Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
177. Serangan Ana


__ADS_3

Gan menemukan beberapa orang tergeletak bersimbah darah. Mungkin itu tadi orang-orang yang menembakinya dan dilempari dengan granat. Suara tembakan terdengar dari balik tembok di kanannya.


Gan berlari dan berlindung di balik tembok. Kemudian mengintip keadaan di balik itu dengan mengarahkan jam tangannya sedikit melewati tempatnya bersembunyi.


Dua orang berada tak terlalu jauh darinya dan sibuk menembaki ke satu tempat dan mendapatkan tembakan balasan yang terdengar samar.


Gan memanggil dua temannya untuk mendekat dan mulai menyerang dua orang yang bersembunyi itu. Mereka bersama\=sama menembaki dua orang itu dari arah belakang.


Keduanya terlihat kaget oleh serangan tak terduga itu. Tapi tak ada tempat perlindungan lagi. Hanya ada satu jalan untuk menghindari serangan, yaitu membuka pintu exit. Tapi itu berarti harus menghadapi Ana dan Khouk yang berada di balik pintu basement.


Mereka memilih jalan itu, karen lawan di atas ada tiga orang. Namun perkiraan mereka salah. Ana yang mendengarkan suara tembakan dari arah lain, segera menyadari bahwa Gan telah datang untuk membantunya. Dia keluar dan melihat dua orang musuh masuk ke tangga exit.


Tanpa dikomando, Khouk menembaki dua orang yang tak menduga musuhnya sudah keluar. Mereka berdua berubah jadi papan sasaran tanpa sempat membalas tembakan Ana. Setelah menerima muntahan peluru pistol Khouk dan Ana, tubuh keduanya menggelinding jatuh tak bernyawa.


"Pemimpin!" teriak Gan dari atas.


"Ya, aku di sini!" sahut Ana. Dengan cepat kakinya melangkah melewati tubuh-tubuh yang berserakan di tangga.


Gan membuka pintu Exit dan melihat Ana berlari naik tangga ke arahnya.


"Anda baik-baik saja?" tanya Gan khawatir.


"Berkatmu! Terima kasih. Ayo kita cari mereka!"


Ana keluar dan menemukan dua orang anggota klan lain yang mengawasi jalan masuk ke arah pintu exit.


"Mereka pasti bersembunyi di lantai atas gedung!" ujar Khouk.


"Ya, aku tertipu!" Ana membawa keempat bawahannya ke arah Hall, kemudian keluar dan masuk mobil. Semua kembali ke mobil masing-masing.


Kali ini Ana tak lagi mengasihani mereka. Tadinya dia tak ingin membunuh terlalu banyak orang, Tapi jebakan di basement terbukti bahwa mereka memang bermaksud menghabisi Ana, bahkan meskipun itu artinya mengorbankan anggota mereka sendiri.


Ana menekan tombol peluncur roket kecilnya. Kali ini dia mengarahkannya sedikit ke arah atas, agar bisa meruntuhkan bagian atas bangunan tersebut. Dengan hati dingin, gadis itu menekan tombol peluncur. Sebuah roket kecil melesat cepat dan mengguncang bangunan di tengah-tengah lantai tiga, Lubang besar tercipta di dinding.


Ana juga menembaki bekas bensin yang membasahi bagian depan dan dalam gedung. Api yang memercik dengan cepat berubah jadi kebakaran besar dan menyambar ke segala arah.

__ADS_1


Ana mengamati bangunan itu. Sekarang tak ada lagi jalan keluar bagi orang-orang di atas, selain melawan balik dari jendela-jendela. Tapi semua anggota klannya sudah mengarahkan senjata otomatisnya ke arah jendela-jendela yang sudah kehilangan kacanya.


"Bersiap!" ujar Ana.


"Bersiap! ulang Gan memberi komando.


"Apa yang kau inginkan?" Terdengar teriakan dengan pengeras suara dari atas.


Ana membuka kaca jendela mobilnya, lalu menoleh ke arah orang yang berbicara. Ana tidak mengenalnya sama sekali.


"Aku mau pimpinan biro ini keluar dan menghentikan fitnahan busuknya terhadapku!" teriak Ana.


"Dan kalian jangan coba-coba bermain taktik denganku. Aku takkan segan-segan meruntuhkan gedung ini!" teriaknya memperingatkan.


"Apa anda mengenal pimpinan kantor ini?" tanya Gan.


"Tidak! Tapi pernah bertemu sekali dalam satu acara penghargaan. Tak lama sesudah itu, mereka justru memburuku dengan alasan tak jelas!" ujarnya marah.


"Angel! Kau sudah menyalahi aturan dan melakukan kesalahan berat!" Terdengar lagi suara dari speaker.


"Kalian bersiaplah dan amati sekitarnya. Dia pasti sedang mengulur waktu.


"Ammo, bagaimana situasi di Slovstadt?" tanya Ana.


"Tidak terlalu memuaskan. Progresnya terlalu lamban. Tapi orangku sudah berhasil masuk. Semoga saja mereka berhasil menguasai keadaan!"jawab Ammo.


"Bagaimana denganmu?" tanyanya balik.


"Pimpinan biro ini seperti ingin mengulur waktu. Kurasa dia menunggu bantuan dari pusat! Bisakah kau atasi kantor pusat biro di sana lebih dulu?"


"Akan kukatakan pada mereka yang di lapangan!" jawab Ammo.


"Atau kau keluar saja dan serahkan pada kapten Lance. Maka semua akan segera selesai," saran Ammo.


"itu akan menyebabkan kerusakan besar di sekitar. Aku tak mau melakukan hal seperti itu, yang bisa membuatku diburu oleh aparat negri ini!" jawab Ana.

__ADS_1


"Yah, yang terjadi sekarang adalah urusan domestik negara Slovstadt, Tapi aku yakin, pimpinan biro akan segera mengatakan bahwa kau adalah kriminal internasional. Dengan begitu kau juga akan diburu oleh negara-negara lain!" duga Ammo.


"Mari kita lihat seberapa berani dia!" ketus Ana.


Ana menurunkan kaca jendelanya. "Apakah merubah wajahku dan menghapus ingatanku bukan kesalahan berat dan melanggar kemanusiaan? Kenapa kau melakukannya dan memburu aku dan anggota timku tanpa aku tahu apa kesalahan kami!" Kau jangan menebar fitnah untuk menutupi persekongkolan busukmu!" balas Ana setelah sekian lama.


"Kalau kau tak turun, aku akan meratakan tempat ini dan semua isinya! Itu sepadan setelah semua yang kalian lakukan pada keluargaku!"


Ana mengeluarkan lagi peluncur roket kecilnya. dan kali ini diarahkan tepat ke arah orang tersebut.


Kalian semua juga, arahkan peluncur roket kalian ke sana!" perintah Ana.


"Siapkan peluncur roket!" perintah Gan. Mobil-mobil yang ada di halaman mengeluarkan peluncur roket kecil mereka. Semuanya diarahkan ke lantai dua, tiga, dan empat.


Orang-orang diatas itu terkejut. Tak mengira Angel membawa pasukan dan senjata berat sebanyak itu.


"Jangan gegabah, Angel! Jika kau kelewatan, Kau akan jadi buronan internasional!" teriak orang dia atas masih sok kuasa.


Ana membalas perkataannya dengan menembakkan roketnya tepat ke arah jendela tempatnya berdiri. Orang itu terkejut dan segera menghindar. Tapi jendela itu berubah jadi lubang besar. batu-batunya beterbangan ke mana-mana.


Sejurus kemudian, Gan memerintahkan anak buahnya untuk ikut menembaki.


Tak sampai lima menit. Bagian depan bangunan itu sudah tak berbentuk lagi. Tapi tampaknya Ana masih belum puas. Dia meluncurkan lagi senjata dengan kejut listrik. Dengan segera aliran listrik merembet ke seluruh dinding. Tak memberi kesempatan orang-orang itu untuk bernapas lega karena terhindar dari tembakan roket.


Jeritan-jeritan memilukan terdengar bersahutan. Namun Ana masih melemparkan satu lagi peluru listriknya, tepat ke dalam lubang yang menganga terbuka. Dan itu benar-benar kejut listrik yang besar, karena jatuh tepat di antara orang-orang yang baru saja lepas dari setruman pertama.


Teriakan histeris terdengar sebentar, sebelum hening yang mencekam. Ana mengambil pedang dan pisau yang diletakkannya di bagian bawah jok yang didudukinya. Kedua senjata tajam itu memiliki sarung denga tali yang segera disilangkan di badannya.


"Aku akan memeriksa ke atas sana. Kau awasi mereka yang kabur. Jangan beri ampun siapapun yang kabur setelah mereka mengabaikan peringatanku tadi!" perintah Ana.


"Biarkan aku ikut!" pinta Gan.


"Jika sekali kau membantahku, kau dibebas tugaskan!" sahut Ana dingin. Gadis itu sudah keluar dari mobil dan berjalan ke dekat bagian gedung yang tidak dijilat api.


Gan terpaku di tempat duduknya. Dia khawatir, tapi perintah Ana harus diikuti. Atau dia tak bisa melindunginya lagi.

__ADS_1


**********


__ADS_2