
Ammo duduk santai di ruang tengah rumah, saat Inspektur Polisi itu masuk. Dan dia hanya mengangguk ketika polisi itu pergi. Sudut bibirnya tertarik sedikit dan mengulas senyum misterius.
Theo kembali setelah mengantar polisi itu ke pintu. Dan dilihatnya tuannya sedang menuju ke arah kamarnya. Kediaman megah itu kembali sepi.
Tapi tidak di tempat lain.
Sebuah rumah mungil pinggir kota, terbakar oleh akibat korleting listrik. Pemiliknya mengalami luka bakar dan jatuh dari balkon setinggi tiga lantai. Kondisinya kritis.
Sebuah apartemen mewah juga terbakar akibat ledakan gas. Beruntung penghuni sedang tidak berada di tempat. Namun kerugian diperkirakan mencapai jutaan dollar, karena ikut merusak apartemen lain di sekitarnya.
Ammo membaca pesan masuk.
AKU PUNYA MAWAR MERAH
Ammo membalas.
KIRIM PADA SANG PUTRI
Ammo kembali membuat pesan untuk nomer lain.
PAKET MAWAR MERAH
Dipejamkannya mata sejenak. Melintas kenangan masa remajanya. Anak-anak muda yang polos dan persahabatan tulus.
"Benarkah?" batinnya ragu.
Betapa waktu dapat merubah banyak hal. "Apa sebenarnya yang sudah terjadi?"
Ammo memijit pelipisnya. Dia masih belum memahami, kenapa dirinya dan Ana kini menjadi target? Awalnya dia masih menduga-duga. Tapi sekarang dia tau siapa orangnya. Benar-benar tak terduga.
Namun Ammo yakin bahwa hal ini tidaklah sesederhana yang terlihat. Pasti ada pemain besar lain di belakang layar. Ammo tertidur dengan televisi menyala di kamarnya.
*
*
Dering telepon di laci meja kerja, membangunkan tidurnya. Ammo memicingkan mata. Itu nada dering yang khas. Dia bangkit dan berjalan dengan tenang. Dibiarkannya telepon itu terus berdering. Ammo tak merasa perlu untuk mengangkatnya buru-buru.
Dibukanya laci dan melihat nomer asing yang masuk. Dia mengabaikannya.
Di ponsel lain, sebuah pesan masuk dari Gregory, orang yang dipercayakannya untuk mengelola pabrik mobil di negara asalnya.
"Tuan Dimitri -atase pertahanan- meminta nomer Anda Bos. Ada hal mendesak katanya. Dengan ijinku, Nikita memberikannya. Dia mungkin akan menghubungi Anda."
Telepon yang satu lagi, kembali berdering. Itu nomer asing yang sama. Ammo tidak khawatir terlacak, karena nomer yang diketahui Nikita dan Gregory adalah nomer yang telah dialihkan ke berbagai link baru bisa sampai di hapenya.
"Ya!" jawabnya begitu mengangkat telepon.
"Kita harus bicara!"
"Bicara dengan Nikita saja!" sahut Ammo tak tertarik
"Aku tau masa lalu gadis itu!" ujar suara di seberang.
__ADS_1
Ammo diam sebentar lalu, "Seseorang akan menghubungi anda!" Ammo langsung menutup telepon.
Jam di dinding sudah pukul lima pagi. Ditekannya tombol interkom.
"Smith, joging!" ujarnya.
"Ya!" terdengar jawaban dari seberang.
Kemudian dia sendiri berganti pakaian olahraga. Ammo turun dan mendapati Theo sedang mengatur beberapa pelayan untuk membersihkan lantai satu rumah itu. Tak seorang pun dari pelayan itu boleh naik ke lantai dua, selain Theo.
Melihat Ammo berjalan, para pelayan itu segera menundukkan kepala. Theo langsung menyadari kehadiran tuannya.
"Anda turun pagi sekali, Tuan. Ingin saya buatkan sesuatu?" tanyanya.
"Ya, buatkan aku roti lapis andalanmu," jawab Ammo cepat.
"Ya, Tuan," sahut Theo senang.
Dilihatnya tuan mudanya yang berlari kecil dan berpakaian santai dengan hati bahagia. Tuannya sangat jarang bisa menikmati waktu-waktu santai seperti ini. Biasanya dia sangat sibuk dengan urusan pekerjaan di sana-sini.
Bahkan beberapa hari ini lebih sering menghilang. Peledakan kasti, ditambah peristiwa penyerangan tadi malam. Hal itu sangat mengkhawatirkan. Untung saja bisa ditutupi dari polisi yang datang secepat kilat.
Di teras belakang, Kapten Smith telah menunggu Ammo. Para petugas lain juga sudah berbaris rapi. Mereka mulai berlari kecil mengikuti trek joging yang tersedia.
Sambil berlari, Ammo bisa melihat kecakapan Theo mengurus kediamannya. Para pekerja taman sudah hampir menyelesaikan seluruh area perang malam sebelumnya. Taman dan pohon-pohon rusak sudah diganti dan ditata ulang.
"Bagaimana orang itu?" tanya Ammo pada Smith yang berlari di sebelahnya.
"Sudah tewas. Dia tak tau apapun, selain ditugaskan menyerang ke sini," jawab Smith.
"Dua belas orang. Dan sudah dibereskan semuanya. Ini laporannya!" Kapten Smith menyerahkan sebuah USB pada Ammo.
"Kalian sudah menyisir seluruh tempat di luar perimeter?"
"Sudah, Tuan. Saat Inspektur polisi itu datang, lima orang saya tugaskan untuk membersihkan semua yang tertinggal di luar perimeter."
"Mereka menemukan sebuah peluncur roket mini dengan tiga rudal yang sesuai. Juga senjata lain berserakan disamping seorang penyerang yang dahinya tertembus peluru. Semua ada dalam laporan itu," papas Kapten Smith.
"Mereka berpikir untuk meratakan tempat ini seperti halnya kastil itu," gumam Ammo berang.
"Pasang perimeter dan perlindungan yang baru di sini!" perintah Ammo.
"Siap!" jawab Kapten Smith.
Dia berhenti berlari. Tapi menugaskan dua penjaga lain untuk terus menjaga Ammo hingga kembali ke rumah.
*
*
Ammo tak tergesa-gesa hari itu. Dia menikmati sandwich dan jus jeruknya dengan santai di depan kolam renang. Sinar matahari pagi terasa hangat di kulitnya yang dipenuhi butiran keringat.
"Tuan, ada telepon dari tuan Calvin," Theo muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Apa katanya?" tanya Ammo malas.
"Dia akan datang ke sini," jawab Theo.
Lalu terdengar suara petugas yang berjaga di depan, memberitahu kedatangan seseorang.
"Kurasa itu dia!"
Theo segera lari ke dalam untuk melihat gambaran cctv.
Ammo justru berjalan ke kolam renang dan menceburkan dirinya ke sana. Theo yang baru kembali dari dalam rumah, mengikuti arah Ammo berenang, dari pinggir kolam.
"Apakah tuan Calvin diijinkan masuk, Tuan?" tanyanya sigap, ketika Ammo mencapai ujung kolam.
"Biarkan saja dia masuk," jawab Ammo tak peduli.
"Sesuai perintah."
Theo kembali berlari kecil ke dalam rumah untuk memberitahu penjaga gerbang.
"Ammo! Kau harus beri penjelasan padaku!"
Seseorang berteriak dengan marah ketika sampai di kolam renang. Theo dan seorang penjaga mengikuti langkahnya yang buru-buru.
"Ammo!" pekiknya tak sabar, melihat orang yang dicarinya masih asik berenang.
"Sabar, Tuan. Tuan Oswald sedang berenang. Nanti dia akan ke sini jika sudah selesai." Theo menenangkan orang tua itu.
"Panggil dia ke sini!" perintahnya angkuh.
Theo menggeleng, menolak perintah itu.
Dengan jengkel, diliriknya penjaga yang mengikutinya sejak dari depan teras. Tapi penjaga itu juga menggelengkan kepala.
"Pelayan-pelayan angkuh dan tak tau aturan! Kalian terlalu dimanjakan! Jika aku yang menjadi kepala keluarga Oswald, kalian akan kupecat lebih dulu!" teriaknya emosi.
"Hati-hati dengan kata-kata Anda!" Theo menatap pria tua itu tajam.
"Pelayan lancang! Sebaiknya Ammo memecatmu segera!" gerungnya emosi.
"Apa kau ditinggal oleh gundikmu lagi, makanya ribut-ribut di sini?" sindir Ammo yang berjalan santai menuju mejanya.
Karena bertengkar, tak ada dari ketiga orang itu yang menyadari kedatangan Ammo. Pria itu meraih gelas jus dan menghabiskan isinya dengan tegukan besar.
"Pelayanmu lancang memelototiku. Kau harus memecatnya!" Pria itu mengadukan Theo pada Ammo.
"Ini rumahku! Jangan lupakan itu. Jika kau tak bisa bersikap sopan, kau boleh pergi. Di sini bukan playground tempat anak bermain-main!" balas Ammo pedas.
"Apa katamu!"
Wajah pria tua itu merah padam. Dadanya turun naik menahan gejolak amarah. Dia ingin menyemburkan segala sumpah serapah. Tetapi entah kenapa, tak satupun kata yang dapat terucap.
Ammo berjalan masuk ke dalam rumah. Theo mengikutinya. Pria itu masih di depan kolam renang, diawasi penjaga.
__ADS_1
*******