Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
129. Tidak Mempedulikan


__ADS_3

"Hahahaha...."


Pria itu tertawa terpingkal-pingkal. "Wanita tua itu putriku? Yang benar saja!" ujarnya tak percaya!


"Anda saja terlihat lebih tua dari seharusnya. Jadi mungkin saja—"


"Apa katamu?" potong Ivan.


"Aku ingat teman-temannya masih muda. Meski gadis itu atasan mereka, tapi rasanya tak mungkin saudara iparmu mempunyai keponakan yang lebih tua darinya! Jadi—"


"Jadi dia mungkin dalam penyamaran!" potong Ivan lagi.


"Gadis yang dirawat di sebelah itu, apa yang membuat dia dirawat di sini?" tanya Ivan.


"Banyak hal buruk yang dialaminya. Jauh dari peri kemanusiaan!" kata Dokter Dorjan, tanpa mau menjelaskan detail.


"Seorang pria yang dibawanya juga dalam kondisi buruk. Kolegaku mengatakan bahwa gadis itu juga menyeret seorang lainnya ke dalam toilet.


Setelah kedatangan Ammo malan itu, aku menanyai semua staf, tentang apa yang terjadi, dan perilaku mereka pada pasien manapun.


Kemudian bagian kebersihan mengatakan bahwa, peralatan kebersihan dipinjam oleh wanita tua itu. Dan dia mendengar jeritan melengking dari sana. Namun setelah mereka keluar, tak ada jejak mencurigakan apapun di situ. Jadi tak mereka permasalahkan.


"Apa pekerjaan mereka sebenarnya, sampai beberapa orang mendapat perlakuan buruk?" gumam Ivan sambil berpikir.


"Pekerjaan Anda yang lalu, juga berakibat buruk. Bisa saja—"


"Tidak! Jangan katakan kalau dia juga agen rahasia!" Ivan kembali memotong ucapan Dokter Dorjan.


Dokter Dorjan menghela nafas. "Saya cuma mau mengatakan. Tindakan Anda bersembunyi dari mereka, tidaklah benar. Bagaimana jika dia terjun ke bidang pekerjaan itu, karena mengikuti jejak Anda?"


Penjelasan Dokter Dorjan membuat tamunya tercengang. "Apakah itu benar?" pikirnya.


"Anda hanya akan menemukan jawabannya, jika bertemu dengan mereka!" pungkas Dokter Dorjan.


Pria tua itu diam sejenak. "Bisakah kau hubungi Alexei dan katakan aku bersedia menemuinya besok! Ujar Ivan.


"Baik. Akan segera kukabarkan!" Dokter Dorjan mengambil ponsel dari saku jasnya. Dikirimnya pesan pada Alexei seperti permintaan Ivan.


"Sudah kusampaikan!" ujarnya. Ivan mengangguk.


*


*


Di kantin, Ana dan Alexei masih melanjutkan obrolan setelah makan malam mereka.

__ADS_1


"Jadi informasi tentang Nick itu dari Alena?" tanya Alexei. Ana mengangguk.


"Yang paling menjengkelkan itu, karena tiga hari ini aku sudah bersikap lunak padanya. Dia benar-benar memaksaku untuk bersikap tega!" ujar Ana geram.


"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Alexei curiga.


"Tidak ada! Aku tak mempedulikannya sejak pagi! Biar dia tahu rasa!" geram Ana.


Sebelah alis mata Alexei naik mendengar tuturan Ana. "Tidak dipedulikan sejak pagi? Berarti tidak kau beri makan dong?" Alexei menyimpulkan.


"Yups ... biarkan dia kelaparan lagi. Biar sadar!" sahut Ana dingin.


Alexei menggelengkan kepalanya tak percaya. "Untuk apa kau repot-repot mengurusnya? Jika dia tak mau buka mulut, artinya dia tak berguna! Selesai!"


Ana manggut-manggut mendengarnya. "Jika dia tak berubah juga, akan kubereskan!" janji Ana.


Ponsel Alexei bergetar. Dibacanya pesan masuk. Kemudian menunjukkan pesan itu pada Ana. "Dia bersedia bertemu, besok!"


"Ayah?" bisik Ana.


"Yah ... aku harus meninggalkanmu lagi besok. Apa kau ingin kubelikan sesuatu?" tanya Alexei lagi.


"Tidak perlu. Besok aku ikut. Aku harus menemuinya!" putus Ana.


"Tapi—"


"Bisa saja itu bukan salahnya. Jadi jangan emosi dulu. Kau tak boleh menuduh seseorang, tanpa penyelidikan dan bukti, lebih dulu!" Alexei memperingatkan Ana dengan tegas.


Gadis itu terdiam sesaat. Tapi di matanya terlihat nyala api amarah. "Aku takkan membiarkan kematian ibu tanpa penjelasan. Aku masih ingat genggaman tangannya yang kuat di ujung usianya. Matanya yang sedih terus menatapku, bahkan setelah ibu tak bernafas!"


Suara Ana tercekat. Bendungan di matanya hampir jebol. Alexei merengkuh bahunya ke dalam pelukannya. Dan tangis itu akhirnya pecah.


"Aku rindu ibu, Paman," ujarnya terisak-isak. "Aku selalu memimpikannya, seakan permintaan agar aku mencarikan keadilan untuknya...."


Alexei mengusap matanya. Bagaimana tidak sedih? Orang yang diceritakan Ana adalah adik kandungnya sendiri.


Dari sudut lain kantin, koki, kapten dan pelatih melihat adegan itu dengan pertanyaan besar.


"Apa arti pelukan dan tangisan itu? Kukira akhirnya Mayor akan menemukan kebahagiaannya dengan wanita itu," bisik pelatih.


"Artinya, mereka tidak seperti dugaanmu!" sahut koki dengan suara rendah.


"Wanita itu sedang punya masalah. Itu sebabnya dia di sini sekarang. Mayor bertugas melindunginya. Jadi, mungkin mereka sedang membahas masalah itu!" timpal kapten.


"Benarkah? Masalah apa? Apa kau tahu?" desak koki dan pelatih.

__ADS_1


Kapten menggeleng. "Tidak tahu. Aku yidak tanya detailnya. Kalau kalian sangat ingin tahu, tanya saja sendiri ke sana!" ujar kapten.


"Hah ... baiklah. Ini sudah waktunya tutup. Kalian pergi saja, sana!" usir koki.


"Mayor saja masih di sini, kok," bantah pelatih.


"Dia pemilik tempat ini. Dia yang membayar gaji kita! Pergi sana! Aku mau beres-beres, lalu istirahat!"


Koki itu mendorong kapten dan pelatih keluar dari kantin. Kemudian diangkatnya semua piring kotor dan membawanya masuk ke dapur.


*


*


Pukul enam pagi.


Ana dan Alexei sudah bersiap. "Kau tak mau melihat tawananmu dulu?' tanya Alexei.


Ana menggeleng. "Tak perlu!" katanya ketus. Kemudian keluar rumah dan masuk ke mobil.


"Sebentar aku lock dulu basement itu, agar dia tak bisa ke mana-mana!' Alexei turun ke bawah dan terkejut melihat koleksi senjatanya hilang semua. Dis langsung ke mobil dan bertanya.


"Apa kau yang memindahkan koleksi senjataku?" selidiknya.


"Iya!" angguk Ana. Aku tak mau jika dia berusaha keluar, lalu menemukan begitu banyak senjata di depan matanya!" jawab Ana jujur.


Alexei merasa lega. "Kau simpsn di msna?" tanyanya lagi.


"Di samping tempat tidurku, di loteng!" sahut Ana.


"Astagaa...." Alexei menggeleng-gelengkan kepala sambil kembali masuk ke rumah.


Dilihatnya loteng tempat Ana tidur. Di sudut tersembunyi, semua senjatanya disembunyikan. Alexei turun kembali dan langsung menuju basement. Dia memencet satu tombol tersembunyi, yang biasa dipakai untuk menggantungkan senjata.


Setelah satu menit, tombol itu diaturnya lagi. Kemudian pintu ruang rahasia itu dikuncinya dengan dua lapis dinding yang terbuat dari baja.


Alexei kembali ke atas dan mengunci basement dari atas. Setelah semua selesai, barulah dia siap untuk pergi tanpa perasaan cemas.


"Ayo kita pergi!" ujarnya sambil menyalakan mobil. Perjalanan ini lumayan jauh. Mereka harus melintasi kota.


"Paman, kenapa kau tidak menikah?" tanya Ana iseng.


"Tak ada waktu untuk itu. Aku terus mencarimu bertahun-tahun. Tak sempat memikirkan hal lain. Dan tak ada wanita yang bersedia jika aku membagi pikiran untuk keluargaku!" jawab Alexei jujur.


"Kurasa, nenek dan kakek pasti berharap Paman juga punya keluarga sendiri, alih-alih menghabiskan usia untuk mencari keponakan yang belum pernah kalian temui!" sesalnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu risau. Kau harusnya berbagi bebanmu denganku. Bukan sebaliknya!" Alexei terkekeh geli.


*******


__ADS_2