
Ana dan Ariel duduk di ruang tengah, tampaknya perselisihan siang tadi telah sirna. Ammo turun dengan pakaian rapi.
"Maafkan aku tak bisa menemani kalian makan malam. Aku ada pertemuan keluarga," ujar Ammo sambil berlalu. Dia terlihat segar petang itu.
Di pintu depan, Ted dan Nick sudah menunggu. Sebuah mobil hitam dengan list biru telah siap untuk mengantarnya pergi.
Ammo masuk dan duduk. Kemudian Theo menyodorkan sebuah bingkisan.
"Ini buah tangan untuk Nyonya Harriet," ujar Theo sopan.
"Ahh, Aku beruntung memilikimu, Theo. Terima kasih." Bingkisan itu lalu diletakkan dengan hati-hati di kursi sebelah Ammo.
Theo kemudian mundur dan menutup pintu mobil. Nick masuk dan duduk di sebelah Ted. Mereka langsung meluncur membelah jalanan yang ramai.
Kediaman Herriet tidak terlalu jauh dari pusat kota. Dia tinggal di kompleks perumahan mewah di sisi lain kota. Kondisi Ammo telah pulih seperti sediakala. Dia tertidur sebentar saat berendam. Gelembung air yang disemprotkan dalam bak mandi berhasil merilekskan tubuhnya yang lelah.
Dalam perjalanan, Ammo membuka ponsel dan membaca setiap laporan masuk. Donny melaporkan bahwa Maya tidak memiliki implan pendeteksi di tubuhnya. Tapi kondisinya sedikit tidak baik.
Ammo mengijinkan untuk merawat Maya sehari lagi. Setelah itu dia harus dibawa ke tempat lain. Lebih lama Maya di situ, akan berbahaya bagi dokter tersebut. "Mau dipindahkan ke mana Maya?" pikirnya.
Rencana Ammo membuat basecamp baru di Afrika, tertunda sejak Leo ikut terseret urusan Rosie. Padahal sedianya tempat itu akan jadi tempat paling rahasia. Tapi itu sudah tak mungkin lagi. Rosie dan Leo telah mengetahui rencananya. Ammo harus memikirkan cara lainnya.
Laporan lain dibuka. Carl dan Aaron telah sampai di tempat yang ditunjuk Ammo.
Ammo membalas pesan dan membuat instruksi berikutnya untuk kedua orang itu.
Laporan dari Kapten Smith. Rosie mogok makan sejak dipindahkan. Ammo menggeleng. Dia akan membereskan ini, nanti.
Sekarang rumah Bibi Harriet sudah di depan mata. Ammo menyimpan ponsel dan memegang buah tangan yg disiapkan Theo.
"Sudah sampai, Tuan!" ujar Nick. Dia langsung keluar, begitu mobil berhenti. Kemudian membukakan pintu untuk Ammo.
Seorang pelayan kediaman, membungkukkan tubuh sedikit. Memberi hormat saat Ammo melewatinya.
"Ammo...."
Seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik, menyapanya di pintu masuk. Tangan yang ditutupi sarung tangan itu, terulur menyambut Ammo.
Ammo segera meraih tangan itu dan menciumnya. "Apa kabar, Bibi," sapa Ammo sopan.
__ADS_1
"Hari-hariku buruk. Aku kesepian. Tapi begitu Theo mengatakan kau akan datang berkunjung, hatiku berbunga. Aku langsung bersiap untuk menyambut Ammoku yang tampan."
Ammo tersenyum sopan. Dia terbiasa dan sangat hafal kalau Bibi Harriet selalu menyanjung orang yang ditemuinya. Yang ditunjukkan bibinya sama sekali tidak untuk menjilat, karena dia tak punya tujuan lain dibalik itu. Dia hanya suka membuat orang lain bahagia.
"Ini untuk bibiku yang cantik." Ammo memberikan buah tangan yang sudah disiapkan Theo.
Wajah Harriet tersenyum senang melihat hadiah yang dibawa Ammo. Dia menerimanya dengan baik.
"Theo-mu itu terlalu kuno," ujarnya mengomentari hadiah yang dibawa.
"Kau tak perlu bersusah-payah membawa hadiah jika ke sini. Kehadiranmu saja sudah merupakan hadiah untuk wanita tua ini," ujarnya merendah.
"Jika seperti itu, maka aku akan jadi keponakan yang tidak tau sopan santun, Bibi. Bisa-bisa aku tidak jadi keponakan yang terfavorit lagi dari yang lainnya," bantah Ammo sembari tertawa kecil.
Harriet tertawa kecil mendengarnya. "Kau memang bermulut manis. Ayo masuk, aku sudah meminta kepala koki untuk membuatkan makanan kesukaanmu!"
Harriet membimbing tangan Ammo untuk menasuki rumah mewahnya. Sikapnya seperti orang tua yang membimbing tangan anak kecil saat berjalan. Ammo hanya tersenyum dan mengikuti bibinya. Dia tak keberatan sama sekali diperlakukan seperti itu.
"Apa hidangan sudah siap?" tanyanya pada pelayan.
"Sudah, Nyonya," jawab kepala pelayannya.
"Tentu, Bibi. Aku sengaja tidak makan seharian, agar bisa menghabiskan hidangan lezatmu," balas Ammo.
Harriet tertawa senang mendengarnya. "Kau pandai menyenangkan hatiku," pujinya.
Suasana meja makan benar-benar hangat. Ammo banyak bertanya tentang keseharian Harriet. Juga menaruh perhatian pada keluhan punggungnya. Dia mendengarkan semua keluh kesahnya.
"Aku menyesal karena terlalu sibuk dan kurang perhatian, Bibi," ujar Ammo sedih.
"Tidak apa-apa. Sekarang kau sudah datang. Rinduku sudah terobati. Tapi, tak bisa kubayangkan bagaimana irinya paman dan bibimu yang lain mendengar ini." Harriet terkekeh senang.
Ammo ikut tersenyum lebar. "Bagaimana kabar Carl sekarang?" tanya Ammo sambil lalu.
Dia terlihat asik menyuap mouse puding ke mulutnya. Mata Ammo terpejam menikmatinya. Sesuap mause puding rasa buah pir itu, mengembalikan kenangan masa kecilnya yang manis.
"Bagaimana rasanya bisa tetap sama setelah puluhan tahun berlalu?" gumamnya sambil melihat takjub mangkuk puding yang tinggal sepertiga.
Harriet bisa melihat ekspresi jujur Ammo saat menikmati puding kesukaannya. "Kepala koki harus membongkar resep asli miliknya, agar bisa mendapat pujianku. Dan dia berhasil!" Harriet tertawa senang.
__ADS_1
"Kurasa, Theo harus membujuk kepala kokimu agar bisa membuatkan puding yang sama untukku," canda Ammo.
"Tidak! Kau harus kemari, jika ingin menikmatinya!" Harriet mengangkat garpunya tanda memarahi Ammo. Dibalas Ammo dengan senyuman tak berdaya.
Pembicaraan keduanya disambung ke ruang keluarga. Di ruangan itu ada banyak koleksi kristal Harriet, disusun pada rak kaca tinggi yang menempel dinding.
Ammo memandang takjub pada lampu kristal di tengah ruangan. Sinar lampunya memendar pada keping-keping kristal, membiaskan warna pelangi indah di ruangan itu. Dan cahaya itu diterima lalu dipantulkan semua koleksi kristal di rak.
"Menakjubkan!" komentar Ammo jujur. "Pasti koleksi Bibi, berasal dari berbagai negara," pujinya.
Harriet bangga dengan koleksi kristalnya. "Aku punya mata dan telinga untuk mengetahui tempat mana saja yang melelang kristal, bagus!" jawabnya bangga.
"Aku menyesal, dulu pernah memecahkannya satu," kata Ammo.
"Hah ... yah. Walaupun ibumu membayar ganti rugi harganya, tapi kristal yang seperti itu tak ada lagi. Mangkuk yang kau pecahkan itu adalah kristal merah muda dan hanya dibuat satu, di dunia."
Ammo tersenyum, tak menyangka bibinya masih mengingat jelas insiden saat dia berusia sebelas tahun. Meskipun Carl punya andil dalam insiden itu, tapi ibu Ammo tak ingin memperpanjang urusan. Dia memberi cek berjumlah besar agar Harriet bisa membeli kristal lain yang diidamkannya.
"Bibi, tentang Carl ... apakah dia masih sering menjengukmu?" tanya Ammo serius.
"Hah ... anak bandel itu. Jika aku tidak memohon-mohon, dia takkan mau datang. Jikapun datang, hanya sekedar makan malam. Kemudian pergi lagi. Dia selalu sibuk, sama sepertimu!" terang Harriet.
"Oh, dia masih menemani bibi makan malam. Bukankah itu bagus?" komentar Ammo.
"Bagus bagaimana. Dia pikir rumah ini restaurant? Setiap kali datang justru membuat emosi!" keluh Harriet.
Ammo manggut-manggut. "Kapan dia terakhir datang?" tanya Ammo lagi.
"Harusnya dia lebih sering ke sini. Dia juga tak pernah menemuiku lagi," tambah Ammo.
"Emmm ... terakhir datang itu ... sekitar enam bulan yang lalu kalau tak salah." Harriet mengerutkan kening, mengingat-ingat.
"Jangan mengerutkan keningmu untuknya, Bibi. Dia tidak layak!" kata Ammo.
Harriet menoleh heran ke arah Ammo. Dia merasa kedatangan Ammo kali ini adalah karena Carl.
"Apakah ... apakah Carl membuat ulah lagi?" tanyanya khawatir.
Tampak jelas kekhawatiran seorang ibu di mata Harriet. Ammo mendesah panjang. Rasanya berat sekali untuk membeberkan kebenaran pada bibi kesayangannya ini.
__ADS_1
*********