
Ana terbangun setelah Maya membangunkannya. Kapal selam itu sudah berhenti dan sedang naik ke permukaan. Ana tidak tau mereka ada di mana saat ini.
Lalu pintu kendaraan itu dibuka Ammo.
"Kita sampai."
Ammo keluar lebih dulu untuk membantu Maya. Lalu Ana menyusul keduanya. Dia menduga, bahwa tempat inipun merupakan tempat rahasia Ammo.
Maya berjalan tertatih. Setelah menggendong ranselnya, Ana kembali membantu Maya. Mereka menyusuri lorong sekitar 100 meter. Lalu menaiki undakan tangga batu. Perkiraan Ana, itu mungkin setinggi 10 meter ke atas.
Mereka sampai di sebuah ruangan persegi berdinding batu tanpa pintu ataupun jendela. Ammo menyentuh salah satu bagian dinding. Setelah itu dinding batu bergeser ke samping. Di balik dinding batu itu ada lift terbuka.
"Mari," ajak Ammo. Dia melangkah masuk lebih dulu. Ana dan Maya mengikuti.
Ana tak dapat melihat Ammo memencet tombol berapa, karena terhalang punggung pria itu. Tapi lift segera naik. Dan itu terasa lumayan lama dan belum juga berhenti. Seperti sedang naik setinggi lebih dari 20 lantai di sebuah tower.
"Sebenarnya ini dimana? Gedung mana yang bisa dijangkau dengan kapal selam dan memiliki tinggi lebih dari 20 meter?" pikir Ana. Dia terus mengira-ngira, tapi tak juga berhasil menyimpulkannya.
Lift itu akhirnya berhenti.
"Kita sampai." Ammo berjalan mendahului.
__ADS_1
Ana dan Maya juga keluar. Di kiri dan kanan ada lorong yang tak memiliki penerbangan sama sekali.
"Ammo, kenapa aku merasa kita sedang berada di villa count drakula?" sindir Ana yang melihat tempat suram itu.
Ammo terkekeh.
"Tempat ini tak ada yang mengurus. Aku bahkan hampir lupa keberadaannya."
Ammo melangkah menuju lorong di depan lift. Dengan menggunakan kacamata night vision ya, Dia akhirnya menemukan tombol power. Semua lampu dinding akhirnya menyala kekuningan setelah tombol power itu dipindahkan ke posisinya. Namun beberapa lampu ada yang masih terus berkedip. Mungkin bolanya perlu diganti.
Kini Ana dapat melihat keadaan sekitarnya. Mereka melangkah ke lorong depan lift. Di kiri dan kanan lorong ada beberapa pintu tertutup. Pintu dari kayu redwood yang kokoh. Diberi ukiran khusus yang cantik, berwarna emas. Tapi Ana tak memahami arti pola ukir tersebut. Tak ada hiasan apapun pada dinding yang dilapisi wallpaper mewah merah anggur. Hanya ada beberapa tempat lilin, dengan lilin yang sudah pernah digunakan.
Mereka melangkah hingga hampir ke ujung lorong itu. Ammo berhenti. Melihat ke arah pintu di sebelah kanan. Dibukanya pintu lebar-lebar. Pria itu masuk dan menyalakan lampu. Ana dan Maya yang berdiri di pintu bisa melihat bahwa itu adalah kamar tidur.
Sekarang bisa dilihat bahwa itu adalah ruang tidur yang lengkap dengan isinya.
"Ini lemari pakaian. Kalian mungkin memerlukannya."
Ammo membuka lemari pakaian besar dengan deretan baju
bermacam-macam. Dia kembali melangkah dan membuka pintu lainnya, lalu masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Ana membiarkan Maya duduk di tepi tempat tidur. Tak lama terdengar suara air mengucur. Tak lama, terdengar suara Ammo dari dalam sana.
"Ini kamar mandinya."
"Kalian bisa istirahat di sini sementara. Ruanganku ada di seberang." Ammo menunjuk ke pintu seberang kamar tidur tersebut.
Ammo berjalan keluar. Tapi berhenti sebentar di pintu.
"Aku benar-benar butuh tidur sebentar. Setelah itu baru kita pikirkan tentang makan. Bisakah?" tanyanya ragu
"Pergilah. Kami masih punya persediaan," jawab Ana.
Ammo mengangguk, lalu keluar dan menutup pintu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ana pada Maya.
"Aku baik-baik saja. Kurasa, aku juga butuh istirahat. Tapi aku ingin menggunakan toilet sebentar," kata Maya.
Ana mengangguk. "Mari ku bantu."
"Kau sudah cukup membantuku. Dan aku merasa sudah cukup kuat kalau hanya berjalan ke toilet." Sambil tersenyum, Maya menolak bantuan Ana. Dia tak ingin terus merepotkan Ana.
__ADS_1
Ana mengangguk. "Hemm, baiklah."
******