Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
92. The Twins and Two Others


__ADS_3

Pagi hari.


Ana bangun dengan malas. Dia betul-betul kesiangan. Ada yang kurang dari rumah ini. Ya, mimi ... kucing kesayangannya. Tapi di sini dia tidak berperan sebagai Shasha. Jadi dia tak perlu sok kenal dengan tetangga sekitar. Penampilannya yang sekarang adalah sosok wanita paruh baya. Ana harus mengingat hal itu.


Ana bangkit dari tempat tidur di lantai mezzanin. Dia turun menuju kamar mandi. Langsung menyegarkan diri, mengusir rasa malas.


Secangkir kopi dan hidangan hangat, menemani paginya menonton berita. Bahkan meski dia sudah menjadi buronan Biro K, dia tetap dapat melihat informasi dalam. Karena Ana sudah sangat hafal seluk beluk jalur informasi.


Hal-hal seperti ini tidak bisa dia dapatkan dari Ammo. Ammo mencari berita dari luar, dan Ana mendapatkan informasi dari dalam.


Ana mencari ulang berita lama. Sejak dirinya buron. Dan dia tak terkejut ketika dirinya diburu. Fitnah atas dirinya sebagai pengkhianat dan mata-mata ganda, disebar di Biro. Siapapun yang bisa mendapatkan atau membunuhnya, akan mendapat reward besar.


Ana menggelengkan kepala. Pasti orang yang berpengaruh, yang bisa menggerakkan semua orang seperti ini. Pengejaran besar-besaran dimulai sejak dia melaporkan semua kejanggalan yang dilihatnya pada atasan. Apakah semua hal yang terjadi pada timnya adalah dengan ijin atasannya?


Ana berpikir keras. Jika benar hal itu yang terjadi, berarti dia tidak bekerja pada Biro Intelijen Negara. Tapi terjebak dalam jaringan mafia yang berlindung di dalam Biro. Dia tak ingin mempercayai hal ini. Dia sangat menghormati pimpinan pusat. Selalu percaya, bahwa segala keruwetan di sini, tidak mereka ketahui.


Ana mengucap mukanya. Wajahnya kaku menahan geram. Hatinya seperti disiram air es. Dia begitu kecewa. Semua pengejaran para Hunters memang didorong oleh Biro.


Matanya kembali nanar memeriksa setiap berita. Meng-copy semuanya, agar mudah memeriksa ulang. Tidak setiap waktu dia bisa masuk untuk melihat informasi dalam. Mereka akan secara berkala mereset kode penyiaran, agar tak mudah dibuka oleh pihak lain.


Ana kemudian melihat perintah penyerangan pada satu target. Waktu yang tertera, sangat pas dengan waktu kastil Ammo diserang. Wajahnya menggeram marah. Sejak saat itu dia tak mengetahui keberadaan Maya.


Ana juga melihat informasi mengejutkan. Beberapa ledakan pada aset-aset biro. Kemudian perintah penyerangan pada satu target dengan nama Scorpion. Di waktu yang hampir bersamaan, beberapa properti milik biro di seluruh dunia, meledak bersamaan. Termasuk kantor biro yang ada di sini.


Ana tersenyum dikulum. "Si Scorpion bukan target yang mudah. Dia juga punya jaminan, dan siap meledakkannya untuk pembalasan. Siapa dia?" gumam Ana.


Ana kembali dikejutkan dengan satu berita kecil yang tak terlalu menarik perhatian. Kode The Twins itu membuatnya berpikir tentang Nathalie. Jadi, benarkah Biro yang bertanggung jawab atas keselamatan Nathalie?


"Apakah biro juga yang bertanggung jawab atas kematian ibu?"


Wajah Ana memucat seketika. Dia mencoba merunut semua kejadian sejak masuk ke biro. Tujuan Ana adalah membuka tabir kematian ibu dan mencari ayahnya. Ana berharap dukungan informasi yang tak terbatas di biro, bisa memudahkannya mencari dan melacak keberadaan ayahnya.


"Jika kejadian itu sendiri berhubungan dengan biro, artinya aku hanya seperti anjing yang sedang berputar-putar mengejar ekor sendiri!" geramnya marah.


"Pantas saja pencarianku justru makin kabur ke mana-mana! Aku mencari kebenaran di tempat sampah!" umpatnya.

__ADS_1


"Kalian telah memburuku, setelah aku membuka kedok kalian selama ini? Tunggu balasanku. Aku akan buka lebih banyak kebusukan kalian pada dunia!" tekad Ana.


Tangan Ana bermain pada keyboard. Dia telah men-copy semua informasi yang ada hingga yang terbaru pagi ini. Targetnya adalah The Twins dan dua lainnya.


Mata Ana melotot. Dia langsung kirimkan informasi itu pada Ammo. Entah apakah The Twins adalah Nathalie atau bukan, tapi ini suatu kebetulan, bahwa ada dua orang lainnya, Sanders dan Oscar di tempat yang sama.


Ana menunggu reply Ammo dengan gelisah. Setelah lima menit tak ada jawaban, Ana memutuskan untuk menelepon.


Diraihnya ponsel dan menelepon Theo. Tapi Ammo sudah berangkat bersama Sawyer.


Ana menelepon ke nomor Ammo yang didapatnya dari Theo.


"Ya! Anda mencari siapa?" terdengar suara dari seberang.


"Ini suara Nick!" pikir Ana.


"Aku Ana, apakah Ammo ada bersamamu? Aku ada berita penting!" ujarnya.


Tak lama, terdengar suara khas Ammo.


"Huh ... orang kaku ini. Mana ada pria merayu dengan suara datar begitu?" kesalnya.


"Hei! Apa kau pingsan mendengar rayuanku?" tanya suara di seberang.


"Berhentilah membuat lelucon! Kau tak cocok dengan itu. Aku mengirimkan pesan ke nomormu yang lama. Apakah kau sudah membukanya?" tanya Ana.


"Oh, ponsel itu ada di kantor, jawab Ammo. "Katakan saja ada hal penting apa!" Suara Ammo terdengar serius kali ini.


"Aku mendapat info bahwa akan ada penyerangan dengan target The Twins dan dua lainnya pagi ini. Aku khawatir itu tentang Nathalie, Oscar dan Sanders!" lapor Ana cepat.


"Apa? Baik. Biar kuurus dulu!"


Telepon itu dimatikan.


Ana menunggu dengan gelisah. Tak mungkin Ammo bisa menyusul ke sana. Tempatnya terlalu jauh. Bagaimana mereka bisa ketahuan? Selama ini mereka aman bukan?

__ADS_1


Apakah masih ada pelacak di tubuhku? Saat di kapal selam, mereka juga menyerang tempat itu karena Ana. Dan setelah Ana mengunjungi Nathalie, mereka juga dapat mendeteksi tempat terpencil itu.


"Berarti, aku ada di sini juga sudah terdeteksi oleh mereka?"


Ana langsung melompat dari duduknya dan berlindung di balik meja. Merangkak menuju pantri dan mematikan layar yang tadi dibukanya. Ana kembali bergerak menuju sisi lain rumah. Dia mengaktifkan sistem perlindungan rumahnya. Semua dinding bagian dalam telah dilapisi pelindung senjata api. Kecuali orang-orang itu mulai gila dan mengebom rumah di sebuah kompleks perumahan.


Ana langsung naik ke lantai atas. Kemudian membuka satu lapis dinding di belakang lemari pakaian. Ana menyelinap masuk dan berganti dengan pakaian kerja lapangan anti peluru. Setelah itu, dia mengambil beberapa senjata yang menurutnya paling mudah dibawa. Semua itu dimasukkan ke dalam tote bag yang ada di meja.


Sekarang dia harus sedikit berdandan dan melapisi tubuhnya dengan pakaian yang sesuai.


Satu jam berlalu, Ana telah bertransformasi menjadi wanita paruh baya yang sedikit gemuk. Rambut coklat keriting sebahu sedikit aksen kelabu di rambut palsunya, menegaskan penampilannya yang matang.


Ana memakai sepatu bertumit rendah untuk menunjang penyamarannya. Setelah merasa puas dengan penampilan barunya, Ana menyambar tas di atas tempat tidur. Dia turun dan kembali memeriksa rumah.


"Ah, piring makan dan gelas belum dicuci," gerutunya.


Itu harus langsung dibersihkan, karena dia tak tau kapan bisa kembali ke sini lagi. Tapi dia sudah tak sempat. Jadi piring dan gelas kotor itu dia masukkan ke mesin cuci piring.


Sekali lagi Ana mengecek sekeliling rumah. Dia tak lupa memasang jebakan untuk menghalangi orang yang tak diinginkan, masuk ke dalam tumah.


Ana keluar dan mengunci pintu, dengan kode darurat. Lalu bergegas masuk mobil. Mobil dimundurkan ke jalan. Ana turun untuk mengunci pagar rumah. Saat berbalik, seseorang menegurnya.


"Apa kau orang baru? tanya seorang pria tua.


"Ya." jawab Ana dengan suara yang lebih dalam. Dia langsung masuk ke mobilnya.


"Di mana Shasha?" tanya pria itu lagi.


"Aku tidak tau. Aku hanya penyewa!" ujarnya ketus.


Ana langsung menjalankan mobil keluar menuju jalan raya, lalu menghilang dari sana.


"Ah, kenapa gadis itu menyewakan rumah pada wanita judes seperti itu?" gerutu Simon.


*******

__ADS_1


__ADS_2