
Ana keluar rumah dengan wajah ditekuk. Dia berjalan ke lapangan tempat latihan. Lalu mulai berlari dan berlari, untuk menghilangkan kepenatannya.
Para mantan tentara yang direkrut Alexei hanya melihatnya dari tempat mereka latihan. Kapten yang ada di situ juga memicingkan mata melihat seorang wanita tua berlari dengan membawa beban pikiran.
Kapten menoleh pada pelatih dan menganggukkan kepala. Pelatih itu mengerti.
"Ayo, kita juga berlari. Jangan kalah dengan nyonya itu!" ajak pelatih.
"Siap, Komandan!" sahut mereka serentak. Kemudian mengikuti langkah komandannya berlari-lari kecil.
Beberapa saat kemudian Ana menyadari, dua puluh meter di belakangnya, ada sekelompok rekrutan sedang berlari dalam barisan. Ana berlari sedikit ke pinggir jalan, untuk memberi mereka ruang.
"Mari berlatih bersama, Nyonya," ajak pelatih itu.
"Oke!" sahut Ana. Dia ikut berlari tepat di belakang pelatih.
Pada akhirnya, hingga tiga jam Ana terus mengikuti seluruh proses latihan bersama para rekrutan. Dia senang, karena akhirnya memiliki waktu untuk menyegarkan tubuh dan menjernihkan pikirannya.
Setelah makan siang bersama, dia kembali ke rumah mungil Alexei.
Ana langsung mandi. Kemudian memasak sebungkus mie instan untuk Alena. Dia juga membawa kotak obat untuk membersihkan luka dan mengganti perbannya.
Ana turun ke basemen dan membuka pintu ruang rahasia yang sempit itu. Alena masih tertunduk di kursinya.
"Apa kau sudah mati?" tanyanya sambil menaruh mangkuk mie dan kotak obat.
Ditariknya kepala Alena ke belakang. Mata gadis itu sayu. Dia sudah lemas.
"Kau tak setangguh yang kukira! Bagaimana George palsu itu bisa begitu memanjakanmu? Apakah kau kerabatnya?" tuduh Ana.
Alena tak membalas ucapan itu. Tapi terlihat bereaksi. Dan Ana dapat melihat reaksinya meskipun berusaha ditutupi Alena.
Ana mengambil kotak obat dari meja di ujung ruangan. Didorongnya tubuh Alena lebih menunduk ke depan. Kemudian menarik plester penutup luka dengan sekali tarikan keras.
"Aakhh!" terdengar teriakan kecil gadis yang terlihat sangat ingin bertahan.
Kejengkelan Ana kembali. Dibersihkannya luka itu dengan kasar dan membuat Alena merintih tanpa sadar.
"Apa kau begitu suka disakiti? Apa kau mengidap kelainan kejiwaan?" rentetan pertanyaan Ana membentur tembok. Alena hanya merespon dengan rintihan, setiap kali Ana sengaja menekan bekas lukanya.
"Jangan kau kira aku sengaja menyakitimu! Pelacak itu harus dibuang demi keselamatanmu sendiri! Apa kau mau posisimu diketahui The Hunters, jika kau dioperasi oleh Dokter Rumah Sakit!" ujar Ana kasar.
__ADS_1
"Atau kau tidak dengar bagaimana perlakuan mereka pada orang sendiri yang dalam sekejap berubah menjadi musuh. Mereka tak segan melecehkanmu! Melakukan yang terburuk, berharap kau berakhir gila! Agar tak perlu dikhawatirkan lagi!"
Ana masih terus menjejali kepala Alena untuk merubah pola pikirnya.
"Aku pernah melihat seorang wanita sepertimu yang dilecehkan secara brutal dan sadis. Sayangnya pertolonganku terlambat. Dia kehilangan pikiran warasnya sekarang. Apa kau mau berakhir seperti itu?"
"Ini bekas lukamu. Banyak nanah yang harus kubersihkan!"
Ana menunjukkan kapas yang kotor ke hadapan Alena. Gadis itu memandangi kapas itu dengan sayu. Bintik-bintik keringat memenuhi bidang dahinya akibat rasa nyeri hebat yang dialaminya.
Ana keluar untuk membuang sampah kapas ditangannya. Dan dia bergegas kembali sebab teringat, lupa mengunci pintu ruangan itu tadi. Alangkah berbahaya jika Alena berhasil membebaskan diri dan mengambil salah satu koleksi senjata Alexei di dinding.
Tapi dia termangu, ruang senjata itu tak berubah. Ana berjalan cepat ke ujung ruangan dan membuka pintu tak terkunci itu. Dilihatnya Alena masih tertunduk dan terikat di kursinya. Tapi dia dengan segera mengernyitkan hidung. Ada bau amonia tersebar di ruangan.
"Ya Tuhan. Kau benar-benar jorok! Aku bahkan belum selesai membalut lukamu. Dan makananmu menunggu di sudut sana! Tapi kau membasahi celanamu sampai mengotori ke lantai!" bentak Ana marah.
"Kau tak mendapatkan jatah makan siangmu!" bentak Ana lagi.
Diambilnya mangkuk mie dari meja dan membuka pintu dengan kasar. Sebelum mengunci pintu, Ana berbalik.
"Kudengar George-mu itu tewas dalam sebuah ledakan! Semoga kau bisa memikirkan keselamatan dirimu sendiri!" katanya tajam.
"To-long ... a-ku," lirih Alena. "To- long!" ulangnya dengan suara putus Asa.
Ana tak mengatakan apapun. Dia membawa mangkuk mie yang sudah dingin itu ke atas. Lalu keluar rumah untuk mencari ember air. Kapten membantu, dengan mengambilkan ember kecil dari ruangan loundry.
Ana kembali ke kamar mandi dan mengisi ember hingga penuh. Kemudian dia turun ke bawah dan menuju ruang rahasia.
Ana mematikan sambungan listrik pada kabel yang menempel di kursi besi itu. Air di ember itu disiramkan ya ke kepala Alena. Gadis itu terkejut. Entah karena merasakan kesegaran air di kepala, atau efek kejut, kepalanya mendongak dengan cepat. Matanya menyala marah.
"Hahaha.... Sebentar tadi, kukira kau benar-benar minta tolong. Tapi kejutan ini menunjukkan keaslianmu!"
Alena terpana. Dia tak mengira responnya akan seperti itu. Matanya kembali melunak, mengharap Ana mau menolongnya.
"Kau orang culas dan keji. Aku hampir saja tertipu wajah polosmu itu!"
"Prakk!"
Ana memukulkan ember plastik itu ke kepala Alena sekuat tenaganya. Gadis itu kembali tersungkur bersama kursinya ke belakang. Tapi Ana takkan tertipu untuk kedua kalinya.
"Kau, kalian pantas mati!" umpatnya murka.
__ADS_1
Jarinya menyentuh stop kontak kabel listrik yang tadi dimatikannya. Kakinya melangkah keluar, menghindari air yang menggenang di lantai. Lalu jari itu menekan tombol nyala. Seketika teriakan Alena menggema di ruangan kecil itu, akibat setruman listrik.
Satu menit berlalu, tombol listrik dikembalikan pada posisi mati. "Apa kau puas sekarang?" ejeknya.
"To-long ma-af-kan a-ku," suara Alena terputus-putus dan gemetar. Tapi sepertinya otaknya masih bekerja.
"Tidak! Aku bukan orang yang murah hati. Mendapatkan bayaran dari Biro jauh lebih bagus ketimbang membantu ular sepertimu!" tandasnya.
Ada berbalik dan siap untuk mengunci pintu.
"A-kan ku-kata-kan sia-pa yang me-nurun-kan perin-tah," tawar Alena.
"Nona kecil. Kau lihat aku. Apa kau pikir aku tidak tau siapa yang memberiku perintah? Apa kau jadi bodoh setelah disetrum?" hardiknya.
"George ... George bukan George!" katanya lagi.
"Hahahaha...." Ana tertawa.
"Bukankah tadi aku sudah bilang George-mu palsu! Bagaimana orang idiot sepertimu bisa menjadi agen!" umpat Ana.
Gadis itu menggeleng. Dia seperti bingung harus mengatakan apa lagi, karena yang disebutkannya sudah diketahui Ana lebih dulu.
"Aku ... aku tahu tentang rencana mereka pada Scorpion!" ujarnya putus asa.
Ana terdiam. Dia ingat pernah membaca informasi rahasia biro untuk menyerang Scorpion. Tapi Scorpion menyerang balik dan melumpuhkan biro.
"Apa kau mau bilang tentang penyerangan yang gagal dan justru menimbulkan kerugian bagi Biro?" pancing Ana.
"Tidak! Mereka menempatkan agen terpercaya di sana! Agen yang siap mati dan akan membunuhnya kapanpun diperintahkan!" kata Alena yakin.
Tapi Ana memandang remeh. "Apa kau ingin aku mempercayai dongeng seperti itu? Coba sebut nama agen itu. Jika terasa masuk akal, aku akan mempertimbangkan untuk membantumu!" pancing Ana lagi.
Alena menggeleng. "Ya sudah. terserah!" Ana keluar lagi dari ruangan.
"Rosie dan Nick!"
Suara Alena seperti suara sambaran petir bagi Ana. "Rosie dan Nick? Apakah Scorpio itu Ammo?" batinnya cemas.
"Baiklah. Aku akan mengingat nama dua orang itu. Aku takkan membantu mereka jika bertemu!" Ana keluar.
"Aku ambilkan obat dan makananmu. Tunggu du situ!" ujar Ana, kemudian menutup pintu.
__ADS_1
********