Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
151.Makan Malam Romantis?


__ADS_3

Ana hanya duduk di kamarnya seharian. Khouk setia menyiapkan semua keperluannya, hingga mengetes makan siang yang diantarkan Theo.


Hal itu membuat mata Theo melotot tak senang. "Hei! Bukan baru kali ini Nona Ana menginap dan makan di sini!" kesal Theo.


Namun Khouk tak peduli. Sudah tugasnya memeriksa semua makanan dan minuman Pemimpin Klan, selain menjaga keamanan.


Theo dipersilakan membawa menghidangkan makanan itu, setelah dalam lima menit, Khouk tak terpengaruh.


Theo kesulitan membemdung emosinya yang melompat naik ke ubun-ubun. Wajahnya merah padam.


"Apa kau sedang demam?" tanya Ana heran.


"Tidak. Saya baik-baik saja, sampai berjumpa dengannya!" Theo menoleh pada Khouk.


"Apa dia mengganggumu?" selidik Ana.


"Pengawal anda ini over protektif. Makanan yang saya bawa, dicicipinya!" adu Theo tak menyembunyikan rasa tak.senangnya.


Ana mengangguk mengerti. Tapi dia juga tak bisa melarang Khouk yang bersikap kaku. Dia akan terus melakukan tugas yang digariskan oleh Klan.


Setelah selesai menyajikan seluruh hidangan di meja yang ada di kamar itu, Theo berlalu. Matanya melirik tajam saat trolley lewat di depan pintu yang dijaga Khouk. "Bagaimana Nona Ana bisa bertemu orang aneh sepertimu!" ejek Theo sambil berlalu.


Khouk bergeming. Pintu kamar kembali ditutupnya.


"Ayo, kau ikut makan juga!" ajak Ana.


"Tidak, terima kasih," tolaknya.


"Kau menolak perintahku?" tanya Ana tajam.


"Tidak. Tapi itu jatah makan anda, Pemimpin," elak Khouk.


"Theo mungkin masih akan kesal selama beberapa waktu. Kau bisa kelaparan di sini!" ujar Ana.


"Saya biasa memasak sendiri makanan saya." Tampaknya Khouk memang tak bersedia makan bersama Ana.


"Ya sudah." Ana menikmati makan siangnya dengan santai.


Khouk duduk dekat jendela dan mengamati suasana di luar rumah. Dia bahkan membuka pintu balkon dan menggunakan teropong untuk memeriksa.


"Apa kau menemukan sesuatu?: tanya Ana beberapa saat kemudian.


"Syukurnya, tak ada yang mencurigakan," jawab Khouk. Dia masuk dan menutup pintu balkon. Kemudian kembali duduk di dekat jendela.


Ponsel Ana berdering. Ada panggilan dari Alexei. "Ya, Paman," sahut Ana.


"Aku sedang bersama Yuri. Dia ingin melihatmu!" ujar Alexei.


Ana membuka sambungan video call. Segera terlihat wajah Alexei di seberang. "Hei, apa kau melihatku?" tanya Alexei sambil melambaikan tangan.


"Ya, terlihat sangat jelas, hingga jerawat di dagumu terlihat seperti bukit kecil," ujar Ana tertawa.

__ADS_1


Alexei terkekeh. "Kau dengar yang dikatakannya? Dia keponakan kita," kata Alexei pada seseorang di dekatnya.


"Berikan ponselmu padaku," ujar orang itu. Sekarang video sedikit bergoyang, sebelum muncul wajah tampan di depan layar.


"Hai, Ana ... aku pamanmu Yuri. Alexei bercerita banyak tentangmu. Dan aku sungguh senang kita bisa melakukan panggilan video. Kau persis seperti yang dikatakannya. Manis dan lucu!"


"Sejak kapan aku lucu, Paman Alexei?" protes Ana heran.


"Kau terlihat seperti Valentina, meskipun wajahmu berbeda. Aku menyesal kami tidak menemukanmu lebih cepat. Jadi kau terpaksa menjalani hal berat itu sendirian, dan hidup dalam dunia yang keras," kata Yuri.


Ana hanya tersenyum manis mendengarnya.


"Kapan kau akan ke sini? Kau belum mengunjungi makam kakek dan nenekmu!" tambahnya.


"Segera setelah aku mendapatkan waktu yang tepat, Paman Yuri," jawab Ana.


Satu jam kemudian, baru panggilan telepon itu selesai. Dan Ana bahkan tidak habis mengerti, bahwa dia ternyata bisa menikmati bincang-bincang tak penting seperti obrolan di telepon tadi.


"Ternyata, kehadiran keluarga bisa merubah beberapa hal," gumamnya bahagia.


Pukul tujuh malam. Thei mengetuk pintu kamar. Khouk membukakan pintu. Itu sudah waktunya Ana makan malam. Tapi Khouk heran, Theo tidak membawa trolley makanan ke kamar.


"Ada apa?" tanyanya.


"Bukan urusanmu!" ketus Theo. Dia langsung masuk dan berjalan ke arah Ana.


Khouk kaget dilewati begitu saja. Dia mengejar dan menarik tangan Theo, mencegahnya mendekati Ana.


"Ada apa lagi? Tak bisakah kalian akur?" tegur Ana.


"Dia menerobos masuk!" Khouk membela diri.


"Khouk, kuharap kau tak lupa. Kita lah yang sedang menumpang di rumah tuannya!" Ana memperingatkan.


"Tapi-"


Ana mengangkat tangannya. Dan Khouk langsung melepaskan Theo, sebelum menunduk takzim.


"Ada apa kau ke sini?" tanya Ana pada Theo.


'Tuan mengundang anda untuk makan malam," ujar Theo berseri-seri. Dia kembali ingat pada tugasnya.


"Oh ... baiklah. Khouk, bawakan kursi rodaku!" perintah Ana.


"Baik!" Khouk segera menyiapkan kursi roda untuk Ana dan membantu gadis itu untuk duduk. Kemudian didorongnya kursi roda keluar kamar dan mengikuti langkah Theo.


Setelah sedikit kesulitan saat menuruni tangga, akhirnya Ana sampai di kolam dan taman teratai. Harumnya bunga teratai yang mekar, serta lampu berkelip di beberapa tempat, membuat tempat itu terasa magis.


Khouk berhenti mendorong kursi roda, setelah mereka tiba di sebuah gazebo. Ammo sudah duduk dan menunggu di sana. Pria itu berdiri dan mengambil alih kursi roda, dari tangan Khouk.


"Tidakkah ini berlebihan?" komentar Ana. Ammo menggeleng.

__ADS_1


"Tak ada yang berlebihan untukmu," balasnya.


"Maukah kau menikah denganku?" Tanya Ammo sambil menunjukkan cincin berlian yang tadi dipesannya.


Ana ternganga mendengar pernyataan itu. Ini sudah yang ketiga kali diutarakan Ammo.


"Kau serius tentang ini?" tanya Ana heran.


"Sangat serius!" Ammo mengangguk, meyakinkan Ana.


"Tapi aku buronan biro! Itu akan membahayakan nyawamu!' ujar Ana.


"Selama ini juga sudah bahaya. Tak ada lagi yang akan mengejutkanku," balas Ammo percaya diri.


"Tapi untuk bisa menikahi pemimpin kami, kau harus melewati ujian Klan!" potong Khouk.


"Dan sayangnya, keluargamu sudah memutuskan untuk keluar dari Klan Khaan!" Khouk menunjukkan ekspresi rumit.


"Apa maksudnya dengan segala hal tentang klan?" tanya Ammo bingung. Dia sedikit tak senang, karena acara lamarannya diganggu oleh Khouk.


"Silakan kau jelaskan. Perutku sudah lapar!" ujar Ana. Dengan cueknya dia membuka piring dan mengambil makanan yang ada di meja.


"Kau jelaskan nanti saja!" larang Ammo, saat melihat Khouk ingin membuka mulut.


"Aku juga sangat lapar. Jangan sampai selera makanku hilang, setelah mendengar ceritamu!" dengus Ammo kesal.


Khouk diam dan memutuskan untuk duduk tak jauh dari sana. Theo yang masih sewot, mendelik padanya. "Kau merusak momen romantis diantara mereka!" cercanya.


"Aku hanya mengatakan hal yang kutahu, agar tidak ada penyeslan nanti!" argumennya.


"Huh!" Theo bergegas ke tempat tuannya, dan melayani dua orang itu bersantap.


Sikap santai keduanya, setidaknya menjadi pelipur kecewa, karena rencana makan malam romantis telah gagal.


Ana dan Ammo sedang asik mengobrol santai. Khouk datang dan membisikkan sesuatu di telinga Ana.


"Benarkah?" tanya Ana meminta kepastian. Khouk mengangguk yakin.


"Bukankah itu bagus," ujarnya sambil tersenyum. Khouk mengangguk lagi.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ammo penasaran.


"Kakek Wilson, sudah sampai di Klan!" ujar Ana.


"Klan lagi, klan lagi. Klan apa sih maksudnya?" tanyanya tak sabar.


"Klan Khaan!" jawab Ana.


Ammo menggeleng. Aku baru dengar tentang hal itu," gerutunya kesal.


"Akan kujelaskan!" ujar Khouk.

__ADS_1


*******


__ADS_2