Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
83. Sanders


__ADS_3

Ana keluar dari ruangan Nathalie dengan wajah kesal. Sekarang dia tau bagaimana kesal teman-temannya berhadapan dengan gadis keras kepala seperti dirinya.


Tapi satu hal yang disyukurinya, Nathalie tak lagi menolaknya. Meski harus saling beradu argumentasi, Ana berhasil meyakinkan Nathalie bahwa mereka adalah saudara kembar.


Namun yang tak diduga Ana adalah, Nathalie ternyata diadopsi oleh keluarga Hamilton, dari sebuah panti asuhan. Sekarang, keduanya kembali kehilangan jejak dalam mencari ayah mereka.


Blake terlihat berdiri di depan satu ruangan. Ana berjalan menuju ke sana. Dia ingat bahwa itu ruangan Sanders. "Di mana Ammo?" tanyanya.


"Di dalam," jawab Blake.


Ana berbalik, dan menuju ke pintu kamar itu.


"Tunggu dulu!" larang Blake.


Ana menoleh ke arahnya. Matanya bertanya "Ada apa?"


Tapi belum lagi Blake bicara, pintu itu dibuka dari dalam. Dokter Armstrong keluar, dan tersenyum pada Ana dan Blake. "Biarkan mereka tidur sejenak," pesannya sebelum berlalu.


"Baik, Dok!" jawab Blake.


Ana menjangkau handle pintu. Yapi Blake dan penjaga yang satu lagi, sigap mencegahnya. "Mereka sedang tidur!" ujar Blake lagi.


"Aku hanya ingin lihat!" ujar Ana ngotot.


"Apa yang mau dihat dari dua pria yang sedang tidur?" Blake merasa heran.


"Memangnya kenapa? Dulu kami biasa tidur berlima!" jelas Ana.


Blake menghela napas berat. Gadis di depannya sudah mulai memancing emosi. Tapi bos ada di dalam. Tak mudah juga bagi Sanders bisa tertidur pulas tanpa gangguan.


"Jika kau teman mereka, tolong berhenti mengganggu. Pasien Sanders sudah sangat lama tak bisa tidur nyenyak. Hari ini Bos menemaninya hingga mereka lelah dan tertidur...."


"Baiklah ... baiklah. Tak usah katakan lagi. Aku akan kembali ke kamarku saja." Ana akhirnya menyerah. Dia bisa menjenguk Sanders nanti sore.


Blake dan penjaga di situ, merasa lega melihat Ana menjauh.


"Apa dia selalu bersikap keras kepala seperti itu?" tanya penjaga heran.


"Hah ... jangan tanyakan lagi."


Blake menggelengkan kepalanya, sambil melihat ke arah kamar Nathalie. Dua orang yang punya karakter sama. Sama-sama menyulitkan.


*


*


Sekitar satu jam berlalu.


Ammo terbangun ketika merasakan pukulan di punggungnya. Dia menolehkan kepala ke belakang dan jadi sedikit terkejut.

__ADS_1


Sanders duduk menghadap tubuhnya. Ammo bisa merasakan ada beberapa benda diletakkan dan disusun dipunggungnya. Tubuhnya menggeliat, untuk melihat apa yang ada di situ.


"Diam. Kau sekarang jadi meja. Jangan bergerak!" sentak Sanders.


Ammo menarik sudut bibirnya. Seringai jahat tergambar di sana. Ammo sedang mengambil ancang-ancang. Dalam satu gerakan, dia berbalik dan menelungkupkan Sanders ke tempat tidur.


"Auu!" pekik Sanders.


"Kau yang menjadi meja sekarang," ujar Ammo. Diambilnya semua bahan permainan dan disusun di punggung Sanders.


"Tidak! Aku belum selesai. Kau curang!" teriak Sanders keras.


Lagi-lagi, dua penjaga di luar, kaget mendengar teriakan Sanders. Blake membuka pintu untuk melihat. Dua pria sedang bergulat dan berusaha saling menjatuhkan, di atas tempat tidur. Tempat tidur itu bergoyang hebat.


"Oh, tidak! Tempat tidur itu bisa rubuh!" gumam Blake.


"Bos!" panggilnya.


Ammo yang sedang bertahan dari cengkeraman Sanders, lengah sejenak karena panggilan itu. Dan itu membuat Sanders berhasil membalikkan posisi Ammo menjadi meja permainan. Namun....


Braakkkkk!


Tempat tidur itu benar-benar terlepas dari bautnya. Dua orang di sana jatuh saling menindih.


"Bos!"


Blake dan penjaga mengejar ke arah tempat tidur.


Tapi tak lama kemudian, terdengar tawa membahana. "Hahahaha...."


Itu tawa Sanders. Dia terpingkal-pingkal melihat Ammo berhasil didudukinya. Matanya sampai berair karena bahagia.


"Ayo, kubantu berdiri." Blake mengulurkan tangan pada Sanders. "Hati-hati dengan sesuatu yang mungkin pecah," ujarnya.


Sanders masih tertawa melihat Ammo yang cemberut di sana. "Kau kalah, Sailor!" ujarnya gembira.


"Anda tak apa-apa, Bos?" tanya petugas penjaga. Diulurkannya tangan untuk membantu Ammo berdiri.


Ammo segera berdiri. Memberi instruksi pada petugas itu untuk mengganti tempat tidur Sanders. Petugas itu langsung pergi ke luar, melaksanakan perintah.


Ammo masih menunjukkan ekspresi jahil saat mengganggu Sanders.


"Apa kau senang sekarang? Tempat tidurmu hancur. Jadi mari kita kemping dan mencari harta karun, malam ini. Bagaimana?" tawar Ammo.


"Aku yang jadi bajak lautnya!" ujar Sanders segera.


"Baiklah ... sekarang kau bisa makan siang bersama Blake dulu. Aku mau menyiapkan harta karunnya. Kau jangan mengintip!" seru Ammo dari depan pintu.


"Aku tidak akan mengintip," balas Sanders. "Ayo Blake, kita mengambil makanan!" Tangan Blake ditarik Sanders pergi.

__ADS_1


Ammo kembali ke kamarnya. Hatinya seringan kapas. Dia mulai bisa menerima keadaan Sanders. "Andaipun tak bisa mengembalikan Sanders jadi manusia normal lagi, setidaknya, dia harus hidup bahagia," batin Ammo.


"Aku akan membalas orang-orang yang menyakitimu, Sanders!" geramnya marah.


"Kau baru kembali?"


Ammo memutar tubuh,mencari asal suara. Dia menemukannya! Ana berjalan dari arah taman menuju kamar.


"Kau sudah makan?" tanya Ammo.


Ana mengangguk dan berjalan santai ke arahnya. "Aku baru kembali dari ruang makan. Kulihat Sanders bersama Blake. Jadi kupikir kau pasti sudah kembali."


"Ya. Kebetulan bertemu denganmu di sini. Ada yang ingin kubicarakan," ujar Ammo serius.


"Apa?"


Ammo membuka pintu ruang kerjanya. Keduanya masuk. Ammo duduk di mejanya, langsung menelepon. "Bawakan makan siang ke ruang kerjaku!" ujarnya. Lalu sambungan telepon diputus.


Ana duduk di sofa dan mengamati ruang kerja yang sederhana itu. Ternyata Ammo tak merasa semua harus serba wah. Dia luwes dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ana.


"Bagaimana hasil pertemuanmu dengan Nathalie?" tanya Ammo langsung.


"Dia tak punya pilihan selain menerima kenyataan. Dan aku sudah katakan semua yang kuketahui. Dia akhirnya tahu apa yang terjadi pada ibu. Tapi, dia tak ingat bagaimana dia bisa terpisah dari ayah." Ana terlihat sedih.


"Yang dia ingat hanya kehidupan di panti asuhan, sebelum diadopsi oleh keluarga Hamilton." Ana membeberkan semua informasi yang didapatnya dari Nathalie.


"Baiklah. Setidaknya, kita tau bahwa ingatan Nathalie tak dipengaruhi lebih lanjut oleh orang-orang itu." ujar Ammo tenang.


"Dan ... tentang ayahmu. Kita akan mencari tau keberadaannya pelan-pelan. Suatu hari nanti, kita pasti akan mendapatkan petunjuk," ujar Ammo optimis.


Ana mengangguk. "Terima kasih karena selalu mendukungku," ucap Ana serius.


"Hemm...." Ammo hanya manggut-manggut.


Kemudian terdengar ketukan di pintu. Seorang pelayan masuk setelah mendapatkan ijin. Dia mendorong meja saji ke arah Ammo. Tapi sedikit terkejut karena ternyata ada dua orang di ruangan itu.


"Maaf, sebentar saya bawakan hidangan lain, untuk Anda," ujarnya.


"Tidak perlu. Aku sudah makan lebih dulu di ruang makan," tolak Ana. Baiklah. Permisi...." Pelayan itu pergi keluar ruangan.


"Kau yakin tak ingin mencoba hidangan lain?" Ammo menunjuk meja saji yang penuh. "Ada pencuci mulut, ada—"


"Tidak!" potong Ana cepat.


Ammo mengangkat bahunya dan mulai makan. Dia membiarkan Ana menonton televisi yang ada di ruangan.


*******

__ADS_1


__ADS_2