
Setelah mengisi ulang tangki bahan bakar sekali juga bertukar helikopter lain, akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang terpencil dan sunyi. Namun tempat itu dijaga ketat oleh satu pasukan bersenjata.
Ammo turun dari helikopter, diikuti Ana Blake telah menunggu di dekat helipad. Dibawanya kedua orang itu ke tempat menginap yang dipesan Ammo.
"Ini sudah tengah malam. Lebih baik istirahat dulu. Besok kau bisa bertemu Nathalie." ujar Ammo.
"Oke. Dia pasti juga sudah tidur." Ana mengangguk dan memasuki kamarnya.
Ammo juga melangkah menuju kamarnya di sebelah. Blake menyerahkan laptop Ammo ebelum dia menutup pintu.
Ammo langsung berangkat tidur malam itu. Dia berencana bangun lebih pagi untuk memeriksa laporan.
*
*
Laporan pertama adalah dari kakek Wilson. Brandy dan Lindsay berangkat pagi ini pukul enam sebagai wisatawan. Kakek wilson menyertakan dua bawahannya untuk menjaga cucunya itu serta berpura-pura sebagai dua pasang kekasih yang pergi berlibur.
Buat Ammo tak masalah. Asalkan tidak mempengaruhi kinerja Brandy dan Lindsay yg Ammo sangat tau kemampuannya.
Kemudian laporan Kapten Lance. Lalu laporan dari Devan. George mulai stabil dan bisa diharapkan sembuh dari luka-luka bakarnya. Devan juga mengatakan bahwa Barbara telah diperiksa, dan bebas dari implant pelacak atau apapun. Jadi dia akan mulai menugaskannya di bagian pelayanan umum.
Berikutnya adalah laporan dari Ivan dan Donny. Mereka telah sampai di tempat rahasia dan Maya dirawat oleh dokter yang ada di situ.
Ammo mengirim pesan pada dokter yang merawat Maya, untuk memindai tubuh gadis itu. Mencari tahu, apakah ada implan pelacak di tubuhnya.
Ammo juga berpesan pada Ivan, untuk memeriksa bagian bawah mobil, khawatir ada pelacak yang ditempelkan di sana.
Lalu pesan rahasia lain, bahwa Carl dan Aaron sdh berhasil diamankan. Ekspresi Ammo berubah cerah. Setelah urusan Ana di sini selesai, dia akan menemui bibi Herriet untuk membicarakan tentang Carl.
Namun, hal pertama yang dilakukan Ammo untuk Carl dan Aaron adalah mencabut semua fasilitas kedua orang tua itu. Ammo langsung menghubungi pengacara untuk mengurusnya. Ammo mengirimkan file persekongkolan jahat kedua orang itu sebagai dasar pencabutan semua fasilitas.
Kemudian Ammo masih harus membaca laporan Theo, Ariel dan Nick. Juga memberi instruksi lanjutan untuk beberapa pihak.
Pukul tujuh pagi, Semua pekerjaan hari itu telah selesai. Sekarang dia bisa fokus dengan urusan di tempat itu.
"Pagi, Bos!" sapa Blake ketika Ammo keluar kamar.
"Kau tidur di sini semalaman?" tegur Ammo.
"Iya, Bos!" jawab Blake.
Ammo menggelengkan kepala. "Lain kali kau juga ambil waktu untuk istirahat," ujarnya.
"Iya, Bos. Nanti istirahat, Bos," jawab Blake lagi.
"Ya ... sudah. Terserah kamu saja." Ammo menoleh ke kamar Ana.
__ADS_1
"Apakah dia sudah keluar?" tanya Ammo.
"Sudah, Bos. Tadi, pergi ke arah sana, bertanya arah ruang makan," sahut Blake.
"Ayo, kita kita ke sana. Aku juga sudah lapar," ajak Ammo.
"Siap!"
Keduanya berjalan bersisian ke arah ruang makan.
"Bagaimana keadaan Sanders sekarang?" tanya Ammo.
"Biasa saja, Bos!" jawabnya.
"Hemm, jadi tak ada perkembangan," gumam Ammo dengan wajah serius.
"Saya tidak mengerti tentang metode pengobatan, Bos. Tapi sebagai orang yang pernah melihatnya dalam keadaan mental yang sehat, maka keadaannya saat ini masih sama saja." Blake menjelaskan maksud perkataan sebelumnya.
"Oke. Aku paham. Mari makan dulu!"
Ammo masuk ke ruang makan yang dipenuhi para dokter dan staf medis yang tidak bertugas. Ammo mencari-cari lokasi Ana.
Blake seakan mengerti, ikut mencari juga. Namun belum sempat mengatakan apapun, dilihatnya Ammo sudah berjalan ke satu arah.
"Ah, gadis itu duduk di meja teras yang terhalang pot bunga." Blake mengikuti langkah Ammo menuju tempat itu.
"Bukankah tempat ini milikmu? Kenapa harus minta ijin?" sahut Ana pedas. Dia tak suka sikap basa-basi Ammo.
Ammo tersenyum masam, lalu menarik bangku untuk duduk.
"Anda ingin apa, Bos? saya pesankan," tawar Blake.
"Oh, aku mau Black coffee, sandwich dengan ekstra keju pedas," jawab Ammo.
"Siap, Bos!" Blake berlalu.
"Kau tak takut gendut memesan itu?" tanya Ana heran.
"Kau belum mencoba sandwich di sini. Isinya daging kalkun. Lezat sekali. Menurut teori, jika kita bekerja sebagai pemikir, maka otak kita butuh makanan berprotein tinggi, agar tidak mudah ngeblank." jelas Ammo santai.
"Profesor mana yang memberikan teori seperti itu?" tanya Ana geli.
"Tidak tau. Tapi mamaku selalu berkata begitu," sahut Ammo.
Ana tersenyum makin lebar. "Apa itu berhasil?" tanya Ana julid.
"Buatku berhasil. Jika aku dihasapkan pada banyak persoalan yang butuh pemikiran, makan aku memilih makanan berprotein tinggi sebagai selingan."
__ADS_1
Ana hanya mengangguk-angguk saja, tanpa merespon. Kelihatannya dia kurang berminat membahas hal itu.
"Apa kau sudah tak sabar bertemu saudarimu?" tebak Ammo. Ans mengangguk.
"Tunggu aku selesai sarapan, baru kita ke sana. Aku sudah bekerja sejak pukul lima subuh. Otakku sudah kelaparan!" seru Ammo tanpa malu.
Orang-orang di sekitar mereka, memperhatikan interaksi dua orang asing di ruang makan.
"Mereka tak mengenalmu," bisik Ana.
Ammo mengangguk-angguk. "Bagus kalau begitu. Strategiku berhasil," sahut Ammo.
"Ini sarapan Anda, Bos!" Blake meletakkan nampan yang dibawanya ke meja Ammo.
"Terima kasih, Blake. Kau juga harus segera sarapan!" perintah Ammo.
"Ya, Bos!" Blake langsung pergi ke counter, untuk mengantri sarapan lagi.
"Aku tak melihat ada pasien di sini," ujar Ana.
"Pasien mendapat makan di ruangannya masing-masing. Jangan khawatirkan mereka. khawatirkan saja dirimu sendiri."
Ammo mulai menyuap makanannya. Dia terlihat sangat menikmati sarapan paginya. Blake mengamati dari jauh. Bosnya terlihat santai pagi ini. Banyak tersenyum, santai dan sesekali bercanda. Blake bisa melihat pengaruh Ana pada kepribadian Ammo.
Dalam satu jam, sarapan santai itu selesai. Ammo dan Ana berdiri dan melangkah melintasi ruang makan, menuju keluar. Blake menyusul dan menjaga di belakang.
Ketiganya melewati sebuah lapangan berumput, menuju bangsal perawatan. Ana bisa melihat, ada banyak kamar rawat di sisi kiri dan kanan lorong panjang.
Di depan sebuah pintu yang ada petugas penjaga, Ammo berhenti.
"Siapa pasien di sini?" tanya Ammo.
Blake menjawab cepat. "Ruang Tuan Sanders, Bos!" jawab Blake.
"Bisakah kita mihatnya?" tanya Ana penuh harap.
"Tentu saja. Kau bebas bertemu dengan Sanders di sini. Tapi sekarang Nathalie telah menunggumu." bujuk Ammo lembut.
Ana mengangguk setuju. "Di mana kamar Nathalie?" tanya Ana pada Blake
"Dua kamar dari sini!" Blake berjalan cepat, menuju kamar Nathalie. Ana dan Ammo mengikuti.
"Kau siap?" tanya Ammo.
"Siap! Aku sudah siap bertemu dengan kembaranku." Suasana di depan kamar rawat itu jadi terasa sendu dan syahdu. Membawa hati jadi bersedih.
*******
__ADS_1