Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
201. Menjadi Pejabat Presiden Sementara


__ADS_3

Selama Ana berada di klan. Ammo juga makin sibuk. Beberapa hal tak diduga telah terjadi. Anggota Parlemen yang melakukan pertemuan, membuat keputusan bulat untuk menjadikan Ammo sebagai pejabat presiden sementara hingga pemilihan presiden berikutnya.


Hal itu dikarenakan banyaknya kontribusi yang diberikannya untuk membongkar kejahatan yang diorganisir oleh Biro Klandestine, bekerja sama dengan negara asing. Termasuk juga untuk upayanya menjaga keamanan di Slovstadt agar tetap kondusif selama masa transisi.


Ammo sudah mengatakan bahwa dirinya bukan lagi warga negara itu. Tapi, anggota parlemen mengatakan bahwa latar belakang keluarganya dan kontribusi yang diberikan oleh kakek, ayah dan dirinya untuk negara, telah membuktikan bahwa di dalam hati mereka, masihlah sebagai Warga Negara Slovstadt.


"Terima saja dulu, Tuan. Mungkin itu takdir anda. Lagi pula, dengan posisi seperti itu, anda bisa mulai menjalin lagi hubungan baik dengan klan yang dipimpin oleh Nona Ana," saran Theo.


"Jika kau jadi presiden, meskipun sementara. Posisimu sudah setara dengan Ana. Para tetua klannya tidak akan keberatan sama sekali dengan hubungan kalian." Ariel memberikan pertimbangan lagi.


"Biar kupikirkan dulu," sahut Ammo.


"Jika kau terima, maka akan lebih mudah membongkar rahasia yang disimpan negara itu terkait peristiwa yang dialami Ana," Donny menambahkan juga.


"Kau juga bisa membersihkan Biro K dan lembaga lain agar bebas dari manusia-manusia palsu yang menjadi alat pihak lain." Ivan ikut menambahkan.


"Juga bisa membuka kembali perusahaan otomotifmu yang ditutup oleh Biro. Dan satu lagi, itu akan jadi hadiah bagi anggotamu yang gugur. Dan kau bisa melepaskan mereka yang selama ini masih disekap militer." Ariel masih terus mempengaruhi Ammo.


Ammo diam dan mendengarkan semua masukan yang didapatnya. Dia ingin sekali mengatakan hal ini pada Ana. Tapi diurungkannya karena tahu bahwa Ana juga sedang sibuk mereformasi klannya. Dia tak ingin menambah beban gadis itu.


"Ariel, katakan pada mereka aku setuju," ujar Ammo setelah merenung cukup lama.


"Siap!" Wajah ketiga temannya berseri-seri. Bukankah sangat hebat jika punya teman seorang presiden?


"Theo, hubungi paman Brenton dan minta dia kemari sekarang!" perintah Ammo.


"Ya, Tuan." Theo segera keluar ruangan untuk melakukan tugasnya.


Setelah itu siapkan beberapa pakaianku dan keperluan pribadiku!" tambah Ammo sebelum Theo menghilang dari pandangan.


"Ya!" jawab Theo dari kejauhan.


*


*


Persetujuan Ammo melegakan banyak pihak. Bahkan para oposan yang sebelumnya ikut berdemo, ikut bersorak gembira. Mereka memang ingin orang muda yang memimpin negara dan membawa perubahan yang signifikan.


Pelantikan Ammo dijadwalkan besok pagi. Jadi, malam ini dia sudah harus terbang ke sana. Seisi rumah berbahagia. Kepala keluarga mereka dipercaya jadi pejabat presiden sementara di suatu negara.


Paman Brenton diserahkan tugas untuk mengawasi seluruh perusahaan selama Ammo sibuk. Pria tua itu harus melaporkan semua perkembangan pada Ammo secara berkala.

__ADS_1


Tetapi, perusahaan Teknologi informasi, tetap dipegang oleh Donny dan Ivan.


Ammo mengirimkan Gan orang-orang Klan yang selama ini disembunyikannya. Anna meminta mereka semua untuk kembali ke klan dan mendengarkan pengarahannya.


Sore itu Ammo terbang ke negara Slovstadt. Sawyer sendiri yang mengantarkannya ke sana. Dua pengawal yang ditinggalkan Alexei, dibawanya sebagai pengawal pribadi.


*


****


"Khouk, tadi Ammo meneleponku. Dia akan dilantik menjadi pejabat presiden sementara di Slovstadt. Aku ingat bahwa kau adalah orang yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasinya, kan?" ujar Ana.


"Ya, Pemimpin," jawab Khouk.


"Negara itu sedang rentan. Kau bisa kembali dan melakukan tugasmu itu lagi, jika kau bersedia," ujar Ana.


"Aku akan melakukannya," angguk Khouk.


"Tapi kau baru sampai beberapa hari. Keluargamu juga masih rindu" Kau bisa rekomendasikan orang lain yang juga sama cekatan denganmu, untuk melindungi Ammo secara rahasia," saran Ana.


"Tidak perlu, Pemimpin. Lebih baik saya yang ke sana. Jika ada kesalah pahaman, akan mudah diatasi, karena Tuan Ammo sudah mengenal saya." jawabnya.


"Benar juga sih. Tapi---"


"Baiklah. Lakukan tugasmu dengan baik!" perintah Ana akhirnya.


"Baik, Pemimpin," angguk Khouk.


"Nathalie, siapkan surat tugas untuk Khouk!" perintah Ana.


"Oke!" jawab gadis itu.


Tak lama, Khouk berpamitan setelah mendapatkan surat tugasnya.


"Laporkan padaku perkembangannya," ujar Ana.


"Baik!"


*


*

__ADS_1


Hari- hari selanjutnya adalah hari yang penuh kesibukan bagi Ana dan Ammo. Dengan posisinya sebagai pejabat presiden, maka pengejaran Tuan Alistair jadi lebih intensif. Anggota Biro K di luar negeri dikerahkan untuk mencari orang tersebut.


Ammo mendapatkan tugas selama dua tahun. Dia membuat perencanaan untuk menyelenggarakan pemilihan presiden berikutnya dalam satu setengah tahun.


Di bulan kedua, para penjahat dan penipu yang selama ini menguasai negara, menjalani persidangan mereka. Setelah penyelidikan, akhirnya dapat dibongkar jaringan yang mereka sebar di semua badan pemerintah.


Pemecatan besar-besaran dilakukan. Penyisiran skala penuh dilakukan. Termasuk melakukan skrining serius pada saat menerima calon pegawai baru.


Di atas puncak gunung, Ana juga mengelola klan dengan lebih baik. Rencana kerjanya jelas. Rumah-rumah baru mulai berdiri di perbatasan klan. Jalan-jalan dibangun dengan lebih baik.


Berita yang disebar bahwa anggota klan di luar bisa kembali ke klan, membuat banyak orang yang selama ini pergi diam-diam, akhirnya kembali dan menemui keluarga mereka lagi.


Hubungan klan yang baik dengan presiden sementara negara Slovstadt, menjadi contoh bagi negara lain untuk mulai menjalin hubungan baik lagi dengan klan. Bagaimana pun, negara-negara sekitar gunung itu, memiliki sejarah panjang dengan Klan Khaan.


"Ana, kami sudah menemukan Alistair. Dia bersembunyi di negara lain. Apa kau ingin hadir di persidangannya?" tanya Ammo.


"Tidak. Aku senang kau sudah menemukannya. Yang dilakukannya bukan hanya merugikanku. Tapi banyak orang. Dia pantas mendapatkan hukuman terberat. Dan sita seluruh kekayaannya yang didapatkan dengan cara licik!" geram Ana.


"Aku sudah tenang di sini. Membangun klan jauh lebih baik dari pada aku terus mengejar orang untuk balas dendam! Asalkan kau membuat mereka mendapatkan hukuman berat, aku sudah puas!" tambah Ana lagi.


"Oh ya, aku ada rencana untuk mengunjungi klanmu. Kapan kau punya waktu luang? Ini akan jadi kunjungan resmi negara ke sana," ujar Ammo.


"Kau pilih saja waktumu. Aku tak akan ke mana-mana," jawab Ana.


"Baik. Setelah aku koordinasikan dengan protokol, akan kukabarkan lagi," kata Ammo.


"Apa kau tak merindukanku?" Pertanyaan Ammo tiba-tiba berubah ke hal pribadi.


"Apakah harus kukatakan?" Ana bertanya balik.


"Setelah semua urusan pemilu ini selesai, aku ingin kita menikah," ujar Ammo.


"Kau harus hadapi ayahku dulu. Kau pernah mengusirnya!" Ana menahan senyum saat mengingatkan Ammo tentang dosanya.


"Anna! Aku tak tahu jika dia ayahmu. Tindakanku saat itu sudah benar!" Ammo tetap pada pendiriannya.


Anna tertawa kecil, senang berhasil menganggu ketenangan pria itu.


"Aku merindukanmu. Cepatlah datang!" bisik Ana.


Kemudian panggilan telepon itu langsung diputuskannya. Wajahnya menghangat dan pasti bersemu merah karena kata-kata dan bayangan Ammo muncul di pelupuk matanya.

__ADS_1


********


__ADS_2