
Di kantor.
Ana sudah memeriksa dan memerintahkan penutupan semua pintu masuk. Para petugas maintenance juga sudah dipulangkan. Sekarang di dalam gedung itu hanya ada para tentara bayaran. Menyisir semua lokasi, mengantisipasi sesuatu sebelum terlambat.
Ana melepas lelah di ruang kerja Ammo. Dikeluarkannya laptopnya sendiri. Mencari-cari informasi keberadaan Ammo dan keterkaitan hal itu dengan dirinya.
"Mereka ke sana untuk mengurus jasad Carl. Lalu siapa yang dirugikan dengan hal itu?" Ana berpikir keras.
"Pembunuhnya atau otak dari pembunuhan itu!"
"Atau, ini sama sekali berbeda? Mereka hanya kebetulan menemukan target di kota itu?"
"The Hunters lagi?" pikir Ana ambil memijit pelipis.
"Menurutku, ini adalah serangan terencana dari biro. Tak mungkin kebetulan mereka juga menyerang kediaman itu saat Ammo sedang tak ada! Atau mereka punya kerjasama busuk dengan pihak lain!"
"Okelah.... Kalian ternyata masih tidak mengerti ancamanku. Mari kita buka-bukaan. Aku ingin lihat, kalian akan menyelamatkan orang sendiri, atau terus menantangku!" geramnya.
Ana memasukkan memory miliknya ke laptop. Di layar muncul titik-titik merah pada peta seluruh dunia. Pada titik itu kini ditandai dengan inisial huruf. Di layar kedua, semua inisial itu muncul, lengkap dengan foto, data diri, posisi, dan lokasi penempatan. Serta surat tugas masing-masing, dengan stempel Biro Klandestine.
Ana mengatur jalur informasinya cukup lama, agar tidak terdeteksi. Kini informasi itu siap untuk disebarkan di internet dan dilihat publik. Termasuk juga kantor-kantor pemerintah beberapa negara.
Jari Ana berada di atas tombol enter. Bersiap mengirim serangan balik. Terdengar ketukan di pintu.
"Ya!" sahut Ana.
Seorang petugas masuk dan melapor. "Ada yang memasuki halaman depan gedung dan terlihat mencurigakan!"
"Rooftop bagaimana?" tanya Ana. Dia berjalan menuju jendela kaca. Ana ingat ada balcony di ruangan Ammo.
"Rooftop belum ada hal yang mencurigakan!" jawab pria itu.
"Berikan aku teropongmu!" pinta Anna pada penjaga itu.
Penjaga menyerahkan teropong yang ada di bahunya. "Ini Nona!"
Ana membuka jendela ke arah balkon di ruang kerja Ammo. Dia mengendap lalu menunduk rendah, sambil memasang teropong yang ada di tangannya. Diamatinya halaman depan gedung itu dengan seksama.
"Apakah kalian sudah bisa mendapatkan gambaran CCTV yang lebih jelas? Tempat ini terlalu tinggi.Aku tidak bisa melihat siapa orang yang ada di bawah itu!" gerutu Ana.
Terdengar petugas itu menanyakan keadaan di bawah dengan radionya.
"Apakah kalian sudah bisa mendapatkan gambaran cctv-nya? Nona Ana ingin melihat orang itu. Kirimkan ke sini gambarnya segera!" perintah petugas itu lewat radio.
"Kami sudah mendapatkan gambarannya jawab petugas lainnya di radio.
Petugas itu berlari keluar. Dia masuk kembali tak lama berselang. Dibawanya laptop di tangan kanan. "Ini gambarannya, Nona!"
Laptop diletakkan di atas meja kerja Ammo. Ana berjalan kembali ke arah sana. Lalu melihat dengan jelas gambaran orang yang ada di halaman depan gedung.
"Dia tidak terlihat seperti penjahat. Menurutku dia seperti pengemis yang sedang mencari sesuatu. Atau mungkin orang gila yang tersasar sampai ke halaman depan. Apakah tidak ada penjaga di depan gerbang?" tanya Ana.
Meski begitu, Ana tetap merasa heran. Tak mungkin suatu kebetulan!
Petugas segera menghubungi penjaga yang bertugas di gerbang. Namun tak ada respon. Dia mengambil teropong dan mengamati gerbang depan.
"Nona!"
"Kutebak, temanmu tewas di gerbang!" geram Ana.
"Bunuh orang itu!" perintah Ana marah.
"Siap!"
Penjaga itu segera menganbil radio. "Habisi! Dia membunuh penjaga gerbang!" perintahnya.
Ana memencet tombol enter pada komputernya. "Kalian membangunkan singa tidur!" geramnya marah.
__ADS_1
Suara tembakan bersahut-sahutan. Ternyata pria itu sudah mempersiapkan diri. Di belakangnya muncul lebih banyak orang lagi.
Ana mengaliri semua gerbang dengan arus listrik tegangan tinggi, ketika dilihatnya orang-orang liar itu mencoba memanjat pagar. Beberapa orang berjatuhan.
Ana juga mengaktifkan pelindung di rooftop. Ana tak tau pelindung seperti apa itu. Tapi Ammo dan para tentara bayaran ini sudah membuat berbagai perangkat antisipasi dan pertahanan di gedung ini.
Ana melihat orang pertama yang ada di halaman gedung itu masih belum dapat dilumpuhkan oleh petugas di bawah. Diambilnya senapan berburu dan berjalan ke jendela balkon. Dengan tenang, Ana membidik kepala orang itu dari atas.
Ana memperhitungkan arah angin dan jarak tempuhnya. Dia memantapkan posisi senapan itu. Sambil memicingkan mata, jarinya ditaruh pada pelatuk. Ditariknya lembut pelatuk itu. Sebuah peluru meluncur deras ke arah orang yang sedang berlindung dibalik pot bunga besar.
Mungkin sebuah feeling, pria itu menoleh ke arah atas. Tapi sudah terlambat untuk bereaksi. Sebutir peluru tajam, menghunjam tepat diantara alis matanya. Pria itu jatuh terjengkang ke belakang
Ana merasa lega sejenak. Tapi kini posisinya sudah diketahui oleh teman-teman yang dibawa pria itu.
Ana dan petugas di sampingnya, langsung tiarap dan berlindung dari hujan peluru yang dilancarkan dari luar pagar.
"Apa kau tau senjata apa yang bisa dipakai untuk menghabisi mereka sekaligus?" tanya Ana pada petugas itu.
"Ada, Nona!" jawabnya cepat.
"Kalau begitu, lakukan!" teriak Ana gemas.
Pria itu memainkan jari di laptop. Ana bisa lihat bahwa sasaran kali ini adalah orang-orang yang bersembunyi di balik tembok pagar.
Petugas itu memencet tombol enter. Lalu trotoar yang ada di bawahnya terbuka, dan orang-orang itu lenyap seketika. Trotoar jalan itu kembali rapi seperti semula.
Sekarang sudah tidak ada suara tembakan lagi dari halaman depan gedung. Ana masih menunggu sementara, khawatir ada pasukan susulan di belakangnya.
"Tetap waspada!" teriaknya. Petugas di sebelah Ana menyambungkan kata-katanya. "Tetap waspada!" ujarnya lewat radio.
"Siap!" terdengar jawaban.
Setelah 15 menit menunggu dan mengamati sejitarnya, tidak ada hal lain lagi yang terjadi. Maka gadis itu memerintahkan semua petugas untuk membersihkan halaman depan gedung agar segera bersih dan rapi.
"Apakah mereka hanya tes the water?" pikir Ana heran.
Ana mengambil ponsel dan menghubungi Theo.
"Ada apa?" tanya Teo.
"Kami juga mendapat serangan tadi. Tapi sudah berhasil diatasi. Hanya ada satu gelombang. Apa mungkin mereka hanya mencoba mencari tahu. Apakah tempat kita tidak ada penjagaan atau bagaimana. Aku kira seperti itu." lapor Ana.
"Bagaimana keadaan kalian di sana?" tanyaannya.
"Di sini lumayan sengit." jawab Theo.
"Tapi barusan sepertinya sudah tidak ada suara tembakan balasan lagi dari mereka. Tidak tahu mereka bersembunyi di mana!" Theo juga kebingungan.
"Baiklah, kau harus tetap waspada. Mungkin saja mereka sedang beristirahat atau membuat siasat baru!" Theo memperingatkan.
"Oke!" jawab Ana.
"Lalu, Ammo bagaimana? Apa kalian berhasil menyelamatkannya?" tanya Ana khawatir.
"Kami sudah mengusahakannya!" jawab Theo ketus.
"Biarkan kan aku ke sana dan membantu kalian!" teriak Ana.
"Tidak perlu! Sawyer dan Kapten Smith sudah menyusul ke sana. Kau jaga saja posmu!" perintah Theo. Lalu ponsel dimatikan.
"Galak sekali!" gerutu Ana tidak puas. Dia ingin tahu kabar Ammo, namun terjebak di gedung ini.
"Menyebalkan!" teriaknya kesal.
*
*
__ADS_1
Di tempat Ammo, dia sedang berlari sambil menembak ke arah seberang jalan. Kemudian dibawanya Harriet berlindung di balik tembok taman.
Ammo berbalik, saat merasakan satu benda menghantam punggungnya. Meski baju pelindung membuat peluru itu tak dapat melukainya, namun tak ayal, dia merasakan sakit akibat hunjaman keras tersebut.
Harriet menjerit pelan, melihat Ammo ditembaki. "Menunduk, Bibi!" perintah Ammo.
Ammo melompat ke arah pria yang bersembunyi di tembok taman yang baru saja dilewatinya. Pria itu menembaki Ammo dengan sia-sia. Hingga sebuah tendangan mendarat di dagunya hingga menbuatnya jatuh terlentang.
Ammo masih terus menendangnya tanpa ampun. Beberapa tembakan dari seberang jalan beterbangan, menghalanginya menghabisi pria sial di depannya. Tapi Ammo tak peduli.
Orang itu diangkatnya dan dijatuhkan tepat di sudut tembok taman. Terdengar teriakan kesakitan diiringi suara derak tulang punggung yang patah. Ammo mencekal kedua tangan pria yang sudah seperti karung usang dan tak berdaya itu ke punggungnya.
"Katakan padaku, siapa kalian!" geram Ammo tak sabar. Tapi pria itu membisu. Dia melenguh kesakitan kala Ammo menekan bagian punggungnya yang patah.
"Siapa yang mau kau lindungi lagi? Kau akan jadi cacat seumur hidup! Gangster yang tidak lagi berguna!" ejek Ammo sinis.
"Bos! Aku sudah minta bantuan teman tentaraku di sana, untuk melindungimu!" terdengar suara Kapten Smith di perangkat Ammo.
"Cepat! Aku tak tau bagaimana keadaan Nick sekarang!" balas Ammo.
"Siap!" Sambungan telepon kembali terputus.
"Kau ... hanya akan jadi sampah masyarakat!"
Ammo menendang pria itu lagi. Dia sama sekali sudah tak bisa melawan. Jari-jari begetar hebat dan tak dapat dikuasai.
Sebuah peluru yang terbang, hampir saja menggores pipi Ammo. Tapi berhasil dielakkannya. Ammo menatap tajam seberang jalan. Ada orang bersembunyi dibalik bangku halte bus.
Ammo berlari melintasi jalan raya sambil menembak. Sebelum mencapai halte bus, dia bergulingan di trotoar. Tangannya dengan lincah menembak melalui bagian bawah bangku halte, menyasar kaki dan tubuh orang yang bersembunyi dibaliknya.
Berhasil! Orang yang terus menembaki mereka tadi, kini tak bisa bersenbunyi dengan benar lagi. Ammo melompat dan menjejak bangku kayu itu sambil menembak ke arah bawah.
Dorrr!
Orang yang bersembunyi itu tak sempat lagi mengeluh. Peluru telah menghancurkan tengkorak kepalanya. Ammo berdiri di teotoar dan meludahi orang itu.
Masih terdengar suara beberapa tembakan di belakang. Ammo menoleh khawatir. Dia tak melihat Nick sejak mereka keluar dari mobil. Dia ingin membantu Nick, tapi ada Harriet yang harus dijaganya.
Ammo kembali menyeberangi jalan, menuju tembok taman, tempat Harriet tadi ditinggalkan.
"Bibi," panggilnya.
"Ya!" jawab Harriet. "Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Tidak apa-apa. Sekarang ayo kita seberangi jalan ini dulu. Tinggal satu musuh di situ yang tersisa!" jelas Ammo.
"Baiklah."
Harriet berdiri sambil menggenggam tangan Ammo. Keduanya berjalan pelan sambil berlindung di balik batang pohon.
"Kenapa berhenti?" tanya Harriet.
"Tunggu dulu. Aku mendengar deru mobil!" ujar Ammo.
"Ya Tuhan, mereka berdatangan!" lirih Harriet ketakutan.
"Smith, di mana orangmu!" tanya Ammo tak sabar.
"Sedang meluncur, Bos!" sahut Kapten Smith.
"Ada deru mobil yang mendekat ke sini. Apakah itu mereka?" tanya Ammo memastikan.
"Bos, pergi dari sana!" teriak Ariel panik. "Itu bukan bantuan dari Kapten Smith!"
"Kita harus pergi dari sini, Bi. Ayo!" Ammo akhirnya berlari melintasi jalan raya dibawah tembakan orang di seberang. Kini Ammo dapat melihat sinar lampu mobil yang melaju cepat mengejarnya di jalan yang lengang.
********
__ADS_1