
Ammo gelisah selama menunggu. Berulang kali dihubunginya Ariel dan Sawyer, mengharapkan sedikit petunjuk.
"Menurut pemeriksaan, bagaimana mobil ini bisa jatuh?" tanya Ammo pada polisi di dekatnya.
"Kami harus memeriksa data, sebelum menyimpulkan," elak polisi itu. Dia tak ingin membagi informasinya.
Ammo mendengus kesal. Tapi tak mungkin berdebat dengan polisi.
"Mereka sampai!" kata petugas penjaga tali.
Ammo mendekat, tapi segera didorong menjauh oleh tim medis. dan forensik.
"Hei, aku ingin mengindentifikasinya!" sergah Ammo jengkel.
Orang-orang itu menatap tajam. Ammo masih ingin protes, tapi menyadari itu hal yang tak berguna. Akhirnya dia memilih diam.
Tandu diangkat naik dan diletakkan di rerumputan. Semua petugas medis merubungnya.
"Dia masih hidup!" kata seorang petugas medis. "Bawa pakai heli saja!" perintahnya lagi.
"Aku mau lihat dulu!" Ammo menyibak orang-orang medis yang merubung tandu.
"Hei, apa yang kau lakukan!" teriak petugas lain marah.
"Aku harus pastikan, itu kakek Wilson atau bukan. Dia mungkin bisa mengatakan sesuatu, sebelum terlambat!" balas Ammo tak mau kalah.
"Apa kau yang menelepon tadi?" tanya yang lain.
"Ya!" Ammo mengulangi panggilannya, dan telepon itu berdering.
"Biarkan keluarga korban melihat dulu. Psnggil heli itu ke sini!" orang itu memberi instruksi.
Ammo bisa mendekati tandu. Untuk kemudian terkejut. "Dia sopir kakek Wilson!" kata Ammo. Polisi kembali mencatat keterangan Ammo.
"Bagaimana kau bisa memegang ponsel kakek Wilson?" tanya Ammo.
"Apa yang terjadi? Dimana Kakek, Lindsay, dan Brandy?" Ammo mendekatkan telinganya ke dekat mulut sopir itu.
"Pri-a tu-a. Me-re-ka di-ba-wa pria tu-a," jawabnya.
"Siapa? Beri tahu aku siapa yang membawa mereka? Siapa penculiknya?" Ammo sangat khawatir sekarang. Tapi sopir itu tak menjawab lagi. Dia menyelipkan sesuatu ke dalam genggaman Ammo. Ammo terkejut.
"Helikopter datang. Yang tidak berkepentingan, harap menyingkir!" terdengar peringatan dari pengeras suara.
"Ini kartu namaku. Beri tahu aku jika ada perkembangan dengannya." Ammo menyerahkan kartu namanya.
Polisi yang membaca nama di kartu agak terkejut. Tak heran tadi dia datang dengan helikopter. Ternyata adalah salah seorang terkaya negara itu. "Baik, akan kami kabari perkembangan penyelidikannya!" sahut polisi itu.
"Aku mau dia selamat!" tunjuk Ammo pada tandu yang sedang diangkat ke atas helikopter.
"Kami akan berkoordinasi dengan pihak rumah sakit!" jawab polisi itu lagi.
__ADS_1
"Terima kasih. Saya harus segera pergi. Kakek Wilson belum ketemu!" Ammo melangkah pergi, di bawah tiupan angin kencang dari baling-baling helikopter.
"Sawyer, jemput aku di tempat tadi!" panggil Ammo.
"Siap, Bos!"
Ammo dan dua pengawalnya terpaksa menaiki tangga tali lagi untuk bisa mencapai helikopter. Meskipun menyebalkan, tapi mereka akhirnya bisa pergi dari sana.
"Ke mana kita, Bos?" tanya Sawyer.
"Ke tempat kakek Wilson!" sahut Ammo.
Ammo membuka genggaman tangannya. Ekspresi terkejut itu sangat nyata. Di telapak tangannya ada sebuah pin. Masih ada sedikit benang tersangkut di situ.
"Apakah sopir itu mencabut kancing baju seseorang? Milik Siapa? Apakah milik penculik Kakek Wilson?" Pikiran Ammo terus bekerja.
"Siapa pria tua yang membawa mereka? Lalu bagaimana bisa sopir itu bersama enam pria yang tak dikenalnya?"
Begitu banyak pertanyaan yang butuh jawaban. Namun petunjuk yang ada, begitu sedikit.
"Ariel, apa ada perkembangan?" tanya Ammo lagi.
"Belum," jawab Ariel lesu.
Ammo membuat foto kancing baju yang ada di tangannya dan mengirimkan pada Ariel. "Coba cari tahu tentang kancing itu," katanya.
"Baik. Akan kuperiksa dengan teliti," jawab Ariel. Ammo memutuskan sambungan telepon.
Ammo melihat ke bawah. Kota kecil pertanian ini gelap gulita. Hanya ada beberapa titik lampu di jalanan sepi. Rumah-rumah mungil khas kota kecil, berdiri di kiri kanan jalan, dekat pusat kotanya. Mereka terus dan melewati kota kecil itu.
Setelah beberapa saat, hamparan tanah pertanian yang luas, terbentang di hadapan. Helikopter itu terus melaju ke arah perbatasan kota lainnya.
"Kita sudah masuk tanah pertanian tuan Wilson!" lapor Sawyer.
"Kita turun di landasan udaranya!" perintah Ammo.
"Baik!"
Sepuluh menit kemudian.
"Tujuan kita sudah di depan mata!" ujar Sawyer.
Helikopter itu mengitari tempat usaha kakek Wilson. Tapi tak menemukan apapun. Sawyer membawa heli itu mendarat di lapangan kosong. Dua pesawat pupuk kecil milik Kakek Wilson, terparkir rapi di hanggar.
Ammo turun, setelah yakin bahwa tempat itu aman. Perlahan, tiga orang itu berjalan mengendap-endap, menuju kantor kecil tempat usaha itu.
Ammo benar-benar heran. Tak ada seorang pun, di sini. Tidak ada juga penjaga malam ataupun securiti. Kemana mereka semua? Apa mumgkin semua orang diculik juga?
Ammo mencoba memutar handle pintu. Tapi ternyata pintu itu terkunci. Tiga orang itu berputar dan memeriksa semua tempat, yang mungkin bisa jadi petunjuk.
"Tak ada apapun," lapor bawahannya.
__ADS_1
"Menurutku, tempat ini cukup aman. Jadi, mari kita istirahat dulu. Hari sudah hampir pagi!" katanya.
Maka keempatnya memilih untuk beristirahat sejenak. Mereka duduk di bangku besi yang berjejer menempel dinding di hanggar pesawat.
*
*
Pagi subuh, Blake telah bersiap. Nathalie juga sudah siap. Bersama dua pengawal pilihan, mereka berangkat diam-diam. Ammo sudah menegaskan bahwa persiapan harus dibuat diam-diam.
Keempatnya menaiki mobil dan meluncur, membelah jalanan yang masih sepi. Mobil itu meluncur ke tujuan yang hanya Blake yang tahu.
Nathalie menyadari keseriusan perjalanan yang penuh pengawalan ini. "Pasti terjadi sesuatu. Dan aku dipindahkan," batinnya.
Sementara Nathalie memikirkan alasan pemindahannya, Blake juga tak kalah khawatir di sepanjang perjalanan. Dis menggunakan teropong kecil untuk memeriksa sesuatu di kejauhan. Mengantisipasi adanya "Kejutan" dari musuh Bos-nya.
Lewat tengah hari, mereka tiba di alamat yang dituju. Sebuah tempat terpencil lainnya. Di depan gerbang, penjaga menghentikan mobil mereka.
"Mencari siapa?" tanya penjaga.
"Dokter Devan! Katakan Blake sudah sampai!" ujar Blake.
Penjaga itu menghubungi Dokter Devan, untuk mengkonfirmasi pertemuan itu.
"Ya. Ijinkan mereka masuk. Setelah itu tutup pintu gerbang. Aku tidak menunggu siapa-siapa lagi!" jawab Dokter Devan.
"Baik, Dok!" balas penjaga gerbang.
"Kedatangan kalian sudah dikonfirmasi. Silakan masuk!" sapanya dengan tamah.
"Terima kasih!" Mobil pun meluncur masuk kompleks.
Setelah berjalan cukup jauh. Di ujung jalan itu telah mengunggu seorang pria berpakaian dokter.
Mobil berhenti dan Blake turun. Dia menghadapi dokter itu. "Blake!" ujanya ramah.
"Aku dokter Devan. Mari masuk. Apakah gadis itu sudah dibawa?" tanyanya.
"Iya, dia ada!" sahut Blake.
Tak butuh waktu lama, sekarang para penumpang ingin keluar dari mobil. Dan raut gembira terlihat di wajah Nathalie. Dia sudah sangat lelah dan ingin istirahat saja hari ini.
"Mari ikuti saya," ujar Dokter Devan.
Empat orang di belakang itu mengikuti langkah kaki Doktr Devan yang melangkah panjang-panjang.
"Jalan ini seperti lorong sebuah rumah sakit," batin Nsthalie.
"Apa kami akan dipindahkan ke sini?" batinnya sekali lagi
*
__ADS_1
**********