Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
90. Titik Terang


__ADS_3

Helikopter mendarat di helipad hotel mewah milik keluarga Oswald. Hari ini jadwal pertemuan rutin bulanan dengan semua menejer yang mengelola hotel juga Mall besar di tiga lantai dasar.


Ammo berjalan cepat menuju ruang pertemuan. Nick mengikuti dari belakang. Beberapa orang, baru kali ini melihat Nick. Tubuhnya yang tinggi tegap dan atletis, berbeda dengan Leo.


Ammo mendengarkan dengan seksama presentasi yang disampaikan bagian marketing. Mereka memang harus bersiap menyambut perayaan musim panas yang akan datang dalam beberapa minggu lagi.


Rapat pagi itu berjalan lancar. Hanya ada sedikit perdebatan, tapi dapat ditemukan solusinya. Dalam dua jam, Ammo sudah berjalan kembali menuju helikopternya.


Kali ini helikopter menuju kedutaan besar negara yang akan dikunjunginya bersama bibi Harriet. Prosesnya berlangsung lama, karena ada banyak juga yang mengajukan permintaan visa kunjungan.


Pukul tiga sore, Ammo kembali menaiki helikopter. Nick sudah mengkonfirmasi kedatangan Ammo di Apartemen mewah milik mereka. Ada rencana konstruksi yang harus segera diselesaikan, agar dapat segera dieksekusi.


Satu harian itu kegiatan Ammo padat. Dia mengunjungi empat tempat berbeda, dan baru kembali pukul sepuluh malam. Wajahnya terlihat lelah dan Ana bisa melihat itu dengan jelas.


Ana merasa dia jadi beban untuk Ammo. Dia sangat tak menyukai ide itu. Dia wanita yang terbiasa mandiri. Tapi harus hidup terkurung karena menjadi buronan Biro. Itu sangat tak mengenakkan. Dia ingin keluar dan mencari informasi sendiri, agar semua rahasia bisa lebih cepat dibuka.


Ana kembali ke arah kamarnya. Diketuknya pintu kamar Ariel. Terdengar sahutan yang mengijinkan masuk, dari dalam.


"Ada apa?" tanya Ariel tak senang. Dia merasa terganggu saat bekerja.


"Aku hanya bertanya tentang hasil pencarianmu," jawab Ana tenang. Dia tak terintimidasi sama sekali dengan sikap Ariel. Dia sudah biasa dengan itu.


"Jika ada petunjuk, pasti langsung kulaporkan pada Ammo!" jawabnya singkat.


"Tapi, ini sudah beberapa hari. Kau lama sekali. Kau tidak bekerja dengan efisien!" kritik Ana.


"Tunjukkan padaku sampai mana pencarianmu. Kalau kita bisa memikirkannya sendiri, kenapa harus menambah beban Ammo!" ujarnya sengit.


"Tidak! Pekerjaanku, biar aku yang urus!" tolak Ariel.


"Mereka bawahanku. Aku mengenal mereka dengan baik. Jika otakmu buntu, mungkin aku bisa membantumu berpikir dan mendapatkan track yang tepat!" sindir Ana pedas.


"Minggir!" Ana menggeser Ariel dari kursinya. Dia duduk di situ dan memperhatikan pencarian yang dilakukan Ariel. Ana mengetik beberapa hal di keyboard. Layar berubah dan menampilkan hal lain, di situ.


"Hei, apa yang kau lakukan? Kau mengacaukan sistem yang kubuat!" sergah Ariel marah.


"Sistemmu tak bisa menjangkau apa yang disimpan terlalu dalam oleh Biro!"


Ana terus bekerja mengetikkan beberapa hal lagi di keyboard. Kemudian di layar muncul banyak titik merah. Ariel tercengang. Dengan cepat dia memasukkan memory tambahan dan meng-copy informasi sangat sensitif itu.


"Sudah!" ujarnya.


Ana dengan segera menghapus jejak peretasan yang tadi dibuatnya. Layar itu hilang seketika, seakan tak pernah berubah. Tampilan depannya adalah sistem pencarian yang dibuat Ariel.


"Mana laptopmu!" pinta Ana.


Ariel kini mengakui kemampuan Ana. Dia tak lagi berdebat, dan segera menyerahkan laptopnya. "Ini!"


Ana meraih laptop dan memasukkan memory tambahan. Keduanya sibuk mengamati dan menganalisa lokasi-lokasi yang ada di layar komputer. Diseling dengan perdebatan dan argumentasi untuk memastikan beberapa hal penting, agar tidak sampai keliru dalam bertindak.

__ADS_1


"Aahh.. selesai juga. Akhirnya kita mendapatkan titik terang," Ariel membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Ana melihat jam di tangannya. Sudah lewat jam satu malam. Pantas dia merasa sangat lelah. Setelah menyimpan hasil pencarian mereka, Ana keluar kamar. Ariel sidah mendengkur keras.


*


*


Pagi hari, Ammo tidak pergi lari pagi. Dia duduk di ruang makan, mendengarkan cerita bibi Harriet. Secangkir kopi dan Croissant telah tersedia di meja.


"Pagi, Tante Harriet, pagi Ammo," sapa Ana.


"Pagi, Dear. Matamu seperti mata panda. Apa kau begadang semalam?" komentar Harriet.


"Ahh, sedikit lupa waktu, Tante," sahut Ana santai. Dia langsung ikut duduk di meja makan.


"Kopi atau teh, Nona?" tanya Theo.


"Kopi. Terima kasih, Theo," ucap Ana tulus.


Theo mengangguk, kemudian menghilang ke arah dapur.


"PR yang kau berikan sudah kami selesaikan," ucap Ana pada Ammo.


"Benarkah? Bagus sekali. Berikan padaku untuk diperiksa!" pinta Ammo.


Ana mengeluarkan kartu memorinya. Tapi masih menahan di tangannya. "Aku ingin ikut serta," tawarnya.


"Tapi—"


"Jika mungkin, kau pasti kuberi tahu!" potong Ammo. Tangannya masih terulur, meminta memori dari Ana.


Bibi Harriet melihat interaksi keduanya dengan bingung. Tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi ada hal yang dipahaminya, gadis di depannya tak bisa ikut serta entah kemana, karena sudah dikenali.


"Ehmm ... kalau masalahnya hanya dikenali, bukankah sangat mudah untuk merubah karakter gadis ini. Buat penampilan yang berbeda, agar luput dari pendeteksian." Harriet memberi ide


Ana dan Ammo menoleh. "Ide bagus, Tante," sambut Ana cepat.


"Aku sudah berpikir untuk merubah warna dan gaya wambutku, memakai sedikit makeup yang berbeda serta mengganti penampilanku jadi orang biasa," ujar Ana.


"Bukankah itu sudah umum? Setiap orang yang tak ingin wajahnya dikenali, akan melakukan hal yang sama!" sergah Ammo. Dia menolak ide itu. Karena sudah dapat diperkirakan.


"Ganti wajahnya dengan topeng!" cetus Harriet.


Ammo menoleh ke arah Harriet dengan terkejut. Keduanya saling tatap. Lalu makin terkejut.


"Mungkinkah...." Harriet tak meneruskan kata-katanya. Tangannya langsung menutup mulutnya yang terbuka.


"Aku akan memeriksanya, Bibi." Angguk Ammo pada Harriet.

__ADS_1


Kemudian Ammo melihat Anna dengan seksama. Lalu Ammo membuka ponsel dan menghubungi seseorang.


"Kau, ikut aku ke kantor hari ini!" perintah Ammo.


Ana masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Dia sedikit tidak waspada. Ammo berhasil merampas memory dari tangan Ana.


"Hei, kau curang!" protes Ana.


Ammo berjalan menuju tangga.


Ana masih ingin protes, tapi suara Harriet mencegahnya.


"Kau sebaiknya segera mandi dan bersiap. Jangan biarkan dia menunggu, kalau kau yang membutuhkan bantuannya. Ingat itu!" Harriet memperingatkan.


"Baiklah. Aku kembali kembali ke kamar." Ana meneguk habis kopinya sebelum berdiri dan meninggalkan ruang makan.


A few moments later.


Ana sudah siap dan menunggu Ammo di meja kopi dekat tangga. Kali ini, dia benar-benar merubah gaya dandanannya. Hingga Ariel sendiri tak mengenani.


"Apa kau bibi Ammo yang lain lagi?" tanyanya.


Ana tersenyum genit. "Aku kekasihnya. Kau siapa?" goda Ana.


"Hah! Serius?" Mata Ariel jelas tak percaya. Ammo yang dingin dan kaku berpacaran dengan seorang tante-tante?


"Mana mungkin!" gumamnya dengan mata yang masih melekat pada Ana.


"Aku seperti mengenal seseorang yang mirip denganmu. Tapi lupa dimana mengenalnya!" Ariel berpikir serius sekarang.


"Dia Ana!" ujar seseorang dari atas tangga.


Ariel menoleh ke atas, lalu kembali ke arah Ana. Dia mencari kemiripan tante-tante di depannya, dengan Ana yang belum lama dikenalnya.


Kemudian mata Ariel melebar. Dia memandang tak percaya ke arah Ana. Kau benar-benar berbeda!" ocehnya ramai.


Ammo sudah sampai bawah tangga. Theo sudah siap mendengarkan instruksi pagi ini.


"Apa kalian akan pergi?" Ariel membuntuti Ana yang sudah lebih dulu berjalan ke halaman.


"Ya," jawab Ana singkat.


"Kenapa tak mengajakku? Donny dan Ivan pergi, Lindsay dan Brandy juga pergi. Sekarang kau pun pergi. Kenapa aku yang selalu di rumah?" protesnya kesal.


"Karena kau adalah mata kami. Kami butuh dukunganmu dari sini. Jadi lakukanlah hal yang lebih berguna, ketimbang berenang sepanjang hari!" jawab Ammo pedas.


Ariel terbatuk mendengarnya. Oke ... oke. Aku akan lebih serius lagi," Ariel tak berdebat lagi. Dia merasa kata-kata Ammo adalah sentilan untuk kinerjanya yang buruk.


"Kami jalan!" ujar Ammo.

__ADS_1


Theo memperhatikan hingga helikopter itu menghilang dari pandangan.


*********


__ADS_2