Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
39. Serangan Penerobos


__ADS_3

Dipilihnya salah satu bangku di sisi ruangan, dan memutuskan untuk duduk menunggui Ana di situ.


Dari posisi itu, dia bisa leluasa melihat ke pintu dan juga tempat tidur besar di tengah kamar.


Ammo berpikir, bagaimana caranya membantu mengembalikan ingatan Ana yang telah dihapuskan oleh biro. Tapi sekarang dia tak bisa mempercayai siapapun. Jika dia salah langkah, maka hidup mereka berdua bisa langsung berakhir.


"Dia belum bangun?"


Suara Maya menyadarkan Ammo. Dia menoleh ke pintu kamar. Kemudian berdiri.


"Ku serahkan dia padamu," kata Ammo sambil berlalu.


"Mnn!" gumam Maya.


Maya mengawasi hingga Ammo menghilang di balik pintu kamarnya.


"Dia tak jadi makan?" gumam Maya.


*


******


Di ruangannya, Ammo duduk di depan meja kerja. Mengeluarkan layar transparan di atas meja kerjanya. Dia mengawasi setiap hal yang tersaji di sana. Anak buahnya telah mengirimkan berbagai informasi yang dimintanya sejak pagi hari.


Satu jam lamanya dia mencoba menyusun puzzle yang ada. Tapi itu tidak mudah. Informasi yang tersaji hanyalah permukaannya. Ammo harus menemukan link yang hilang. Tapi dia merasa buntu sekarang. Jadi ditutupnya layar transparan dan membuatnya menghilang.


Ammo berniat untuk berangkat tidur untuk merefresh pikirannya. Tapi tiba-tiba dia merasa lapar. Akhirnya dia berbalik dan membuka pintu kamar. Kamar Ana terlihat tenang. Jadi Ammo meneruskan langkah menuju dapur.


Di dapur, dia melihat makanan yang tadi di buat, diletakkan dalam mesin ppenghangat. Tapi dia tak berselera untuk makan berat, karena sudah ingin segera tidur.


Tangannya mencari-cari di sesuatu di dalam kulkas. Dia menemukan sepotong cake entah apa. Diangkatnya dan dibawa ke meja pantry. Diraihnya sendok dari laci.

__ADS_1


Ammo baru saja menyendok kue, ketika radar di jam tangannya berbunyi berkedip-kedip. Muncul dua titik asing mendekati pulau karang pribadinya.


Ditinggalkannya kue itu di meja dan segera berlari ke kamar Ana.


"Angel!" teriaknya. Tapi Ammo segera terkejut tatkala melihat Ana sudah tak ada. Dan Maya dalam keadaan terikat mulut, tangan dan kakinya, sedang bergantungan di jendela kamar bersama seseorang berpakaian gelap dan mengenakan masker. Itu adalah jendela yang waktu itu dibuka Ammo, yang langsung mengarah ke laut.


Orang itu menarik Maya melompat, terjun ke arah laut. Ammo mengejar dan menekan satu tombol rahasia di sisi jendela. Tangannya dengan cekatan membidik, lalu menembak ke arah dua orang itu.


Maya yang bergantungan pada tali, langsung jatuh saat bahunya terkena tembakan Ammo. Namun orang satunya lagi tak terlihat lagi.


"Angel!" teriaknya parau ke arah laut yang gelap. Wajah Ammo memerah menahan marah. Tampangnya jadi menakutkan.


Di luar sana, terjadi hal yang pasti tak diduga oleh para penerobos ini. Sejauh setengah mil dari pulau ini adalah area pribadinya yang telah diberinya benteng tak kasat mata. Kecuali benteng itu dipicu, maka dia tak kan keluar dari kedalaman laut dan tidak aktif sama sekali.


Ammo melihat ke arah jam tangannya. Seluruh titik-titik asing itu berada dalam jangkauan benteng. Mereka terjebak dan tak kan bisa ke mana-mana lagi.


Lalu Ammo memencet tombol lain. Dia mencari keberadaan Ana dari sinyal kalung yang tadi saat Ana pingsan, diberinya alat pelacak. Ammo heran, melihat titik biru yang ada di radar jamnya. Posisi Ana ada dekat sekali dengannya.


Ammo mengarahkan radarnya ke kanan dan kiri tubuhnya, untuk mengetahui posisi Ana. Tiba-tiba sebuah peluru melesat masuk melalui jendela yang terbuka. Ammo berhasil mengelak dari peluru maut musuh


Ammo melihat radarnya. Dia menemukan posisi Ana dan segera berlari ke arahnya. Ana ternyata tertidur sambil duduk di toilet.


"Ana! Apa kau baik-baik saja?"


Tangan Ammo menyentuh pundak Ana. Gadis itu tersentak, seperti baru baru bangun dari tidur. Matanya menatap Ammo garang.


"Untuk apa kau menerobos ke sini? Mau mengintip?" tuduh Ana marah.


Ammo terpaku di tempatnya.


"Apa kau tidur di toilet?" tanyanya heran.

__ADS_1


"Keluar kau! Maya! Seret orang mesum ini keluar!" teriak Ana marah.


"Sebaiknya kau cepat selesaikan. Kita harus segera pergi!" Ammo keluar dari kamar mandi.


"Maya!" teriak Ana lagi.


"Aku lupa bilang, dia sudah pergi dibawa orang dari jendela. Ku kira, kau—"


"Apa maksudmu dia pergi?" potong Ana panik.


Di luar sudah terdengar suara tembakan. Kemudian dibalas tembakan beruntun senapan mesin yang dipasang Ammo.


Ana menunduk dan segera menyelesaikan hajatnya kemudian merapikan pakaiannya.


"Ada apa? Apa maksudmu dia tak ada?" Kali ini nada marah itu berubah jd nada khawatir.


"Lupakan itu. Kita harus pergi dari sini. Aku yakin, ada yang membocorkan tempat ini. Dan tak lama lagi, akan datang lebih banyak orang lagi. Ayo!" ajak Ammo.


"Sebentar. Aku ambil perlengkapanku!" ujar Ana.


Ammo mengangguk. Dia juga segera berlari ke kamar dan menyelamatkan beberapa file penting. Semua itu dimasukkan dalam ransel dan dipasang di punggungnya.


"Kau sudah selesai?" tanya Ana dari pintu kamar. Dia juga menyandang ransel di punggungnya.


"Ayo!"


Ana dan Ammo berlari menuju pintu lift. Ammo masuk ke kamar di sebelah lift. Dia mengaktifkan seluruh sistem perlindungan, pertahanan dan penghancuran kastil ini.


Keduanya turun dengan lift ke lantai dasar. Dan segera berlari menuju dermaga kapal selam. Beberapa ledakan terjadi. Dan batu-batu cadas ini bergetar. Lampu berkedip-kedip.


"Cepat!"

__ADS_1


Ammo menarik tangan Ana agar segera berlari. Kastil ini sudah dipasangi mode penghancuran. Dan itu bisa kapan saja terjadi, bila intensitas serangan makin meningkat.


*******


__ADS_2