
Selesai makan, Ana kembali memeriksa rekaman yang terus membuatnya pingsan. Namun kali ini dia tidak sendiri. Profesor Stone, Khouk dan perawat siap siaga di dekatnya.
Dia memeriksa dengan teliti rekaman cctv tersebut. Hingga kemudian menghentikan video yang berjalan. Kemudian memperbesar layar dan menunjuk satu foto dari kolase foto di dinding kantor. Ana menunjuk satu foto.
"Aku mengingat orang ini!" ujarnya yakin. "Tolong diperbesar agar aku bisa mengamatinya. Aku yakin ada sesuatu dengannya!"
"Kau yakin bukan orang yang datang ini yang memicu sakit kepalamu?" tanya Profesor Stone.
"Aku tidak mengingatnya. Entah apakah dia terhubung dengan jaringan orang yang ingin menyingkirkanku atau tidak. Tapi saat ini aku belum mengingatnya sama sekali." Ana bersikukuh dengan jawabannya.
"Baiklah." Profesor Stone berdiri dan menghubungi seseorang.
Dengan ijin Kapten Lance, Kevin kembali membantu Ana. Sebuah foto yang telah diperbesar dan dicetak, disodorkan padanya. Ammo juga mendapatkan foto yang sama, disertai dengan informasi yang diberikan Ana.
"Tolong bantu aku menggali ingatan tentangnya," pinta Ana pada Profesor Stone.
"Pemimpin!" protes Khouk. "Anda baru saja pulih. Tindakan seperti itu sangat membahayakan. Saya tidak setuju!" kata Khouk.
Ana diam sebentar. Kemudian menghempaskan napas dengan kasar. "Kau dibebas tugaskan, Khouk! Kembali ke kamar perawatanmu!" perintah Ana tegas. Matanya menatap tajam pada pria itu.
Khouk ingin protes, tapi dia tahu itu sia-sia dan sangat salah. Dia tak boleh membantah keputusan Ana. Mata tegas itu menunjukkan tekad sekuat baja untuk segera mengetahui rahasia yang tersimpan dalam ingatannya. Khouk keluar ruangan tanpa bicara apa-apa.
Setelah pintu tertutup, Ana menoleh pada Profesor Stone. "Mari kita mulai. Makin cepat terpecahkan, makin baik. Ammo membutuhkannya saat ini!" kata Ana yakin. Gadis itu lebih dulu membaringkan dirinya bahkan sebelum Profesor Stone bereaksi.
"Prof!" Perawat mengingatkan pria itu.
"Ya?' Pria itu melihat perawat yang menunjuk ke arah Ana berbaring.
"Oh, iya. Baiklah. Mari kita mulai," ujarnya. Pria itu mengambil duduk di kursinya. Ditunjukkannya lagi foto itu pada Ana untuk membuatnya mengingat dengan jelas.
Kevin keluar dari ruangan, karena tidak berkepentingan dengan kegiatan itu. Di luar, dilihatnya Khouk tetap berdiri di balik pintu, Menunggu dengan khawatir proses terapi yang akan dilakukan Ana. Kevin menepuk pundak Khouk beberapa kali, kemudian berlalu dari sana. Tugasnya sudah selesai.
Selama dua jam Ana di dalam ruangan, berkali-kali Khouk mendengar teriakan gadis itu. Hal itu sungguh menguji kesabarannya. Dia harus tetap berdiri di luar ruangan dan tidak menganggu urusan yang sudah diputuskan Ana.
__ADS_1
Wajah Khouk berkeringat membayangkan keadaan gadis itu di dalam sana. Kemudian keadaan kembali tenang. Namun hal ini justru makin menggelisahkannya. Khawatir gadis itu pingsan lagi. Sunyi yang mencekam itu membuatnya seperti sedang duduk di atas bara.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Profesor Stone. Dia telah keluar ruangan dan mendapati Khouk berjalan mondar-mandir di depan ruangan perawatan Ana.
Khouk berbalik dan mendatangi profesor Stone. "Bagaimana dengannya? Apa dia baik-baik saja?" Mata Khouk mencari kebenaran di daalam mata Profesor Stone.
"Ketua Klan-mu baik-baik saja. Sekarang dia kembali tertidur. Aku memberinya obat untuk bisa beristirahat dengan cukup."
Profesor Stone mengangguk mengerti saat Khouk masih melihatke arahnya dengan serius. "Ya, kau boleh menungguinya di dalam. Tapi jangan mengganggunya!" Profesor Stone memperingatkan.
"Terima kasih." Khouk langsung masuk ke ruangan tempat ana dirawat.
"Pengawal yang berdedikasi," gumam Profesor Stone. Kemudian pria itu berlalu. Dia harus mengurai dan menyimpulkan hasil evaluasinya hari ini.
*
*
Kondisi Ammo masih belum lepas dari lubang jarum. Namun, dengan berbagai info rahasia yang mereka sebarkan, sebagian besar rakyat kini ikut mendukung gerakan protes dan turun ke jalan-jalan untuk meminta pergantian kekuasaan.
Orang yang didesak Amoo lewat bawahannya adalah ketua parlemen. Pria itu dipaksa untuk mengadakan rapat darurat para anggota parlemen untuk membahas situasi terkini.
Pada dasarnya Ammo ingin orang itu menggiring keputusan untuk memecat penguasa yang saat ini sedang didemo. Dia membekali pria itu dengan berbagai informasi kebusukan yang disimpan oleh Biro Klandestine yang merupakan badan intelijen negara.
Para anggota parlemen memang terkejut saat semua bukti dibuka. Tapi tentu saja, ada sebagian yang merupakan bagian dari penguasa. Mereka berusaha keras membantah dan menggagalkan rencana penggulingan.
Para anggota lain masih tidak yakin, karena militer masih memberikan dukungan penuh pada penguasa. Jadi rapat yang diharapkan Ammo bisa mempercepat proses, justru membuat semuanya jalan di tempat.
"Coba kalian gali rahasia petinggi militer!" perintah Ammo kesal.
"Baik!"
Donny dan Ivan hanya bisa mengangguk. Mereka kelelahan dan butuh tidur yang cukup. Ammo selalu menyemangati mereka dengan membandingkan dengan keadaan para demonstran di lapangan yang kehujanan dan kepanasan, juga kehausan dan kelaparan.
__ADS_1
Hal itu membuat Ariel, Ivan, Donny dan petugas tambahan yang disediakan Kapten Smith akhirnya diam. Mereka kembali bekerja dan memelototi segunung berkas.
Ammo memeriksa ponselnya. Ada pesan masuk dari Profesor Stone. Juga foto pria yang ternyata membuat Ana sakit kepala. Ammo memiringkan kepalanya melihat foto itu. Dia merasa ingat sesuatu.
Dipejamkannya mata dan berusaha mengingat orang-orang yang menjadi musuh usahanya, ataupun musuh yang ingin melenyapkkanya.
Matanya terbuka dengan cepat, seiring meluncurnya sebuah nama dari bibirnya. "Tuan Alistair!" serunya terkejut.
"Siapa?" tanya Ariel yang terkejut mendengar seruan Ammo.
"Tidak. Bukan tentang pekerjaan kalian. Ini tentang memori Ana," ujarnya. Ammo kembali membuka laptop dan memeriksa data internet tentang orang tersebut.
"Fix. Dia adalah Tuan Alistair. Skerang aku mengerti kenapa dia begitu ingin mendekat dan mengambil perusahaanku. Bahkan merayu anggota keluarga dengan uang. Ternyata dia bagian dari Biro Klandestine!" geramnya marah.
Ammo segera mengirimkan balasan pesan pada Profesor Stone dan mengatakan bahwa dia mengetahui tentang pria itu, Seorang pengusaha luar negri yang ingin mengambil perusahaannya. Juga meletakkan seorang sekretaris untuk memata-matainya selama bertahun-tahun.
"Semoga Ana bisa mengetahui rahasia apa yang begitu besar sampai dia mengalami operasi radikal dan penghapusan ingatan," balas Profesor Stone.
Ammo terus berpikir tentang apa yang dialami Ana. Hal itu juga dialami Oscar dan Nathalie dalam kadar sedikit. Namun yang lebih parah adalah yang dialami temannya Sanders yang berganti nama menjadi James.
Ammo mengirimkan foto Tuan Alistair pada Doktor Sarah yang saat ini merawat Sanders dan Oscar.
"Tunjukkan foto ini pada Sanders. Tanya apakah dia mengenal orang di foto dan siapa namanya," perintah Ammo.
Balasan dari Doktor Sarah tak sampai satu jam. Sebuah pesan masuk dengan tulisan. "Kata Sanders, itu Tuan Lindl."
"Apa!" seru Ammo keras. Dia tak dapat menutupi emosinya saat ini.
Jadi Tuan Alistair yang dikenal publik adalah juga Tuan Lindl yang merekrut Sanders atau James.
"Berapa banyak yang ditaruhnya di kantorku? James, Rosie dan Leo? Apa yang sangat diinginkannya dari perusahaanku?" batin Ammo.
********
__ADS_1
Tentang Tuan Lindl bisa dibaca ulang di bab 23.
tentang Tuan Alistair ada di bab 43.