Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
191. Aku Mengingat Sesuatu


__ADS_3

Pagi hari, Khouk menemukan Ana pingsan di kamar. Dengan kekhawatiran besar, dilarikannya gadis itu ke ruangan Profesor Stone.


"Apa yang terjadi?" tanya Prosefor Stone.


"Tidak tahu. Saat kutinggal tadi malam, dia baik-baik saja," sahut Khouk cemas. Entah berapa lama Ana pingsan dan kesakitan sendirian.


"Tolong, selamat dia," pinta Khouk. "Seharusnya aku menolak disuruh kembali ke kamar," sesalnya.


"Kau kan tidak tahu akan seperti ini. Jadi itu bukan salahmu," hibur Profesor Stone.


"Sekarang tolong keluar, agar aku bisa merawatnya," ujar Profesor Stone. Khouk pun keluar.


Bersama seorang perawat, Profesor Stone mencoba menolong Ana dan menyadarkannya.


Selang setengah jam, Profesor Stone mengabarkan kalau Ana harus istirahat dulu untuk beberapa waktu. Khouk tak percaya begitu saja. Dia menerobos masuk ke ruangan dan melihat gadis itu terbaring dengan selang infus di tangan. Matanya masih terpejam.


"Dia belum sadar. Apa yang kalian lakukan? Hanya memasang infus?" Khouk berang.


"Dengan cara begitu kita bisa terus mengalirkan obat secara bertahap untuknya. Dia mungkin sangat kesakitan setelah sesi terakhir kemaren," jelas Profesor Stone.


"Sudah kukatakan hentikan! Kau harus cari metode baru. Sebab, jika dia kenapa-kenapa, maka klan kami tidak akan tinggal diam. Ammo juga tak akan bisa menghalangi hukuman dari klan!" ancam Khouk dengan suara keras.


Profesor Stone hanya diam. Perawat yang bersamanya juga menunduk diam.


"Ingat-ingat benar hal ini. Statusnya bahkan lebih tinggi darimu. Lebih tinggi dari Ammo. Dia Pemimpin Klan Khaan yang terdiri dari jutaan orang yang tersebar di banyak negara. Jadi, hati-hatilah dengan sikapmu!" Khouk menatap tajam Profesor Stone. Wajahnya memerah menahan murka.


Profesor dan perawat itu tak menanggapi kemarahan Khouk. Tapi mendengar status Ana yang bahkan lebih tinggi dari Ammo, sedikit menciutkan nyali mereka. Setelah Khouk keluar ruangan, keduanya saling pandang.


"Aku akan menanyakan pada Ammo, apa yang harus dilakukan padanya," putus Profesor Stone. Dia jadi tidak berani mengambil tindakan yang terlalu beresiko, setelah ancaman Khouk.


"Ya, bagaimana dengan Ana?" tanya Ammo begitu panggilan terhubung.


"Kemarin dia menjalani tiga sesi terapi disela dengan istirahat. tapi malama tadi, setelah kembali ke kamarnya untuk istirahat, ternyata dia ditemukan pingsan oleh Khouk pagi saat mengantar sarapan," jelas Profesor Stone.


"Lalu, bagaimana dia sekarang? Sudah sadar belum?" tanya Ammo lagi.


"Belum. Aku sedang merawatnya di ruang perawatan. tapi Khouk mengancamku. jika terjadi sesuatu padanya, maka klannya akan membalasku," adu Profesor Stone.


Pria itu dapat mendengar ******* napas berat Ammo. "Berhati-hatilah. Ana sebenarnya adalah seorang Ketua Klan. Dia layak untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Kurasaa kau paham maksudku," ujar Ammo.


"Baik. Aku mengerti," sahut Profesor Stone sambil melirik Ana.

__ADS_1


"Dan satu lagi, jangan membalas semarah apapun Khouk. Dia bukanlah orang jahat. Dia hanya sangat kuatir. Karena jika terjadi sesuatu pada Ana, maka lehernya putus! Aku dan kau juga akan mengalami nasib yang sama!" Ammo memperingatkan.


Profesor Stone melirik Ana lagi dengan bulu tengkuk meremang. "Mengerikan!" batinnya.


"Baik, aku akan mengingatnya. Akan kucari cara lain yang mungkin tidak akan menyakitinya!" balas Profesor Stone.


"Bagus!" Ammo memutuskan panggilan telepon mereka.


Profesor Stone diam beberapa saat untuk berpikir. Kemudian dipanggilnya perawat dan memberi beberapa instruksi agar merawat Ana dengan lebih baik.


"Anda mau ke mana?" tanya perawat itu takut.


"Aku akan mengevaluasi cara ini dan mencari cara lain yang lebih efektif. Kuharap bisa segera menemukan cara yang tidak akan terlalu menyakitinya seperti ini." Profesor Stone keluar dari ruangan rawat.


"Kau sudah bisa menungguinya di dalam, jika mau. Tapi jangan ganggu istirahatnya. Setelah obat bius hilang, dia akan segera sadar lagi," ujar Profesor Stone pada Khouk.


Tanpa mengatakan apapun, Khouk masuk ke ruang rawat dan memeriksa keadaan Ana. kemudian dia duduk dengan tenang, tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari gadis yang tertidur itu.


Perawat yang ada di ruangan sebelah, melihat heran. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak mengalihkan pandangan dari objek yang sedang diamatinya. Menurutnya, itu sangat hebat.


Dua jam kemudian, Ana terbangun dari tidurnya. Keningnya mengerut sedikit. Kemudian melihat sekitar yang diyakininya itu bukan kamarnya, tapi ruang perawatan Profesor Stone. Dia pernah dirawat di tempat itu beberapa bulan yang lalu.


"Apa yang anda rasakan sekarang?" tanya Khouk, membuyarkan pikiran Ana.


"Pagi tadi saya membawakan sarapan ke kamar anda. tapi anda pingsan di tempat tidur. Saya membawa anda ke sini. Dan itu sudah sekitar tiga jam yang lalu," jawab Khouk apa adanya.


"Tiga jam yang lalu? Apa aku pingsan?" tanya Ana lagi.


"Seperti itulah yang saya tahu. Anda bahkan tidak tahu saat saya pindahkan ke sini, bukan?" ujar Khouk.


"Khouk, tak biskah kau hanya menjawab saja? Kenapa selalu bertanya balik?" keluh Ana cemberut.


Tapi Khouk justru tersenyum mendengarnya. "Syukurlah ... anda masih mengingat kebiasaan saya."


"Apa kau pikir aku mengalami demensia?" Bibir Ana mengerucut.


"Tolong panggilkan Profesor Stone. Aku mau bicara padanya," perintah Ana.


"Tapi anda masih belum cukup sehat. Bagaimana kalau nanti pingsan lagi? Bukankah itu tak akan berakibat baik untuk kesehatan otak?" tanya Khouk lagi.


"Lakukan dulu tugasmu, baru kau ajukan pertanyaan lagi." Ana tersenyum sabar menanggapi cara bicara Khouk.

__ADS_1


"Baiklah ...." Pria itu keluar dengan berat hati. Tetapi tak lama dia telah kembali lagi.


"Kau tidak melakukan tugasmu?" tanya Ana heran.


"Pesannya kusampaikan pada perawat. bukankah memang tugasnya memanggil profesor Stone. Jadi saya bisa kembali berjaga di sini. Jangan suruh saya pergi lagi. Keadaan anda jauh lebih parah dari saya!" ujar Khouk bandel.


Ana memejamkan matanya sambil mengangguk. Dia tak ingin berdebat dengan pria itu.


"Apa anda ingin minum atau makan sesuatu? Anda melewatkan jam sarapan," tawar Khouk.


Ana mengangguk. Ya, perutku sangat lapar. terima kasih, Khouk," ujar Ana masih sambil berbaring.


"Senang melayani anda, Pemimpin." Khouk keluar dari ruangan dan pergi ke kafetaria, untuk meminta dibuatkan makanan.


*


*


"Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Bukankah kau bahkan bisa berjalan setelah sesi terakhir? Apakah obat yang kuberi tidak dapat meredakan rasa sakit kepalamu?" tanya Profesor Stone beruntun.


"Tidak seperti itu. Obatmu manjur. Aku langsung tertidur setelah minum obat. Kemudian aku terbangun di tengah malam. Khouk tertidur di kursi saat menjagaku tidur."


"Kukira semua akan baik-baik saja, jadi kuminta dia kembali ke kamar dan aku mulai membuka laptop untuk kembali bekerja."


"Kenapa kau melakukan hal itu? Bukankah aku memintamu untuk beristirahat malam tadi?" sesal Profesor Stone.


"Aku teringat Ammo yang sedang berjuang sendiri. Keadaannya pasti sedang sulit dan terjepit sekarang, Aku hanya ingin membantunya memeriksa beberapa file yang ada padaku."


"Tapi tidak dengan mengorbankan kesehatan anda sendiri!" bantah Profesor Stone.


Ana menggeleng. "Bukan pekerjaan itu yang membuatku pingsan," tegas Ana.


"Lalu?" desak Profesor Stone.


"Aku baru mengganti file cctv yang kuperiksa, ketika tiba-tiba aku teringat orang itu. Kupaksakan untuk mengingatnya dalam keadaan sadar. Dan aku berhasil mengingat sesuatu!" ujar Ana dengan wajah berseri-seri.


"Benarkah?" Profesor Stone tak percaya.


Tapi anggukan kuat kepala gadis itu meyakinkannya bahwa Ana pasti telah menemukan sesuatu yang berarti dalam ingatannya. Itu menjelaskan kenapa dia sampai pingsan cukup lama.


"Aku senang mendengarnya. Kita akan bahas itu nanti, setelah kesehatanmu pulih. Kau harus makan agar punya cukup tenaga," saran Profesor Stone.

__ADS_1


"Khouk sedang mengambilkan makananku," jawab Ana. sekarang dia sudah lebih rileks dan siap untuk memulihkan kondisinya, sebelum memeriksa lagi file itu dan memastikan kebenarannya.


*********


__ADS_2