Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
62. Perawatan Oscar


__ADS_3

"Aku tidak tau. Kami hanya berbincang. Dia bilang, seperti mengenal suara seseorang yang tadi masuk ke ruangan."


Nathalie menjeda kalimatnya. Dia berusaha mengingat dengan tepat, kejadian baru lalu.


"Lalu kubilang, mungkin itu salah satu kenalan atau kolega bisnisnya. Jadi dia berusaha mengingat satu persatu kenalannya. Tapi tak lama, dia mengeluh kesakitan. Hidungnya berdarah, dia menjerit lalu pingsan," tuturnya.


Dokter Sarah sedikit terkejut mendengar penuturan Nathalie. "Apakah sebelumnya dia pernah mengalami hal seperti ini? Atau mungkin dia mengatakan sesuatu tentang penyakitnya? Atau, apa dia pernah melupakan beberapa hal?"


Nathalie diam dan mengingat-ingat. "Sebelumnya, dia memang ada mengatakan bahwa kepalanya sangat sakit. Tapi ...."


"Kau harus jelaskan hal-hal terkecil yang kau tau. Atau dia tak bisa diselamatkan. Kami pernah menangani kasus serupa. Dan menurut penyelidikan, apa yang dialami Oscar bukanlah penyakit alami. Tapi akibat ulah seseorang."


Dokter Sarah bisa melihat keterkejutan yang alami dari Nathalie. Dia menghapus gadis itu sebagai orang yang tau hal itu.


"Adakah orang yang begitu jahat? Dia menyakiti orang yang salah. Oscar selalu berbisnis dengan jujur!" Suara Nathalie meninggi.


"Sejauh ini, kami menemukan tiga kasus serupa. Jika sangat parah, Anda harus menyiapkan hati, jika Oscar tak dapat lagi mengingatmu!" jelas Sarah datar.


"Apa!" Nathalie benar-benar shock sekarang. "Separah itu? Apakah sudah ada korban yang tak mengenali orang lain?" tanya Nathalie takut.


"Ya!" sahut dokter Sarah pendek. Jadi katakan, apa saja yang kau tau. Atau hal-hal aneh dan diluar kebiasaannya."


Sarah meletakkan alat perekam di depan Nathalie. Menunggunya untuk bicara.


"Sebelumnya, ku katakan padanya, bahwa mungkin temannya yang menjebak kami untuk pergi malam itu. Tapi Oscar langsung melarangku meneruskan pemikiran itu."


"Kenapa?" tanya Sarah.


"Karena sebelumnya dia sudah memikirkan hal itu juga. Tapi ketika dia berusaha menerka orang-orang yang mungkin berniat jahat, katanya kepalanya langsung sakit. Jadi dia tak ingin kami membicarakan hal itu," jelas Nathalie.


Dokter Sarah manggut-manggut. Dia mulai menemukan kaitannya. Oscar tak bisa membuka ingatan tentang rekan-rekan kerjanya. Dia juga tak dapat mengingat siapapun kawannya lagi. Apakah ada salah satu dari mereka yang tak boleh diingatnya? Ataukah itu orang yang justru membuatnya seperti sekarang.


"Apa lagi yang kau tau?" tanya Sarah. "Sesuatu yang diluar kebiasaannya, mungkin?"


Nathalie menggeleng. Dia tak melihat hal-hal aneh pada Oscar selama ini. "Aku tak dapat mengingat hal apapun, saat ini."


"Baiklah. Jika kau mengingat sesuatu, sekecil apapun. Kau bisa menceritakannya padaku," ujar Nathalie ramah. "Untuk saat ini, keteranganmu, cukup."

__ADS_1


"Bisakah saya menemui Oscar?" harap Nathalie.


Sarah mengangkat telepon, menanyakan tentang Oscar.


"Kebetulan dia sudah sadar. Kau bisa ikut denganku."


Nathalie mengikuti langkah kaki Sarah yang berirama, sepanjang lorong bercat abu-abu silver. Di kanan kirinya ada pintu-pintu tertutup.


"Apakah itu kamar-kamar pasien?" pikirnya bergidik. Banyak juga pintu kamar di sepanjang lorong, kiri dan kanan.


Sarah berhenti di depan pintu yang dijaga oleh seorang penjaga bersenjata. Lalu pintu diketuk oleh penjaga itu, mengabarkan kedatangan dokter Sarah.


Mereka pun memasuki ruangan yang bersih, dengan nuansa abu-abu serta putih bersih. Ada aksen biru laut yang cerah pada bed dan meja kecil di samping ranjang. Membuat ruangan tidak terlihat monoton. Di sudut ruangan, ada sofa panjang dengan dudukan empuk bahan kanvas, warna abu-abu tua.


Nathalie senang, melihat Oscar sudah sadarkan diri. Tapi ada beberapa perangkat yang terpasang pada tubuhnya. Mereka belum selesai memeriksanya.


Nathalie mendekati Oscar dan berdiri di sampingnya. "Apa kau baik-baik saja sekarang?" tanyanya.


"Sedikit tidak nyaman saja. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Oscar bingung.


"Aku juga tak mengerti. Lebih baik kita tunggu penjelasan dokter saja. Yang kutahu, kau tiba-tiba pingsan di depanku. Jadi aku berteriak meminta pertolongan. Kemudian kau dibawa ke sini," jelas Nathalie lembut.


"Kenapa kau baru datang?" tanya Oscar menyalahkan.


"Kan, tadi kau pingsan. Jadi aku yang ditanyai dokter tentang apa yang terjadi. Setelah itu, kami ke sini."


Oscar tampaknya bisa menerima penjelasan Nathalie. Dia tak mempertanyakan hal itu lagi.


"Aku haus. Bisakah kau mintakan minum untukku?" tanya Oscar. Sekalian tanya, apakah kau boleh tetap di ruangan ini bersamaku."


"Biar kutanyakan."


Nathalie menghampiri dokter Sarah yang sedang berbincang agak jauh dari bed pasien.


"Maaf, Dok. Apakah aku bisa minta air minum? Oscar merasa haus. Dan juga, dia memintaku untuk tetap bersamanya.


Dua dokter itu menoleh pada Nathalie dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Air minum bisa segera kami berikan. Tapi tentang permintaan Anda untuk tetap di sini, itu bukan saya yang menentukannya. Jadi, bersikap baiklah. Jangan menyulitkan kita semua," jawab Sarah dingin.


Nathalie tak menyangka akan mendapat jawaban sedingin itu. Dia jadi mengerti bahwa ada orang berkuasa di balik ini, yang tak boleh disinggung. Atau para tenaga medis ini akan mendapatkan kesulitan juga. Jadi dia hanya bisa mengangguk.


"Baik. Aku akan ikuti pengaturan kalian, asalkan Oscar bisa disembuhkan," ucapnya tahu diri.


"Sembuh atau tidak itu, masih belum bisa dipastikan. Pada dasarnya, semua itu tergantung dari kerjasama pasien sendiri. Dia harus punya kemauan sembuh yang kuat. Dengan tekad yang kuat, baru dia bisa menghadapi rasa sakit yang mungkin datang selama masa pengobatan."


Sarah menjelaskan panjang lebar. Dia berharap Nathalie dapat memompa semangat Oscar untuk sembuh.


Seseorang masuk dengan membawa baki berisi minuman dan makanan untuk Oscar dan Nathalie.


"Jadi, masih belum pasti dia bisa sembuh atau tidak?" lirih Nathalie tak percaya.


Sarah hanya menatap datar ke arah Nathalie. Dia tak berharap gadis itu putus asa secepat ini.


"Kau tak punya banyak pilihan di sini. Membiarkan dia tanpa rawatan, maka penyakitnya bisa makin parah tanpa ada jalan kembali." Sarah menatap mata Nathalie lekat.


"Atau, melawan kejahatan orang yang memberi penyakit ini, dengan merawat Oscar," ujarnya dengan penekanan.


"Apa kau tau siapa orang jahat itu?" tanya Nathalie tak sabar.


"Kami belum tahu," jawab Sarah jujur. Kami harap, dengan merawat Oscar, kami bisa menemukan titik terang serta keterkaitan antara dua kasus sebelumnya, dengan Oscar."


"Berapa lama perawatannya? Sebulan? Dua bulan?" tanya Nathalie.


Sarah menggelengkan kepala. "Ini perawatan jangka panjang. Taoi tentu saja kami akan senang jika dalam sebulan, pasien bisa sembuh." kilah Sarah.


"Lalu bagaimana dengan keluarga kami? Kemarin kami diculik oleh orang lain. Sekarang kami diculik lagi dan dibawa ke sin. Sebenarnya kami salah apa?" ujar Nathalie kesal.


"Sebaiknya, anda bertemu dengan Bos di sini dan tanyakan itu padanya. Tenaga medis tak bisa ikut campur!"


Sarah menekan suaranya sambil menggoyang jari telunjuk di depan Nathalie. Dia mengingatkan sekali lagi, agar Nathalie tidak melewati batas.


"Bersikap baik dan patuh adalah aturan dasar agar kepalamu tetap menempel di leher!" pesan Sarah tegas.


*******

__ADS_1


__ADS_2