
Dua hari yang krusial.
Sepertinya Biro mengendus sesuatu, tapi tidak yakin apa yang terjadi. Selain itu, negara Slovstadt sedang panas. Beberapa demo dilakukan secara bergantian di beberapa negara bagian. Tapi meski militer sudah diturunkan untuk menjaga, demo besar tetap berlangsung.
Sementara perhatian Biro terpusat pada demo rakyat, mereka melupakan bahwa ada musuh besar mereka di negara Giebellinch.
Anggota klan berhasil menangkapi beberapa The Hunters dan informan yang memergoki persiapan mereka. Mereka langsung diamankan Ammo ke tempat yang tak terjangkau pengawasan Biro yang sedang sibuk mengawasi demo rakyat.
Sedikit demi sedikit, kekuatan Biro di Giebellinch dipangkas. Hingga sehari sebelum hari H yang mereka rencanakan, praktis Biro itu hanya dihuni oleh para petinggi yang bekerja dari kantor saja.
Di balkon kamarnya. Ana memeluk Mimi kucing kesayangannya. "Aku menyayangimu, Mimi," ujarnya sambil mencium lembut kepala kucing itu. Matanya menerawang jauh ke halaman di bawahnya. Para tentara bayaran itu juga sedang bersiap. Mereka harus menjaga kediaman itu dari serangan yang mungkin dilancarkan.
Bantuan Ammo pada rencana Ana besok lebih banyak pada teknolohi komunikasi, senjata dan kendaraan yang telah diserahkan pada semua anggota Klan Khaan yang terlibat di lapangan.
Pasukan Ammo lebih difokuskan untuk bergerak di negara Slovstadt. Dia sudah merencanakan hal itu jauh-jauh hari, bahkan sebelum Ana membuat rencana pembalasan besar ini.
"Ammo, aku ingin melihat rumahku yang di kota, sebentar," ujar Ana.
"Apakah itu penting?" tanya Ammo. Dia enggan melepas Ana di saat-saat genting seperti ini.
"Kau sangat tahu, jika sesuatu terjadi padamu, maka gerakan besok akan pincang dan kemungkinan besar, gagal!" Ammo mengingatkan.
Ada hal penting yang ingin kuambil di sana." Ana beralasan.
Ammo memperhatikan Ana dengan seksama.
"Jangan menilaiku dengan tatapanmu itu! Aku tak suka. Aku bukan maling!" ketus Ana.
"Aku merasa kau hanya sedang ingin menikmati kota, seperti orang pesimis yang merasa rencana besok akan gagal, dan kau tak kan punya waktu lagi untuk melihat setiap kenangan di sudut-sudut kota!" kata Ammo dingin.
Setelah itu dia tak lagi mengacuhkan Ana. Perhatiannya dialihkan pada senjata yang sedang diuji cobanya. Ammo punya prinsip, jika seseorang tidak menyakini apa yang akan dilakukannya, maka tak ada seorangpun yang bisa membuatmya yakin. Jadi, apa yang dirasakan Ana sekarang, hanya dirinya sendiri yang bisa mengatasinya.
__ADS_1
Ana terdiam. Kata-kata Ammo sedikit benar. Namun tidak seluruhnya. Bukan rasa pesimis yang ada di hatinya. Namun memang ada beberapa hal yang harus diselesaikannya lebih dulu mengenai apartemen dan rumahnya.
Anna keluar dari ruangan Ammo dan menuju kamarnya. Dia berdandan rapi dan cantik khas Shasha. Gan melihatnya dengan heran.
"Anda tidak menggunakan topeng yang baru, Pemimpin?" tanyanya.
Ana menggeleng. Aku mau pergi ke satu tempat. Kau boleh tetap di sini," ujarnya.
"Anda harus membunuh saya dulu, kalau begitu!" Gan memaksa ikut.
"Kalau begitu, jangan cerewet," kesal Ana.
"Baik!" sahut Gan.
Keduanya turun ke lantai bawah. Thep memperhatikan dandanan Ana yang sangat rapi dan anggun. "Apakah anda akan pergi, Nona?" tanyanya hati-hati. Tuannya tidak memberinya instruksi apapun soal ini.
"Ya. Apa aku boleh meminjam mobilmu?" tanya Ana.
"Tak perlu tanya Ammo. Ini tak ada hubungannya dengan dia!" Kata-kata Ana tegas.
Theo kebingungan. Dia hanyalah pelayan di rumah itu. Bagaimana mungkin apa yang akan dilakukannya tidak berhubungan dengan tuannya? Terlebih ini menyangkut calon nyonya rumah ini. Jika terjadi sesuatu, bukankah dia yang harus bertanggung jawab?
"Nona, kurasa aku---"
"Berikan apa yang dia mau!" Suara Ammo terdengar dari lantai atas.
"Baik, Tuan!" sahut Theo.
Pria itu segera mengeluarkan kunci dari saku baju kerjanya dan diserahkan pada Ana.
"Sampai jumpa lagi, Theo," ujar Ana.
__ADS_1
"Sampai jumpa, Nona," sahut Theo.
Ana pergi parkiran diikuti Gan. Dia melenggang tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Ammo.
Pria itu memperhatikannya dari lantai atas, hingga tak terlihat lagi. Shasha kembali lagi. Sepertinya Ana sedang ingin bernostalgia. Dia hanya bisa menggeleng. Sifat keras kepala gadis itu memang akan sulit untuk diubah. Jadi, jika tak bisa dilarang, maka Ammo hanya bisa menjaganya dari jauh.
"Nyalakan gps mobilmu!" perintah Ammo pada Theo.
"Baik, Tuan!"
Theo segera menyalakan ponselnya dan menyalakan gps yang dipasang pada mobilnya. Ditunjukkannya layar ponsel pada Ammo.
"Bagus! Amati saja terus. Apakah kau memasang kamera pada mobil itu?" tanya Ammo lagi.
"Ya, ada." Theo mengangguk.
"Kalau begitu, sambungkan dengan layar. di ruang duduk." perintah Ammo lagi.
Theo segera pergi melakukan perintah. Ammo turun dari lantai atas dan melihat layar yang masih menampilkan jalan keluar rumahnya.
"Panggilkan Kapten Smith!" perintahnnya lagi.
Theo segera berlari keluar dan memanggil Kapten Smith di posnya.
"Ya, Tuan," jawab Kapten Smith.
"Kirim dua orang pengawalmu dan ikuti Ana!" perintah Ammo.
Lanjutnya lagi. "Ingat, hanya mengikuti dan menjaganya dari jauh. Jangan terlalu dekat, atau dia akan menganggap orangmu sebagai musuhnya."
"Baik, Tuan!" Kapten Smith langsung keluar. Ammo akan mengirimkan gambaran yang ada di layar itu ke ponsel pengawal yang mendapat tugas.
__ADS_1
******