Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
69. Penyelamatan


__ADS_3

Ketegangan semakin pekat dalam ruangan itu ketika mereka melihat torpedo yang dikirimkan, mengenai tepat di titik kordinat tiga. Kemudian diikuti bias lingkaran merah menjauhi tempat semula.


Torpedo itu telah meledakkan sasaran dan membuatnya lenyap dari layar radar. Namun kali ini tak ada sirak sorai. Mata mereka terpaku melihat lingkaran-lingkaran merah itu makin membesar dan mendekati tiga titik yang sedang berusaha mencapai pintu masuk ke dermaga kapal selam.


"Gelombang besar hampir mendekati mereka," komentar salah satu petugas di situ.


"Itu bisa sekuat tsunami, karena posisinya begitu dekat." Yang lain ikut mengimentari.


"Terjangan gelombang itu bisa membuat mereka terdorong keras dan menabrak kita!" ujar yang lain ikut ketar-ketir.


"Benturan!" teriak pengamat radar.


Lampu ruangan mati sekejap, sebelum kembali menyala berkedap-kedip. Tenaga listrik cadangan dengan cepat menggantikan power energi utama yang mati akibat terjangan gelombang balik ledakan torpedo.


Layar radar kembali muncul, setelah semua lampu ruangan menyala terang. Namun, tiga titik di dekat basecamp tidak lagi terlihat.


"Sial! Dimana mereka?" tanya kapten panik. "Tak mungkin terdorong gelombang laut hingga melewati perimeter!"


Pengawas radar dan perimeter, berkeringat dingin, mencari tiga kapal selam yang hilang itu.


"Lap ... kap ... Lapo ...."


Terdengar suara radio terputus-putus. Kapten Lance menekan tombol speaker.


"Katakan situasinya!" perintah kapten.


"Kam ... terben ... Kap ...." Jawab suara di sana.


"Mereka terbentur, Kapten!" wakil kapten menjelaskan suara terputus-putus tadi.


"Kirim dua kapal selam lagi. Susuri ke area ini, area ini!" perintah kapten.


"Luncurkan dua kapal selam pencari!" ulang wakil kapten pada speaker menuju dermaga.


"Dua kapal selam bersiap!" terdengar jawaban dari dermaga.


"Nyalakan kordinatmu!" perintah kapten pada kapal selam yang melapor tadi.


"Pe ... la ... rusa ..., ... ten!" jawab masih terputus-putus.


"Bagaimana Bos dan kapal selam satu lagi?" tanya kapten kembali.


"Hil ... kon ... Kap ..."


"Apa ada yang terluka?" tanya kapten lagi.


"Cu ... sa ... yan ... ar!"


"Hanya dia yang sadar, Kapten!" wakil kapten menjelaskan.


"Kembali ke markas!" perintah kapten Lance.


"Ya...."


Orang-orang di ruangan itu saling berpandangan. Suara terakhir itu antara ada dan tiada. Apakah yang melapor tadi ikut pingsan, atau mati?


"Luncurkan kapal selam pencari!" teriak Kapten Lance berang. Orang-orangnya dan Bos sedang dalam bahaya di kedalaman laut.


"Dua kapal selam meluncur!" lapor petugas di dermaga. Dengan segera, terlihat dua titik merah di layar radar.

__ADS_1


Kapten Lance meraih ponselnya dan mencoba mengontak Ammo.


"Bos. Bagaimana situasimu?" panggilnya. Tak ada respon.


"Bos, nyalakan kordinat Anda!" seru kapten Lance.


"Siapa yang bisa memasuki dan mengambil alih kendali tiga kapal selam itu dari sini?" tanya kapten.


"Kevin, Kapten!" jawab wakil kapten.


"Panggil dia ke sini!"


"Siap, kapten!"


Seorang petugas yang berdiri di belakang Kapten Lance, berlari ke luar ruangan. Dia harus mencari enginer itu dan membawanya ke ruang kerja utama sesuai perintah kapten.


"Apa kalian mendapat sesuatu?" tanya kapten pada kapal selam pencari.


"Belum, Kapten!" jawab petugas dari seberang.


"Kemungkinan sistem operasi mereka rusak. Kalian harus menemukan secepatnya. Sistem oksigen tak dapat berjalan tanpa power!"


Semua petugas merasakan ketegangan yang nyata. Alangkah berbahaya keadaan Bos dan rekan-rekan mereka di luar sana. Belum lagi kemungkin cedera yang mereka alami. Hanya Tuhan yang tau, seberapa parah keadaannya.


"Waktu mereka hanya setengah jam! Paling lama, empat puluh lima menit! Segera sisir seluruh tempat!" perintah kapten.


"Siap!"


Tak sampai lima belas menit, Kevin dan petugas yang menjemputnya, masuk ruangan.


"Kita kehilangan kontak dengan tiga kapal selam. Dapatkah kau mengambil alih program dari kapal selam itu dari sini?" tanya kapten Lance.


"Di sini!"


Seorang petugas kontrol berdiri, memberikan kursinya untuk Kevin.


"Sudah berapa lama hubungan terputus?" tanya Kevin lagi.


"Lima belas menit," jawab petugas kontrol.


"Tunjukkan padaku jenis-jenis kapal yang hilang kontak itu!" ujarnya.


Petugas kontrol dan Kevin bekerjasama membobol sistem pengendalian kapal selam mereka tang hilang. Seisi ruangan itu jadi semakin tegang. Detik demi detik yang berlalu terasa sangat menyiksa. Seakan tenggorokan mereka sendiri yang sedang tercekik kehabisan oksigen.


"Lapor Kapten!"


Terdengar suara panggilan dari radio.


"Laporkan!" sahut kapten Lance.


"Kami menemukan salah satu pintu kapal selam terlepas dan melayang di air! Ijin menghubungkan kamera."


"Buka layarnya!" teriak kapten cemas.


Sebuah layar lebar menyala. Perangkat itu dihubungkan dengan sistem kapal selam pencari.


"Itu ... bukankah...."


Mata mereka terbelalak lebar. Di pintu kapal selam yang sedang melayang jatuh ke kedalaman laut itu, tercetak jelas gambar Angel berwarna biru.

__ADS_1


"Cari mereka! mungkin terlempar keluar dari kapal selam itu!"


Kapten Lance jelas sekali terlihat panik. Bagaimana tidak. Itu jelas lambang kapal selam Ammo, Angel One! Di mana para penumpangnya saat ini?


"Luncurkan dua kapal selam pencari lainnya!" perintah kapten.


"Luncurkan dua kapal selam pencari lagi!" wakil kapten mengulangi perintah pada bagian dermaga.


"Siap! Dua kapal selam pencari sedang diturunkan!" jawab petugas di sana.


"Bagaimana denganmu? Sudah terhubung?" tanya kapten Lance kasar.


"Give me more time," jawab Kevin.


"Kau tau artinya pintu kapal selam terlepas? Mereka tak punya waktu!" bentak kapten gusar.


Kevin tak menjawab. Dia fokus dengan pejerjaannya memencet keyboard dan tombol-tombol yang ada di panel di depannya.


"Jika power mereka mati, maka hanya ada waktu paling lama 5 menit bagi tenaga cadangan untuk menyala. Jadi, manfaatkan semaksimal mungkin!" ujar Kevin.


Kemudian layar besar di depan kapten muncul tiga titik merah yang berkedip-kedip. Semua bersorak.


"Yes!"


"Berikan titik kordinat itu pada kapal pencari!" perintah kapten Lance.


Petugas bagian kordinat, segera mengirimkan kordinat tiga kapal mereka yang hilang. Empat kapal pencari di kedalaman samudera itu, bergerak cepat. Waktu mereka hanya lima menit untuk dua kapal selam lain. Tapi tak ada waktu lagi untuk kapal selam Bos yg pintunya sudah terlepas.


Empat kapal pencari mendekati tiga titik yang saling berdekatan. Mereka mengunci kordinat, agar tak perlu kehilangan lagi.


Di ruangan kapten, suasana terasa menyesakkan. Kecemasan itu menguap memenuhi udara. Semua terpaku pada layar besar yang menampilkan gambar pencarian di dalam laut.


"Aku melihatnya!" teriak seorang petugas di salah satu kapal selam pencari.


Di layar tampak bagian belakang kapal selam yang hening tak bergerak. Makin lama, makin terlihat jelas. Itu salah satu kapal selam yang menyusul Bos tadi.


"Petugas evakuasi keluar!" lapor petugas di kapal pencari.


Dua orang dengan peralatan dan oksigen lengkap, keluar dari kapal pencari dan berenang mendekati kapal yang diam di tempat itu. Salah satunya mengetuk-ngetuk dinding kapal.


"Tak ada respon, Kapten!" lapornya.


"Keluarkan mereka, baru tarik kapalnya!" perintah kapten.


"Baik!"


"Kami menemukan satu lagi, Kapten!" lapor petugas di kapas selam lain.


Sebuah bidang layar lain muncul bersebelahan dengan yang pertama. Itu masih kapal selam mereka. Di mana Bos?


"Langsung keluarkan mereka. Sudah tak ada waktu tersisa!" perintah kapten cepat.


"Yang lain, mana laporannya? Kapal Bos harus segera ditemukan!" desak kapten.


"Kami sudah menemukannya, Kapten!"


Layar kemudian terbagi tiga. Di layar terakhir, terlihat jelas kapal selam itu sudah terbuka. Cahaya lampu sorot menerangi kabin yang sudah dipenuhi air. Tak ada seorangpun di dalamnya!


"Di mana Bos?" gumaman langsung mendengung si seantero ruangan itu. Mata mereka menatap layar tak percaya.

__ADS_1


********


__ADS_2