
Ana sangat mengantuk. Tapi dia takkan bisa tidur sebelum membuat beberapa pengaturan. Diraihnya lagi ponsel. Mengirim pesan pada seseorang.
JAGA MIMI UNTUKKU
Ponsel diletakkan di meja. Dia bangkit dan melangkah ke sisi dinding lain. Yang ada di situ hanya sebuah Dart shooting board bulat. Dipilihnya satu dart bermata besi dari flying self yang ada di bawah board. Ditusukkannya ujung mata besi itu ke bulatan angka 6. Lalu terdengar bunyi mekanis di belakang dinding.
Klik!
Dinding itu membuka ke arah kiri dan kanan. Di belakangnya adalah tempat harta karun yang dikumpulkannya selama ini.
Diraihnya sebuah ponsel yang ada di situ. Dia sibuk membuat pesan untuk seseorang.
DINNER OR HOLIDAY?
Pesan itu lalu dikirimnya.
Ana mulai memasukkan beberapa senjata api, amunisi dan beberapa boneka Matryoshka, kelinci bahkan Teddy bear coklat ukuran kecil. Semua itu dia masukkan ke dalam tas panjang. Tiga buah belati serta satu boomerang buatan khusus, diambilnya dan diletakkan di meja.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
HOLIDAY
__ADS_1
Ana menutup telpon memasukkannya ke dalam tas. Meraih pakaian yang akan dikenakannya. Diceknya pasport dan uang tunai yang ada di balik jaket. Semua komplit. Lalu dinding itu ditutupnya lagi. Diraihnya semua peralatan yang telah dia kumpulkan. Dia melihat sekeliling. Mengambil ponsel jadulnya di meja, lalu bergegas keluar.
Ana memasukkan sistem keamanan setelah dia keluar dari ruang penyimpanan basement. Lalu menaiki tangga menuju garasi. Memasukkan semua yang dibutuhkannya ke mobil van yang tak mencolok.
Ana kembali ke tempat Maya. Gadis itu masih belum sadarkan diri. Ana mengambil makanan beku di kulkas dan menghangatkannya. Menikmati sedikit makanan hangat untuk meredam perutnya yang sudah menjerit.
Dimasukkannya sebagian makanan lain ke dalam lunch box. Lalu menata beberapa botol air mineral, buah, granola snack dan beberapa makanan instan dan tas jinjing kecil.
Ana mengambil tas lain lg, diisi beberapa obat dan peralatan medis untuk Maya. Dua tas itu sudah siap di meja ruang tengah. Ana langsung masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh air kolam Rumah Sakit.
Sepuluh menit kemudian, Ana sudah siap. Dia sudah berpakaian rapi, lengkap dengan rompi anti peluru dibalik jaket hitamnya.
Semua kabel yang menempel di tubuh Maya terpaksa dilepas. Kemudian didorongnya brankar menuju ke ruang tengah.
Ana menempatkan semua peralatan kembali ke tempatnya di dekat dinding. Dia mengunci posisi semua benda agar tak bergeser lagi. Kemudian memencet satu tombol di bagian bawah rak hias.
Lantai rumah itu berputar di porosnya. Kini di ruangan itu hanya ada tempat tidur single, dengan lemari pakaian dan meja nakas di kiri kanan tempat tidur. Ana menutup pintu kamar.
Dia lanjutkan langkah ke arah Maya. Diraihnya tas yang sudah disiapkan. Mematikan semua lampu, lalu keluar.
"Mari kita liburan," ujarnya pada Maya.
__ADS_1
Pintu belakang Van dibuka. Brankar didorong masuk mobil van itu. Setelah memastikan posisi yang tepat, pintu belakang lalu ditutup.
Ana membuka pintu keluar rahasia. Di sana sudah ada mobil SUV yang tadi mengantar Adriana. Ana memasukkannya ke garasi. Kemudian menjalankan mobil vannya ke jalan keluar rahasia itu.
Ponsel jadulnya bergetar. Ada pesan masuk dari Ammo.
APA YANG KAU LAKUKAN? MEREKA AKAN MEMBURUMU!
Ana tak membalas. Ponsel lipat itu dimasukkan kembali ke sakunya.
Kembali, Ana meraih sebuah tombol rahasia. Garasi itu turun ke bawah tanah. Lalu permukaan yang terbuka itu ditutupi berlapis-lapis lantai berisi tanah dan peredam suara. Di lapisan teratas adalah lapisan batu alam yang disusun apik untuk memberi kesan alami. Di atasnya ada 2 bangku kayu untuk bersantai. sebuah meja kayu sederhana menghadap taman air mancur kecil di dekat tiang penyangga atap. Lalu beberapa po0t gantung berisi tanaman pakis boston menambah keasrian gazebo samping rumah itu.
Ana puas melihat kamuflase yang dirancangnya. Didorongnya gabion setinggi satu meter untuk membatasi dirinya dan gazebo tadi. Semua sudah sesuai perencanaannya. Dia masuk ke mobil van, menyalakannya dan pergi dari tempat itu.
Seiring kepergiannya, pintu lorong jalan bawah tanah itu menutup. Lalu berputar di porosnya dan menampakkan kolam renang mungil dengan taman dan bangku berjemur. Serta pohon palem disampingnya. Air mengisi kolam secara otomatis.
Tak ada lagi bekas garasi dan lorong rahasia. Bahkan jalan menuju basement penyimpanan juga hilang. Rumah itu tampak seperti rumah penduduk biasa saja.
Ana hilang bak ditelan bumi. Ini resiko yang harus diambilnya sejak memutuskan melaporkan semua kecurigaannya.
******
__ADS_1