Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
60. Merebut Oscar dan Nathalie


__ADS_3

"Jangan lupa bawa motor itu kembali!" perintah Ammo pada penjemputnya.


"Siap!"


Pria itu langsung menyampaikan perintah Ammo pada bawahannya.


"Kita ke mana?" tanya pilot.


"Kantor!" jawab Ammo singkat.


Helikopter itu melayang menuju pusat kota. Ammo meraih ponselnya yang bergetar. Ada pesan masuk.


...DIMITRI TEWAS...


Ammo terkejut membacanya. Berarti jebakan tadi bukan ulah Dimitri. Lalu siapa?


"Apakah hanya orang yang ingin membunuhnya karena bisnis. Atau orang yang tak ingin rahasia masa lalu Ana terbongkar?" pikirnya. "Atau beberapa pihak bekerja sama?"


Satu harian itu Ammo hanya berada di kantor barunya. Tapi dia bukannya tak melakukan apapun. Namun rasanya semua usahanya menemui jalan buntu. Akhirnya dia pulang lebih cepat setelah membuat beberapa pengaturan baru pada Leo.


Sesampainya di rumah, ponsel di sakunya bergetar. Dibacanya pesan.


...KAMI MENEMUKAN MEREKA...


Ammo terkejut membaca info itu. Dengan segera dibuatnya instruksi untuk menyelamatkan dua orang dimaksud.


"Setelah berada di kegelapan, kuharap ini adalah satu petunjuk dari ratusan petunjuk lain yang belum terkumpul," harapnya.


"Bawakan kopi ke ruang kerja," perintah Ammo pada Theo.


"Baik, Tuan." Theo membungkukkan badannya sedikit, lalu pergi ke dapur.


Ammo memeriksa beberapa laporan bawahannya yang lain. Setelah itu, dia membawa kopinya ke ruang kerja rahasia. Suit khusus untuk Ana juga harus segera diselesaikan. Mereka akan sangat membutuhkannya nanti.


Pukul sepuluh malam, terdengar suara khawatir Theo dari interkom.


"Anda belum makan malam, Tuan," ujarnya mengingatkan.


"Ya, nanti aku ke sana," balasnya tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang rumit itu.


Setengah jam berikutnya, pesan lain masuk ke ponselnya.


...ON THE SPOT...


Ammo keluar dari ruang kerja rahasianya. Dia duduk di depan meja. Layar laptop itu dinyalakan. Ammo mencari titik koordinat yang dikatakan bawahannya.


Dengan bantuan satelit, Ammo dapat melihat lokasi dimana bawahannya sedang berkumpul. Di layar dilihatnya sebuah gambaran bangunan. Lalu dinyalakannya kamera sensor panas.


Pemandangan satelit yang berada di atas, memberinya banyak keuntungan. Ammo dapat melihat beberapa titik merah yang bukan bagian dari bawahannya. Dengan cepat diraihnya perangkat suara dan terhubung dengan ketua tim lapangan itu.


"Ada lima belas orang yang menjaga tempat itu." Ammo langsung menghubungkan gambaran satelit yang dimilikinya pada layar di pelindung kepala masing-masing bawahannya.


"Mengerti!" Terdengar suara dari lokasi.


"Dapatkan mereka!" ujar Ammo.

__ADS_1


"Siap!"


Ammo dapat melihat tim lapangannya bergerak menyebar ke segala sisi, mendekati orang-orang yang berjaga di lingkar luar bangunan yang diincar.


Tok tok tok!


"Tuan!" Terdengar suara Theo dari luar ruang kerja.


Ammo mengangkat kepala. "Ada apa!" sahut Ammo ketus. Dia merasa terganggu.


"Makan malam Anda, Tuan," sahut Theo sabar dari balik pintu.


"Bawa saja ke sini!" ujar Ammo tak sabar. Dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya sekarang.


"Baik, Tuan!"


Pintu ruang kerja langsung terbuka. Theo masuk dengan ekspresi senang, sambil mendorong meja service. Di atasnya terdapat berbagai jenis makanan untuk Ammo nikmati. Tapi dilihatnya, Ammo bahkan tak menoleh ke arahnya. Tuannya itu sedang serius mengamati layar laptop dan sesekali bicara pada perangkat yang melingkari kepalanya.


Theo sedikit kecewa, tapi dia tetap menunggu instruksi Ammo berikutnya, dengan sabar. Dan benar saja. Setelah selesai bicara, Ammo menoleh pada Theo.


"Ambilkan untukku," perintahnya.


"Ya." Theo menambahkan beberapa macam hidangan pada piring Ammo. Lalu menyajikannya di meja kerja.


Ammo menyendok makanan seperti robot yang otomatis bekerja. Matanya tak lepas dari layar komputer. Sementara Theo tetap setia menunggu tuannya makan. Sedikit demi sedikit, ditambahkannya beberapa hidangan lagi ke piring Ammo.


Aksi lapangan itu baru berakhir pada pukul satu malam.


"Target, aman!" ujar suara di seberang.


"Siap!"


Hubungan pun terputus. Di layar hanya terlihat titik-titik biru anggotanya yang pergi menjauh dari lokasi. Ammo juga memutuskan semua hubungan satelit.


Selesai semua itu, dia berdiri dan keluar dari sana. Kediaman itu sudah sangat sepi. Malam memang sudah sangat larut. Sudah saatnya mengistirahatkan tubuhnya juga.


*


*


Pagi hari ini ada berita yang sedikit menggembirakan. Laporan Stone, mengindikasikan adanya hal positif dari Ana. Dia tak lagi mendengar suara musik pada dua sesi terapi terakhirnya.


"Upaya yang bagus, Ana," gumam Ammo. Berita itu menambah semangatnya pagi ini.


"Sawyer, kita berangkat!"


"Siap, Tuan!"


Ammo turun dari lantai atas tidak dengan pakaian kerja. Theo menunggu di bawah.


"Aku akan pergi beberapa hari. Kau tau yang harus dilakukan," ujar Ammo.


"Ya, Tuan." Theo menunduk sedikit, lalu mengikuti langkah tuannya dari belakang.


Dipandangnya helikopter itu hingga hilang dari pandangan. Theo selalu merasa cemas setiap kali tuannya memberi pesan 'Kau tau harus melakukan apa'.

__ADS_1


"Semoga Tuhan menjagamu, Tuan," doanya dalam hati.


*


*******


Di satu tempat terpencil.


Seorang pria tampan dan wanita cantik duduk dengan bosan di satu ruangan tertutup.


"Sebenarnya siapa yang membawa kita kemarin?" terdengar suara pria bicara.


"Kukira, kita sudah diselamatkan polisi. Ternyata sama saja!" dengus seorang wanita.


"Tenang. Menurutku, yang membawa kita sekarang, tidaklah sejahat yang sebelumnya. Sejauh ini, mereka tidak menggoda dan mengganggumu." Pria itu mengutarakan penilaiannya.


"Tapi kita tetap saja dikurung! Untuk apa mereka menyelamatkan kita kalau hanya untuk dikurung juga?" bantah si wanita.


"Dengar, sayang. Bisa jadi mereka menunggu bos tertinggi datang. Menjaga kita tak terlihat, mungkin untuk menjauhkan musuh yang mengintai," paparnya.


"Apa mungkin salah satu saingan bisnismu yang melakukan hal ini?" tuduh wanita itu kasar.


"Tidak mungkin. Urusan bisnisku lumayan bagus belakangan ini. Aku tidak menimbulkan bibit permusuhan pada siapapun!" bantahnya lagi.


"Justru karena bisnismu terlalu bagus. Orang yang kalah bersaing jadi membencimu. Tak butuh alasan spesifik untuk membenci seseorang. Sikapmu yang begini saja, bisa bikin orang benci!" sergahnya.


"Sudah ... tenangkan dirimu. Marah-marah hanya akan membuatmu lelah," bujuk pria itu lembut.


Gadis itu mengabaikan kata-kata si pria. Dia tampak sedang berpikir keras.


"Atau ...." Gadis itu bicara lirih.


"Oscar. Tidakkah kau merasakan kejanggalan? Sejak aku ikut bersamamu, aku tak henti diare tanpa tau sebabnya. Kura—"


"Nathalie, stop!" Oscar melihat ke arahnya dengan wajah panik.


"Ada apa?" tanya Nathalie dengan berbisik.


"Aku sudah lebih dulu memikirkan hal itu. Tapi aku langsung menghentikan pemikiran itu. Kau tau kenapa?" tanya Oscar.


"Kenapa?" bisik Nathalie.


"Karena, setiap kali kupikirkan hal itu, kepalaku jadi sakit banget. Seperti sedang ditusuk-tusuk dengan pisau!" ujarnya dengan wajah pucat dan peluh membanjir di dahinya.


Mata Nathalie membelalak lebar.


"Kenapa kau tak mengatakannya padaku? Apakah itu sangat sakit?" suara Nathalie jadi melembut.


"Bagaimana aku bisa menambahi bebanmu? Di tempat sebelumnya, kau saja sudah kesulitan mengusir para serigala itu mengganggumu," keluh Oscar.


"Apakah kepalamu sekarang masih sakit?" Jari lentik dan lembut Nathalie mengusap-usap kepala Oscar penuh kasih sayang.


"Aku merasa baik-baik saja sekarang." Oscar tersenyum dan menggenggam kedua tangan gadis itu, menatapnya dengan pandangan cinta.


Pandangan mesra penuh cinta itu terganggu suara-suara di depan pintu. Keduanya saling berpandangan. Kemudian, saling tersenyum misterius.

__ADS_1


********


__ADS_2