
"Bisakah kalian menyelinap masuk dan memeriksa, selagi mereka sedang main kejar-kejaran?" tanya Ammo.
"Siap!" Ammo mendapatkan balasan pesan dalam satu menit.
"Semoga gedung ini yang kita cari," gumam Ammo. Dia merasa sangat kelelahan sekarang. Dipejamkannya mata sambil bersandar di kursi. Tanpa disadari, dirinya tertidur.
Julio memberi kode pada Ariel, Donny, dan Ivan untuk tidak membuat keributan dan mengambil waktu untuk istirahat sejenak. Ketiga orang tersebut langsung bersandar di kursi masing-masing dan memejamkan mata. Dalam sekejap ruangan itu sunyi. termasuk tiga tenaga cadangan dari Kapten Smith, ikut mengambil waktu istirahat.
Sementara itu, Julio tetap duduk di sana dan bersiap mencatat informasi apapun yang masuk selama tim itu istirahat.
Dua jam yang panjang bagi Julio. Duduk diam dan memasang perangkat radio di telinganya. Namun tak ada satu pesan pun yang masuk.
Masuk jam ketiga, pesan masuk ke ponsel pribadi Ammo, membuat pria itu langsung terbangun.
Setelah mengerjap beberapa saat, dilihatnya pesan masuk di ponsel.
"Bangunan ini tidak seperti yang anda katakan. Tapi kami berhasil menemukan beberapa file. Perlukah kami ambil?"
Pesan itu disertai contoh file yang ada. Ammo membacanya sekilas kemudian membalas. "Lupakan. Itu bukan yang kita cari. Cepat keluar dari sana dan cari di tempat lain. itu mungkin hanya bangunan biasa untuk pengalih perhatian," balasnya.
"Baik." pesan balasan segera masuk.
Ammo mengembuskan napas kuat. Dia menoleh pada Ariel untuk memberi perintah. Tetapi batal karena melihat tiga temannya itu tertidur dengan sangat pulas. Dilihatnya Julio dengan mata terpejam, memakai perangkat penerima pesan suara di telinga. Ammo menggeleng. Dia melangkah keluar untuk menyegarkan diri.
Di luar ruangan, tiga orang tenaga bantuan itu juga tidur dengan menelungkup di meja masing-masing. Ammo berjalan ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Dia butuh menyegarkan diri dan pikirannya sejenak.
Masuk jam ke empat, Ammo kembali ke ruang kerja dan masih melihat semua orang tidur.
"Ayo bangun! Saatnya kerja lagi!" serunya sambil memukul meja.
Semua orang terbangun dengan gelagapan. mereka terbengong sesaat,kemudian bersiap dengan alat kerja masing-masing.
"Kalian sudah empat hari tak mandi. Pergi mandi sana, Biar udara di ruangan ini kembali segar." Ammo menunjuk ke pintu, mempersilakan mereka semua keluar sejenak.
__ADS_1
"Ingat, waktu kalian hanya satu jam. Dan itu sudah termasuk waktu makan!" pesannya.
Setelah semua orang beristirahat, Julio bertanya. "Apa anda ingin makan di sini atau di ruang makan, Tuan?"
"Bawakan ke sini. Biar aku yang menggantikanmu menjaga radio Ariel," ujarnya.
"Baik, Tuan," sahut Julio. Pria itu segera keluar dari ruang kerja yang sepi. Dia tak terlalu khawatir lagi, karena Ammo terlihat lebih segar setelah beristirahat yang cukup.
Ammo memeriksa semua komunikasi yang mungkin terlewat, karena mereka semua tertidur. Tapi memang tak ada pesan yang masuk. Hal itu membuatnya garuk-garuk kepala. Apakah memang semuanya baik-baik saja, ataukah pemerintahan sementara Slovstadt memang memutuskan jalur komunikasi dengan luar negeri.
Tak ada informasi, justru membuat Ammo gelisah. Dia khawatir terjadi perubahan politik di sana dan bawahannya bisa terjepit. Pada hal dia telah mengeluarkan semua bawahannya yang tersisa untuk membackup keamanan negara itu.
Jarinya lincah memainkan perangkat dan mengirim pesan pada bawahannya, untuk menanyakan kondisi terkini.
Tak lama balasan segera masuk. "Situasi di sini kondusif. Parlemen sedang membuat sidang darurat. Sementara itu, kita yang mengendalikan keamanan." Itulah balasan pesan yang diterimanya.
"Jangan terlena. Kita bahkan belum setengah perjalanan. Hati-hati penyusup yang membuat anarki dari para pendukung presiden yang digulingkan!" Ammo mengingatkan lagi.
"Baik!" Balasan kembali diterima Ammo. Meski dia tidak merasa tenang sepenuhnya, tapi tak ada apapun yang bisa dilakukannya. Bagaimanapun, dia sekarang sudah terhitung sebagai orang luar, karena bukan lagi warga negara Slovstadt.
*
*******
Lima menit kemudian balasan pesan dari pria itu masuk. "Akan kukirimkan Sawyer untuk menjemputmu!"
"Terima kasih," balas Ana.
"Khouk, kita akan kembali ke klan. Sawyer akan menjemput kita nanti. Bersiaplah," kata Ana.
"Baik, Pemimpin. Saya senang dengan keputusan anda ini." Khouk mengangguk.
Tak banyak yang perlu dipersiapkannya. Dia tak membawa banyak barang pribadi. Khouk hanya perlu mengganti pakaian pasien kapal itu dengan pakaiannya sendiri dan mengambil barang-barang pribadi yang disimpan Ana.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, mereka telah terbang menuju negara terdekat dan teraman dengan klan. Khouk punya andil besar menyiapkan segala sesuatu terkait kedatangan Ana. Dia punya jaringan yang terpercaya.
Saat pesawat Sawyer mendarat, bawahan Khouk sudah memeriksa seluruh area bandara kecil tersebut. Mereka juga menyiapkan kendaran khusus untuk menjamin keamanan Ana selama dalam perjalanan, mengingat Ketua Klan mereka yang baru itu telah menjadi target pembunuhan banyak pihak.
'Terima kasih Sawyer. Sampai jumpa lagi. Berhati-hatilah!" ujar Ana.
"Sampai jumpa lagi, Nona," sahut Sawyer.
"Apakah kita akan melalui jalan darat, Khouk?" tanya Ana.
"Ya. KIta harus melewati jalan darat dulu hingga titik tertentu. Setelah itu, kami akan membawa anda naik ke daerah pegunungan, di mana klan kita berada.
"Klan kita benar-benar terpencil?" tanya Ana.
Khouk tertawa kecil. "Lokasi itu dipilih oleh pendiri klan dengan tujuan khusus, melindungi anggota klan. Dan melihat situasi politik sekarang, rasanya alasan itu masih sangat relevan," jawab Khouk.
"Dan sekarang, kalian pasti sudah membuat alat transportasi yang lebih baik untuk memudahkan orang-orang naik dan turun gunung, bukan?" tanya Ana.
Khouk mengangguk. "Betul. Alat transportasi sudah sangat memadai. Tapi, tak banyak juga anggota klan yang ingin turun. Karena semua kebutuhan di klan sudah terpenuhi. Hanya beberapa petugas khusus dan pedagang yang akan turun secara berkala, untuk membeli berbagai kebutuhan bagi anggota klan. Tentu saja, beberapa pengawal yang ditugaskan di luar, seperti saya dan Gan." Khouk menjelaskan panjang lebar keadaan klan.
Ana mengangguk-angguk. Dia mulai punya sedikit gambaran tentang tempat itu. Dan rasanya sudah tak sabar untuk segera sampai dan melihatnya.
Tiga jam perjalanan darat yang tak disangka Ana sangat disukainya. Pemandangan indah alam pedesaan yang mereka lewati dan masuk keluar hutan kecil, serta padang terbuka di dekat sebuah danau kecil yang indah. Rombongan mobil Ana dan para pengawalnya telah memasuki area terbawah yang dikuasai oleh Klan Khaan.
Berita kedatangan Ana telah sampai. Para petugas pengamanan perbatasan, serentak berjongkok dan bersumpah setia pada Ana.
Berita tentang sikap tegas Ana atas persoalan negara Slovstadt, telah menimbulkan kebanggaan di hati mereka. Sekarang orang-orang dunia luar akan tahu dan dipaksa untuk mencari tahu, apa dan bagaimana Klan Khaan yang nyaris dilupakan oleh negara-negara sekitar mereka.
"Akankah masa keemasan klan kita kembali lagi?" bisik salah satu penjaga saat melihat rombongan Ana dan Khouk, memasuki kereta bawah tanah yang dibangun klan sebagai alat transportasi rahasia.
"Apa kalian sudah memikirkan keamanannya saat membangun transportasi ini?" tanya Ana.
Khouk mengangguk. "Ada alat transportasi lain untuk umum. Kereta gantung di luar sana. Tapi anda mungkin akan harus bertemu lagi dan lagi dengan beberapa penjaga ataupun para pedagang yang turun naik," jawab Khouk.
__ADS_1
"Aku mengerti." Ana mengangguk.
*******