
Ana melarikan mobilnya keluar kota. Harapannya cuma satu. Jika memang masih ada pelacak yang tersisa di tubuhnya, maka dia akan menjauh dari siapapun. Dia tak ingin merugikan teman dan satu-satunya keluarga yang tersisa.
Tiga jam berlalu. Sebuah mobil biasa dan tak mencolok, berjalan perlahan di jalanan pedesaan. Pengemudinya seorang wanita paruh baya dengan banyak bintik di wajahnya. Mobil itu melewati sebuah halaman luas dengan rumah mungil di belakangnya.
Ana mengarahkan radar pada jam tangannya, ke arah halaman itu. Tak terdeteksi ada yang mencurigakan di sana. Tapi dia tak berhenti di situ. Mobil itu terus melaju terseok-seok di jalan berlumpur dan tak terawat.
Ana ingat, masih ada dua rumah lain hingga ke tepi hutan itu. Tapi Ana tak mengenal mereka, juga tak tau apakah dua rumah itu dihuni, atau tidak.
Namun melihat jalanan yang sudah ditumbuhi rumput serta tergenang air, kuat dugaan dua rumah berikutnya sudah lama tak dihuni. Lebih lama dari saat terakhirnya mengunjungi rumah ini bersama Maya.
Ana tetap menyalakan radar pada jamnya. Rumah di sebelahnya, menunjukkan kehadiran dua orang. Mereka duduk berdekatan. Tapi tidak terlihat mencurigakan, karena posisinya jauh dari batas tanah Ana.
Ana melintasi pagar rumah terakhir. Dia melihat sekilas banyak jejak sepatu di lumpur, mengarah ke pintu pagar. Ana melihat ke arah radar. Ada dua belas citra merah manusia di tempat itu.
"Banyak sekali?" pikirnya heran. Dan satu hal yang mencurigakan adalah, citra orang yang terbaring, tapi sejajar dengan letak kaki seseorang yang lain.
"Apakah rumah ini dihuni penjahat? Penculik?" pikirnya. Perasaannya mengatakan bahwa yang terbaring itu bukan sedang tidur dengan sukarela. Mungkin pingsan karena siksaan.
"Itu bukan urusanmu, Ana. Kau harus sembunyi dalam senyap. Jangan menarik perhatian!" gumamnya sendiri.
"Tapi, kalau orang itu mati, bukankah kau menyia-nyiakan kesempatan untuk menolongmya?" bujuk hati kecilnya.
"Hei, belum tentu juga yang terbaring itu orang baik. Abaikan saja!" Batinnya berperang sendiri.
Mobil terus melaju dan melewati rumah itu. Sekarang Ana berada di jalan kecil yang tak ada di peta. Itu jalan setapak menuju desa lain di balik hutan. Dia menimbang, mau ambil jalur kanan ke jalan raya, atau jalur kiri melintasi hutan sepi.
__ADS_1
Akhirnya Ana mengambil jalur kiri. Dia melewati lagi batas tanah rumah terakhir. Ada banyak pepohonan tinggi untuk melindungi privasi penghuni.
Ana tak bisa melajukan mobil lebih cepat, karena jalan setapak ini justru jauh lebih buruk ketimbang jalan masuk ke rumahnya tadi. Tapi tak ada jalan kembali, jadi dia lanjut mengemudi.
Ana menepikan mobil di bawah pohon Hawthorn yang mulai memunculkan putik-putik bunga. Di musim panas, pohon ini akan memutih seperti butir-butir salju di pohon. Itu karena bunga putihnya yang lebat, menutupi seluruh daun.
Ana mengambil botol minumannya dan beristirahat sejenak. Tak jauh lagi, dia akan melewati ladang bunga matahari miliknya. Ana telah membeli hampir seluruh tanah di blok belakang itu, untuk ditanami dengan bunga matahari. Fungsinya untuk menyamarkan keberadaan jalan keluar rahasia mobilnya.
Mobil dinyalakan lagi. Ladang bunga itu mulai kelihatan. Mereka baru bertumbuh. Biasanya akan mekar sempurna menjelang akhir musim panas nanti.
Ana mempekerjakan lima penduduk desa untuk merawat ladang itu. Mereka tak pernah tau bahwa pemilik tanah memiliki rumah di samping ladang. Karena dia menggunakan nama lain untuk membeli dan mengusahakannya.
Sekarang mobil itu berbelok, melewati deretan pagar kayu. Jalan di bagian ini lumayan bagus. Melintasinya di awal musim gugur, adalah waktu terbaik. Daun-daun pohon Oak di kanan jalan akan mulai memerah, sementara di sisi kiri, Bunga-bunga matahari menguning cerah, keemasan.
Radar masih dibiarkan menyala ketika melewati rumah satu-satunya di jalan itu. Rumah itu menghadap ke jalan raya dan terawat dengan baik. Sambil melintas, Ana bisa melihat aktifitas biasa di dalamnya. Ada dua anak berlari saling mengejar di dalam rumah. Dan beberapa orang lain, melakukan aktifitasnya.
Selanjutnya mobil dibawa keluar menuju jalan raya. Kemudian berbelok ke kanan, menyusuri jalan. Sebelum jalan tol, ada sebuah jalan kecil menuju desa. Jalan itu berliku dan menurun. Ana hapal jalan itu. Dia sering melintasinya jika mengambil jalur belakang.
Kemudian di bagian kanan jalan mulai terlihat tembok penguat tebing. Terbuat dari batu-batu besar. Jalan belakang rumahnya, ada di atas tebing, dibatasi oleh jejeran pohon Oak. Ana melihat dari cermin, tak ada mobil lain di jalan itu. Dia berhenti sejenak, berpura-pura beristirahat. Ana turun dari mobil dan berjalan ke tembok. Dia harus melakukannya secara manual, karena kehilangan remote control untuk membuka pintu belakang.
"Suara mekanis terdengar. Ana bergegas masuk mobil. Begitu gerbang itu terbuka, mobil itu segera masuk ke dalam. Dia turun kembali dan menutup tembok batu kembali ke tempatnya lagi.
Mobilnya terus meluncur dalam lorong yang gelap. Hingga sampai di garasi bawah tanah. Ana turun dan memeriksa radar. Tempatnya terasa aman. Gadis itu turun dari mobil dan membawa tasnya.
Dia membuka sebuah pintu satu-satunya yang ada di garasi. Ana membuka kunci pintu dengan sandi. Tampaknya semua aman. Ans ingin segera mengetahui perkembangan laporan sebelumnya. Bagaimana dengan Natalie, Sanders dan Oscar?
__ADS_1
Ana menaiki tangga menuju ruang tengah yang kosong itu. Letak perabotan masih sama. "Artinya, tak ada yang masuk." bathinnya.
Ana turun menuju basement, berjalan ke arah tempat penyimpanan makanan. Dia punya rusng rahasia. di sana. Dari sebuah lemari bumbu, Ana masuk ke ruang rahasia. Dia hendak memeriksa rekanan cctv selama kepergiannya.
"Benar-benar tak ada yang masuk," pikirnya heran. "Bukankah saat itu di tubuhku masih ada alat pelacak?" pikirnya bingung.
Ana kemudian meraih semua informasi rahasia yang sebelumnya dia kirim ke pimpinan pusat. Sekarang dia sedang meng-copy dan mengirimkan info yang sama, serta info tambahan lain, ke media dan pihak lain., sebagai anonim.
Ana tak lagi peduli bagaimana ketegangan akan meledak. Dia harus memancing dan menyibukkan biro, agar mereka tak sempat berpikir untuk mencelakai orang lain. Mereka hanya perlu fokus melawan pemberontakan Ana saja.
Setelah semua beres, gasis itu naik kembali ke ruang tengah rumah yang juga berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Hari sudah siang. Ana memutuskan untuk beristirahat sehari, di situ.
Diraihnya ponsel dari saku untyk menelepon Ammo.
Di deringan ketiga, baru telepon diangkat.
"ya?" itu suara Ammo
"Bagaimana dengan informasi yang kuberikan tadi?" tanyanya tak sabar.
"Seperti perkiraanmu, mereka menyerang sejak di pintu masuk. Tapi karena informasi telah bocor, kita berhasil membuat persiapan meski harus sedikit berkorban."
"Aku menyesal," ujar Ana.
******
__ADS_1