnis lain setelah ini," bujuk Ammo.


*********

__ADS_1


__ADS_2