
Pukul delapan malam lewat seperempat. Ammo sudah tiba di kastilnya. Dia mengeluarkan tiga kotak plastik dari dalam kapal selamnya yang lain. Sekarang, dua kapal selam mini berdampingan di dermaga pribadi kastil itu.
Ammo menyusun kotak dalam trolley dan menariknya. Butuh sedikit usaha utk membawa beban itu menuju lift di lantai dasar. Tapi Ammo tak mengeluh sedikitpun. Ini stok bahan makanan untuk beberapa waktu di sini.
Ana yang sedang menyiapkan makan malam di dapur, terkejut melihat Ammo muncul di belakangnya.
"Kau sudah kembali?" tanya Ana berbasa-basi.
"Kau kecewa aku kembali?" Ammo balik bertanya dengan sebelah alisnya meninggi.
Melihat gelagat buruk, Maya mengalihkan pembicaraan.
"Apa yang kau bawa?"
Maya menunjuk trolley yang masih dipegang Ammo.
"Bahan makanan. Ku kira kalian mungkin bosan hanya makan ikan," jawab Ammo.
Dia menyerahkan trolley pada Maya, lalu berbalik dan keluar dari dapur. Ana terpaku sesaat.
"Apakah ada perkataannya yang salah?" pikirnya heran.
Sementara itu Maya bersorak kegirangan saat membuka kotak-kotak yang dibawa Ammo. Keduanya kini makin sibuk memasak di dapur. Mereka harus menyiapkan makan malam untuk bertiga.
Ammo duduk bersandar di kepala tempat tidur hanya dengan mengenakan jubah mandi. Dia baru saja menyegarkan diri, dan ingin istirahat sebentar.
Entah berapa lama Ammo tertidur. Dia terbangun ketika mendengar ketukan di pintu kamar. Ammo turun dan melangkah ke sana.
"Ya," ujarnya sambil membuka pintu.
Ana terhipnotis sekejap, melihat dada Ammo yang terbuka di balik jubah mandi yang sudah longgar. Namun, dia segera mengalihkan pandangan pada gorden penutup jendela di ujung lorong.
"Ada apa?" tanya Ammo.
Tak ada yang menyadari seulas senyum tergurat di wajah tampannya.
__ADS_1
"Makan malam sudah siap. Kau ingin kami menunggumu atau bagaimana? Jika kau sibuk, kami bisa—"
"Aku akan ke sana!" Ammo memotong kata-kata Ana. Lalu menutup pintu.
"Oke."
Ana menjawab ke arah pintu tertutup dengan nada dongkol. Lalu dia kembali ke ruang makan di mana Maya masih sibuk menata meja.
Maya melihat Ana masuk dengan wajah masam.
"Apa dia tak ingin makan bersama kita?" tebak Maya.
"Tidak. Dia akan segera datang," ujar Ana yang kemudian duduk sambil menghempaskan tubuhnya.
"Lalu apa yang kau kesalkan?" tanya Maya heran.
"Dia ... pria sombong itu. Menutup pintu tepat di depan mukaku!" jawab Ana sengit.
Maya sedikit bingung melihat reaksi Ana.
"Bukan be—"
Ana menjeda kata-katanya. Berpikir sebentar agar menemukan kata yang tepat untuk dijelaskan pada Maya.
"Ah, sudahlah ... lupakan!" katanya datar.
Ana berhasil menguasai emosinya. Untuk apa dia marah pada Ammo? Untuk apa juga dia menjelaskan hal itu pada Maya? Menunjukkan emosi hanya akan berakibat buruk. Orang bisa dengan mudah membaca dirinya. Dia harus kembali pada dirinya sendiri. Menjadi Angel yang dingin dan tanpa emosi.
Tapi, kenapa pria itu bisa membangkitkan emosinya? Di foto di meja kerja Ammo ada lima orang berfoto dengan akrab dan bahagia. Ana bisa melihat Ammo, Adriana dan George. Tapi dia tak mengenal satu pria dan gadis remaja yang satu lagi itu. Siapa mereka?
Bertahun-tahun Ana tinggal di panti itu. Dia dekat dengan Adriana dan George. Tapi tidak pernah tau bahwa kedua temannya itu juga dekat dengan Ammo dan seorang pria serta gadis satunya lagi itu.
Adriana tak pernah bercerita apapun tentang teman-temannya ini. Siapa mereka?
Dan jika pengakuan James di kantor Ammo benar bahwa ingatan Ana dihapus oleh biro, lalu siapa dia sebenarnya? Apakah mimpi-mimpi tentang kematian ibunya juga palsu? Pembunuhan itu juga palsu? Lalu mana yang benar? Siapa orang tuanya yang sebenarnya.
__ADS_1
Ana menunduk di meja makan. Kedua telapak tangannya menopang kepalanya yang terasa sakit dan sedikit berat.
"Angel!" teriak Maya ketika melihat Ana tiba-tiba terkulai dan pingsan di meja makan.
Ammo yang baru saja sampai di pintu ruang makan, segera berlari melihat kepanikan Maya.
"Ada apa dengannya?" tanya Ammo.
"Tidak tau. Dia kembali dengan kesal, setelah memanggilmu makan. Lalu ku biarkan duduk di situ, sementara aku menata meja. Tiba-tiba dia sudah seperti itu saat aku kembali dari dapur," jawab Maya.
"Apa dia tadi termenung? Berpikir keras?" tanya Ammo memastikan.
"Tidak aku perhatikan. Dia hanya terlihat kesal, kemudian diam dan duduk di situ," ulang Maya lagi.
"Kita bawa ke kamar saja," putus Ammo.
Maya mengangguk. Dibantunya menahan bangku agar tidak terjungkal saat Ammo mengangkat tubuh gadis itu. Keduanya berlari ke lorong kamar.
Maya bergerak cepat untuk membuka lebar pintu kamar mereka. Ammo langsung masuk dan membaringkan tubuh Ana di tempat tidur.
"Kau belum sembuh. Pergilah makan lebih dulu. Biar aku yang menjaganya. Nanti kita bergantian," perintah Ammo.
"Baik!" ujar Maya.
Gadis itu segera melangkah keluar. Tak ada yang bisa dilakukannya, selain mengikuti perintah.
Ammo membuka lemari besar di mana baju-baju almarhum ibunya digantung rapi di sana. Dia mencari sesuatu di rak lemari. Mencari sesuatu yang berbau cukup tajam, yang mungkin bisa membangkitkan sensitifitas penciuman Ana.
Ammo menggeleng. Ibunya memang tidak menyukai parfum yang beraroma kuat. Ibunya menyukai aroma lembut seperti angin sepoi-sepoi serta yang dingin dan kalem seperti air.
Ammo membuka penutup salah satu parfum. Dia familiar dengan aroma itu. Itu aroma tubuh ibunya. Mencium aroma itu, membuat Ammo bisa membayangkan senyum dan kelembutan ibunya.
Ammo memejamkan mata. Lalu menutup botol parfum dan mengembalikannya ke atas rak. Pintu lemari ditutupnya lagi.
*******
__ADS_1